Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Cara Terbaik untuk Lupa

Dari sekian pertanyaan yang diajukan padaku, beberapa membuatku bingung.
"Nal, apa cara terbaik untuk lupa?"
Aku merenung dan diam sejenak merenungkan pertanyaan yang diberikannya, benarkah dia ingin melupakan sesuatu?
Aku ingat juga, pernah suatu waktu saya sangat ingin melupakan suatu hal, tidak ingin mengingat hal sekecil apapun tentang itu.
Apa saja?
Kesalahan Fatal yang tidak bisa diperbaiki, moment yang tidak kumanfaatkan dengan baik dan kejadian-kejadian lain yang semuanya tidak lagi ingin kuingat, tapi kadang melintas begitu saja.
Aku memang tidak menanyakan kepada kawan tersebut mengapa dia menanyakan cara terbaik untuk melupakan, karena diam-diam aku juga sedang mencoba melupakan seseorang 😢
Hehehe, jadi sedikit sentimentil.
Jadi aku mencoba dulu caranya dengan menerapkannya pada diriku sendiri, menghapus nomor dan semua perteman disosmed dan menahan diri untuk tidak mengeceknya.
Menghubungi kawan-kawan dan mencoba lebih dekat dengan seseorang, meningkatkan komunikasi yang intens dengan seseorang yang baru.
Tapi kadang semuanya amburadul ketika dia menyapa lagi, benteng yang dibangun itu luluh begitu saja, hahaha
Jadi?
Ya, intinya semua harus berjalan datar.
Cobalah untuk menata hidup untuk lebih teratur, meningkatkan intensitas kesibukan, belajar hal-hal baru, membaca, menonton film, hang out dengan kawan-kawan dan mencoba membuka komunikasi dengan orang orang baru.
Lho, emang bisa Nal??
Ya bisalah
Kadang kita tidak bisa lupa dari suatu hal atau dari seseorang adalah karena kita sedang terfokus kepada hal tersebut sehingga banyak hal yang terblur.
Cobalah habiskan waktumu dengan hal-hal positif, membaca, belajar menulis atau apapun itu yang menyita banyak waktu dan pikiran, yakinlah secara perlahan kau akan paham manfaat yang kukatakan ini.
Lalu perlahan-lahan dan pasti dekatilah seseorang lagi yang bisa  membuatmu jatuh hati 😎
Hehehe

Minggu, 06 Maret 2016

Catatan Maret

Ada begitu banyak cerita yg pernah kubaca, ada banyak kisah-kisah, begitu banyak keindahan.
Ada banyak perjalanan, petualangan dan kesempurnaan.
Tapi kita akan menulis cerita sendiri sayangku, membuat kisah yang akan didengarkan anak-anak kita, kita akan menjalani hidup kita tanpa perlu mempublikasikasikannya.
Ya, asal kita punya arah yang sama sayangku, menuju tempat tertinggi untuk menikmati gemerlap bintang diketinggian dan lampu-lampu temaram nun jauh dibawah sana. Menikmati cangkir-cangkir kopi sambil merancang masa depan kita, ya, kita akan menyusuri tepian danau toba, bercerita kepada batu-baru yang tegar menantang riak ombak bahwa kita pernah saling mencintai dan akan selalu mencintai, bahwa kita akan selalu tersenyum dan bahagia melewati semua hari, bahwa kita akan mempunyai taman bunga di depan rumah kita, memiliki hewan peliharaan, datang ketempat keluarga untuk berbagi cerita.
Ya, kita akan menghabiskan waktu menikmati udara segar dan menghabiskan masa tua bersama.
Kau taukan?
Cinta itu bukanlah verba, itu adalah saat kita bersama, bukan sebuah drama.
Bukan makan malam romantis, bukan menghabiskan waktu bersama sampai tidak peduli apa yang terjadi di dunia, bukan poto dan postingan mesra yang sangat sering kita baca.
Ya, semua memang dengan versinya.
Tetapi aku hanya ingin bersamamu sayangku, menulis sebuah cerita yang kita sendirilah yang tau alur ceritanya sampai kita sendiri lupa bahwa kita sendiri lupa bahwa kita sedang menulia cerita.
08032016

Jumat, 08 Januari 2016

Tentang Gadis dengan Senyum Manisnya itu.

Catatanku kali ini mungkin agak berbeda dgn catatan yg lainnya, mungkin karena ada senyum yg menyelip dalam imajinasiku saat aku mencatatanya.
Oh ya, berapa persenkah dosis senyum dalam setiap rasa suka?
Aku tidak tahu, tetapi rasanya senyum bisa mengalahkan sebuah imajinasi, senyum dari seorang gadis disuatu sore yg sederhana, senyum dengan tatapan malu-malu.
Senyum itu, senyum yg jika dilihat Michael Learn to Rock, aku berani bersumpah jika mereka akan langsung merilis sebuah lagu baru hanya karena senyum manisnya itu.
Bisa kubayangkan, seandainya suatu sore aku sedang duduk taman musim gugur Heaton Park menunggu giliran naik trem tua dengan bunyinya yang minta ampun ributnya itu, lalu gadis itu datang diiringi guguran daun mapel dengan senyum manis dan tatapan malu-malunya. Duduk disampingku sambil bertanya, "Mau naik trem juga?"
"Ya," jawabku dengan kalimat yg sangat grogi.
Lalu kulihat dia mengeluarkan jaket sambil berkata, "Manchester sedang musim gugur, seminggu lagi akan musim salju, dinginnya mulai terasa ya.."
"Ya.."jawabku lagi semakin kaku.
Dia mulai menggunakan jaket warna hitam bergaris merah itu, kulihat ada tulisan Manchester United di bagian belakang, ah, dia tampak sangat cantik dan senyum manis masih tersungging dibibirnya, sepertinya senyum itu susah lekang dari bibirnya. Itu membuatmu jadi berpikir, "apakah dia tersenyum semanis itu kepada semua orang, kalau ya, sudah berapa orang yg jatuh cinta kepadanya hanya karena senym itu?"
Astaga, rasanya itu lebih indah dari pada pemandangan senja dengan matahari yg terbenam di pelabuhan Manchester.
Saat angin musim gugur berhembus, rambutnya beterbangan seperti guguran daun, dengan buru-buru dia mengikatnya sambil berkata dengan senyumnya ," Kau terus memperhatikanku.."
Aku sudah berkali-kali membaca tentang sebuah pertemuan di taman, spekulasi tentang cerita romantis yang dipaksa berakhir bahagia, namun baru kali ini aku terperangkap dengan cerita yg sama, dengan seorang gadis manis dengan senyumnya.
Saat tremnya datang, kami naik bersama, ketika aku duduk, dia datang dan bertanya, "Boleh duduk disini?"
"Tentu.." Jawabku pasti.
Lalu kami mengelilingi Heaton Park, rasanya itu seperti mengelilingi senyumnya, sesekali kami saling berpandangan lalu meyunggingkan senyum masing-masing.
Ya, senyum itu, senyum yg mungkin tidak mudah untuk dilupakan, senyum yg mungkin sudah membuat puluhan lelaki lainnya jatuh cinta kepadanya, senyum yg menginspirasiku untuk menulis catatan ini sambil mendengarkan lagunya MLTR.
Aku kadang berpikir, sudah seberapa banyak seorang lelaki sentimentil yg menulis berbait-bait puisi, berlembar-lembar fiksi hanya karena senyuman seorang gadis?
Aku tidak tahu apakah itu hal yg sangat buruk atau malah sesuatu yg sangat menarik, tetapi tentang gadis di Heaton Park dengan senyum manisnya itu kami masih sempat menghabiskan waktu bersama hingga kami terpisah di stasiun Piccadilly lalu berjanji untuk bertemu lagi di Old Traffold untuk menonton derby Manchester, aku yakin dengan senyumnya Manchester United bisa menggilas tim sekotanya itu.
Oh ya, ketika akan berpisah aku masih ingat menanyakan namanya, "Liana.." ucapnya dengan senyum manisnya.

Selasa, 27 Oktober 2015

Menulis Kenangan

Pernah suatu sore saya membaca sebuah novel yang adalah sebuah kisah nyata yang ditulis orang lain. Ceritanya sangat menarik, penulisnya seperti bisa menjiwai apa yang ditulisnya meskipun itu bukan pengalamannya sendiri dan ketika membacanya kita sendiri bisa masuk dalam cerita yang ditulisnya, pembaca seakan-akan menjadi tokoh utamanya. Novel itu menggunakan sudut pandang orang pertama (dan saya suka sudut pandang itu karena rasanya seperti pembaca sendirilah yang mengalaminya), juga menjelaskan hal secara detail sehingga bisa membayangkan bagaimana sebenarnya kejadian dan suasana yang terjadi di novel itu. Tetapi bukan itu sebenarnya yang ingin saya bahas, ketika saya membaca novel tersebut yang adalah sebuah kenangan dari seseorang dan diceritakan kepada temannya yang adalah penulis novel itu dan novel itu dibuat sebagaimana yang diharapkan yang empunya cerita, sebagaiman yang diharapkan para pembaca dan artinya secara umum adalah kenangannya punya nilai jual. Ini sebuah pandangan ekonomis meskipun sebenarnya bukan itu yang kita inginkan. Namun kita harus tahu, setiap kenangan punya nilai jual tersendiri, setiap catatan, setiap pengalaman, setiap apapun yang kita perbuat, hanya masalahnya bisakah kita mengelolanya? Mungkin anda ataupun saya adalah orang yang punya kenangan dan jika anda adalah seorang yang melankolis mungkin senang membuat catatan atau mengenang kenangan itu untuk diri anda sendiri, tetapi untuk mereka yang ekstrovert ataupun jenis keperibadiaan lainnya mungkin senang mengumar kenangannya dan selalu senang bercerita mengenai apapun yang pernah dialaminya. Tahukah anda, saat mendengarkan mereka menceritakan kenangannya itu adalah sebuah hal yang sangat menarik, rasanya seperti membaca novel bestseller apalagi sang pencerita adalah orang yang detail bercerita pasti anda akan selalu penasaran dibuatnya, hanya sayangnya orang-orang seperti ini biasanga agak susah kalau disuruh untuk menuliskan setiap kenangannya, jadi mungkin bisa diusahakan untuk merekam ataupun mengingat apapun yang diceritakannya, Berbeda dengan yang diatas, orang melankolis memang selalu identik dengan sentimentalnya, kau tahu kawan, salah satu hobiku adalah membaca catatan dari seorang yang melankolis, ya, catatan dear deary atau apapun itu (dan aku termasuk salah satu diantaranya dengan catatan untuk S di T ku). Tetapi sebenarnya tidak susah untuk mendengar sebuah cerita yang sesungguhnya dari seorang melankolis, kau hanya berusaha jadi orang yang dipercayainya dan dia akan menceritakan sampai pada air mata yang merembes dicatatan hariannya. Nah, sesudah itu tinggal minta ijin apakah diizinkan membuat tulisan daru kenangannya. Hanya saja sekarang sudah cukup susah, orang-orang sudah punya banyak kenangan, hahaha.. Bayangkan pada usia 21 tahun seperti saya ketika menulis artikel ini, banyak yang sudah punya kenangan mengenai pacaran lebih dari sepuluh kali, saya jadi bingung menulis kenangan yang mana apalagi jika harus membuat kenangan itu jadi sebuah novel, tetapi untuk sebuah cerpen mungkin bisa. Namun perlu saya tekankan, sebenarnya kenangan itu bukan hanya tentang cinta romantis, pacaran atau hal-hal lainnya yang berbau asmara, tetapi kenangan itu banyak, cobalah untuk mulai menulisnya, cobalah paling tidak kau bisa mengabadikan kenanganmu dalam tulisan karena saat kita sudah tidak ada, setidaknya kenangan kita masihbada dan kita hidup dalam kenangan itu

Catatan Karena tidak bisa tidur..

Pagi ini sebelum tidur, aku berpikir untuk menuliskan sesuatu, mungkin bermanfaat, setidaknya untuk diriku sendiri.
Suatu waktu aku pernah memikirkan mengapa seorang Faocault atau Baudliard memikirkan untuk menulis pemikirannya, mengapa Einstein dan Hawking bersikeras untuk Fisika teorinya, mengapa Keynes dan Fishcher harus berusaha untuk teori ekonominya?
Teringat suatu waktu Gie pernah menanyakannya, "untuk apa aku melakukan semua ini?"
Mungkin aku bukanlah seorang sosiolog yg selalu setia dgn teori-teori sosial mereka yg menurutku abstrak tetapi cenderung bisa diterima, aku juga bukanlah seorang fisikawan meskipun aku lebih bisa menerima teori relativitasnya Einstein dibanding blackholenya Hawking yg hampir tidak dinalar logikaku.
Tetapi meskipun begitu aku harus jujur padamu, aku adalah pecinta novel-novel, film dan cerpen sentimentil dan romantis, aku adalah orang yg diam-diam menulis buku harian dgn catatan galau, aku sering berbicara apa yg tidak aku tahu, aku adalah orang bodoh yg tidak tau apa-apa, takut kepada ketidak tahuanku, takut terhadap ketidakmampuan, takut dalam segala hal dan ketakutan itulah yg memang menakutiku.
Suatu waktu di bulan Oktober (dan itu jugalah yg mendorongku membuat catatan ini) aku pernah membuat resolusi untuk menjadi seorang jurnalis sekaligus detektif, terinspirasi dari komik the advantures of tintin tetapi cita-cita cenderung berubah seiring berubahnya waktu, ya, waktu yg relatif dgn teori dilatasinya itu telah berhasil mengubahku untuk bercita-cita menjadi seorang Insinyiur di bidang pertambangan, tetapi sepertinya itu hanyalah sebuah cita-cita saja.
Sejak dulu saya adalah penggemar ilmu alam sekaligus sastra, saya tidak pernah memikirkan disiplin ilmu bisnia maupun ilmu sosial, meskipun begitu saya adalah penggemar ilmu sejarah dan pengetahuan umum lainnya yg bersifat dasar, saya juga penggemar ensiklopedia, tim sepakbola Manchester United, senang lagunya Michael Learn to Rock dan sangat suka dgn topik bahasan yg cenderung lari.
Saya pura-pura banyak tau ttg segala sesuatu, nyatanya saya tidak tau apapun juga, hanya utk terlihat punya wawasan dan saya menyadari bahwa apa yg saya ketahui itu hanyalah sebuah kebodohan yg mungkin tidak termaafkan.
Saya menolak teori-teori pembenaran, menolak teori yg tidak masuk akal karena tidak terbukti secara ilmiah, tidk setuju dgn prinsip egoitas, popularitas dan rasis.
Mungkin agak sedikit sosialis dan komunis, saya adalah seorang yg menolak liberalis, menolak pasar bebas dan aliran-aliran lain yg hanya memikirkan profitabilitas tetapi mengacuhkan dampak yg ternyata sangat materil.
Pemikiranku mungkin sudah sangat lari, bahkan saya sangat sadar bahwa artikel ini hampir seluruhnya adalah curhat belaka dgn beberapa kata-kata agar terlihat ilmiah dan terhindar dari nuansa fiksi, ya, ya, semua memang hanya sandiwara, seperti aku yg sering pura-pura memegang buku tetapi ternyata tidak membacanya, seperti aku yg sering menilai orang lain tetapi hasilnya selali meleset, seperti aku yg sering merasa bermakna, tetapi hanyalah sampah, sama seperti sampah-sampah lain disekelilingku.
Lalu apa gunanya hidup jika tidak menghasilkan makna.
Apakah putih bermakna jika berada diantara putih juga?
Apakah engkau mendapat makna dari apa yg kutulis ini?
Entahlah, tetapi ini sudah jam dua pagi, rasanya ada baiknya jika aku tidur saja dan semoga engkau memperoleh makna ttg waktu, tentang untuk apa kau hidup, apa tujuan hidupmu dan makna-makna yg lainnya.
Ya, semoga saja oktober bermakna Bagimu dan bagiku!

Catatan Masa Kecil

Sepertinya aku punya satu hal yg unik untuk diceritakan, ini kisah hampir lima belas tahun lalu, tahun 2000 an.
Saat itu aku baru masuk di ñnSDN 030328 Bandar Huta Usang, aku ingat jelas guru kami saat itu adalah Ibu Lingga (kata bapakku, dulu saat SD ibu itu juga gurunya, menurut kabar yg kudengar ibu itu sudah meninggal) Ibu itu yg selalu menyebut kami dgn sebutan "anak muda" (saat itu kalau sebutan anak muda adalah tokoh protagonis yg menjadi pahlawan dalam sebuah film atau cerita).
"Bikin anak muda, a, b, c.. Ditulis berulang ya, langkah-langkah satu.."
Bukan main senangnya kalau bisa menulis huruf a satu halaman dgn langkah-langkah satu baris, lalu akan dibawa kedepan utk di nilai, dan pasti dapat nilai yg sempurna 100!
Kalau mau permisi ke WC (yg kadang tidak layak dikatakan WC karena memang tidak terawat dan airnya tidak mengalir saat itu, bak penampungan airnya juga sering kami jadikan tempat bermain) kami selalu ramai, saat satu orang permisi, yg lain akan permisi juga, sehingga kami akan berbondong-bondong, seperti gerombolan kambing, dan biasanya kami akan bebas mengencingi apa saja, pohon dibelakang kelas, bunga, bahkan dingding kelas yg terbuat dari papan itu hingga pernah suatu kali ada aliran sungai yg mengalir dan merembes melalui dinding itu.
Ada jg satu kejadian yg sangat membekas dan mungkin akan selalu saya ingat, saat itu kami berbondong-bondong saat permisi dan kawan saya yg berinisial M menjadi orang yg belakangan keluar, ketika semuanya sudah siap kencing dan akan kembali masuk kekelas, ternyata M masih baru saja kencing dan dgn buru-buru dia menyelesaikan kencingnya, menutup resleting celananya dan astaga, dia lupa memasukkan kembali anunya.
Otomatis kulupnya kena lindas resleting dgn ganasnya, kami semua terkejut mendengar teriakannya yg meronta kesakitan, ketika kami kembali, kami melihat kulupnya terpisah oleh resleting, aku bisa membayangkan betapa sakitnya itu..
Ibu Lingga dipanggil, M terus menangis karena anunya tergincit resleting, untuk dibuka kembali dgn memundurkan resleting rasanya itu adalah sebuah penyiksaan.
Untuk saja ada guru yg bijak memberikan solusi, resleting dirusak dari atas lalu ditarik pelan-pelan agar tidak terasa sakit.
Ya, yah..
Kalau mengingat itu ada sedikit rasa ngilu dan rindu, tidak terasa sudah lama kejadian itu berlalu.

Big Boss..

Saya ingat dulu ketika baru punya ponsel, saya menggunakan ponsel abang saya. Ketika itu ada nomor yg belum dihapus dari sana, termasuk nomor bapak, saya jelas ingat dia menggunakan nama "big bos".
Dari situ sampai hari ini saya juga menggunakan nama "big bos" juga, tidak pernah menggantikan nama itu sudah beberapa tahun.
Iseng-iseng saya melihat daftar kontak ponsel adik saya yg masih SMA itu, ternyata dia juga menggunakan nama "big bos",untuk nomor bapak, sayangnya saya belum memastilan adik saya yg satu lagi apakah dia menggunakan nama kontak "big bos" untuk bapak.
Tetapi diam-diam saya mulai menyadari apa sebenarnya yg tersirat di dalam istilah "big bos" itu. Bapak adalah pimpinan yg paling utama dalam keluarga, seorang sosok yg jadi panutan. Apapun kata orang, tetapi bapak adalah tetap orang tua yg mengasihi anak-anaknya meskipun harus jujur, sudah berapakali saya menantang dia, menganggap remeh, tidak mendengarkannya, bahkan melawan dia.
Mungkin percuma aku membuat tulisan ini jika aku tidak bisa berbuat apa, tetapi aku selalu tau, tidak ada oramg tua yg menginginkan yg buruk untuk anak-anaknya.
Pernah suatu kali saya berpikir ketika ibu berkata, "suatu hari nanti jgn menjadi seorang pria seperti bapakmu...."
Kenapa?
Mungkin aku tahu sendiri jawabannya, tetapi aku tetap ingin sepertinya meskipun dalam beberapa hal yg buruk harua dihindari karena bukankah tidak ada orang yang sempurna?
Pagi ini aku menulis tentang bapak, rasanya seumur-umur belum pernah aku menulis tentang dia, ini tentang ulang tahunnya.
Tidak kusangka dia sudah tua juga, padahal kami anaknya masih ada begini-begini juga.
Aku hanya bisa berjanji padanya, suatu hari nanti kami punya waktu untuk bersama, menikmati hari-hari bersama untuk memancing ikan, membaca koran sambil menikmati kopi, mendengarkannya bicara tentang pengalamannya dulu ketika masih muda meskipun mama beberapa kali menyela, mendengar tarombo, mitos-mitos yg kadang sudah tidak masuk akalku.
Aku berjanji akan menyediakan waktuku, itu saja.
Selamat ulang tahun bapak, big bos..

Sabtu, 25 April 2015

Terjebak Hujan

Kurasa tidak terlalu buruk jika suatu hari nanti kau menemukan dirimu terperangkap dalam hujan di sebuah perempatan jalan di kota M ini, karena sungguh, kau akan menikmatinya, orang-orang yang berteduh, ojek payung gratis yang sok jadi pahlawan atau bahkan mata-mata liar yang mencari kesempatan- ditengah kesempitan.
Karena itulah kemungkinana, dan kau mungkin akan beruntung melihat seorang gadis yang linglung, dan kau tidak pernah tahu, apakah dia sedang menunggu seseorang ataukah dia terbuai kenangan dalam hujan?
Jikalau kau punya nyali, kau akan mencoba menanyakan itu kepadanya, dengan pertanyaan malu-malu yg penuh makna..
"Hujannya deras juga ya.."
Dan mungkin dia akan menjawabmu dengan anggukan saja, lalu kau akan meneruskan pertanyaanmu..
"Terperangkap hujan juga?"
"Ya.."
"Memangnya anda mau kemana?"
"Kenangan.."
"Astaga, anda jgn bercanda, dimana itu kenangan?"
"Diantara bus-bus yang melintas menembus hujan, mereka selalu membawa kenangan.."
Dan kau akan terdiam sejenak, untuk mencerna apa yg diucapkannya, saat itu hujan masih turun deras dan jalanan sudah mulai tergenang, apakah engkau masih mencoba melanjutkan percakapan?
Kau mencoba melirik sekilah wajahnya, dan saat yang sama dia melirikmu, pandangan kalian bertemu, adakah kata yg cocok untuk melukiskannya sebagai sebuah suasana?
Hujan mungkin tidak akan segera reda, namun sebagai seorang pria yg melankolis, kau pasti akan selalu punya cerita tentang setiap suasana, karna itu jglah mungkin kau sampai lupa dan merasa hujan kali ini terlalu singkat utk sebuah kenangan, sehingga kau jg lupa menanyakan dia siapa bahkan kau lupa bahwa sebenarnya ini hanya sebuah fiksi sederhana.

Sabtu, 25 April 2015

Jumat, 13 Maret 2015

Dan Bila Hari Ini Beranjak...

Mungkin aku akan mengenangmu seperti sebuah aliran sungai yang bening!
Jangan kau tanyakan mengapa karena memang tidak ada jawabannya, dan tidak seharusnya aku menjelaskannya.
Aku memang mengerti mengapa ada kecewa meskipun aku sangat susah untuk menerimanya meskipun berulang kali aku mencoba tetapi keyakinanku tetap pada batasnya.

Kamis, 12 Maret 2015

Besok (Mungkin) Sentimentil Akan Berkuasa

Tidak tahu mana aku memulainya..

Aku menikmati alunan musik yang sendu itu sambil mambayangkan kisah dalam lagu itu adalah kisahku. Aku bisa merasakannya, bagaimana seorang yang selalu tinggal dalam kenangan, seorang yang hatinya selalu tersisa meskipun sudah ditinggalkan kekasihnya.
Dia masih sanggup berkata,

Senin, 02 Maret 2015

Bermakna karena dimaknai

Banyak orang mencari pemahaman, tetapi saya kecewa kepada mereka yang tidak kunjung paham
mungkin seperti dahan yang berhembus kemana angin membawanya, begitulah kita yang tidak mengerti apa isi sebuah tatapan mata.
Memang harus saya akui, kita adalah diri kita sendiri dan kita tidak dapat memaksa orang mengerti, kita cenderung dengan egoisme kita, pemikiran kita yang tidak menentu ini, tetapi ada saatnya kita untuk menyendiri, mencari arti dan memahami apa yang sedang terjadi
Rasanya sudah terlalu bosan mengeluh untuk dikasihani, rasanya sudah terlalu lelah berbicara untuk didengarkan dan mungkin sudah saatnya mendegar keluhan dan mengasihani, rasanya sudah saatnya berbuat baik dan berusaha lebih banyak, memahami dan menyediakan otak untuk mengerti.
Terlalu asik dengan dunia sendiri akan membuat kita tidak melihat apa yang sedang terjadi, padahal sangat banyak sosialisasi dan kehidupan yang harus dinikmati, jangan katakan bahwa dirimu adalah orang yang pernah hidup jika kau merasakan yang senangnya saja, kita bahkan lebih buruk dari sebuah mayat jikalau tidak berarti lagi bagi orang-orang di sekitar kita.
Mungkin saya juga adalah orang yang tidak jauh berbeda, tetapi semakin lama semakin saya menyedarinya bahwa kehidupan yang sekejap ini jika kita tidak memberi kontrubusi maka semua akan sia-sia saja dalam hidup kita. Saya memahaminya dari beberapa orang yang berani mengabdikan diri tanpa berharap apa-apa, hanya untuk memaknai hidupnya.
Ya, karena terakhir ini memang terlalu mudah orang berjanji dan terlalu mudah juga patah hati.
Tetapi kau harus menyadari bahwa sebenarnya semua hidup itu adalah inspirasi karena itulah kau tidak perlu menghabiskan waktumu mencari inspirasi, tetapi cobalah memaknai kehidupan ini.
Hidup adalah inspirasi, penuh jejak yang sarat makna.
Ya, abdikanlah diri kepada Yang Kuasa, turut kehendakNya untuk mengasihi sesama karena dengan itu kau akan mengerti semuanya.

Rabu, 28 Januari 2015

Terima Kasih

Terima kasih telah membuatku terus berjalan menujumu, meski kadang tersendat-sendat, kadang jalanan berkabut, hujan bahkan aku tidak tahu arah menujumu lagi. Kadang aku ragu pada diriku sendiri, ragu kepada keputusanku untuk terus berjalan, tetapi matahari masih terbit di timur dan senja masih datang saat malam menjelang, aku masih tetap menuntun langkahku menujumu. Menuju beningnya tatapan sayumu, rasanya aku tidak bisa membedakan antara rasa senang dan kuatirku. Aku senang memandanginya, tetapi kuatir tidak bisa memilikinya. Mendengar ucapanmu yang selalu mengalir dengan ceria, aku hampir tidak bisa memutuskan apakah aku harus mengingat atau melupakannya. Mengingatnya membuatku selalu ingin mendengarkanmu berbicara, tetapi melupakannya akan membuatku kehilangan jejakmu.
Aku tahu, jalanan ini selalu berbatu saat aku menujumu. Banyak persimpangan yang buatku ragu, terkadang hujan mengguyur impianku, angin menghembusnya. Tetapi perjalanan tetaplah perjalanan untuk sebuah pembentukan dan persiapan, aku memang tidak tahu kemana aku melangkah, tetapi aku tahu langkahku menujumu.
Sebenarnya, ada banyak cerita dalam perjalanan ini. Tentang angin dan debu yang selalu menerpa, bunga di tepi jalan yang selalu menggoda, daun-daun gugur yang menutupi jejakmu dan buatku kehilangan arah.
Tetapi, sekali lagi terima kasih!
Senyummu tetap menuntunku dalam ilusi, memberi warna pada tiap harapan yang pudar.
Aku tahu, aku dan engkau terpisah waktu yang membuatku tidak tahu seberapa lama dan sampai kapan harus tetap berjalan. Aku juga tahu, kita tidak jauh terpisah jarak, tetapi rasanya sangat jauh menujumu. Sama seperti menuju sesuatu yang semu bagiku.
Tetapi, entahlah. Aku tidak tahu apakah engkau pernah tahu bahwa dalam perjalananku menujumu aku pernah menjadikanmu puisi, agar bersama kata-kata kau bisa abadi(1).
Memang aku akui, setiap perjalanan akan menyisakan ceritanya sendiri. Kadang aku ingin menciptakan tujuan baru dalam perjalanan ini, tetapi rasanya itu adalah pekerjaan sia-sia karena alur ceritaku selalu tentangmu. Ini adalah untuk kali yang kesekian aku memahami terjal yang membentang didepanku, tebing yang curam dan berkabut membuatku tidak tahu apakah aku harus tetap melangkah menujumu. Tetapi aku tetap pada keyakinanku, akan selalu ada ujung jalan saat engkau berhenti disana dan (mungkin) menungguku, akan ada tempat untukku singgah sebentar untuk memutuskan apakah aku akan bersamamu atau akan tetap kembali berjalan sendiri tanpa arah yang pasti (meski sebenarnya aku selalu berdoa untuk bisa tinggal selamanya menghabiskan sisa waktu bersamamu).

Selama engkau belum memilih untuk singgah, berhenti dan menetap disuatu tempat. Aku rasa, aku masih punya waktu menujumu. Aku hanya berdoa kepada TUHAN kita, semoga tidak ada musim gugur, musim salju atau bahkan badai yang menghalangi perjalananmu agar engkau tetap dapat melaju tanpa harus singgah dan berhenti dijalanmu. Dan selama engkau belum memutuskan untuk singgah aku akan tetap melangkah..

Sabtu, 24 Januari 2015

Menghabiskan Malam

Entahlah tetapi malam ini ada cerita yang seharusnya kamu tahu, tentang pohon yang tumbuh sendiri di padang dan seekor burung membuat sangkar di dahannya. Kamu juga harus tahu tentang tunas-tunas muda yang muncul saat musim semi mulai tiba, dan daunnya mulai muncul menjelma hijau diantara ranggas-ranggas yang masih tersisa. Atau juga tentang matahari yang muncul di pagi hari dan dia selalu tepat waktu sekali (pernahkah kau bayangkan jikalau matahari itu seorang lelaki yang selalu menepati janji dan suatu hari nanti engkau diminta menemuinya dan disuruh menunggunya? Aku tahu engkau pasti menanti meskipun waktu semakin lama semakin menghantui, ah tetapi nanti saja atau esok hari kuceritakan kepadamu tentang matahari-itupun jika kamu punya waktu)
Ya, kamu harus tahu semua itu. Sebab sebenarnya sangat banyak yang ingin kuceritakan padamu : Tentang bintang-bintang yang kadang hilang sehingga kita pun linglung dan kadang kehilangan harapan dibuatnya, tentang bunga ilalang yang kalau kering selalu terbang, atau tentang rumput-rumput yang selalu mengering dan menguning di padang gersang. Ya, aku ingin menceritakan kepadamu itu semuanya dikala petang dan kita sedang bersama menikmati senja yang membayang di bawah pohon rindang, tetapi kadang aku tahu kamu tidak punya waktu untukku, padahal aku ingin menghabiskan waktu bersamamu.  Bercerita tentang dongeng-dongeng konyol yang melegenda, menikmati senja yang selalu berakhir gelap di barat sana, menyirami bunga-bunga yang akan mekar di halaman rumah kita, mengomentari berita-berita unik dari tiap belahan dunia, memilih destinasi wisata seperti yang biasa dilakukan orang-orang kaya, menulis puisi bersama, cerita hingga menghabiskan hari-hari yang sudah tentu akan selalu kurang rasanya.
Ya, seandainya saja engkau mencoba memahami itu semuanya. Memahami mengapa gemericik air menenangkan jiwa yang kesepian, mengerti mengapa hujan selalu menyisakan kenangan dalam kesendirian. Mungkin aku tidak perlu bercerita banyak kepadamu tentang malam ini, malam dimana lampu di sekitarku semuanya terasa sangat temaram, malam dimana aku merasa sangat sentimentil dengan sebuah kenangan dan harapan. Malam yang sangat melankolis untuk seorang yang merasa dirinya selalu mencari kehidupan.
Aku memang tidak tahu kapan malam ini berlalu, tetapi aku yakin pasti berlalu. Dan kamu juga harus tahu, malam ini aku melihatmu berdiri di depan pintu membentuk siluet hitam yang kukagumi itu, benarkah itu dirimu?
Aku ragu, ragu pada waktu, ragu pada harapanku, ragu pada pikiranku, ragu pada penglihatanku.
Apakah itu mimpi?
Bukan iu bukanlah mimpi, itu hanyalah ilusi yang kuciptakan sendiri untuk bias kuceritakan padamu juga suatu hari nanti saat kau sudah bersamaku, menemaniku menyusuri jalanan yang menanjak dan berbatu.
Dan aku juga harus memastikan bahwa kau memang menunggu disuatu sisa waktu, lalu menggenggam tanganku dan melangkah bersama dan kita akan diam membisu sepanjang waktu. Tetapi aku dan engkau akan selalu tahu bahwa disetiap tatapan mata kita bertemu akan selalu ada rindu yang menyatu, rindu untuk menghabiskan sisa waktu itu.
Tetapi, entahlah semua yang kutulis ini memang  impianku saja. Sesuatu yang biasa kulakukan saat wajahmu mengganggu pikiranku, padahal sebanarnya aku tahu bahwa waktu masih harus berganti dan berlalu. Tetapi yang belum bisa kujawab sampai hari ini adalah mengapa engkau berdiri di pintu hatiku? Masuklah jika engkau ingin masuk, hatiku terbuka untukmu, pergilah jika ingin pergi sebab sebenarnya engkau menghalangi orang lain untuk masuk (status kakak kelompok rohaniku).
Sebenarnya, aku hanya ingin malam ini cepat berlalu karena semakin lama  malam ini berlalu semakin banyak juga yang ingin kuceritakan padamu, semakin lama aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, ah, andai kamu tahu aku menunggu.

catatan kecil

Kadang kita harus belajar untuk tidak mempunyai perasaan, tidak punya air mata, tidak punya hati nurani.
Tetapi apa boleh daya, terlalu menyedihkan rasanya jika kita harus menutup mata, membuat dunia dalam hidup kita sendiri.
Tetapi bagaimana jadinya jika kita tetap tinggal dalam kenyataan yang begini?
Terlalu banyak yang harus di ubah, tetapi teramat sedikit yang mau berubah.  Banyak yang harus dipikirkan, tetapi sayangnya terlalu sedikit pemikir, banyak yang harus dihitung, tetapi rasanya terlalu sedikit yang punya perhitungan.
Kadang aku sendiri heran dengan kenyataan yang kuhadapi, tetap terlalu sedikit orang yang bisa kupercayai untuk berbagi, karena itulah aku mencoba berbagi dengan kenyataan dan waktu sebab mereka itulah temanku. Dan sebenarnya teramat banyak yang ingin kuceritakan, tetapi akau selalu tahu bahwa masih banyak sebenarnya yang harus kudengarkan, ya, karena itulah aku harus mendengar dulu sebelum menceritakan yang sebenarnya.
Sebenarnya, aku tahu semua :
Saat banyak orang bercerita tentang kesenangannya : mereka lupa, orang-orang lainnya sedang dalam kesedihan.
Saat orang dalam glamor masa depan : orang lainnya terjebak dengan kesuraman masa lalu.
Ah, memang menurutku tidak ada yang lebih indah selain berempati, berbagi kasih, berbagi kebahagiaan. Ya, aku ingin mereka juga tahu seperti apa cerahnya masa depan itu, aku ingin mata-mata sayu itu kembali dengan harapan-harapan yang cerah,berbinar memandang harapan diesok hari dan biarlah kepahitan dan pemikiran-pemikiran dalam kesendirian serta kesepian ini kutanggung sendiri sehingga menjadi cerita yang tidak berarti.
Biarlah aku sendiri yang terkubur dalam kebohongan dan kekecewaanku dan mencoba tinggal dalam panggung sandiwara ciptaanku hingga mungkin suatu saat nanti aku mulai muak dengan semua ini dan mencoba meninggalkan kenyataan.
Ya, suatu saat nanti
Aku ingin meninggalkan semua ini
Meghilangkan jejak dalam kenyataan
Sebab aku tidak tau kepada siapa lagi aku harus berbagi
Sebab sebenarnya aku ingin bercerita kepadamu tentang puisi-puisi yang sering tidak selesai
Tentang keinginanku menginjakkan kaki dipuncak tertinggi
Atau juga tentang cerita-cerita fiksi yang selalu membuatku menghabiskan hari.
Lalu aku ingin engkau berkata suatu hari nanti :
“Aku akan menyelesaikan puisimu, menemanimu ke puncak tertinggi bahkan menungguimu setiap hari untuk menghabiskan cerita kita.”

Tetapi, bukankah aku tahu bahwa itu adalah mimpi bodoh yang berlawanan kepada logika? Karena sebenarnya saat aku menutup mata, aku ingin menutup mata dari kebohongan dunia, mengakhiri semua kisah yang tidak pernah ada dan aku akan melangkahkan kaki keudara. Dan lihatlah, aku terbang, terbang dalam anganku sendiri, mengepakkan sayap yang memang tidak akan pernah ada. Aku akan pergi ketempat dimana tidak ada lagi kepahitan dalam hati.

Sabtu, 06 Desember 2014

Desember

7 Desember
Sudahlah, berhentilah dengan teori-teori busuk dan kata-kata kotor itu, berhentilah menggunakan pembenaran pada diri sendiri. Kita sudah teramat kotor dan dunia inipun teramat kotor, lihatlah mereka menggunakan seribu alasan untuk melakukan pembenaran. sedangkan yang lainnya melakukan kegiatan untuk menopengi kehidupan yang sesungguhnya.
Sudahlah, kita teramat sangat bangga akan ucapan yang indah tetapi tanpa perbuatan. tetapi kita sangat membenci yang beralasan. Kita menyukai keindahan dan kebahagiaan tetapi tidak berusaha untuk itu, rasanya kini lebih baik aku menemukan yang tidak punya pikiran dan tinggal bersamanya dari pada harus tetap dalam kebohongan. Rasanya lebih baik aku berjalan dalam kesendirian daripada berjalan tetapi punya musuh dalam selimut, aku muak dengan kenyataan, muak dengan kotoran-kotoran yang mengalir dalam darahku, muak dengan diriku, muak dengan pemikiranku. Sepertinya memang tidak ada yang lebih bagus selain daripada menjadi seorang pecundang yang tidak perduli akan kehidupan, pecundang yag tidak pakai topeng, pecundang yang tidak mengeluarkan kata-kata yang tanpa manfaat, pecundang yang berjalan lurus dan berbuat baik tanpa tujuan tersembunyi.
Berhenti berbuat jika hanya untuk keuntungan diri sendiri, berhenti hidup kalau hanya ingin bahagia sendiri dan berhenti bernapas kalau memang ingin bernapas sendiri dan cobalah untuk membuat kehidupan sendiri.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
5 desember
Kadang kita hanya perlu membedakan mana kawan mana lawan, mana saingan mana teman seperjuangan, yang mana memuji yang mana menjatuhkan, yang mana harapan mana kehancuran,yang mana kemungkinan mana kemustahilan. Ya, yang mana permainan mana keseriusan, mana negatif mana positif, yang mana utara mana selatan, mana baik mana buruk. sebab sekarang semuanya hampir kabur, hampir tidak ada beda rasa suka, rasa cinta dan nafsu, hampir tidak ada batas yang baik dan yang buruk, seseorang berlaku buruk untuk hal yang baik dan seorang lainnya berlaku baik untuk hal yang buruk. Aku tidak mengerti mengapa kutub utara dan kutub selatan ada pada satu garis lurus, dan aku juga tidak akan memahami mengapa matahari melintas dari timur ke barat, padahal semuanya bertolak belakang.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1 desember

Tidak ada lagi yang harus dibicarakan, kita adalah kita, kita harus melangkah dan berlari jika tidak ingin tetap disini, kita harus berdiri dan melompat jika ingin menggapai yg lebih tinggi, kita harus berbicara untuk dipahami, mendengar dan melihat untuk memahami, kita harus diam untuk mendengarkan, fokus untuk mengamati. Tidak ada yang harus didebatkan, kita harus mengerti mengapa air mengalir, mengapa cahaya menyilaukan dan mengapa-mengapa yang pernah ada, dan kita harus mengerti mengapa kita berbeda, tidak perlu bertanya, karena kita memang harus bersama, melengkapi perbedaan agar sempurna.

Kamis, 30 Oktober 2014

CATATAN 27 Oktober 2014

Akankah aku selalu bisa menikmati waktu yang akan terus berlalu ini? Aku tahu bahwa setiap detik dalam hdup ini adalah harapan dan kita punya berbagai cara  untuk mewujudkan harapan itu. Kadang kita harus merelakan semua tetapi tetap tidak ada kepastian untuk mendapatkan harapan itu.
Aku adalah aku, egoisme yang mungkin akan selalu mengantarkan aku kesebuah ketidakpastian, aku selalu memikirkan diriku sendiri meski kali ini aku tahu bahwa setiap rencanaku bukanlah aku sendiri yang menentukan. Kadang aku berharap apa yang didepanku adalah jawaban doa-doaku, tetapi kenyataan harus memaksaku menggigit jari dan menunggu sampai kapan kenyataan ini kuhadapi.
Aku selalu berharap bahwa setiap kenyataan ini adalah kebahagiaan, kesenangan bahkan kesantaian. Tetapi aku harus tetap menjalani hidupku dengan penuh pemikiran dan semoga ini bisa mengantarkan aku menuju kedewasaan. Aku tahu bahwa aku harus sabar menghadapi proses pembentukan ini, semakin lama dibentuk maka jiwaku akan semakin lentur dan bisa untuk semua wadah, ya begitulah kenyataan saat satu persatu impianku harus kurelakan.
Kadang aku senang dengan yang namanya kekaguman, aku senang dengan kemungkinan dan harapan dan aku adalah yang menyimpan semua dalam tulisan.
Dan tahukah kau sejak pertama aku melihatmu aku tahu bahwa kau memiliki sifat yang kuharapkan, tetapi aku tidak terlalu mudah menunjukkan sebuah kekaguman sebelum mempelajari sifat seseorang, karena itulah aku mencoba membaca buku untuk bisa melihat bagaimana reaksi dalam sebuah pertemuan dan aku akan terus mempelajari semuanya.
Pernahkah kau tahu saat aku mencatat tulisan ini, sebenarnya sangat banyak yang ingin kutuliskan untukmu (meski aku tahu bahwa tulisanku hampir tidak teratur sehingga sulit ditangkap maknanya), kenapa? Tiap aku menulis kata, akan selalu banyak ide yang ingi kutuliskan untuk membuat kau tertarik paling tidak pada tulisku ini saja.
Aku pernah berpikir kepada siapa tulisan ini kusampaikan suatu hari nanti, dan itu jugalah yang akan membuatku selalu menulis untuk menuangkan setiap yang ada dipikiranku. Aku selalu tahu bahwa sungguh sangat banyak yang harus kuperbaiki dulu untuk sebuah harapan, aku tahu bahwa aku harus membuat sebuah rancangan sebaik-baiknya, pondasi yang kuat dan tiang yang tidak mudah goyah. Aku tahu bahwa tidak bisa hanya mengandalkan rasa suka dan rasa sayang untuk memulai sebuah hubungan belum lagi kantong yang tidak berisi dan kelemahan-kelemahan lain yang akan selalu menghantui.
Kadang aku memang merasa sangat kesepian dalam kenyataan, saat ,melihat teman-teman begitu mudah jatuh hati dan berganti pasangan, saat teman-teman begitu saja lupa pada seseorang yang pernah jadi kekasihnya. Tetapi mungkin tidak begitu denganku, bahkan kalau ditanya aku bisa mengingat detail semuanya dengan begitu sempurna dan mungkin akan selalu begitu (dan aku berharap ini bukanlah menjadi sebuah kebiasaan buruk nantinya.

Tentang kali ini sebenarnya aku harus nmengiyakannya bahwa aku juga mengalaminya, aku tidak  tahu mengapa aku tidak bisa berhenti memikirkan tentangmu, ini sebuah ketololan yang sangat konyol menurutku, tapi sayangnya kali ini aku bukanlah seorang yang suka bersaing apalagi kepada sesama teman dan jika harus ya, aku tidak mau memaksa diri sebab aku tahu, prinsipmu akan selalu sama denganku : bahwa dalam hidup ini kita selalu punya pilihan dan kita akan selalu punya hak untuk pilihan itu. Dan kali inipun aku menyerahkan semuanya kepada Tuhan, sebab Dia adalah Sahabatku, sahabat kita dan Dia-lah yang akan menuntun keputusanmu (dan juga menuntunku terus melalui masa-masa ini).
Melihat yang ada, kadamg aku pesimis kepada diriku dan inilah yang selalu membenamkan keinginanku untuk mempunyai kekasih, aku belum siap saat seorag wanita mengetahui siapa sebenarnya aku, belum siap melalui hari-hari ini dengan kesibukan mempunyai seorang kekasih. Tapi diatas semua itu, aku selalu mencoba membawakan diri sesuai dengan tempatnya, pura-pura menjadi orang yang tegas saat memimpin rapat dan berbicara bersama junior da senior, mejadi teman yang konyol dan pura-pura bodoh bersama tema-teman, menjadi seorang adik dan abang buat saudara. Ya, itlah kebahagiaan buatku saat ini, bermanfaat bagi orang-orang sekitar sehngga mereka bisa mengenang sedikit tentangku, mengingatku dan merasa aku berarti bagi mereka semua (Meskipun mereka tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikiranku)

Aku tau, seiring waktu berlalu, semua ini akan mengantarkanku kepada pengalaman, kedewasaan dan (semoga) kebijaksanaan. Soal ini, aku tidak ingin menceritakannya banyak sebab aku tidak ingin seorangpun tahu apa yang kurasakan. Biarlah suatu saat nanti jika Tuhan memann mengizinkan kita punya waktu untuk bersama maka aku akan menceritakannya, atau jika tidak aku akan mencoba menuliskannya menjadi sebuah novel atau paling paling tidak seiring waktu yang akan terus berjalan aku akan lupa tentang semuanya.

Rabu, 22 Oktober 2014

Surat untuk Hujan

Kita pernah melalui ini,jalan setapak yang dengan angin sepoi dan kau selalu bertanya saat kita melalui jalan yang sama. “Mengapa kita terus melalui ini? Mengapa tidak melalui jalan lain?”
Haruskah kukatakan padamu? Setiap jalan adalah sama, cuma beda usia dan kondisinya. Tidakkah kau lihat disekeliling kita? Jalan penuh dengan pemandangan bunga liar, ilalang dan kapas yang memutih di ujung sana. Semuanya dibentengi pegunungan bukit barisan dengan Gunung Sibuatan yang menjulang.
Haruskah kau kembali bertanya jika suatu hari nanti kau kubawa melalui jalan ini?
Kau tau, waktu terus berganti dan kita juga akan berubah. Tahap biologis ataupun budaya dan sosiologi. Akankah saat kita bertemu nanti kita masih bisa saling menatap dan memegang tangan untuk dapat berjalan melalui jalan itu dengan bergandengan tangan?
Waktu adalah waktu dan seperti yang kita tau kenangan punya tempat tersendiri dalam hati. Jika kita masih ingin menikmati sore hari, tertawa sepanjang hari, haruskah kenangan diakhiri?
Seorang penari nungkin bisa menari dimasa tua, penulis bisa membaca tulisannya, pemotret akan memandangi jepretannya dan pelukis akan memajang lukisannya.
Lalu aku? Haruskah aku kembali menari bersama bayanganmu, membaca kembali cerita yang kutulis tentangmu (untuk mengingat kenangan itu, mumutar kembali kilasan wajahmu yang tersenyum malu-malu menatapku, memajang lukisan tentang masa depan yang selalu kurancang itu?
Aku tau itu gila, tetapi aku tidak pernah tau mengapa aku bisa begitu.
Lihatlah, setiap malam aku selalu menulis beberapa kata. Bahkan bila aku rindu aku menulis semua rasa rinduku pada buku.
Aku tidak pernah tau entah ini hal gila atau tidak. Mengingatmu membuat pikiranku tidak menentu, aku tau, didepan orang aku hanyalah orang yang tidak tau dan tidak mau tau. Tetapi aku punya banyak cerita dalam hatiku,dalam pikiranku.
Setiap waktu adalah tantangan bagiku, antara cita-cita, keluarga dan engkau.
Jika orang bertanya engkau itu siapa?
Haruskah aku cerita bahwa engkau adalah seorang gadis yang kusuka?
Aku tidak tau, tapi harapanku adalah suatu hari nanti engkau akan membaca tulisanku dan engkau dapat mengerti bagaimana aku mencintaimu dalam tulisanku.
Tapi aku tau aku adalah seorang yang sangat rapuh dan tidak cocok untuk tempat berlindung, Hari-hariku kelabu dan buram.
Akan sanggupkah engkau melalui hari tanpa warna ini?
Jika saat nanti semua yang kutulis ini bukan lagi hanya angan dan mimpi, maukah engkau melangkah bersamaku dan kita akan berjalan beriringan melewati jalan yang pernah kuceritakan.
Aku akan selalu punya cerita untukmu, tentang mimpi-mimpi yang melayang. (Meskipun aku tau bahwa kau bukanlah anak kecil yang pantas didongengi).
Aku pernah bertanya kepada diriku sendiri, sampai dimana batas mimpi itu?
Aku tidak tau, tetapi aku sering terperanjat dan bangun dari hayalanku. Aku tau, meskipun saat ini kau bisa jadi milikku, tidak ada yang bisa kulakukan untukmu. Tidak ada!
Aku hanya bisa berdoa,jika memang akan ada cerita, aku yakin tidak akan pernah terganti jadi cerita lain.
Dan kau tau? Malam ini, saat aku menulis ini aku sedang merencanakan jika saatnya kau wisuda nanti (2016 dan semoga saja aku sudah tidak lagi dikampus kita agar aku tidak melihat kekasihmu memelukmu dan memberimu bunga)aku memberimu bungkusan, tulisan-tulisan yang bodoh ini, sebuah buku yang sangat kusukai serta setangkai bunga sintetis agar bisa kau simpan.
Aku tidak ingin mendengar kabarmu suatu saat nanti akan menikah, tetapi aku senang jika kau sudah menikah dan berkeluarga.
Ketahuilah, saat aku menulis surat ini aku sedang membayangkan senyummu, membayangkan bagaimana jika seandainya kau membacanya, mungkinkah kau merasa bahwea tulisanku adalah tulisan terlonyol yang pernah kau baca atau kau hanya akan menganggapku bercanda?
Aku tidak tau, tetapi semoga saja suatu hari nanti seseorang yang akan jadi istriku tidak pernah membaca tulisan ini tetapi aku ingin kekasihmu dan juga suamimu suatu hari nanti membaca tulisan ini agar dia tahu ada orang lain yang sangat mencintaimu sehingga dia akan berjuang untuk mempertahankanmu dan menjagamu.
Ketahuilah, aku menulis ini karena aku merindukanmu dan seperti biasa aku selalu menulis kerinduanku itu di setiap buku yang ada didekatku tetapi malam ini aku menulisnya disini dan aku berharap rasa rinduku ini bisa berkurang.
Dan aku mencoba untuk melupakan semua.
Semoga!
Selamat malam hujan
Selamat malam puisi
Semoga malam jadi kenangan
Dan esok hari harus berganti
Karena banyak hal baru yang harus terjadi.
Dan malam ini kau harus bermimpi, bahwa setiap waktu yang kita miliki sangat berarti.
Selamat malam hujan, tidurlah..!
15 Oktober 2014

Rabu, 07 Mei 2014

Hal Aneh


Aku punya hobby membaca yang gila, bahkan mungkin lebih gila dari yang kau sangka, tetapi sayangnya hobbiku ini musiman saja karena musim-musim lainnya aku lebih suka membaca cerita yang bersifat romansa atau yang lebih gila lagi jika aku kadang membaca setengah saja dari sebuah buku karena yang kubaca tidak ada maknanya.
Kadang aku juga ingin berpetualang seperti yang diceritakan teman-temanku padaku bahwa berpetualang itu adalah hal yang sangat menyenangkan dan menantang sehingga aku sering mencari petualangan alam yang menantang di internet bahkan aku dapat menjelaskannya secara detail kepadamu tetapi satu yang mungkin paling lucu, sampai hari ini aku tidak pernah jadi berpetualang tetapi punya banyak cerita tentang petualangan.
Jika engkau menanyakanku tentang pacar, aku mungkin lelaki aneh yang hingga kini belum punya pacar, tetapi jika kau tanya tentang konsepsi tentang berpacaran, sungguh aku punya banyak pandangan tentang pacar dan jika engkau mau kau bisa berkonsultasi kepadaku tentang bagaimana menjaga hubungan, berpacaran yang baik, cara romantis berpacaran dan hal yang lainnya. Tetapi ingat, janagn pernah menanyakanku tentang berpacaran.
Aku bukan homo, impoten atau hal yang lainnya, hanya saja sampai saat ini aku merasa belum layak untuk berpacaran karena masih banyak hal yang harus kupenuhi untu menjadi kriteria seorang pacar yang baik dan untuk memenhi kriteria itulah sehingga aku selalu mencoba berjuang tetapi ternyata itu menjadi hal yang sangat sulit dalam hidupku.
Aku juga bukan seorang yang punya percaya diri tinggi dan jika percaya diriku lagi down bisa-bisa keringat akn membanjiri tubuhku (karena aku juga adalah seorang yang sangat mudah keringatan). Satu lagi, aku heran kepada diriku sendiri yang belum pernah sukses dengan berpenampilan rapi sehingga ak sering merasa sebagai orang unik dan aneh dimata orang lain dan itu jugalah yang membuat aku tidak pernah percayadiri.
Kadang aku mencoba untuk tidak mengacuhkan itu, tetapi aku tidak pernah berhasil karena mungkin saja itu adalah kelemahanku. Kau tahukan kawan? Semua orang punya kelemahan dan aku juga, itulah kelemahanku dan aku selalu mencoba untuk mengubahnya dan aku ingin teman2 yang mebaca juga turut mendoakan agar aku bisa mengubahnya sehingga jika suatu saat nanti kita bisa bertemu kau tidak menganggapku orang aneh.

Hal Bodoh


Mungkin engkau pernah berpikir mengapa kehidupan ini membuat kita terlena dan mungkin juga engkau pernah juga memikirkan apa yang harus kita lakukan untuk dapat memaknai hidup. Tapi aku heran, ternyata hanya sedikit dari mereka yang memaknai hidup itu dengan sungguh-sungguh. Bagi mereka Memaknai hidup itu adalah dengan mengikuti gaya hidup yang ada, dengan terpana  akan keindahan didepan mata.
Menurutku adalah lebih sadis kitika hanya menikmati segala sesuatu yang ada tanpa mempertanyakan segala sesuatu yang kita nikmati itu, bahkan lebih bodoh jika kita menjadi orang yang tidak mau tahu akan apa yang terjadi. Saya melihat banyak sekali orang yang sangat apatis dengan apa yang dilihat didepan matanya, bahkan lebih miris lagi saat dia tidak tahu apa yang telah terjadi disekalilingnya.
Sah-sah saja jika kita terbuai, dan sah-sah juga jika kita menikmati buaian itu, tetapi yang tidak sah adalah ketika yang membuai kita lalu menidurkan kita untuk memperoleh sesuatu dari kita ketika kita sudah tertidur.
Banyak hal yang dalam hidup ini kita tidak amati, kita juga merasa tidak ada manfaatnya jika kita tau hal itu bahkan kita sering merasa bahwa itu bukan bagian kita, bukan juga hal yang cocok untuk diperbincangkan. Tetapi kita harus tau, kita hidup ditengah-tengah masyarakat, kita hidup dalam negara dan itu artinya kita juga harus memperhatikan dimana kita tinggal dan menikmati hidup. Sadarlah kawan, kita adalah orang muda, punya banyak waktu untuk berpikir dan merealisasikan apa yang kita pikirkan dan kita juga bukan orang-orang dalam sandiwara entertainment yang jelas-jelas tidak masuk akal itu, hidup ini fakta kawan, fakta.
Coba lihat disekelilingmu, coba dengar dan resapi. Apakah semua sudah seperti yang engkau harapkan? Apa sudah sesuai tujuan?
Kita bukanlah untuk menciptakan janji, kita juga bukan orang-orang yang ingin meciptakan harapan tetapi Kita adalh masa depan yang akan memimpin di garda depan, kia adalah tunas-tunas muda dan sayap baru burung garuda untuk dapat terbang tinggi menembus awan dan kita bukanlah orang yang percaya kepada sandiwara dan pencitraan, kita bukanlah orang yang kepada jajji dan kepalsuan, kita, ya, kita, aku dan saudara-saudara yang berani menatap masa depan dengan suatu kepastian, karena lebih baik menantang dan berpetualang dengan segala kemugkinan yang akan menghadang dari pada mamanjat di pohon lapuk untuk menikmati keindahan.

Catatan Bodoh


Apakah ada sebuah kisah yang pernah kita lupakan? Jika ya, maukah engkau menceritakannya untukku? Untuk sebuah harapan yang memang sudah jadi kenangan. Aku ingin mendengarnya darimu, sebuah kisah romantis tentang hujan.
Hari sudah beranjak malam, hujan masih turun deras, tetas-tetesnya terus membias setiap cahaya yang mengenainya, daun-daun gugur memenuhi jalanan dan aku masih menatapi tetes demi tetes air hujan yang bening itu.
Ada orang pernah berkata, jika engkau sedih menangislah ditengah hujan maka tidak akan ada orang yang tau engkau sedang menangis. Ah, ide yang bagus. Lalu berkali-kali aku mencoba menangis saat hujan, tetapi lama kelamaan aku sadar yang sedih bukan pikiranku dan sebenarnya bukan kesedihanlah yang kualami tetapi sebuah perasaan kesepian.
“Lelaki yang menangis itu terlalu sentimentil, aku tidak yakin seorang lelaki pernah menangis karena kesepian.”
Kau memberi komentar disebuah tulisanku yang kuposting di sebuah jejaring sosial dua tahun lalu.
“Tetapi kau menyukai lelaki yang sentimentilkan?”
Engkau hanya membalasnya dengan sebuah senyum.
Sejak saat itu aku sering menulis tentang hujan dan kau juga mengikuti setiap tulisanku, dan kau selalu memberikan tanda senyum disetiap tulisanku. Aku tau, ada ketertarikan dalam diriku, bukankah kebiasaan burukku jika aku sering membaca profilmu? Tidak ada postingan disana, tidak ada bukti kau menyukai karya sastra atau cerita dan satu yang hampir tidak bisa kuterima, akunmu seakan-akan tidak pernah dibuka setahun lamanya.
Lalu pernah sekali aku ingin bertemu denganmu, saat itu kutulis sebuah cerita tentang partemuan. Tetapi kau tahu? Bagiku sebuah pertemuan adalah sebuah tantangan gila untuk kehidupan sehingga karena kuanggap pertemuan itu tantangan dan aku adalah seorang yang benci tantangan maka kuputuskan untuk tidak menemuimu. Kuakui dalam sesalku aku sering mengutuki kepribadianku ini dan aku juga mengutuki diruku yang tidak berani menemuimu karena sejak itu tidak pernah ada lagi kabar darimu bahkan tidak pernah mengacuhkan tulisanku.
Kadang aku berpikir masa bodoh untuk hal itu, kadang juga aku berpikir untuk tidak mengacuhkannya, tetapi setiap aku membaca tetang tulisanku sejak pernah mengenalmu, rasanya sesal itu mengena juga dihatiku bahkan aku mencoba mengunjung profil jejaring sosialmu tetapi kutahu itu semua tidak berarti dan sia-sia.
Seminggu lalu kucoba untuk mengirimkan sebuah pesan yang menangakan kabar, tetapi tidak ada pertanda kau membuka akun jejaring sosialmu hingga suatu hari aku membaca sebuah balasan yang berisi senyum, senyum, itu saja.
Kau tahu, kadang engkau harus memahami apa itu makna rindu, rindu pada orang yang aku sendiri tidak mengenalnya, rindu pada seorang teman yang senang bercerita meskipun aku tidak pernah mengenal siapa dia bahkan rindu kepada waktu yang selalu berlalu.
Bodoh bukan?
Itu adalah rindu terbodoh yang pernah kualami, memandangi jendela chat berharap seseorang yang kuharap segera online lalu aku akan menyapanya dengan ucapan hai, selamat malam lalu cerita akan mengalir dengan gampangnya dan satu yang kuherankan adalah aku selalu mempercainya dalam segala hal termasuk masalah pribadiku dan yang lucunya juga selalu ditanggapi.
Heh, jika punya wakt lagi aku akan melanjutkan cerita ini.
Kuharap aku bukanlah orang bodoh yang selalu banyak kepada waktu.

Arah Dairi Kedepannya

                                                     Arah Kabupaten Dairi Kedepannya Sebagai penduduk Kabupaten Dairi yang sedang merantau, ...