Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Januari 2016

Perempuan Fiksi

Aku sedang mengimajinasikan sesuatu sore ini.
Seorang gadis yang sedang duduk di sebuah perpustakaan yang sepi, aku mencoba membayangkan jika dia sedang menulis sesuatu dibukunya, mungkin sebuah cerita atau mungkun hanya sebait puisi.
Ya, dia bukan seperti gadis-gadis lainnya yg biasa kulihat diperpustakaan, menggunakan earphone dan mengerjakan tugas. Tidak, gadis yg ada diperpustakaan itu adalah seorang gadis yg sedang menulis, mungkin dia menulis karena jatuh cinta, bukankah ada seseorang pernah berkata bahwa siapapun bisa menjadi penulis yang romantis ketika sedang jatuh cinta?
Tidak, dia tidak sedang jatuh cinta. Matanya memerah dan kulihat juga dia berkali-kali menghapus air matanya dengan saputanganya, mungkin sapu tangan yang penuh kenanga, ah, sentimental.
Sudah sangat jarang aku melihat gadia yang begitu, sangat jarang melihar gadis yg menulis sesuatu dibuku, biasanya mereka menulis apapun yg terjadi di sosial medianya.
Lalu aku akan pura-pura mencoba mendekatinya dengan membaca sebuah buku yg sebenarnya tidak masuk akalku, tetapi untuk kelanjutan tulisan ini aku mencoba menyukai buku tsb.
"Bisakah saya duduk disini?"
Gadis itu menoleh sejenak, mungkin untuk menyembunyikan airmatanya, kulihat dia mengangguk.
Aku lalu duduk dan berkata, "Sepertinya anda sedang menulis sambil menangis, apakah sesuatu yg anda tulis itu menyedihkan?"
Dia diam.
Sudah berkali-kali aku membaca tulisan tentang seorang gadia sentimentil, berkali-kali juga aku menemukan mereka. Ya, teramat banyak alasan mereka untuk menangis, mulai dari kekasihnya yang tidak mengingatkannya untuk makan malam, lupa hari ulang tahunnya, selingkuh, tidak setia ataupun hubungan yg berakhir, mungkin karena tidak cocok ataupun tidak ada restu.
Lalu tentang gadis didepanku?
Mengapa dia menangis?
Aku hanya mencoba membayangkan, mungkin dia menangis karena pagi ini ketika dia ke kampus dia melihat seorang lelaki yg telah lama disukainya sedang berjalan dengan kekasihnya, setidaknya dia sempat melihatnya begitu romantis sehingga jiwanya yang begitu sentimentil itu terluka sehingga dia memutuskan untuk ke perpustakaan untuk menulis semua isi hatinya.
Tidak, tunggu dulu!
Sepertinya dia adalah seorang gadis cantik dan manis, siapa yang tidak menyukai gadis seperti itu?
Ah, mungkin dia datang keperpustakaan ini karena ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, ya mungkin hubungannya dengan kekasihnya, kekasihnya mungkin akan segera wisuda dan dia akan ditinggalkan. Ah, itu rasanya terlalu lebay..
Lalu apa kemungkinan yang paling cocok untuk seorang gadis manis yang duduk menangis sambil menulis disebuah perpustakaan yang sepi?
Aku tahu, dia gadis yang baik dan dia baik-baik saja. Aku hanya butuh nyali untuk bertanya langsung kepadanya, "Anda kenapa?"
Lalu dia akan menjawab, "Terserah kau buat aku mengapa dalam ceritamu karena aku adalah gadis dalam ceritamu ini.."
Lalu karena ini adalah sebuah cerita, gadis itu kembali mengambil sapu tangannya, mengelap airmatanya lalu menutup bukunya sambil tersenyum dan berkata, "Terlalu banyak cerita dan kadang perlu sentimental untuk menulis cerita.."
Dia lalu berdiri dan berkata, "Kau pasti tidak menyukai buku yang kau baca itu, kau datang kesini hanya untuk menyapaku bukan, kalau begitu simpanlah bukumu, kita akan jalan-jalan.."
"Kemana?"
"Istana Wakayama atau sungai Kinokawa, kalau sempat kita juga akan ke Heaton Park dan menghabiskan senja di Sungai Irwell. Nanti malam sekitar jam delapan kita akan menonton derby Manchester di Old Traffold, kau mau?"
"Ya, tentu.." jawabku langsung menyimpan buku yang kubaca.
"Tapi ada satu permintaanku..."katanya tiba-tiba.
"Apa itu?"
"Aku tahu kau tidak punya pacar!"
"Jadi?"
"Ya, jangan sampai kau memintaku jadi pacarmu, aku ini tokoh fiksimu penghayal!!!"
Shit!
Hahaha :D
Kami lalu bergerak meninggalkan perpustakaan dan aku baru benar-benar sadar bahwa ini  hanyalah imajinasi saja

Minggu, 01 November 2015

Sebuah Catatan

Aku sedang duduk sore itu menikmati musim gugur di tepian sungai Kinokawa membaca sebuah novel tipis yang baru kubeli siang tadi disebuah toko buku pinggiran kota Wakayama ini.
Tiba-tiba seorang gadis datang menemuiku dengan wajah yang terlihat bingung dan penuh tanda tanya, "Anda tinggal di kota ini?" Tanyanya.
"Tidak, kota ini hanya ada dalam imajinasiku.."
"Lalu mengapa anda bisa duduk manis dipinggiran sungai ini?"
"Aku masuk lewat situs wikipedia, aku tersesat dihalaman webnya, tanpa kusadari ketika aku membuka mata didepanku sudah bersemi bunga sakura dan istana wakayama yang megah itu,, saat aku menyusuri jalanan, kulihat ada sebuah sungai dan ada taman dan bangku-bangku ditepian sungai itu, yah aku memutuskan duduk disini.."
"Oh ya, berarti anda tahu dimana letak istana wakayama?"
"Jelas tahu, istana itu ada dalam imajinasiku.."
"Oh ya? Berarti anda lelaki yang tinggal dalam imajinasi dong?"
"Belum tentu, aku juga punya kehidupan yang nyata.."
"Kalau begitu mengapa anda selalu membuat kota Wakayama itu juga seakan tidak nyata, padahal kota itu adalah sebuah perfektur di Jepang, perfektur Wakayama yang kotanya dibelah oleh sungai Konikawa, ada juga istana Wakayama yang sangat terkenal serta gunung Nagusa, anda membuat semuanya itu seperti fiktif, padahal itu benar-benar nyata.."
Aku terdiam, kututup novel yang sedang kubaca, lalu kupandang wajah gadis yang berbicara didepanku itu, nampaknya wajahnya tidak menyiratkan kebingungan lagi tetapi malah wajah menyelidik seperti seorang detektif, tetapi meski begitu wajah manisnya masih tetap terlihat dan rambutnya tergerai diterpa angin sepoi musim gugur.
"Sebenarnya anda siapa?" Tanyaku.
"Aku Liana Marita, tokoh cerpenmu sekaligus penggemar tulisanmu.."
Gubrak!!!
Aku terkejut bukan main, hampir saja bangku yang kududuki terjun bebas ke air sungai bersama denganku, tidak kusangka tokoh cerpenku itu cantik juga, aku tidak pernah membayangkannya, aku jadi takut jatuh cinta kepadanya.
Hahaha..
01112015
Aku sedang duduk sore itu menikmati musim gugur di tepian sungai Kinokawa membaca sebuah novel tipis yang baru kubeli siang tadi disebuah toko buku pinggiran kota Wakayama ini.
Tiba-tiba seorang gadis datang menemuiku dengan wajah yang terlihat bingung dan penuh tanda tanya, "Anda tinggal di kota ini?" Tanyanya.
"Tidak, kota ini hanya ada dalam imajinasiku.."
"Lalu mengapa anda bisa duduk manis dipinggiran sungai ini?"
"Aku masuk lewat situs wikipedia, aku tersesat dihalaman webnya, tanpa kusadari ketika aku membuka mata didepanku sudah bersemi bunga sakura dan istana wakayama yang megah itu,, saat aku menyusuri jalanan, kulihat ada sebuah sungai dan ada taman dan bangku-bangku ditepian sungai itu, yah aku memutuskan duduk disini.."
"Oh ya, berarti anda tahu dimana letak istana wakayama?"
"Jelas tahu, istana itu ada dalam imajinasiku.."
"Oh ya? Berarti anda lelaki yang tinggal dalam imajinasi dong?"
"Belum tentu, aku juga punya kehidupan yang nyata.."
"Kalau begitu mengapa anda selalu membuat kota Wakayama itu juga seakan tidak nyata, padahal kota itu adalah sebuah perfektur di Jepang, perfektur Wakayama yang kotanya dibelah oleh sungai Konikawa, ada juga istana Wakayama yang sangat terkenal serta gunung Nagusa, anda membuat semuanya itu seperti fiktif, padahal itu benar-benar nyata.."
Aku terdiam, kututup novel yang sedang kubaca, lalu kupandang wajah gadis yang berbicara didepanku itu, nampaknya wajahnya tidak menyiratkan kebingungan lagi tetapi malah wajah menyelidik seperti seorang detektif, tetapi meski begitu wajah manisnya masih tetap terlihat dan rambutnya tergerai diterpa angin sepoi musim gugur.
"Sebenarnya anda siapa?" Tanyaku.
"Aku Liana Marita, tokoh cerpenmu sekaligus penggemar tulisanmu.."
Gubrak!!!
Aku terkejut bukan main, hampir saja bangku yang kududuki terjun bebas ke air sungai bersama denganku, tidak kusangka tokoh cerpenku itu cantik juga, aku tidak pernah membayangkannya, aku jadi takut jatuh cinta kepadanya.
Hahaha..
01112015
"Kau menghayal?" Katanya tiba-tiba sudah tepat didepan mukaku.
"Untuk apa aku menghayal? Bukankah kau sudah hayalanku juga?"
Dia tersenyum menatap mataku, astaga tatapannya seperti tatapan yg selalu kubuat dalam tulisanku, matanya yg tajam dan penuh dengan gairah kehidupan, dia terus menatapku, ah, aku jadi grogi juga..
"Kau grogi?"
"Tidak.., aku hanya teringat tentang bacaanku.." Kataku mengangkat buku yang kubaca..
"Buku apa sebenarnya yg kau baca, boleh aku lihat?" Katanya langsung merampas dari tanganku.
"Tunggu, mungkin kita bisa membicarakan tentang buku itu bai-baik sambil duduk.."
"Sambil duduk? Bukankah kita akan terlihat seperti sedang kencan romantis, dibawah daun-daun yg berguguran, disebuah bangku ditaman tepi sungai?"
"Kalau kau mau..?" (Wess, masuk gombalanku.. :D)
"Masalahnya aku tidak mau.." Ucapnya tiba-tiba.
Busyet..
"Kenapa?"
"Nanti kau umbar-umbar tentang hal ini dalam ceritamu, kau bilang kita menikmati waktu dari hingga lampu-lampu temaram, membicarakan tenan anak-anak kita nantinya, kau kan lebay dan kadang berlebihan.."
"Terus kalau memang nanti kubuat seperti itu?"
"Aku tidak mau lagi jadi tokoh ceritamu, aku akan cari lelaki lain dan yang pasti lelaki itu penulis yg sempurna, bukan penulis abal-abal sepertimu.."
Busyet, gadis ini tadi memujiku, sekarang mengejek, hehh, lihat pembalasanku nanti.
"Jadi kau mau jadi duduk disini denganku.."
"Bisa, tapi tunggu, aku harus mengatur alarmku dulu.."
"Untuk apa, apakah ada janjimu dgn seseorang? Seingatku dalam cerpen yang kutulis kau bukan seorang gadis yg suka mengumbar janji.."
"Bukan untuk janji.."
"Lalu apa?"
"Aku ingin membuat alarm sebelum senja, aku tidak ingin menghabiskan senja bersamamu, bukankah kau orang yg berlebihan, jadi tidak akan ada senja yg romantis dan lampu-lampu temaram antara penulis dgn tokoh fiksinya, pokoknya tidak ada yg romantis, titik!!"
"Oke.."
"Ada satu lagi permintaan!"
"Apa?"
"Kalau kau menulis cerpen jgn samapai ada nama lain selain namaku, Liana Marita. Aku tahu kok, kau sedang menyukai seorang gadis, itu lho gadis yg kalau melihatnya saja kau sudah jantungan, lalu kau pura-pura membuat surat untuk S di T padahal sebenarnya itu untuk si.. Ah, siapa itu namanya, lupa aku. Kau kan pecundang.. Jadi awas ya kalau sampai kau buat namanya jadi tokoh cerpenmu.."
"Kalau kubuat?"
"Aku tidak akan mau duduk disampingmu, tidak akan mau menjadi tokoh cerpenmu, tidak mau hidup dalam tulisanmu yg galau itu..Aku akan cari lelaki lain..."
Astaga, selain sok tahu, gadis fiksi ini tukang ngambek pula..
Dia masih tetap berdiri disitu dgn wajah cemberut, angin sepoi musim gugur masih berhembus dan rambutnya masih tergerai.
Ah, dia semakin cantik saja.
"Apa kau lihat-lihat aku, nanti jatuh cinta kau samaku, jadi saingan aku sama S di T mu itu.., mana rupanya lebih cantik aku dari pada dia?"
Busyet..
"Kenapa kok diam, lebih cantik aku kan, makanya baik-baik kau samaku biar mau aku jadi tokoh ceritamu..
Setelah perjumpaanku sore itu dgn Liana, tokoh cerpen sekaligus penggemar tulisanku itu, iseng-iseng aku pura-pura mengalah kepadanya dan rupanya dia tetpengaruh dengan the power of motive ku, dia lalu mengajakku berjalan-jalan disekitar kota Wakayama dan jelas dia tampat seperti seorang guide bagiku.
Dia juga mengajakku duduk ditepian sebuah sungai yg sangat besar, ketika duduk iseng-iseng aku curi-curi pandang melihat muka manisnya itu.
Ah, seandainya dia bukan tokoh fiksi pasti aku sudah jatuh cinta setengah mati.
"Ini danau ya?" Kataku padanya mencoba membuka suara.
"Oh, jadi kau belum tahu ya, ini adalah sungai Konikawa, sungai ini mengaliri Perfektur Wakayama dan Perfektur Nara, panjangnya 136 km dgn luas permukaan secara keseluruhan sekitar 1.660 km2, mengalir dari gunung Oidagahara ke arah barat dan bermuara di Kota Wakayama ini. Kau tahu, sungai ini berpotongan dengan salah satu jembatan rel kereta api bernama JR West Wakayama Line, seperti yg pernah kau tulis, ada kereta senja yg melintas tepat di atas jembatan itu ketika matahari akan terbenam, kalau kau mau nanti kita bisa kesitu menikmati matahari yg terbenam di sungai kinokawa ini. Ya, siapa tahu kau bisa mendapat inspirasi seperti novelis Jepang Sawako Ariyoshi yg membuat salah satu judul novelnya yg sama dengan nama sungai ini, Kinokawa.."
"Kau sering kesini?" Tanyaku padanya.
"Sesering kau menulis cerita tentang kota ini.."
"Kok kau bisa tahu semuanya?"
"Wikipedia, bukankah dalam tulisanmu kau menyatakan aki adalah seorang gadis yg senang membaca wikipedia?"
"Ohh, aku lupa.."
"Oh ya, ini sudah hampir senja, sekarang musim gugur, jadi matahari lebih cepat terbenam dari biasanya.."katanya sambil menarik tanganku. Astaga, jantungku berdebar, bagaimana mungkin aku bisa menikmati sebuah pengalaman yg mendebarkan dgn tokoh fiksiku yg cantik ini?
Aku takut jatuh hati pada hayalanku..

Sabtu, 25 April 2015

Terjebak Hujan

Kurasa tidak terlalu buruk jika suatu hari nanti kau menemukan dirimu terperangkap dalam hujan di sebuah perempatan jalan di kota M ini, karena sungguh, kau akan menikmatinya, orang-orang yang berteduh, ojek payung gratis yang sok jadi pahlawan atau bahkan mata-mata liar yang mencari kesempatan- ditengah kesempitan.
Karena itulah kemungkinana, dan kau mungkin akan beruntung melihat seorang gadis yang linglung, dan kau tidak pernah tahu, apakah dia sedang menunggu seseorang ataukah dia terbuai kenangan dalam hujan?
Jikalau kau punya nyali, kau akan mencoba menanyakan itu kepadanya, dengan pertanyaan malu-malu yg penuh makna..
"Hujannya deras juga ya.."
Dan mungkin dia akan menjawabmu dengan anggukan saja, lalu kau akan meneruskan pertanyaanmu..
"Terperangkap hujan juga?"
"Ya.."
"Memangnya anda mau kemana?"
"Kenangan.."
"Astaga, anda jgn bercanda, dimana itu kenangan?"
"Diantara bus-bus yang melintas menembus hujan, mereka selalu membawa kenangan.."
Dan kau akan terdiam sejenak, untuk mencerna apa yg diucapkannya, saat itu hujan masih turun deras dan jalanan sudah mulai tergenang, apakah engkau masih mencoba melanjutkan percakapan?
Kau mencoba melirik sekilah wajahnya, dan saat yang sama dia melirikmu, pandangan kalian bertemu, adakah kata yg cocok untuk melukiskannya sebagai sebuah suasana?
Hujan mungkin tidak akan segera reda, namun sebagai seorang pria yg melankolis, kau pasti akan selalu punya cerita tentang setiap suasana, karna itu jglah mungkin kau sampai lupa dan merasa hujan kali ini terlalu singkat utk sebuah kenangan, sehingga kau jg lupa menanyakan dia siapa bahkan kau lupa bahwa sebenarnya ini hanya sebuah fiksi sederhana.

Sabtu, 25 April 2015

Kamis, 09 April 2015

Liana

Liana, dia gadis cantik, tokoh cerpenku dalam judul Tentang hujan di tepi danau toba. Entah kenapa, aku tadi berremu dengannya, ketika pulang kuliah, dia sedang duduk di depan halte sebuah kampus kurang ternama di kota M.
Dia menumpang angkot yang juga kutumpangi, anehnya dia memilih duduk disampingku, ciri-cirinya persis sama dengan tokoh cerpen itu, aku tahu namanya ketika tasnya terjatuh dan kartu tanda mahasiswa, ktp dan identitas lainnya berhamburan, sayangnya aku tidak mencoba membantu memungutinya karena tidak ingin terjebak adegan romantis dengan tokoh cerpenku sendiri.
Sebenarnya aku ingin bertanya kepadanya, karena seingatku, dalam cerpen yang aku tulis dia mengendarai sepeda motor, bukan naik angkot seperti saat ini, sayangnya, seperti biasa, aku tidal berani untuk memulai sebuah percakapan.
Tetapi kemungkinan tidak bisa diprediksi, kakiku menyenggol sesuatu dan aku melihatnya, sebuah pulpen, kuambil lalu aku menyentuh sikutnya.
"Ini, pulpenmukah?"
Dia melihatku, tersenyum dan berkata, "Ya, tentu.. Terima kasih, ini pulpen yang penuh kenangan.."
Aku tersemyum, ternyata, sama seperti dalam cerpenku, dia juga sentimentil, aku jadi ingat sebuah kutipan yang berkata, tidak tahukah kau betapa sentimentilnya sebuah kenangan?

Angkot terus berjalan dan dia masih duduk disampingku, seandainya bukan perkara pilosofi atau cerita fiksi, aku ingin banyak bertanya kepadanya, tetapi dia terlalu asik dengan sebuah novel berjudul Epigraf, sehingga dia hanya menjawab pertanyaanku dengan ya dan tidak.
Aku memang harus akui, sebagai mahasiswa dengan trayek jauh dari kost kekampus yang menelan waktu sekitar lima puluh sampai enam puluh menit perjalanan, banyak orang yang naik turun dari angkot tersebut dan biasanya aku turun beberapa ratus meter sebelum pangkalan dan saat itu hanya tersisa aku sendiri dengan supir angkot.
Kali ini tidak, aku dengan Liana, tokoh cerpenku yang cantik itu dan aku belum sempat menanyakan alamatnya dam dimana kampusnya ketika aku harus turun dari angkot bahkan aku belum sempat menanyakan kemana tujuannya..
Aku tersenyum sendiri, kupandangi angkot yang bergerak menjauh mengiringi kendaraan-kendaraan lainnya sambil berharap, besok, lusa atau kapan aku bisa naik angkot yang sama dan angkot itu akan berhenti di halte sebuah kampus tidak ternama untuk menaikkan seorang penumpang cantik bernama Liana, aku masih punya beberapa pertanyaan kepadanya dan tentu aku ingin menanyakannya, "Maukah engkau menjadi tokoh cerpenku lagi?"

Rabu, 26 November 2014

NOVELOG

 Setidaknya ada sebuah kisah yang kutuliskan dari sebuah perjalanan dari suatu saat, dari suatu tempat, dari sebuah pembicaraan dan sebuah pertemuan. 
Mungkin ini tidaklah seperti kisah yang kau bayangkan, seperti novel-novel romantis kebanyakan. Perjalanan romantis dalam kereta malam atau pertemuan pada sebuah taman diwaktu senja ataupun kisah-kisahlain yang lebih romantis. 
"Romantis itu hanya sedikit dialognya dan sisanya adalah sikap dan pembuktian." Ucapmu menegaskan. 
Aku tersenyum pahit, mungkin lebih pahit dari kopi hitam tanpa gula yang sedang kunikmati saat ini, kopi yang sengaja kupesan untuk dapat duduk lama di cafe ini, merenungkan ucapanmu sambil menikmati lalu lalang pasangan-pasangan yang berusaha saling romantis itu. 
Aku tahu, mungkin kau berharap begitu. Tetapi bukankah semua itu masalah hati dan kondisi kantong ini? 
Aku mungkin tidak perlu bertanya kepada mereka, kepada lelaki yang berusaha menjadi romantis seperti dalam cerita-cerita novel yang kita baca. Tidak perlu juga aku menjelaskan padamu bagaimana rasanya jadi mereka, bukankah engkau adalah wanita yang (harapanku) tidak ingin pernah jadi seorang pria? 
Aku menyesap kopiku, kulihat jam di ponselku. Sudah agak sore dan hampir satu jam aku menghabiskan waktu disini dan aku kembali membaca novel yang kau berikan kepadaku awal kita bertemu dulu. 
"Tokoh prianya sangat romantis, aku yakin penulisnya juga romantis. Apa iya, seorang penulis itu juga romantis?" 
Hmm.. 
Aku tidak tahu bagaimana kau menyatakan itu, aku juga tidak tahu apakah nanti kau dapat kubodohi dengan tulisan-tulisan senja nan jingga konyol itu kau akan jatuh cinta padaku. Dengan ucapan-ucapan rangkaian kata berbait-bait dan indah kau bisa setia, dengan ucapan-ucapan selamat malam dan perbuatan tokoh pria dalam novel kau akan selalu ada? 
Aku jadi teringat sebuah buku yang pernah kubaca, ya, sebuah percintaan yang tidak pernah terucap apakah mereka saling mencintai. Tetapi tahukah kau? Ceritanya sungguh menarik dan karena itulah aku tidak akan memberitahukanmu apa judulnya dan siapa penulisnya sebab bukankah kau akan selalu menuntutku berperilaku seperti tokoh dalam novel itu? 
Aku masih ingat, saat pertama kali kau membaca novel terjemahan The Wednesday Letter, bukankah kau langsung mengajakku bertemu dan bercerita banyak tentang tokoh pria yang selalu menulis surat kepada istrinya setiap hari rabu saat mereka bersama ataupun sedang berpisah dan kau juga menuntutku melakukan hal yang serupa? 
Bagaimana mungkin aku bisa memerankan beberapa tokoh novel dalam satu kepribadian yang nyata? Hidup ini bukanlah sebuah buku, dan cinta kita bukanlah cinta dalam gelas. Gelas telah berisi kopi, kopi pahit yang kupesan sejam lalu, lalu kunikmati sambil membaca buku dan merenungi semua tentangmu. 
Apakah kau benar-benar seorang gadis yang menjadi pasangan pria romantis yang pernah kita baca itu, apakah kau sanggup menjalaninya sebagai seorang wanita yang selalu setia menunggu, yang menikmati setiap tulisan-tulisanku meskipun aku tidak pernah menganggapmu, yang selalu menyimpan kenangan tentangku, mengenanga setiap perjumpaan baik yang sengaja ataupun tidak sengaja? 
Ah, mungkin itu hayalah sebuah kisah dalam tulisan sebab hidup ini adalah kenyataan dan kenyataan itu sendiri pahit seperti kopi yang kunikmati ini. Tetapi meskipun pahit aku harus menikmatinya sampai habis sebagaimana aku menghabiskan kopi pahit ini, sebab mubazir aku menyia-nyiakannya karena harganya yang mahal, semahal novel-novel bestseller itu, semahal sebuah kisah rekaan yang selalu kau idamkan.

Senin, 09 September 2013

Air terjun dan Datu di seberang Kampung ( Cerpen )

Air terjun dan Datu di seberang Kampung ( Cerpen )
Oleh : Rinaldi Sinaga
 Jika kau pernah mendengar cerita tentang air terjun diseberang kampung yang airnya mengalir tanpa bermuara. Airnya akan tertelan keperut bumi melalui hutan belantara yang ada disebelah tenggara desa. Lalu suatu saat nantinya air itu akan datang dari sang pencipta, mengalir dan akan menjadi air terjun lagi. Begitulah mungkin siklus air terjun yang beredar diantara warga desa, meskipun tidak akan pernah tercatat dibuku-buku IPA tetapi mereka akan tetap percaya. Peristiwa itupun akan menjadi cerita hangat diantara warga karena air terjun itu hanya akan muncul jika musimnya tiba. Atau hanya mengalir jika nantinya akan ada peristiwa, begitulah kata-mereka yang sudah lanjut usia. Namun pernah ada guru fisika yang baru datang dari kota mengamati gejala itu, dia berpendapat itu hanyalah gejala alam yang sudah biasa. Sehingga dia menjadi dibenci para tetua karena teorinya itu. Dia pun tetap apa adanya, sehingga seminggu kemudian para tetua mewakili warga mengusirnya.
Guru fisika yang malang, dia menjadi malang melintang hanya karena teori yang menantang. Dan dia pun kembali berpetualang, mengajarkan apa yang dia tahu tentang alam. Meskipun harus melayang dalam mimpi yang membayang.
**
Jika hujan kembali datang, semua warga akan melakukan sesuatu agar tidak terjadi pantang, menusukkan pisau tanpa gagang di depan pintu . Karena pada saat itu, dia pemilik air terjun yang sangat mereka takuti akan melewati semua pintu dikampung itu menuju air terjun untuk mandi. Dan jika hujan tiba-tiba saja berhenti, pemilik air terjun itu diyakini tidak jadi mandi karena salah satu pintu belum ditancapkan pisau tanpa gagang. Dan warga yang pintunya belum ditancapkan pisau itu akan berutang seekor kerbau kepada pemilik air terjun. Maka dia harus mengajak semua warga untuk mengajak semua warga kampung berpesta ditempat air terjun itu jika musim kemarau mengganggu.
Berbeda halnya jika hujan terus menerus datang, itu artinya pemilik air terjun yang mereka takuti-tapi tetap juga mereka tunggu- sedang menikmati mandinya dibawah air terjun itu. Tetapi pada saat hujan itu datang terus-menerus, semua tanah akan tertutup air hingga puluhan centimeter tingginya . Saat itu air terjun itu juga seperti Niagara dengan airnya yang keruh. Hanya saja tidak pernah ada warga yang sempat melihatnya, karena saat yang sama rumah mereka tertimpa bencana. Air yang naik akan merendam rumah dari ujung ke ujung kampung. Tetapi warga tetap percaya, itu adalah pembersihan rumah mereka dari segala penyakit dan dosa yang mereka buat selama semasa.Tapi saat bencana itu datang, akan terjadi sesuatu yang berbeda dengan keluarga Bagading yang rumahnya ada dilereng dekat air terjun itu. Mereka tidak akan mengalami apa-apa, sehingga mereka dapat menikmati air terjun niagara yang keruh itu. Warga yakin mereka adalah yang diberkati.
Dan sumber pendapatan mereka juga berasal dari situ, mereka akan menampung sebanyak-banyaknya air yang mengalir dan berbusa dari air terjun itu. Karena mereka yakin itu adalah air yang telah dimandikan pemilik air terjun yang mereka takuti.
Ketika hujan berhenti dan air mulai mengering, orang-orang dari penjuru kampung akan berlomba-lomba menuju rumah keluarga Bagading untuk membeli air yang ditampung itu. Air yang pada dasar tempayannya juga mengendapa semacam tepung itu, dan endapan itu juga mereka yakini dapat mengobati semua jenis guna-guna. Dan air itu jika dimandikan akan mengobati semua jenis penyakit kulit.
Tapi semenjak pengusiran guru fisika dulu, peristiwa itu tidak pernah terulang lagi. Peristiwa yang membuat mereka seperti kehilangan sesuatu. Mereka telah membuat beberapa pesta dan memotong kerbau, tetapi hasilnya tetap sama saja, suasana didekat air terjun yang mengering itu kini telah berdebu.
Bagading yang memperoleh penghasilan utamanya dari situ mulai menjumpai seorang datu diujung kampung. Sedangkan diantara warga mulai simpang siur membawa berita tentang guru fisika yang sudah entah dimana. Dan mereka yakin guru fisika itulah yang membawa bencana.
Sepulang dari ujung kampung, Bagading membawakan berita yang membuat geger seluruh penghuni kampung. Pemilik terjun mengingini lima perawan desa untuk membuat masalah itu rampung.
Warga kampung mulai was-was, gadis-gadis desa yang masih perawan ketakutan setengah mati. Dalam suatu kesepakatan, para orang tua mengantarkan mereka pada malam hari menuju stasiun di ibukota kecamatan untuk di ungsikan kekota. Sehingga tidak akan jadi tumbal pemilik terjun itu.
Paginya, semua warga yang tidak punya anak gadis merasa heran dan curiga. Di kampung itu terasa lengang, seperti tidak adalagi yang membuat ceria. Gadis-gadis yang biasanya ramai-ramai kesungai dipagi hari kini tiada lagi. Kecuali putri semata wayang bagading, pagi ini dia kesungai sendiri, mencuci bekas penampungan air terjun yang sudah kering dan berkerak.
Dan menurut cerita yang kubuat, disana dia menemukan bunga disana, Dia percaya bunga itu berasal dari kerak yang dicucinya.
Dia lalu berlari-lari seperti gadis kecil yang menemukan pita menuju rumahnya. Menunjukkan bunga itu pada Bagading ayahnya. Lalu Bagading akan menunjukkannya pada semua warga. Berdasarkan musyawarah mufakat yang tercipta mereka akan membawanya kepada datu yang ada diujung kampung, menanyakannya tentang apa makna penemuan bunga yang berasal dari sisa kerak air terjun itu.
Setelah mendapat petunjuk mereka mulai membuat tenda didekat tempat air terjun yang kini berdebu, memotong kerbau tujuh ekor juga lembu satu ekor untuk dipersembahkan kepada bunga dan juga pemilik air terjun.
Selesai pesta, karena lelah semua warga tertidur lelap dirumah masing-masing.
Lalu bermimpilah seorang warga, Dia melihat diujung sungai seorang yang datang entah darimana. Lalu dia meyakini itu adalah titisan. En tah mengapa, setelah selesai bermimpi, dia langsung terbangun, maka ketika masih pagi buta, dia segera pergi kerumah Bagading. Dan ketika melewati bunga yang baru mereka pestakn semalam, dia melihat bunga itu bercahaya. Mungkin pertanda begitulah pemikirannya. Ketika sampai dirumah Bagading, dia melihatnya sedang bertapa, menyembah lukisan didinding kamarnya yang tampak seperti lukisan manusia purba. Tapi Bagading sepertinya mengetahui kehadirannya, mengakhiri pertapaanny dengan bersujud hingga bokongnya lebih tinggi dari kepala, sesudah selesai, diapun membukakan pintu.
Lalu mereka mulai bercerita ini itu, hingga matahari menjelang mereka mulai mengumpulkan semua warga, memceritakan tentang mimpi yang mereka yakini sebagai petunjuk berharga dan mungkin harganya melebihi emas hadiah piala dunia. Lalu semua warga laki-laki menyusun gerombolan-gerombolan menyerupai batalion tempur. Mereka bergerak seperti akan melakukan operasi geronimo. Meski mereka sebenarnya tahu yang mereka cari sebenarnya hanya mimpi. Sedangkan wanita-wanita mereka akan mempersiapkan hajatan makan siang dikampung, sehingga suasanapun seperti pesta.
Tetapi hingga sore mereka tidak menemukan apa-apa, mereka kembali meminta petunjuk kepada datu diujung desa. Lalu dengan petunjuk yang mereka percaya, merekapun memutuskan bahwa titisan itu adalah guru fisika dengan teorinya, sayangnya kini dia sudah entah dimana.
Untungnya sang datu punya solusi, dia lalu meminta bunga yang dulu dapat putri bagading untuk dijadikan petunjuk. Tetapi bunga itu kini layu dan warnanya tidak ada lagi.
Warga pun terkesima, karena sesungguhnya bunga itu tidak ada bedanya dengan bunga-bunga lain yang mereka pelihara. Dengan serta merta, semua warga pun membuang bunga itu kejamban pembuangan di hilir sungai. Namun anehnya, ketika bunga itu dibuang, malamnya putri semata wayangnya Bagading menjadi sakit, badannya panas, lalu kalau tidur akan terus-menerus menyebut nama guru fisika itu.
Warga mulai percaya, htulah yang namanya guna-guna. Orang-orang yang masih menyimpan air dari air terjun itu segera datang membawakannya kerumah Bagading.
Tetapi gadis itu tidak sanggup meminumnya karena rasanya yang hampir tidak ada bedanya dengan tanah. Ayahnya menasehatinya dengan menyatakan bahwa sesungguhnya obat itu memang tidak enak.
Dengan terpaksa, gadis itupun meminumnya, baru sedikit saja, dia pun muntah-muntah. Ketika semua yang disana melihatnya muntah, mereka percaya bahwa guna-guna itu sudah keluar dari gadis itu.
Tetapi malah sebaliknya, penyakitnya semakin menjadi-jadi. Kali ini pun dengan terpaksa bagading membawa putri semata wayangnya kedatu diujung desa. Lalu sang datu bertapa mengucapkan mantera yang lebih baik dikatakan mengingau saja. Sesudah itu berkata bahwa puteri bagading akan sembuh ketika waktunya tiba.
Sebulan sesudah itu, puteri Bagading tidak juga sembuh. Dia mulai curiga, jangan-jangan Datu itulah yang punya ilmu guna-guna. Dia mulai mempengaruhi warga, terlebih pardo dan komplotannya yang menyimpan dendam kepada sang datu karena masalah gadis-gadis perawan yang dulu.
Mereka lalu menikamnya, saat itu sang datu sedang menikmati tidur dengan istri tercintanya yang masih muda. Dua-duanya pun mati tanpa sempat bersuara, sayangnya darah keduanya sempat menyatu. Karena menurut cerita darah dua yang menyatu ketika meninggal dunia akan menjadi hantu.
Sejak saat itu, malam-malam dikampung itu jadi sepi, jam enak sore rumah-rumah telah tertutup pintunya.
Siang harinya, warga sering bercerita melihat sepasang pengantin yang melewati jalan didepan rumah mereka. Lain lagi dengan versi warga yang berbeda, kalau ditanya setiap warga akan melihat hantu yang berbeda meskipun intinya tetap sama yaitu sepasang hantu. Begitulah dikampung itu berbulan-bulan lamanya, sehingga mereka lupa tentang air terjun yang istimewa dan juga puteri bagading yang sudah keluar dari alur cerita. Hingga suatu malam kira-kira jam sembilan, hujan pun turun dan mulai menggenang semua rumah warga, mereka lupa atau mungkin juga takut menancapkan pisau didepan pintu rumah karena tidak berani bertemu hantu datu dari ujung kampung beserta istrinya.
Hujn terus menerus datang. Hingga suatu hari di sebuah koran memuat mengenai sebuah kampung yang hilang kena terjangan banjir..

Senin, 22 Juli 2013

Cerpen Renjana


Aku berangkat ke kotamu pagi ini dengan kereta paling awal, diantar hawa dingin dan kabut bulan 
Maret yang menusuk tulang. Mungkin kau tak mengira bertahun-tahun setelah kita tak lagi menghabiskan waktu bersama aku selalu melakukan perbuatan tolol ini: mencarimu di kota yang tak lagi kau tinggali.
Ataukah kau sudah menduganya, dan membayangkan dari kejauhan seluruh ketololan yang kulakukan ini, menertawai masa lalumu bersama seorang lelaki yang tak pernah bisa lepas dari kenangan?
Menjelang berangkat aku bangun sebelum cahaya kemerahan merekah di timur. Kubuka jendela kamar agar angin pagi menyegarkan ruangan kamar dan menahan mataku dari serangan kantuk. Kegelapan yang perlahan menghilang di luar rumah sungguh menggetarkan. Aku seolah terkurung dua makhluk mengerikan, di depan dan di belakang. Telinga dan benakku masih memperdengarkan gemuruh teriakan-teriakan demonstrasi, rentetan tembakan dari senapan tentara, dan tubuh teman-temanku yang roboh oleh peluru karet atau peluru sungguhan. Mungkin aku masih mengalami halusinasi berkepanjangan akibat peristiwa tiga belas tahun lalu itu.
Untuk menutupi rasa pedih kehilanganmu dan teror masa lalu itu, kunyanyikan lagu masa kanak-kanakku, ”Di Timur Matahari”. Di sekolah dasar, aku sangat menyukai lagu itu. Lima belas tahun kemudian aku dan teman-temanku kembali menyanyikannya setiap kali kami berdemonstrasi di bawah ancaman moncong senjata. Ingatkah engkau kalau di masa-masa awal demonstrasi itu kita bertemu, saat orang-orang berseragam itu menghalau demonstran dan kau yang sedang dalam perjalanan pulang dari kampus hampir saja dipukul oleh mereka? Lengan kananku memar akibat menangkis pemukul mereka. Sedangkan kau, yang terus gemetar tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun, membiarkan tubuhmu terseret tangan kiriku yang mencari jalan di tengah kekacauan itu. Tak kusangka kalau ternyata dirimulah orang yang gantian menyelamatkan aku ketika kaki tangan penguasa tua itu hendak menghabisiku lewat daftar mahasiswa yang harus diamankan begitu demonstrasi tak bisa lagi dikendalikan oleh ancaman senapan.
Kau akan bangkit dari ilusimu, Sayangku. Semuanya telah selesai. Tak ada lagi orang yang akan menculikmu. Aku ingin kembali mendengarmu bercerita tentang film-film yang kau tonton atau melihatmu berlatih menulis skenario film. Paling tidak kita bisa menyusuri pantai di sore hari sampai lewat senja. Bukankah di pantai itu kau sering berkata bahwa esok, begitu matahari terbit, kau akan berjalan ke timur menyambut matahari baru?
***
Gerbong kereta ini memang membawaku ke arah timur, namun bukan menyongsong matahari. Ia menyongsong kotamu–ataukah menyongsong masa laluku? Di kereta aku benar-benar merasa menjadi orang lain. Sebagian di antara mereka adalah para pekerja kantor dan mahasiswa; hanya satu-dua yang berpakaian lusuh. Sementara aku, dengan celana jeans dan berkaus, memeluk tas ransel, tenggelam dalam pemandangan sawah di sebelah kiriku, deretan rumah-rumah penduduk yang berlarian ke belakang, gunung yang tak pernah bergeser dari tempatnya, dan kabut misterius yang menyelimutinya.
Di tengah deretan penumpang anonim ini, sering kubayangkan dirimu terselip di sebuah bangku di sudut dekat sambungan gerbong, menatap kabut pagi yang masih mengambang dan bayangan gunung berwarna biru kelabu. Kau menatapku terkejut, sementara aku segera menyongsongmu dengan pertanyaan-pertanyaan konyol: Kenapa kau sendirian saja di situ? Ke mana saja kau selama ini? Apakah kau juga akan pulang kembali ke kotamu? Kenapa kau tak memanggil dan memintaku duduk di sampingmu? Bukankah setiap kita melakukan perjalanan dengan kereta kau selalu memintaku bercerita tentang rapat-rapat rahasia, para pengkhianat yang menukar perjuangan teman-temanku dengan keselamatan nyawa mereka, orang-orang yang selalu membuntuti ke mana aku pergi, dan kenapa kita bisa saling jatuh cinta sebegitu dahsyatnya di tengah ketidakmenentuan itu?
Semua ketololan ini hanya bisa dilakukan oleh seorang lelaki pengkhayal yang tak lagi memercayai hari esok. Bagaimana tidak, dalam satu tahun hampir setiap bulan aku melakukan perjalanan bolak-balik selama dua setengah jam, hanya untuk mencari sesuatu yang tak bisa kutemukan sampai kapan pun.
***
Apakah aku harus berbohong pada diriku sendiri bahwa aku tak bisa melupakanmu, bahwa bayanganmu selalu mengikuti setiap adegan dalam film yang kutonton, bahwa tatapan matamu yang teduh bermain di antara halaman buku yang sedang kubaca? Bertahun-tahun setelah kau pergi, setelah demonstrasi mahasiswa yang heroik itu telah berlalu, setelah kusaksikan tumbangnya harapan-harapanku pada negeri ini, aku berpikir bagaimana akan kutulis skenario film tentang perjalanan kereta sepanjang dua setengah jam ini, kegelisahanku di dalam gerbong kereta dan para penumpang yang masih diterkam hawa kantuk luar biasa sekalipun tubuh mereka telah bersih dan wangi.
Sungguh, aku membayangkannya sebagai sebuah film dengan bagian awal seorang laki-laki yang berlarian tergesa ke loket stasiun karena kereta hampir berangkat. Kakinya hampir terpeleset ketika memasuki gerbong yang mulai bergerak perlahan. Perjalanan demi perjalanan tanpa suara. Hanya gerakan mata, langkah kaki, dan lanskap-lanskap yang berbicara dengan bahasa mereka sendiri. Begitu turun dari kereta dan menjejakkan kaki di stasiun kotamu, mata lelaki itu akan bergerak memutari seluruh stasiun, menatap ratusan orang yang bergegas ke pintu keluar, para petugas kereta api yang sibuk, para calon penumpang yang sedang menunggu pemberangkatan dan para pengemis yang mulai berkeliaran di antara para penumpang.
***
Kau tentu belum lupa undak-undakan yang biasanya dilewati para penumpang begitu turun dari kereta itu bukan? Di situlah terakhir kali kita duduk berdua dengan tubuh berimpitan pada suatu sore, satu tahun setelah aku keluar dari klinik rehabilitasi jiwa, ketika suara-suara mengancam dalam benakku mulai mereda. Rasa-rasanya saat itu kita sedang memainkan adegan film menyedihkan senja itu. Seorang perempuan dengan mata bening dan pipi cembung, mulut kecil dan bibir tipis, tengah berada di simpang jalan perpisahan dengan seorang lelaki bodoh yang telah kehilangan banyak harapan pada kehidupan yang diarunginya. Aku membelai rambutmu yang panjang, menghapus air matamu dengan penuh kelembutan, sampai-sampai tak sadar bahwa kita telah menjadi tontonan orang-orang di dalam stasiun.
”Setelah ini mungkin kita tak bisa lagi bertemu. Ayahku tak pernah bisa memaafkanmu atas apa yang telah kau lakukan bersama teman- temanmu. Ia menganggap dirimu dan teman-temanmu adalah perusuh dan generasi tak tahu diri,” katamu sembari memandang lekat ke dalam kedua biji mataku.
”Kau tak mau mengambil pilihan lain?”
”Aku tak bisa meninggalkan ayahku. Kalau aku memilihmu, dia akan mengambil pilihan yang mungkin membuatku menyesal seumur hidup,” ujarmu dengan tenggorokan turun-naik.
Kini, bertahun-tahun setelah peristiwa itu lewat, aku tak bisa membedakan apakah kita sedang berpura-pura memerankan sebuah adegan menyedihkan dalam film ataukah tengah mengalami sesuatu yang benar-benar nyata, sebuah mimpi buruk yang tengah bersiap menerkam kedamaian hidupku. Warna langit sore begitu lembut, dan angin tajam yang menyisir kulitku saat itu seperti mengiris kenyataan pahit dan menghidangkannya padaku. Apakah hidup harus sepahit dan sesunyi ini? Masih kuingat jelas pesan ayahmu lewat telepon genggamku yang ia kirimkan tanpa sepengetahuanmu. ’Aku tak sudi memiliki menantu pemberontak dan berjiwa rusak sepertimu. Jauhi anakku, tak layak keluarga kami memiliki menantu yang mengidap sakit jiwa sepertimu!’
Dan kau, di ujung percakapan di undak-undakan lantai stasiun itu, memelukku untuk terakhir kalinya, sebelum kereta berangkat ke kotaku. ”Aku juga berlaku bodoh karena mencintaimu,” katamu.
***
Kini, begitu kakiku telah menyentuh stasiun kereta di kotamu, semua peristiwa yang mengikat kita berdua di masa lalu seperti hadir kembali dengan warna yang baru. Keluar dari stasiun kereta, aku menatap wajah kotamu yang sangat sibuk, ragu apakah harus berjalan kaki atau naik bis kota. ”Kau selalu tak bisa menikmati waktu setiap naik bis kota. Lebih baik jalan kaki daripada melihatmu selalu resah di dalam bis,” katamu setiap kali kita turun dari kereta dan akan naik bis.
Ingatan akan ucapanmu itu membuatku berjalan kaki menyusuri trotoar jalanan. Langkah kakiku terhenti di benteng tua yang selalu kita singgahi setiap kali mengantarmu pulang ke rumah. Di salah satu ruangan benteng itu, di bagian yang paling gelap, aku pernah berteriak seperti orang gila menyebutkan namamu. Kau tertawa dalam kegelapan dan aku menikmati sensasi tawamu. Mataku benar-benar tak bisa melihatmu ketika tiba-tiba dari balik kegelapan kau memelukku erat-erat dan membisikkan kata-kata yang menenteramkan hatiku.
Untuk inikah aku melakukan perjalanan tolol yang tak pernah kau ketahui? Lihatlah taman kota yang penuh pohon beringin itu, undak-undakan yang ada di tengahnya, rumput hijau yang menutupi tanahnya, dan sinar matahari yang menyirami rerumputan dan seluruh pepohonan rindangnya. Ada sebuah bangku kecil dari kayu di tengah taman kota itu, tempat kita duduk dan menghabiskan sore hari ketika anak-anak kecil banyak berkeliaran di sini. Pernah kau bertanya padaku apakah aku akan suka punya banyak anak, dan aku menggelengkan kepala keras-keras.
”Aku tak mau diributi oleh teriakan dan tangisan mereka. Aku hanya ingin satu anak perempuan yang manis, berambut ikal dan berpipi cembung sepertimu!”
”Kau bodoh. Punya anak banyak sangat menyenangkan. Aku akan melahirkan banyak anak nanti, biar kau tak sempat menonton film atau membaca buku!” katamu sambil tertawa.
Taman kota ini, seperti halnya benteng tua, bioskop besar di pusat kota yang selalu kumaki karena kegelapannya menakutkanku, gedung kampus dengan bangunan tinggi yang tersebar seperti raksasa-raksasa bisu pada malam hari, dan sebuah kedai kopi yang tutup sampai larut malam di pinggiran kotamu, masih menyimpan aroma kayu putih dan bedak bayi yang sering kau pakai. Bahkan ketika kusentuh bangku kayu kecil di taman ini, perasaan melayang yang sama dengan mengisap aroma kayu putih di lehermu itu masih jelas dalam benakku. Aku selalu kehilangan diriku di saat seperti itu, melebur dalam sesuatu yang tak kupahami, sesuatu yang luas dan tak bisa kukendalikan. Hanya suara lirihmu, serupa rintihan lembut di ujung senja ketika aku masih kanak-kanak dan ibuku menyuruhku pulang ke rumah, yang menghadirkan diriku kembali ke dunia dan mendapati kau tengah menatapku dengan tatapan asing.
”Kau masih seperti anak kecil, bodoh,” katamu dengan senyum berbinar.
Sampai di depan bekas rumahmu, getaran perih itu tak pernah berkurang sedikit pun. Setelah bertahun-tahun kau tak di situ, tak ada yang berubah dari rumah itu. Sebuah rumah tua, dengan pintu kayu berukir, jendela-jendela panjang dan agak tinggi dengan jeruji kayu di baliknya, beranda dengan hiasan lampu tua, dan pagar kayu yang mengelilinginya. Sebuah taman kecil, penuh anggrek yang tertempel di pohon mangga serta kembang sepatu merah masih terpelihara dengan baik.
Kemurungan ganjil mengalir tak terbendung dalam diriku, melahirkan rasa sesal tak berkesudahan. Apakah manusia bisa terlepas dari kenangan? Apakah orang yang terjerumus dalam kenangan tak akan mampu memiliki impian tentang masa depan yang terbebas dari masa lalunya? Lalu untuk apa aku harus menjalani hari-hari seperti ini? Sepanjang perjalanan pulang kembali, aku selalu memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu.



Arah Dairi Kedepannya

                                                     Arah Kabupaten Dairi Kedepannya Sebagai penduduk Kabupaten Dairi yang sedang merantau, ...