Aku sedang mengimajinasikan sesuatu sore ini.
Seorang gadis yang sedang duduk di sebuah perpustakaan yang sepi, aku mencoba membayangkan jika dia sedang menulis sesuatu dibukunya, mungkin sebuah cerita atau mungkun hanya sebait puisi.
Ya, dia bukan seperti gadis-gadis lainnya yg biasa kulihat diperpustakaan, menggunakan earphone dan mengerjakan tugas. Tidak, gadis yg ada diperpustakaan itu adalah seorang gadis yg sedang menulis, mungkin dia menulis karena jatuh cinta, bukankah ada seseorang pernah berkata bahwa siapapun bisa menjadi penulis yang romantis ketika sedang jatuh cinta?
Tidak, dia tidak sedang jatuh cinta. Matanya memerah dan kulihat juga dia berkali-kali menghapus air matanya dengan saputanganya, mungkin sapu tangan yang penuh kenanga, ah, sentimental.
Sudah sangat jarang aku melihat gadia yang begitu, sangat jarang melihar gadis yg menulis sesuatu dibuku, biasanya mereka menulis apapun yg terjadi di sosial medianya.
Lalu aku akan pura-pura mencoba mendekatinya dengan membaca sebuah buku yg sebenarnya tidak masuk akalku, tetapi untuk kelanjutan tulisan ini aku mencoba menyukai buku tsb.
"Bisakah saya duduk disini?"
Gadis itu menoleh sejenak, mungkin untuk menyembunyikan airmatanya, kulihat dia mengangguk.
Aku lalu duduk dan berkata, "Sepertinya anda sedang menulis sambil menangis, apakah sesuatu yg anda tulis itu menyedihkan?"
Dia diam.
Sudah berkali-kali aku membaca tulisan tentang seorang gadia sentimentil, berkali-kali juga aku menemukan mereka. Ya, teramat banyak alasan mereka untuk menangis, mulai dari kekasihnya yang tidak mengingatkannya untuk makan malam, lupa hari ulang tahunnya, selingkuh, tidak setia ataupun hubungan yg berakhir, mungkin karena tidak cocok ataupun tidak ada restu.
Lalu tentang gadis didepanku?
Mengapa dia menangis?
Aku hanya mencoba membayangkan, mungkin dia menangis karena pagi ini ketika dia ke kampus dia melihat seorang lelaki yg telah lama disukainya sedang berjalan dengan kekasihnya, setidaknya dia sempat melihatnya begitu romantis sehingga jiwanya yang begitu sentimentil itu terluka sehingga dia memutuskan untuk ke perpustakaan untuk menulis semua isi hatinya.
Tidak, tunggu dulu!
Sepertinya dia adalah seorang gadis cantik dan manis, siapa yang tidak menyukai gadis seperti itu?
Ah, mungkin dia datang keperpustakaan ini karena ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, ya mungkin hubungannya dengan kekasihnya, kekasihnya mungkin akan segera wisuda dan dia akan ditinggalkan. Ah, itu rasanya terlalu lebay..
Lalu apa kemungkinan yang paling cocok untuk seorang gadis manis yang duduk menangis sambil menulis disebuah perpustakaan yang sepi?
Aku tahu, dia gadis yang baik dan dia baik-baik saja. Aku hanya butuh nyali untuk bertanya langsung kepadanya, "Anda kenapa?"
Lalu dia akan menjawab, "Terserah kau buat aku mengapa dalam ceritamu karena aku adalah gadis dalam ceritamu ini.."
Lalu karena ini adalah sebuah cerita, gadis itu kembali mengambil sapu tangannya, mengelap airmatanya lalu menutup bukunya sambil tersenyum dan berkata, "Terlalu banyak cerita dan kadang perlu sentimental untuk menulis cerita.."
Dia lalu berdiri dan berkata, "Kau pasti tidak menyukai buku yang kau baca itu, kau datang kesini hanya untuk menyapaku bukan, kalau begitu simpanlah bukumu, kita akan jalan-jalan.."
"Kemana?"
"Istana Wakayama atau sungai Kinokawa, kalau sempat kita juga akan ke Heaton Park dan menghabiskan senja di Sungai Irwell. Nanti malam sekitar jam delapan kita akan menonton derby Manchester di Old Traffold, kau mau?"
"Ya, tentu.." jawabku langsung menyimpan buku yang kubaca.
"Tapi ada satu permintaanku..."katanya tiba-tiba.
"Apa itu?"
"Aku tahu kau tidak punya pacar!"
"Jadi?"
"Ya, jangan sampai kau memintaku jadi pacarmu, aku ini tokoh fiksimu penghayal!!!"
Shit!
Hahaha :D
Kami lalu bergerak meninggalkan perpustakaan dan aku baru benar-benar sadar bahwa ini hanyalah imajinasi saja
Kamis, 14 Januari 2016
Perempuan Fiksi
Minggu, 01 November 2015
Sebuah Catatan
Tiba-tiba seorang gadis datang menemuiku dengan wajah yang terlihat bingung dan penuh tanda tanya, "Anda tinggal di kota ini?" Tanyanya.
"Tidak, kota ini hanya ada dalam imajinasiku.."
"Lalu mengapa anda bisa duduk manis dipinggiran sungai ini?"
"Aku masuk lewat situs wikipedia, aku tersesat dihalaman webnya, tanpa kusadari ketika aku membuka mata didepanku sudah bersemi bunga sakura dan istana wakayama yang megah itu,, saat aku menyusuri jalanan, kulihat ada sebuah sungai dan ada taman dan bangku-bangku ditepian sungai itu, yah aku memutuskan duduk disini.."
"Oh ya, berarti anda tahu dimana letak istana wakayama?"
"Jelas tahu, istana itu ada dalam imajinasiku.."
"Oh ya? Berarti anda lelaki yang tinggal dalam imajinasi dong?"
"Belum tentu, aku juga punya kehidupan yang nyata.."
"Kalau begitu mengapa anda selalu membuat kota Wakayama itu juga seakan tidak nyata, padahal kota itu adalah sebuah perfektur di Jepang, perfektur Wakayama yang kotanya dibelah oleh sungai Konikawa, ada juga istana Wakayama yang sangat terkenal serta gunung Nagusa, anda membuat semuanya itu seperti fiktif, padahal itu benar-benar nyata.."
Aku terdiam, kututup novel yang sedang kubaca, lalu kupandang wajah gadis yang berbicara didepanku itu, nampaknya wajahnya tidak menyiratkan kebingungan lagi tetapi malah wajah menyelidik seperti seorang detektif, tetapi meski begitu wajah manisnya masih tetap terlihat dan rambutnya tergerai diterpa angin sepoi musim gugur.
"Sebenarnya anda siapa?" Tanyaku.
"Aku Liana Marita, tokoh cerpenmu sekaligus penggemar tulisanmu.."
Gubrak!!!
Aku terkejut bukan main, hampir saja bangku yang kududuki terjun bebas ke air sungai bersama denganku, tidak kusangka tokoh cerpenku itu cantik juga, aku tidak pernah membayangkannya, aku jadi takut jatuh cinta kepadanya.
Hahaha..
01112015
Tiba-tiba seorang gadis datang menemuiku dengan wajah yang terlihat bingung dan penuh tanda tanya, "Anda tinggal di kota ini?" Tanyanya.
"Tidak, kota ini hanya ada dalam imajinasiku.."
"Lalu mengapa anda bisa duduk manis dipinggiran sungai ini?"
"Aku masuk lewat situs wikipedia, aku tersesat dihalaman webnya, tanpa kusadari ketika aku membuka mata didepanku sudah bersemi bunga sakura dan istana wakayama yang megah itu,, saat aku menyusuri jalanan, kulihat ada sebuah sungai dan ada taman dan bangku-bangku ditepian sungai itu, yah aku memutuskan duduk disini.."
"Oh ya, berarti anda tahu dimana letak istana wakayama?"
"Jelas tahu, istana itu ada dalam imajinasiku.."
"Oh ya? Berarti anda lelaki yang tinggal dalam imajinasi dong?"
"Belum tentu, aku juga punya kehidupan yang nyata.."
"Kalau begitu mengapa anda selalu membuat kota Wakayama itu juga seakan tidak nyata, padahal kota itu adalah sebuah perfektur di Jepang, perfektur Wakayama yang kotanya dibelah oleh sungai Konikawa, ada juga istana Wakayama yang sangat terkenal serta gunung Nagusa, anda membuat semuanya itu seperti fiktif, padahal itu benar-benar nyata.."
Aku terdiam, kututup novel yang sedang kubaca, lalu kupandang wajah gadis yang berbicara didepanku itu, nampaknya wajahnya tidak menyiratkan kebingungan lagi tetapi malah wajah menyelidik seperti seorang detektif, tetapi meski begitu wajah manisnya masih tetap terlihat dan rambutnya tergerai diterpa angin sepoi musim gugur.
"Sebenarnya anda siapa?" Tanyaku.
"Aku Liana Marita, tokoh cerpenmu sekaligus penggemar tulisanmu.."
Gubrak!!!
Aku terkejut bukan main, hampir saja bangku yang kududuki terjun bebas ke air sungai bersama denganku, tidak kusangka tokoh cerpenku itu cantik juga, aku tidak pernah membayangkannya, aku jadi takut jatuh cinta kepadanya.
Hahaha..
01112015
"Kau menghayal?" Katanya tiba-tiba sudah tepat didepan mukaku.
"Untuk apa aku menghayal? Bukankah kau sudah hayalanku juga?"
Dia tersenyum menatap mataku, astaga tatapannya seperti tatapan yg selalu kubuat dalam tulisanku, matanya yg tajam dan penuh dengan gairah kehidupan, dia terus menatapku, ah, aku jadi grogi juga..
"Kau grogi?"
"Tidak.., aku hanya teringat tentang bacaanku.." Kataku mengangkat buku yang kubaca..
"Buku apa sebenarnya yg kau baca, boleh aku lihat?" Katanya langsung merampas dari tanganku.
"Tunggu, mungkin kita bisa membicarakan tentang buku itu bai-baik sambil duduk.."
"Sambil duduk? Bukankah kita akan terlihat seperti sedang kencan romantis, dibawah daun-daun yg berguguran, disebuah bangku ditaman tepi sungai?"
"Kalau kau mau..?" (Wess, masuk gombalanku.. :D)
"Masalahnya aku tidak mau.." Ucapnya tiba-tiba.
Busyet..
"Kenapa?"
"Nanti kau umbar-umbar tentang hal ini dalam ceritamu, kau bilang kita menikmati waktu dari hingga lampu-lampu temaram, membicarakan tenan anak-anak kita nantinya, kau kan lebay dan kadang berlebihan.."
"Terus kalau memang nanti kubuat seperti itu?"
"Aku tidak mau lagi jadi tokoh ceritamu, aku akan cari lelaki lain dan yang pasti lelaki itu penulis yg sempurna, bukan penulis abal-abal sepertimu.."
Busyet, gadis ini tadi memujiku, sekarang mengejek, hehh, lihat pembalasanku nanti.
"Jadi kau mau jadi duduk disini denganku.."
"Bisa, tapi tunggu, aku harus mengatur alarmku dulu.."
"Untuk apa, apakah ada janjimu dgn seseorang? Seingatku dalam cerpen yang kutulis kau bukan seorang gadis yg suka mengumbar janji.."
"Bukan untuk janji.."
"Lalu apa?"
"Aku ingin membuat alarm sebelum senja, aku tidak ingin menghabiskan senja bersamamu, bukankah kau orang yg berlebihan, jadi tidak akan ada senja yg romantis dan lampu-lampu temaram antara penulis dgn tokoh fiksinya, pokoknya tidak ada yg romantis, titik!!"
"Oke.."
"Ada satu lagi permintaan!"
"Apa?"
"Kalau kau menulis cerpen jgn samapai ada nama lain selain namaku, Liana Marita. Aku tahu kok, kau sedang menyukai seorang gadis, itu lho gadis yg kalau melihatnya saja kau sudah jantungan, lalu kau pura-pura membuat surat untuk S di T padahal sebenarnya itu untuk si.. Ah, siapa itu namanya, lupa aku. Kau kan pecundang.. Jadi awas ya kalau sampai kau buat namanya jadi tokoh cerpenmu.."
"Kalau kubuat?"
"Aku tidak akan mau duduk disampingmu, tidak akan mau menjadi tokoh cerpenmu, tidak mau hidup dalam tulisanmu yg galau itu..Aku akan cari lelaki lain..."
Astaga, selain sok tahu, gadis fiksi ini tukang ngambek pula..
Dia masih tetap berdiri disitu dgn wajah cemberut, angin sepoi musim gugur masih berhembus dan rambutnya masih tergerai.
Ah, dia semakin cantik saja.
"Apa kau lihat-lihat aku, nanti jatuh cinta kau samaku, jadi saingan aku sama S di T mu itu.., mana rupanya lebih cantik aku dari pada dia?"
Busyet..
"Kenapa kok diam, lebih cantik aku kan, makanya baik-baik kau samaku biar mau aku jadi tokoh ceritamu..
Dia juga mengajakku duduk ditepian sebuah sungai yg sangat besar, ketika duduk iseng-iseng aku curi-curi pandang melihat muka manisnya itu.
Ah, seandainya dia bukan tokoh fiksi pasti aku sudah jatuh cinta setengah mati.
"Ini danau ya?" Kataku padanya mencoba membuka suara.
"Oh, jadi kau belum tahu ya, ini adalah sungai Konikawa, sungai ini mengaliri Perfektur Wakayama dan Perfektur Nara, panjangnya 136 km dgn luas permukaan secara keseluruhan sekitar 1.660 km2, mengalir dari gunung Oidagahara ke arah barat dan bermuara di Kota Wakayama ini. Kau tahu, sungai ini berpotongan dengan salah satu jembatan rel kereta api bernama JR West Wakayama Line, seperti yg pernah kau tulis, ada kereta senja yg melintas tepat di atas jembatan itu ketika matahari akan terbenam, kalau kau mau nanti kita bisa kesitu menikmati matahari yg terbenam di sungai kinokawa ini. Ya, siapa tahu kau bisa mendapat inspirasi seperti novelis Jepang Sawako Ariyoshi yg membuat salah satu judul novelnya yg sama dengan nama sungai ini, Kinokawa.."
"Kau sering kesini?" Tanyaku padanya.
"Sesering kau menulis cerita tentang kota ini.."
"Kok kau bisa tahu semuanya?"
"Wikipedia, bukankah dalam tulisanmu kau menyatakan aki adalah seorang gadis yg senang membaca wikipedia?"
"Ohh, aku lupa.."
"Oh ya, ini sudah hampir senja, sekarang musim gugur, jadi matahari lebih cepat terbenam dari biasanya.."katanya sambil menarik tanganku. Astaga, jantungku berdebar, bagaimana mungkin aku bisa menikmati sebuah pengalaman yg mendebarkan dgn tokoh fiksiku yg cantik ini?
Aku takut jatuh hati pada hayalanku..
Sabtu, 25 April 2015
Terjebak Hujan
Kurasa tidak terlalu buruk jika suatu hari nanti kau menemukan dirimu terperangkap dalam hujan di sebuah perempatan jalan di kota M ini, karena sungguh, kau akan menikmatinya, orang-orang yang berteduh, ojek payung gratis yang sok jadi pahlawan atau bahkan mata-mata liar yang mencari kesempatan- ditengah kesempitan.
Karena itulah kemungkinana, dan kau mungkin akan beruntung melihat seorang gadis yang linglung, dan kau tidak pernah tahu, apakah dia sedang menunggu seseorang ataukah dia terbuai kenangan dalam hujan?
Jikalau kau punya nyali, kau akan mencoba menanyakan itu kepadanya, dengan pertanyaan malu-malu yg penuh makna..
"Hujannya deras juga ya.."
Dan mungkin dia akan menjawabmu dengan anggukan saja, lalu kau akan meneruskan pertanyaanmu..
"Terperangkap hujan juga?"
"Ya.."
"Memangnya anda mau kemana?"
"Kenangan.."
"Astaga, anda jgn bercanda, dimana itu kenangan?"
"Diantara bus-bus yang melintas menembus hujan, mereka selalu membawa kenangan.."
Dan kau akan terdiam sejenak, untuk mencerna apa yg diucapkannya, saat itu hujan masih turun deras dan jalanan sudah mulai tergenang, apakah engkau masih mencoba melanjutkan percakapan?
Kau mencoba melirik sekilah wajahnya, dan saat yang sama dia melirikmu, pandangan kalian bertemu, adakah kata yg cocok untuk melukiskannya sebagai sebuah suasana?
Hujan mungkin tidak akan segera reda, namun sebagai seorang pria yg melankolis, kau pasti akan selalu punya cerita tentang setiap suasana, karna itu jglah mungkin kau sampai lupa dan merasa hujan kali ini terlalu singkat utk sebuah kenangan, sehingga kau jg lupa menanyakan dia siapa bahkan kau lupa bahwa sebenarnya ini hanya sebuah fiksi sederhana.
Sabtu, 25 April 2015
Kamis, 09 April 2015
Liana
Liana, dia gadis cantik, tokoh cerpenku dalam judul Tentang hujan di tepi danau toba. Entah kenapa, aku tadi berremu dengannya, ketika pulang kuliah, dia sedang duduk di depan halte sebuah kampus kurang ternama di kota M.
Dia menumpang angkot yang juga kutumpangi, anehnya dia memilih duduk disampingku, ciri-cirinya persis sama dengan tokoh cerpen itu, aku tahu namanya ketika tasnya terjatuh dan kartu tanda mahasiswa, ktp dan identitas lainnya berhamburan, sayangnya aku tidak mencoba membantu memungutinya karena tidak ingin terjebak adegan romantis dengan tokoh cerpenku sendiri.
Sebenarnya aku ingin bertanya kepadanya, karena seingatku, dalam cerpen yang aku tulis dia mengendarai sepeda motor, bukan naik angkot seperti saat ini, sayangnya, seperti biasa, aku tidal berani untuk memulai sebuah percakapan.
Tetapi kemungkinan tidak bisa diprediksi, kakiku menyenggol sesuatu dan aku melihatnya, sebuah pulpen, kuambil lalu aku menyentuh sikutnya.
"Ini, pulpenmukah?"
Dia melihatku, tersenyum dan berkata, "Ya, tentu.. Terima kasih, ini pulpen yang penuh kenangan.."
Aku tersemyum, ternyata, sama seperti dalam cerpenku, dia juga sentimentil, aku jadi ingat sebuah kutipan yang berkata, tidak tahukah kau betapa sentimentilnya sebuah kenangan?
Angkot terus berjalan dan dia masih duduk disampingku, seandainya bukan perkara pilosofi atau cerita fiksi, aku ingin banyak bertanya kepadanya, tetapi dia terlalu asik dengan sebuah novel berjudul Epigraf, sehingga dia hanya menjawab pertanyaanku dengan ya dan tidak.
Aku memang harus akui, sebagai mahasiswa dengan trayek jauh dari kost kekampus yang menelan waktu sekitar lima puluh sampai enam puluh menit perjalanan, banyak orang yang naik turun dari angkot tersebut dan biasanya aku turun beberapa ratus meter sebelum pangkalan dan saat itu hanya tersisa aku sendiri dengan supir angkot.
Kali ini tidak, aku dengan Liana, tokoh cerpenku yang cantik itu dan aku belum sempat menanyakan alamatnya dam dimana kampusnya ketika aku harus turun dari angkot bahkan aku belum sempat menanyakan kemana tujuannya..
Aku tersenyum sendiri, kupandangi angkot yang bergerak menjauh mengiringi kendaraan-kendaraan lainnya sambil berharap, besok, lusa atau kapan aku bisa naik angkot yang sama dan angkot itu akan berhenti di halte sebuah kampus tidak ternama untuk menaikkan seorang penumpang cantik bernama Liana, aku masih punya beberapa pertanyaan kepadanya dan tentu aku ingin menanyakannya, "Maukah engkau menjadi tokoh cerpenku lagi?"
Rabu, 26 November 2014
NOVELOG
Senin, 09 September 2013
Air terjun dan Datu di seberang Kampung ( Cerpen )
Oleh : Rinaldi Sinaga
Jika kau pernah mendengar cerita tentang air terjun diseberang kampung yang airnya mengalir tanpa bermuara. Airnya akan tertelan keperut bumi melalui hutan belantara yang ada disebelah tenggara desa. Lalu suatu saat nantinya air itu akan datang dari sang pencipta, mengalir dan akan menjadi air terjun lagi. Begitulah mungkin siklus air terjun yang beredar diantara warga desa, meskipun tidak akan pernah tercatat dibuku-buku IPA tetapi mereka akan tetap percaya. Peristiwa itupun akan menjadi cerita hangat diantara warga karena air terjun itu hanya akan muncul jika musimnya tiba. Atau hanya mengalir jika nantinya akan ada peristiwa, begitulah kata-mereka yang sudah lanjut usia. Namun pernah ada guru fisika yang baru datang dari kota mengamati gejala itu, dia berpendapat itu hanyalah gejala alam yang sudah biasa. Sehingga dia menjadi dibenci para tetua karena teorinya itu. Dia pun tetap apa adanya, sehingga seminggu kemudian para tetua mewakili warga mengusirnya.
Guru fisika yang malang, dia menjadi malang melintang hanya karena teori yang menantang. Dan dia pun kembali berpetualang, mengajarkan apa yang dia tahu tentang alam. Meskipun harus melayang dalam mimpi yang membayang.
**
Jika hujan kembali datang, semua warga akan melakukan sesuatu agar tidak terjadi pantang, menusukkan pisau tanpa gagang di depan pintu . Karena pada saat itu, dia pemilik air terjun yang sangat mereka takuti akan melewati semua pintu dikampung itu menuju air terjun untuk mandi. Dan jika hujan tiba-tiba saja berhenti, pemilik air terjun itu diyakini tidak jadi mandi karena salah satu pintu belum ditancapkan pisau tanpa gagang. Dan warga yang pintunya belum ditancapkan pisau itu akan berutang seekor kerbau kepada pemilik air terjun. Maka dia harus mengajak semua warga untuk mengajak semua warga kampung berpesta ditempat air terjun itu jika musim kemarau mengganggu.
Berbeda halnya jika hujan terus menerus datang, itu artinya pemilik air terjun yang mereka takuti-tapi tetap juga mereka tunggu- sedang menikmati mandinya dibawah air terjun itu. Tetapi pada saat hujan itu datang terus-menerus, semua tanah akan tertutup air hingga puluhan centimeter tingginya . Saat itu air terjun itu juga seperti Niagara dengan airnya yang keruh. Hanya saja tidak pernah ada warga yang sempat melihatnya, karena saat yang sama rumah mereka tertimpa bencana. Air yang naik akan merendam rumah dari ujung ke ujung kampung. Tetapi warga tetap percaya, itu adalah pembersihan rumah mereka dari segala penyakit dan dosa yang mereka buat selama semasa.Tapi saat bencana itu datang, akan terjadi sesuatu yang berbeda dengan keluarga Bagading yang rumahnya ada dilereng dekat air terjun itu. Mereka tidak akan mengalami apa-apa, sehingga mereka dapat menikmati air terjun niagara yang keruh itu. Warga yakin mereka adalah yang diberkati.
Dan sumber pendapatan mereka juga berasal dari situ, mereka akan menampung sebanyak-banyaknya air yang mengalir dan berbusa dari air terjun itu. Karena mereka yakin itu adalah air yang telah dimandikan pemilik air terjun yang mereka takuti.
Ketika hujan berhenti dan air mulai mengering, orang-orang dari penjuru kampung akan berlomba-lomba menuju rumah keluarga Bagading untuk membeli air yang ditampung itu. Air yang pada dasar tempayannya juga mengendapa semacam tepung itu, dan endapan itu juga mereka yakini dapat mengobati semua jenis guna-guna. Dan air itu jika dimandikan akan mengobati semua jenis penyakit kulit.
Tapi semenjak pengusiran guru fisika dulu, peristiwa itu tidak pernah terulang lagi. Peristiwa yang membuat mereka seperti kehilangan sesuatu. Mereka telah membuat beberapa pesta dan memotong kerbau, tetapi hasilnya tetap sama saja, suasana didekat air terjun yang mengering itu kini telah berdebu.
Bagading yang memperoleh penghasilan utamanya dari situ mulai menjumpai seorang datu diujung kampung. Sedangkan diantara warga mulai simpang siur membawa berita tentang guru fisika yang sudah entah dimana. Dan mereka yakin guru fisika itulah yang membawa bencana.
Sepulang dari ujung kampung, Bagading membawakan berita yang membuat geger seluruh penghuni kampung. Pemilik terjun mengingini lima perawan desa untuk membuat masalah itu rampung.
Warga kampung mulai was-was, gadis-gadis desa yang masih perawan ketakutan setengah mati. Dalam suatu kesepakatan, para orang tua mengantarkan mereka pada malam hari menuju stasiun di ibukota kecamatan untuk di ungsikan kekota. Sehingga tidak akan jadi tumbal pemilik terjun itu.
Paginya, semua warga yang tidak punya anak gadis merasa heran dan curiga. Di kampung itu terasa lengang, seperti tidak adalagi yang membuat ceria. Gadis-gadis yang biasanya ramai-ramai kesungai dipagi hari kini tiada lagi. Kecuali putri semata wayang bagading, pagi ini dia kesungai sendiri, mencuci bekas penampungan air terjun yang sudah kering dan berkerak.
Dan menurut cerita yang kubuat, disana dia menemukan bunga disana, Dia percaya bunga itu berasal dari kerak yang dicucinya.
Dia lalu berlari-lari seperti gadis kecil yang menemukan pita menuju rumahnya. Menunjukkan bunga itu pada Bagading ayahnya. Lalu Bagading akan menunjukkannya pada semua warga. Berdasarkan musyawarah mufakat yang tercipta mereka akan membawanya kepada datu yang ada diujung kampung, menanyakannya tentang apa makna penemuan bunga yang berasal dari sisa kerak air terjun itu.
Setelah mendapat petunjuk mereka mulai membuat tenda didekat tempat air terjun yang kini berdebu, memotong kerbau tujuh ekor juga lembu satu ekor untuk dipersembahkan kepada bunga dan juga pemilik air terjun.
Selesai pesta, karena lelah semua warga tertidur lelap dirumah masing-masing.
Lalu bermimpilah seorang warga, Dia melihat diujung sungai seorang yang datang entah darimana. Lalu dia meyakini itu adalah titisan. En tah mengapa, setelah selesai bermimpi, dia langsung terbangun, maka ketika masih pagi buta, dia segera pergi kerumah Bagading. Dan ketika melewati bunga yang baru mereka pestakn semalam, dia melihat bunga itu bercahaya. Mungkin pertanda begitulah pemikirannya. Ketika sampai dirumah Bagading, dia melihatnya sedang bertapa, menyembah lukisan didinding kamarnya yang tampak seperti lukisan manusia purba. Tapi Bagading sepertinya mengetahui kehadirannya, mengakhiri pertapaanny dengan bersujud hingga bokongnya lebih tinggi dari kepala, sesudah selesai, diapun membukakan pintu.
Lalu mereka mulai bercerita ini itu, hingga matahari menjelang mereka mulai mengumpulkan semua warga, memceritakan tentang mimpi yang mereka yakini sebagai petunjuk berharga dan mungkin harganya melebihi emas hadiah piala dunia. Lalu semua warga laki-laki menyusun gerombolan-gerombolan menyerupai batalion tempur. Mereka bergerak seperti akan melakukan operasi geronimo. Meski mereka sebenarnya tahu yang mereka cari sebenarnya hanya mimpi. Sedangkan wanita-wanita mereka akan mempersiapkan hajatan makan siang dikampung, sehingga suasanapun seperti pesta.
Tetapi hingga sore mereka tidak menemukan apa-apa, mereka kembali meminta petunjuk kepada datu diujung desa. Lalu dengan petunjuk yang mereka percaya, merekapun memutuskan bahwa titisan itu adalah guru fisika dengan teorinya, sayangnya kini dia sudah entah dimana.
Untungnya sang datu punya solusi, dia lalu meminta bunga yang dulu dapat putri bagading untuk dijadikan petunjuk. Tetapi bunga itu kini layu dan warnanya tidak ada lagi.
Warga pun terkesima, karena sesungguhnya bunga itu tidak ada bedanya dengan bunga-bunga lain yang mereka pelihara. Dengan serta merta, semua warga pun membuang bunga itu kejamban pembuangan di hilir sungai. Namun anehnya, ketika bunga itu dibuang, malamnya putri semata wayangnya Bagading menjadi sakit, badannya panas, lalu kalau tidur akan terus-menerus menyebut nama guru fisika itu.
Warga mulai percaya, htulah yang namanya guna-guna. Orang-orang yang masih menyimpan air dari air terjun itu segera datang membawakannya kerumah Bagading.
Tetapi gadis itu tidak sanggup meminumnya karena rasanya yang hampir tidak ada bedanya dengan tanah. Ayahnya menasehatinya dengan menyatakan bahwa sesungguhnya obat itu memang tidak enak.
Dengan terpaksa, gadis itupun meminumnya, baru sedikit saja, dia pun muntah-muntah. Ketika semua yang disana melihatnya muntah, mereka percaya bahwa guna-guna itu sudah keluar dari gadis itu.
Tetapi malah sebaliknya, penyakitnya semakin menjadi-jadi. Kali ini pun dengan terpaksa bagading membawa putri semata wayangnya kedatu diujung desa. Lalu sang datu bertapa mengucapkan mantera yang lebih baik dikatakan mengingau saja. Sesudah itu berkata bahwa puteri bagading akan sembuh ketika waktunya tiba.
Sebulan sesudah itu, puteri Bagading tidak juga sembuh. Dia mulai curiga, jangan-jangan Datu itulah yang punya ilmu guna-guna. Dia mulai mempengaruhi warga, terlebih pardo dan komplotannya yang menyimpan dendam kepada sang datu karena masalah gadis-gadis perawan yang dulu.
Mereka lalu menikamnya, saat itu sang datu sedang menikmati tidur dengan istri tercintanya yang masih muda. Dua-duanya pun mati tanpa sempat bersuara, sayangnya darah keduanya sempat menyatu. Karena menurut cerita darah dua yang menyatu ketika meninggal dunia akan menjadi hantu.
Sejak saat itu, malam-malam dikampung itu jadi sepi, jam enak sore rumah-rumah telah tertutup pintunya.
Siang harinya, warga sering bercerita melihat sepasang pengantin yang melewati jalan didepan rumah mereka. Lain lagi dengan versi warga yang berbeda, kalau ditanya setiap warga akan melihat hantu yang berbeda meskipun intinya tetap sama yaitu sepasang hantu. Begitulah dikampung itu berbulan-bulan lamanya, sehingga mereka lupa tentang air terjun yang istimewa dan juga puteri bagading yang sudah keluar dari alur cerita. Hingga suatu malam kira-kira jam sembilan, hujan pun turun dan mulai menggenang semua rumah warga, mereka lupa atau mungkin juga takut menancapkan pisau didepan pintu rumah karena tidak berani bertemu hantu datu dari ujung kampung beserta istrinya.
Hujn terus menerus datang. Hingga suatu hari di sebuah koran memuat mengenai sebuah kampung yang hilang kena terjangan banjir..
Senin, 22 Juli 2013
Cerpen Renjana
Aku berangkat ke kotamu pagi ini dengan kereta paling awal, diantar hawa dingin dan kabut bulanMaret yang menusuk tulang. Mungkin kau tak mengira bertahun-tahun setelah kita tak lagi menghabiskan waktu bersama aku selalu melakukan perbuatan tolol ini: mencarimu di kota yang tak lagi kau tinggali.
Arah Dairi Kedepannya
Arah Kabupaten Dairi Kedepannya Sebagai penduduk Kabupaten Dairi yang sedang merantau, ...
-
Arah Kabupaten Dairi Kedepannya Sebagai penduduk Kabupaten Dairi yang sedang merantau, ...
-
Ini bukan daerah yang mau dijadikan Objek wisata halal, juga bukan daerah yang akan diadakan Festival Beiby. Daerah ini terkenal dengan s...