Jumat, 13 Maret 2015

Dan Bila Hari Ini Beranjak...

Mungkin aku akan mengenangmu seperti sebuah aliran sungai yang bening!
Jangan kau tanyakan mengapa karena memang tidak ada jawabannya, dan tidak seharusnya aku menjelaskannya.
Aku memang mengerti mengapa ada kecewa meskipun aku sangat susah untuk menerimanya meskipun berulang kali aku mencoba tetapi keyakinanku tetap pada batasnya.

Kamis, 12 Maret 2015

Besok (Mungkin) Sentimentil Akan Berkuasa

Tidak tahu mana aku memulainya..

Aku menikmati alunan musik yang sendu itu sambil mambayangkan kisah dalam lagu itu adalah kisahku. Aku bisa merasakannya, bagaimana seorang yang selalu tinggal dalam kenangan, seorang yang hatinya selalu tersisa meskipun sudah ditinggalkan kekasihnya.
Dia masih sanggup berkata,

With My Brother (Gunawan Sinaga)

Hidup ini adalah pilihan dan kita sudah memilihnya, tidak perlu menyesal karena meilih. Kita memang bisa saja memilih yang mudah seperti mereka-mereka itu, kita bisa hidup santai dan menikmati semuanya, hanya saja apakah kita akan terus begitu?
Memang selama ini kita selalu mengharapkan yang instan dan kita terlalu menikmatinya, tetapi tidak selamanya kita harus hidup bergantung kepada orang lain, sudah saatnya kita menuntun langkah kita sendiri.
Hidup ini berputar, mungkin orang itu kini sedang diatas dan kita terlindas, tetapi setidaknya kita sudah merasakan bagaimana sakitnya berada dibawah sehingga ketika suatu saat kita diatas kita tidak akan menindas tetapi ikut meringankan beban mereka.
Kita adalah lelaki dan kita harus menjalankan hidup ini sebagai lelaki yang tahan tekanan dan tahan banting, kita harus berusaha semaksimal mungkin karena kita adalah pemimpin keluarga dan penentu masa depan, bagaimana jadinya kalau kita biasa saja seperti orang kebanyakan lainnya?
Tuntunlah langkahmu, maksimalkan yang ada.

Sabtu, 07 Maret 2015

Surat untuk Heaty II

Aku mau, menjadi musim gugur tanpa jeda jika kau perluku
Rasanya itu akan menyenangkan jika kau mencoba untuk memahaminya
Karena musim gugurlah musim semi akan kembali
Dan kau akan kembali bertunas, meski aku tidak melihatnya
Karena tidak ada yang lebih menyedihkan selain melihat engkau terperangkap dalam pikiranmu dan rasa cinta yang tidak menentu entah untuk siapa.
Aku tahu, aku memang tidak mungkin seperti hujan yang dapat menyuburkan jiwamu, karena musim gugur lebih berarti bagiku. Aku dapat memahami rasa sakit yang kau rasakan dalam jiwamu, aku dapat menggantikanmu membeku, aku dapat membayangkan diriku dalam timbunan salju.

Jumat, 06 Maret 2015

Surat Untuk Heaty

Aku mencintaimu, dan kau harus tahu tentang itu.
Seperti kata yang selalu kusimpan dalam hatiku, seperti rindu yang selalu menyiksaku.
Mungkin aku mencintaimu bukan seperti cinta pada sandiwara-sandiwara di opera, bukan juga seperti drma-drama melankoli yang penuh asmara.
Kau harus tahu, aku mencintaimu seperti senja jingga dengan matahari yang enggan terbenam untuk menikmatinya.
Aku mencintaimu seperti deburan ombak yang enggan berhenti mencumbu pantai.
Heaty, cinta itu gila, meskipun kadang aku hanya bercanda menyatakannya gila, tetapi kau harus tahu saat tidak ada romantisme yang tercipta dari setiap cerita, kita bisa mencerna maknanya seperti mencerna kenangan saat engkau bersamanya. Lelaki yang menggoda dengan segala yang ada padanya, sedangkan aku apa yang dapat kuberikan padamu?
Cukupkah sepotong senja dikota Manchester, itupun hanya dalam keindahan kata..

Senin, 02 Maret 2015

Bermakna karena dimaknai

Banyak orang mencari pemahaman, tetapi saya kecewa kepada mereka yang tidak kunjung paham
mungkin seperti dahan yang berhembus kemana angin membawanya, begitulah kita yang tidak mengerti apa isi sebuah tatapan mata.
Memang harus saya akui, kita adalah diri kita sendiri dan kita tidak dapat memaksa orang mengerti, kita cenderung dengan egoisme kita, pemikiran kita yang tidak menentu ini, tetapi ada saatnya kita untuk menyendiri, mencari arti dan memahami apa yang sedang terjadi
Rasanya sudah terlalu bosan mengeluh untuk dikasihani, rasanya sudah terlalu lelah berbicara untuk didengarkan dan mungkin sudah saatnya mendegar keluhan dan mengasihani, rasanya sudah saatnya berbuat baik dan berusaha lebih banyak, memahami dan menyediakan otak untuk mengerti.
Terlalu asik dengan dunia sendiri akan membuat kita tidak melihat apa yang sedang terjadi, padahal sangat banyak sosialisasi dan kehidupan yang harus dinikmati, jangan katakan bahwa dirimu adalah orang yang pernah hidup jika kau merasakan yang senangnya saja, kita bahkan lebih buruk dari sebuah mayat jikalau tidak berarti lagi bagi orang-orang di sekitar kita.
Mungkin saya juga adalah orang yang tidak jauh berbeda, tetapi semakin lama semakin saya menyedarinya bahwa kehidupan yang sekejap ini jika kita tidak memberi kontrubusi maka semua akan sia-sia saja dalam hidup kita. Saya memahaminya dari beberapa orang yang berani mengabdikan diri tanpa berharap apa-apa, hanya untuk memaknai hidupnya.
Ya, karena terakhir ini memang terlalu mudah orang berjanji dan terlalu mudah juga patah hati.
Tetapi kau harus menyadari bahwa sebenarnya semua hidup itu adalah inspirasi karena itulah kau tidak perlu menghabiskan waktumu mencari inspirasi, tetapi cobalah memaknai kehidupan ini.
Hidup adalah inspirasi, penuh jejak yang sarat makna.
Ya, abdikanlah diri kepada Yang Kuasa, turut kehendakNya untuk mengasihi sesama karena dengan itu kau akan mengerti semuanya.

diary seorang Pecundang....


bayangkan jika dirimu adalah seorang pecundang yang tinggal dalam ketakutan dan rasa kecewa yang menantang. jadi apakah hidup dijalan yg terbentang? terlalu banyak dari kita dan juga dari mereka yang berpikir bahwa hidup ini adalah soal rasa dan mereka berkata bahwa rasa itu adalah logika yang kompleks, mereka sebenarnya sedang mencari aman untuk dirinya, takut waktu dan suasana jadi musuhnya.

Hasil gambar untuk pecundangsedangkan kita?
aku tidak berani menyatakan mereka pecundang, sebab aku hampir sama buruknya dengan mereka. aku hanyalah pecundang yg mencoba menyatukan logika dan rasa yang tidak ada titik temunya, aku mencoba menulis cerita yg ternyata aku sendiri tidak menyukainya. jadi apa coba?
Akankah ada manusia yg tinggal dalam pikirannya, jadi raja dalam otaknya, menguasai dan menghabiskan hari-hari  untuk dirinya sendiri dan seterusnya dan seterusnya?
kurasa tidak!
kalau kita tidak lebih buruk dari pada seorang pecundang yang berlagak jadi pahlawan, kalau kita tidak lebih berani dari pada pria yang dikuasai alkohol

Kalau itu, ya itu-itu juga. Padahal...

Banyak pemikir, banyak juga yang dipikirkan. Banyak ahli, semakin banyak keahlian. Hanya sayangnya, pemikir bertemu pemikir, ahli berbagi dengan ahli saja. Dan disanalah konfliknya.

Saya memang senang membaca tulisan dari orang yang pemikiran dan pendidikannya tidak perlu diragukan, biasanya kalau tidak ilmiah, idealis, motivasi, filosofis bahkan opini yang realistis.
Hanya saja, ketika melihat orang-orang yang membacanya hampir tidak ada generasi muda. Ya, yang membaca adalah orang-orang yang seusia dengan penulisnya atau bahkan lebih tua, sehingga yang bertambah itu pastilah pengetahuan yang membaca. Sedangkan generasi muda, pikirannya asik dicekcoki dengan hal berbau asmara dan pencarian jati diri.
Padahal, mereka yang ahli dan pemikir itu akan segera tua dan tertelan usia, tidak mungkin kita tidak melanjutkan pemikirannya kalau kita tetap asik dengan massanger dan media sosial lainnya.
Memang membaca itu susah sekali rasanya, apalagi membaca sebuah buku yang tidak masuk akal kita, tetapi kalau membaca pesan yang masuk di smartphone, tidak usah ditanya, sebentar saja kita sudah mengecek dan langsung membalasnya.

Rabu, 28 Januari 2015

Terima Kasih

Terima kasih telah membuatku terus berjalan menujumu, meski kadang tersendat-sendat, kadang jalanan berkabut, hujan bahkan aku tidak tahu arah menujumu lagi. Kadang aku ragu pada diriku sendiri, ragu kepada keputusanku untuk terus berjalan, tetapi matahari masih terbit di timur dan senja masih datang saat malam menjelang, aku masih tetap menuntun langkahku menujumu. Menuju beningnya tatapan sayumu, rasanya aku tidak bisa membedakan antara rasa senang dan kuatirku. Aku senang memandanginya, tetapi kuatir tidak bisa memilikinya. Mendengar ucapanmu yang selalu mengalir dengan ceria, aku hampir tidak bisa memutuskan apakah aku harus mengingat atau melupakannya. Mengingatnya membuatku selalu ingin mendengarkanmu berbicara, tetapi melupakannya akan membuatku kehilangan jejakmu.
Aku tahu, jalanan ini selalu berbatu saat aku menujumu. Banyak persimpangan yang buatku ragu, terkadang hujan mengguyur impianku, angin menghembusnya. Tetapi perjalanan tetaplah perjalanan untuk sebuah pembentukan dan persiapan, aku memang tidak tahu kemana aku melangkah, tetapi aku tahu langkahku menujumu.
Sebenarnya, ada banyak cerita dalam perjalanan ini. Tentang angin dan debu yang selalu menerpa, bunga di tepi jalan yang selalu menggoda, daun-daun gugur yang menutupi jejakmu dan buatku kehilangan arah.
Tetapi, sekali lagi terima kasih!
Senyummu tetap menuntunku dalam ilusi, memberi warna pada tiap harapan yang pudar.
Aku tahu, aku dan engkau terpisah waktu yang membuatku tidak tahu seberapa lama dan sampai kapan harus tetap berjalan. Aku juga tahu, kita tidak jauh terpisah jarak, tetapi rasanya sangat jauh menujumu. Sama seperti menuju sesuatu yang semu bagiku.
Tetapi, entahlah. Aku tidak tahu apakah engkau pernah tahu bahwa dalam perjalananku menujumu aku pernah menjadikanmu puisi, agar bersama kata-kata kau bisa abadi(1).
Memang aku akui, setiap perjalanan akan menyisakan ceritanya sendiri. Kadang aku ingin menciptakan tujuan baru dalam perjalanan ini, tetapi rasanya itu adalah pekerjaan sia-sia karena alur ceritaku selalu tentangmu. Ini adalah untuk kali yang kesekian aku memahami terjal yang membentang didepanku, tebing yang curam dan berkabut membuatku tidak tahu apakah aku harus tetap melangkah menujumu. Tetapi aku tetap pada keyakinanku, akan selalu ada ujung jalan saat engkau berhenti disana dan (mungkin) menungguku, akan ada tempat untukku singgah sebentar untuk memutuskan apakah aku akan bersamamu atau akan tetap kembali berjalan sendiri tanpa arah yang pasti (meski sebenarnya aku selalu berdoa untuk bisa tinggal selamanya menghabiskan sisa waktu bersamamu).

Selama engkau belum memilih untuk singgah, berhenti dan menetap disuatu tempat. Aku rasa, aku masih punya waktu menujumu. Aku hanya berdoa kepada TUHAN kita, semoga tidak ada musim gugur, musim salju atau bahkan badai yang menghalangi perjalananmu agar engkau tetap dapat melaju tanpa harus singgah dan berhenti dijalanmu. Dan selama engkau belum memutuskan untuk singgah aku akan tetap melangkah..

Sabtu, 24 Januari 2015

Menghabiskan Malam

Entahlah tetapi malam ini ada cerita yang seharusnya kamu tahu, tentang pohon yang tumbuh sendiri di padang dan seekor burung membuat sangkar di dahannya. Kamu juga harus tahu tentang tunas-tunas muda yang muncul saat musim semi mulai tiba, dan daunnya mulai muncul menjelma hijau diantara ranggas-ranggas yang masih tersisa. Atau juga tentang matahari yang muncul di pagi hari dan dia selalu tepat waktu sekali (pernahkah kau bayangkan jikalau matahari itu seorang lelaki yang selalu menepati janji dan suatu hari nanti engkau diminta menemuinya dan disuruh menunggunya? Aku tahu engkau pasti menanti meskipun waktu semakin lama semakin menghantui, ah tetapi nanti saja atau esok hari kuceritakan kepadamu tentang matahari-itupun jika kamu punya waktu)
Ya, kamu harus tahu semua itu. Sebab sebenarnya sangat banyak yang ingin kuceritakan padamu : Tentang bintang-bintang yang kadang hilang sehingga kita pun linglung dan kadang kehilangan harapan dibuatnya, tentang bunga ilalang yang kalau kering selalu terbang, atau tentang rumput-rumput yang selalu mengering dan menguning di padang gersang. Ya, aku ingin menceritakan kepadamu itu semuanya dikala petang dan kita sedang bersama menikmati senja yang membayang di bawah pohon rindang, tetapi kadang aku tahu kamu tidak punya waktu untukku, padahal aku ingin menghabiskan waktu bersamamu.  Bercerita tentang dongeng-dongeng konyol yang melegenda, menikmati senja yang selalu berakhir gelap di barat sana, menyirami bunga-bunga yang akan mekar di halaman rumah kita, mengomentari berita-berita unik dari tiap belahan dunia, memilih destinasi wisata seperti yang biasa dilakukan orang-orang kaya, menulis puisi bersama, cerita hingga menghabiskan hari-hari yang sudah tentu akan selalu kurang rasanya.
Ya, seandainya saja engkau mencoba memahami itu semuanya. Memahami mengapa gemericik air menenangkan jiwa yang kesepian, mengerti mengapa hujan selalu menyisakan kenangan dalam kesendirian. Mungkin aku tidak perlu bercerita banyak kepadamu tentang malam ini, malam dimana lampu di sekitarku semuanya terasa sangat temaram, malam dimana aku merasa sangat sentimentil dengan sebuah kenangan dan harapan. Malam yang sangat melankolis untuk seorang yang merasa dirinya selalu mencari kehidupan.
Aku memang tidak tahu kapan malam ini berlalu, tetapi aku yakin pasti berlalu. Dan kamu juga harus tahu, malam ini aku melihatmu berdiri di depan pintu membentuk siluet hitam yang kukagumi itu, benarkah itu dirimu?
Aku ragu, ragu pada waktu, ragu pada harapanku, ragu pada pikiranku, ragu pada penglihatanku.
Apakah itu mimpi?
Bukan iu bukanlah mimpi, itu hanyalah ilusi yang kuciptakan sendiri untuk bias kuceritakan padamu juga suatu hari nanti saat kau sudah bersamaku, menemaniku menyusuri jalanan yang menanjak dan berbatu.
Dan aku juga harus memastikan bahwa kau memang menunggu disuatu sisa waktu, lalu menggenggam tanganku dan melangkah bersama dan kita akan diam membisu sepanjang waktu. Tetapi aku dan engkau akan selalu tahu bahwa disetiap tatapan mata kita bertemu akan selalu ada rindu yang menyatu, rindu untuk menghabiskan sisa waktu itu.
Tetapi, entahlah semua yang kutulis ini memang  impianku saja. Sesuatu yang biasa kulakukan saat wajahmu mengganggu pikiranku, padahal sebanarnya aku tahu bahwa waktu masih harus berganti dan berlalu. Tetapi yang belum bisa kujawab sampai hari ini adalah mengapa engkau berdiri di pintu hatiku? Masuklah jika engkau ingin masuk, hatiku terbuka untukmu, pergilah jika ingin pergi sebab sebenarnya engkau menghalangi orang lain untuk masuk (status kakak kelompok rohaniku).
Sebenarnya, aku hanya ingin malam ini cepat berlalu karena semakin lama  malam ini berlalu semakin banyak juga yang ingin kuceritakan padamu, semakin lama aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, ah, andai kamu tahu aku menunggu.

catatan kecil

Kadang kita harus belajar untuk tidak mempunyai perasaan, tidak punya air mata, tidak punya hati nurani.
Tetapi apa boleh daya, terlalu menyedihkan rasanya jika kita harus menutup mata, membuat dunia dalam hidup kita sendiri.
Tetapi bagaimana jadinya jika kita tetap tinggal dalam kenyataan yang begini?
Terlalu banyak yang harus di ubah, tetapi teramat sedikit yang mau berubah.  Banyak yang harus dipikirkan, tetapi sayangnya terlalu sedikit pemikir, banyak yang harus dihitung, tetapi rasanya terlalu sedikit yang punya perhitungan.
Kadang aku sendiri heran dengan kenyataan yang kuhadapi, tetap terlalu sedikit orang yang bisa kupercayai untuk berbagi, karena itulah aku mencoba berbagi dengan kenyataan dan waktu sebab mereka itulah temanku. Dan sebenarnya teramat banyak yang ingin kuceritakan, tetapi akau selalu tahu bahwa masih banyak sebenarnya yang harus kudengarkan, ya, karena itulah aku harus mendengar dulu sebelum menceritakan yang sebenarnya.
Sebenarnya, aku tahu semua :
Saat banyak orang bercerita tentang kesenangannya : mereka lupa, orang-orang lainnya sedang dalam kesedihan.
Saat orang dalam glamor masa depan : orang lainnya terjebak dengan kesuraman masa lalu.
Ah, memang menurutku tidak ada yang lebih indah selain berempati, berbagi kasih, berbagi kebahagiaan. Ya, aku ingin mereka juga tahu seperti apa cerahnya masa depan itu, aku ingin mata-mata sayu itu kembali dengan harapan-harapan yang cerah,berbinar memandang harapan diesok hari dan biarlah kepahitan dan pemikiran-pemikiran dalam kesendirian serta kesepian ini kutanggung sendiri sehingga menjadi cerita yang tidak berarti.
Biarlah aku sendiri yang terkubur dalam kebohongan dan kekecewaanku dan mencoba tinggal dalam panggung sandiwara ciptaanku hingga mungkin suatu saat nanti aku mulai muak dengan semua ini dan mencoba meninggalkan kenyataan.
Ya, suatu saat nanti
Aku ingin meninggalkan semua ini
Meghilangkan jejak dalam kenyataan
Sebab aku tidak tau kepada siapa lagi aku harus berbagi
Sebab sebenarnya aku ingin bercerita kepadamu tentang puisi-puisi yang sering tidak selesai
Tentang keinginanku menginjakkan kaki dipuncak tertinggi
Atau juga tentang cerita-cerita fiksi yang selalu membuatku menghabiskan hari.
Lalu aku ingin engkau berkata suatu hari nanti :
“Aku akan menyelesaikan puisimu, menemanimu ke puncak tertinggi bahkan menungguimu setiap hari untuk menghabiskan cerita kita.”

Tetapi, bukankah aku tahu bahwa itu adalah mimpi bodoh yang berlawanan kepada logika? Karena sebenarnya saat aku menutup mata, aku ingin menutup mata dari kebohongan dunia, mengakhiri semua kisah yang tidak pernah ada dan aku akan melangkahkan kaki keudara. Dan lihatlah, aku terbang, terbang dalam anganku sendiri, mengepakkan sayap yang memang tidak akan pernah ada. Aku akan pergi ketempat dimana tidak ada lagi kepahitan dalam hati.

Arah Dairi Kedepannya

                                                     Arah Kabupaten Dairi Kedepannya Sebagai penduduk Kabupaten Dairi yang sedang merantau, ...