"Katanya ada Hutan empat musim di kota ini.." katanya padaku sore itu ketika kami duduk dipinggiran sebuah sungai. Nun jauh disana, dihilir sungai perlahan-lahan matahari mulai tarbenam.
"Bukan hutan empat musim.." jawabku sambil asik memperhatikan ikan-ikan yg berenang bebas di sungai itu. "Hanya hutan dalam imajinasi seorang penulis.."
"Penulis yang tinggal entah dimana dan imajinasinya entah dimana itu bukan?"
"Ya, bisa jadi.."
"Penulis yg tidak punya nyali dan hanya berani mencintai dalam fiksi itu?"
"Mungkin..."
"Tapi aku suka penulis seperti itu.." ucapnya sambil memandang jauh kehilir sungai, seraya berpikir. Rambutnya terurai dihembus angin, bayangannya membentuk siluet sempurna.
"Suka karena terpaksa bukan?"
"Keterpaksaan yang dilakukan secara terus menerus akan jadi kebiasaan bukan?"
"Maksutnya?"
"Kalau aku memaksakan untuk terus menerus menyukai penulis itu, maka lama-kelamaan aku akan terbiasa menyukainya.."
"Oh, ya. Aku mengerti, tapi aku tidak yakin.."
"Keyakinan juga bisa dipaksa.."
"Hahaha, kamu bercanda saja. Bagaimana kita bis memaksa semua sekehendak hati kita saja?"
"Selama tidak ada yang tersakiti dalam keterpaksaan itu, kita masih bisa melakukannya.."
"Hmm.. Ya, aku mengerti. Lalu tentang penulis itu?"
"Dia punya hidupnya sendiri bukan, punya jalannya dan aku juga punya jalanku sendiri, tapi aku yakin akan ada jalan dimana kami bertemu lalu berjalan bersama menuju muara sungai ini...."
"Menuju hutan empat musim itu?"
"Tentu, dan kami mungkin akan tinggal disana.."
"Beruntungnya dia.."
"Kurasa kamulah yang lebih beruntung.."
"Kenapa?"
"Karena aku tau, kamulah penulisnya..!"
Lalu senjapun turun, diujung sungai gradasi membentuk warna jingga matahari terbenam sempurna kedalam sungai, sebuah siluet sempurna menutup senja. Haripun berlalu sesukanya.
23102016
Minggu, 23 Oktober 2016
Percakapan di tepi sungai
Rabu, 15 Juni 2016
catatan SD
Aku kebetulan masuk kelas 4B dgn teman2 yg lain (mungkin di fb ini ada kawan yg jg sekelasku dulu). Kami mulai membantu membersihkan ruangan tsb, mengisinya dgn bangku, meja, memasang papan tulis dan lainnya. Dinding ruangan sebelah depan yg menghadap ke lapangan bagian bawahnya terbuat dari semen, atasnya terbuat dari papan yg sudah tua.Bagian belakang semuanya terbuat dari papan yg sudah cukup lapuk, begitu jg dgn lantainya yg sudah cukup banyak bolong2. Beberapa bangku yg kami gunakan saat itu masih kursi panjang.
Hari-hari belajar di kelas kami yg sempit dan hanya ada dua baris meja kebelakang serta jumlah siswa yg (kalau tdk salah) hanya 16 orang dan kebanyakan laki2 itu memang biasa saja. Hingga suatu hari masuk les muatan lokal (mulok) yg saat itu kami pelajari adalah bahasa pakpak. Aku ingat betul yg ngajar saat itu adalah pak Banurea. Mungkin karena bosan atau memang kebelet pipis satu orang teman laki2 permisi, langsung menuju kebelakang kelas untuk mengosongkan kantung kemihnya dgn menembakkan urinnya tepat kearah dinding kelas kami. Tak berselang lama kemudian dia kembali kekelas, dan setelah duduk, gantian seorang teman laki2 lain kembali permisi dan langsung jg kebelakang kelas, menembakkan urinnya jg tepat kedinding kelas, kembali kekelas dan menyusul lagi dgn teman laki2 yg lain.Pas giliran teman yg kelima, saat dia kembali ke dalam kelas dan duduk, kami melihat pak Banurea mengangkat sepatunya ke atas dan terlihat ujung celananya yg menyentuh lantai nampak basah. Sontak mata kami semua tertuju kearah air yg mengalir tenang seperti ular itu, sedangkan guru kami itu terdiam tak tau mau berkata apa..
Ah, memang waktu SD lebih enak menembakkan air kencing ke dinding belakang kelas dibanding ke wc yg tidak terurus dan baunya minta ampun itu. Kadang bukan hal aneh bagi kami saat guru sedang mengajar dan kami mendengar bunyi air kencing yg bertabrakan dgn dinding dan bisalah dijamin kalau belakang sekolah kami itu bau pesingnya minta ampun :D..
Menanti Hari Esok
Dulu saat masih SD Aku satu sekolah dgn abangku yg cukup nakal saat itu. Aku masih ingat, dulu sekolah kami ada ruangan kecil yg dijadikan perpustakaan meskipun administrasi dan susunan bukunya tak jelas dan hari bukanya yg tdk menentu, kalaupun buka biasanya yg menjaganya adalah siswa yg cukup dekat dgn guru.
Abangku yg cukup nakal itu pernah menilap buku dari perpustakaan itu, bukan hanya sekali seingatku, tapi lumayan seringkali.
Kuakui, saat masih SD buku adalah sesuatu yg sangat berharga bagi kami, maklumlah sangat jarang buku bacaan saat itu. Kalau ada bacaan aku sering lupa waktu (adik2ku jg sekarang seperti itu), lupa makan dan lupa pekerjaan lainnya, tidak puas sebelum selesai dibaca semuanyadan biasanya buku yg siap dibaca akan tergeletak begitu saja.
Dulu saat pulang sekolah, dgn diam-diam agar tdk ketahuan, memeriksa tas abangku adalah hobyku berharap ada buku baru yg akan dibaca karena selain sering menilap dari perpus, abangku jg sering tukar menukar buku dgn temannya, meminjam buku temannya, semua buku, termasuk pelajaran, serial kungfu seperti Tiger Wong, Tapak Sakti, Pukulan Geledek, seri pencak silat, komik gareng petruk dan buku komik silat yg cukup tebal.. Bahkan seingatku kami jg pernah punya koleksi serial kungfu yg cukup banyak dan sekarang sudah menghilang semua.
Sebenarnya abangku jg suka membaca, karna itulah mungkin dia sering mengambil buku dari perpustakaan dan mengembalikannya diam2 jg kalau sudah siap dibaca karena biasanya buku perpus selalu ada stempelnya..
Ada satu buku yg judulnya masih terus kuingat, sebuah cerita yg sangat berkesan berbentuk novel yg penulisnya aku tidak ingat berjudul Menanti Hari Esok.
Seingatku cerita itu menggunakan sudut pandang orang pertama dari seorang anak kecil, berkisah ttg sebuah keluarga yg tinggal disebuah perkampungan dan menjalani kehidupan sehari-hari, mengalami banjir, jg ttg persahabatannya dan lain sebagainya dan ceritanya diakhiri dgn happy ending..
Yg menarik dari cerita tsb adalah tokoh utama yg selalu percaya akan hari esok, optimis dan menunggu hari esok hingga hari esok datang dgn sebuah kepastian.
Aku tidak tau, entah buku itu masih ada atau tidak sekarang diperpustakaan, tp mengingat buku itu mengingatkanku bahwa masih ada hari esok.
Buku itu, yg ditilap abangku dari perpustakaan SD, buku yg kubaca berulang2, ternyata membuatku mengulasnya saat ini.
Sepertinya aku ingin lagi menghabiskan waktu dgn membaca ulang buku itu hingga hari esok datang menemuiku..
02062016
Apakah kau masih membaca tulisanku?
Ada satu cerita yang mungkin belum kusampaikan padamu bahwa disuatu saat di musim gugur pernah ada sebuah kisah yang tidak pernah terselesaikan dalam catatanku dan kurasa itu bukanlah sebuah kisah sentimental, saat sebuah trem tua melintasi kenangan-kenangan temaram di tepi danau saat ritik-rintik hujan tidak kunjung reda dan kita masih saja berdebat mengenai masa depan.
Lalu kita pikir ini semua apa?
Waktu adalah sebuah untaian imajinasi dan kita tidak akan pernah membuatnya berjalan mundur, hari ini akan tetap jadi hari ini, hari semalam akan tetap jadi hari semalam, hari pertemuan kita akan tetap menjadi hari pertama aku mengenalmu dan saat pertama kita berbicara akan tetap menjadi hari itu meskipun aku kadang sudah lupa itu apan (dan kalau kau mengingatnya, aku ingin engkau menceritakannya sudatu hari nanti).
Seperti kataku, bahwa waktu adaah sbuah untaian imajinasi yang terperangkap dalam sebuah dimensi, lalu kita akan mencoba memberikannya sebuah defenisi meskipun kadang hanya ada kebanyakan rasa sesal yang terbungkus didalamnya. Ya, kamu taukan? Kadang terlalu cepat, kadang juga terlalu lambat, kadang waktunya kurang, tetapi terlalu sering waktu itu terbuang dan memnag itulah sebuah hukum alam yang berlaku untuk seorang pecundang.
Suatu kali temanku pernah berkata bahwa waktu terbaik itu adalah waktu yang kita tau itu adalah waktunya. Tetapi berulangkali aku tahu ada waktu yang tepat, tetapi selalu kehilangan momen daan karena itulah aku menarik kesimpulan bahwa hanya ada satu waktu untuk satu momen.
Anak-anak mungkin akan menukmati waktunya sebagai anak-anak yang ingin tau dan menikmati semuanya, lalu saat remaja mereka akan menikmati waktunya mncoba untuk bersikap romantic dan mesra menurut defenisinya, mereka mulai mengartikan semua kata yang dulunya adalah hal yang sangat tabu dan hingga suatu hari menemukan dirinya dielaminan dihadapkan dengan jutaan masalah yang membentang.
Ah, aku tidak sedang menakuti, aku juga tidak sedang galau atau apapun itu menurut defenisimu, tetapi disini hujan turun teramat deras dan petir menggelegar. Dan aku sedang membayangkan saat ini sedang duduk di Sebuah taman di Kota Manchester, Heaton Park, di saat musim gugur Mencoba menulis sebuah surat untuk ulang tahun seorang gadis yang kusukai, membanyangkannya terseyum saat membaca suratku. Lalu suatu waktu kami akan mencoba membuat janji untuk bertemu dengannya, entah untuk apa, mungkin untuk menghabiskan waktu (meskipun kadang aku berpikir untuk selalu menghabiskan waktu dengannya). Kami mungkin akan berbincang-bincang sebanyaknya, tentang di kota mana akan tinggal, bunga apa yang akan dipelihara dipekarangan rumah, hewan apa saja yang akan dipelihara, dan sebagainya dan sebagainya.
Kadang terpikirkan olehku disuatu waktu yang manakah jam akan berhenti dan semua membeku sehingga disaat itu aku bisa mempersiapkan segala sesuatu?
Aku tidak tau, tetapi sat aku masih ingin tetap melanjutkan catatanku, hujan sudah mulai reda dan sayup-sayup dari radio tetangga kudengar lagunya MLTR yang berjudul I’m gonna be around mengalun pelan…
29052016
Jadi apa selanjutnya?
Aku tidak sedang menulis catatan putus asa, setidaknya aku bisa mempertimbangkan semuanya, lampu yg mati saat tengah malam, hujan yg turun sesukanya, cuaca yg tidak menentu, dan sebagainya.
Sebenarnya aku ingin membuat catatan yg ekstra melankolis, yg bisa menyentuh perasaan. Tapi itu sepertinya amat lebay, jd mungkin catatan ini agak slow rock gitu, mungkin sekelas Photographnya Nickelback atau What if i was nothingnya All That Remains...
Hahaha, melantur.
Cobalah kau bayangkan sambil menyesap kopi dan menikmati udara dingin malam ini, menikmati bunyi tak tik tuk ketikan yg berbunyi bagai irama ditelingamu, itu indah, mungkin seperti nada dari musik klasik.
Lalu tiba2, sebuah bisikan menanyakanmu, "utk siapa kamu menulis?"
dan aku menjawab, "utk kesenanganku, utk orang2 yg mau membaca tulisanku.."
bisikan itu tdk bertanya lagi tp aku sendiri sadar, tak mungkin semuanya akan terus begini, semuanya harus berubah dan perubahan itu sajalah yg tdk akan pernah berubah.
Tapi aku tdk pernah berharap kpd perubahan karena aku tau bahwa harapan adalah ibu dari semua rasa kecewa dan tentu teori chaos berlaku utk hal ini.
Oh, tulisanku melantur lagi...
Mungkin begini, terlalu banyak kemungkinan yg berserak tetapi tidak banyak peluang yg terkumpul, dgn adanya kemungkinan memang ada harapan, tetapi aku tak ingin catatanku bertele2.
Apa atau bagaimana?
Ah, aku tidak ingin membahas apa2 karena sebenarnya aku ingin tidur sambil mendengarkan lagunya MLTR Forever and a Day biar sedikit romantis sambil berharap memimpikan seseorang.. 22052016
Jumat, 06 Mei 2016
Marsoban
Mungkin sekarang kegiatan marsoban bukan kegiatan yg cukup tenar utk anak-anak karena sudah ada listrik dan kompor gas. Padahal marsoban itu selalu punya ceritanya sendiri, sampai-sampai ada lagu tentang parsobanan.
Tapi bagiku dan orang-orang di kampungku marsoban masih punya ceritanya sendiri sampai hari ini, ya. Dulu hingga kini marsoban ke harangan (hutan) masih jadi kegiatan rutin ketika pulang sekolah. Dengan membawa pisau yg diasah setajam-tajamnya, karena biasanya ada pamer ketajaman pisau dengan adegan sekali tebas kayu langsung patah.
Di harangan biasanya target utamanya bukan langsung soban, tetapi beberapa pohon yang buahnya bisa dimakan seperti tanggolon, sopsopan, dan banyak lagi yang aku sendiri lupa namanya. Mencari kayu utk marsukkit, sebuah permainan yg sekarang sudah mulai ditinggalkan, mencari bulu cina (Bambu berukuran kecil) utk latar-latar, bulu lomang utk dijadikan suling, membuat pedang dari bambu dan lainnya, kadang juga mengumpulkan 'laklak' bambu utk dijadikan baling-baling.
Kalau sudah mengumpulkan soban biasanya kami akan menebang pohon-pohon kecil yg masih muda utk bisa jadi soban bila suatu hari nanti datang lagi ke tempat itu. Utk ikat soban biasanya kami menggunakan tumbuhan merambat yg kuat, tidak lupa utk 'manghehei' kawan yg tidak kuat mengangkat sobannya.
Ada kalanya jg saat marsoban kami membawa pancing karena biasanya ada aliran sungai yg sengaja digenang jadi kolam disana kami akan memancing, bisa juga mengumpulkan sayur paret yg biasa hidup di kolam itu, ada juga sirias (halas) atau juga ada Tubis (rebung) dari Bulu bolon yg bisa di jadikan sayur.
There is so much moment and story when you stay in Village..
Hahaha, tadi saya sedang mandi (marlange) ke sungai dan bertemu dengan anak-anak yang baru pulang marsoban, jadi teringat masa lalulah awak. Tapi senang rasanya anak-anak disini masih dengan kebiasaan dan permainan tradisionalnya, mereka pintar-pintar marlange, marsalto dan tentu masih sering marsoban. Tidak termakan jaman dengan menghabiskan waktu main game di depan layar.
:D
Minggu, 06 Maret 2016
Catatan Maret
Ada begitu banyak cerita yg pernah kubaca, ada banyak kisah-kisah, begitu banyak keindahan.
Ada banyak perjalanan, petualangan dan kesempurnaan.
Tapi kita akan menulis cerita sendiri sayangku, membuat kisah yang akan didengarkan anak-anak kita, kita akan menjalani hidup kita tanpa perlu mempublikasikasikannya.
Ya, asal kita punya arah yang sama sayangku, menuju tempat tertinggi untuk menikmati gemerlap bintang diketinggian dan lampu-lampu temaram nun jauh dibawah sana. Menikmati cangkir-cangkir kopi sambil merancang masa depan kita, ya, kita akan menyusuri tepian danau toba, bercerita kepada batu-baru yang tegar menantang riak ombak bahwa kita pernah saling mencintai dan akan selalu mencintai, bahwa kita akan selalu tersenyum dan bahagia melewati semua hari, bahwa kita akan mempunyai taman bunga di depan rumah kita, memiliki hewan peliharaan, datang ketempat keluarga untuk berbagi cerita.
Ya, kita akan menghabiskan waktu menikmati udara segar dan menghabiskan masa tua bersama.
Kau taukan?
Cinta itu bukanlah verba, itu adalah saat kita bersama, bukan sebuah drama.
Bukan makan malam romantis, bukan menghabiskan waktu bersama sampai tidak peduli apa yang terjadi di dunia, bukan poto dan postingan mesra yang sangat sering kita baca.
Ya, semua memang dengan versinya.
Tetapi aku hanya ingin bersamamu sayangku, menulis sebuah cerita yang kita sendirilah yang tau alur ceritanya sampai kita sendiri lupa bahwa kita sendiri lupa bahwa kita sedang menulia cerita.
08032016
Tentang Liana
Jadi ceritanya begini, sore itu aku sedang duduk di Heaton Park menikmati senja dan guguran salju yang baru turun di kota Manchester, aku sengaja membawa sebuah buku dan kopi hangat untuk menikmati sebuah sore yang indah dengan salju yang tipis.
Ya, aku banyak rencana sore ini. Termasuk menonton Manchester United melawan WBA, sayangnya tidak main di Old Traffold, tidak seperti minggu lalu, saat melawan Arsenal itu.
Ah, tapi yang ingin kuceritakan sebenarnya bukan itu.
Aku sedang asik duduk-duduk membaca buku ketika trem tua angkutan khas untuk keliling taman di Heaton Park berhenti tidak jauh dari tempatku duduk.
Aku tidak mengacuhkannya sampai seseorang menepuk pundakku dan berseru dengan riang, "Hei, lama tidak menghayal.."
Astaga, siapa itu?
Sepertinya aku mengenal suaranya.
"Bacaanmu sekarang sudah ganti ya, SPSS. Cie, cie mahasiswa semester akhir. Pantaslah aku dilupakan!!"
Astaga, dia Liana.
Terakhir aku dan gadis cantik berotak wikipedia itu berada di Wakaya, bagaimana dia bisa berada di Heaton Park?
"Kau pasti bingung mengapa aku disini bukan? Ingat, Maret tahun lalu kau menulis cerpen dengan latar Heaton park,yang judulnya kau ganti-ganti itu lho, kadang "Liana, sebelum musim berganti" lalu kau ganti jadi "********, Sebelum musim berganti.."
"Ah, kau sok tau aja.."
"Lha, yang buat aku jadi seorang gadis cantik yang sok tahu siapa?"
"Ya, aku sih. Tapi aku telah mencoba melupakanmu, move on istilahnya. Udah bosan aku kalau kamu terus yang jadi tokoh tulisanku.."
"Oh... Jadi begitu ya. Setelah kau melirik-lirik seseorang dan kau tertarik dengannya kau mau melupakan aku!"
"Ya, kau tidak kecewakan?"
"Kecewa, kecewa berat. Kalau aku tidak lagi jadi tokoh ceritamu, jadi apa aku nantinya? Bagaimana masa depanku?" Liana mulai pura-pura menangis dengan membuat salju yang mencair jadi air matanya.
"Hahaha, tokoh fiksi yang cerdas akan jadi kenangan.."
"Kau tega, setelah semua yang kita lewati, kini kau meninggalkan aku tanpa harapan.."
Astaga, dia semakin pintar bermain drama melankolis..
"Tapikan kau hanya tokoh fiksi.."
"Tokoh fiksi juga punya perasaan.."
"Jadi?"
"Kau harus jujur padaku, siapa sebenarnya yang kau suka itu, siapa sebenarnya gadis yang membuatmu ingin melupakan aku dan berhenti menulis tentang aku?"
Aku tidak bisa menjawab, salju makin turun di kota Manchester dan malam ini Juan Mata harus jadi kapten dan memimpin kesebelasan ManUtd menghadapi WBA.
Aku terdiam, pertanyaan Liana seharusnya punya jawaban, tapi aku tidak ingin menulisnya.
06032016
Minggu, 28 Februari 2016
Hari Raya Nyepi Terakhir di Kotamu
Ada yang ingin kusampaikan padamu, untuk mengenang pertemuan terakhir kita musim itu, jalanan yang sunyi dan tenang, daun yang melambai dan angin sepoi.
Ya, pertemuan terakhir kita saat hari raya nyepi dikotamu, kita mencoba untuk ikut mencari arti untuk apa sebenarnya kita ada.
Aku menggenggam tanganmu dan kita menyusuri jalanan yang lengang, rasanya saat itu kita sedang menelusuri arah yang benar untuk bisa bersama.
Tetapi hidup adalah sebuah kekacauan yang berbentuk pola yang sangat kompleks, kita memang tidak memutuskan apa-apa, tetapi jalan kita berbeda.
Hingga dihari itu, hari yang sepi, hanya ada isak air matamu, hanya jerit tangismu yang tertahan menembus sunyi.
Kita terpisah di stasiun dengan kereta terakhir dan hari nyepi kali ini aku kekotamu, untuk mengenang isak tangiamu yang baru kusadari adalah itu adalah nada-nada indah saat aku menulis untuk mengenangmu...
Yang tertinggal di Tepian Danau Toba (Catatan Perjalanan)
Yang tertinggal di tepian Danau Toba
(Bukan Catatan Sentimental)
Awal bulan Pebruari 2016 aku melakukan tour backpacker Medan-Merek-Bukit Gundul-Sipisopiso-Tongging-Silalahi, sekitar tiga hari dua malam. Ada satu yang sangat menarik, keindahan alam sumatera utara dari puncak bukit gundul, memandang selintas dari arah timur hingga keselatan membentang Danau Toba dan Kota-kota kecil yang mengelilinginya, ada tiga kabupaten yang terlihat, Simalungun, Karo dan Dairi.
Sebelah selatan hingga barat, membentang jalinsum dari Merek menuju Sidikalang yang kalau malam hari tampak seperti untaian emas, Air terjun sipiso-piso yang terlihat seperti lembah kecil dan dikelilingi perladangan. Nun jauh, membentang bukit barisan dan yang paling menantang Delleng Sibuatan, gunung tertinggi sumater utara itu (2.497 mdpl) terlihat hijau gelap siap untuk didaki.
Berjalan mengitari puncak bukit gundul dengan ketinggian sekitar 1.900 mdpl akan membawa saya ke puncak gunung tsb dimana ada pilar dan bangunan pondok dari besi yang sudah rongsok. Keunikan bukit gundul adalah puncaknya yang ditumbuhi hutan hujan tropis dengan luas sekitar tiga hektar, jadi pilar gunung tersebut dikelilingi hutan lebat dengan diameter rata-rata pohon sekitar 50 cm. Berjalan terus mengikuti jalan setapak maka akan sampai ke arah utara dengan padang sabana dan beberapa pohon pinus. Jauh disana terlihat latar yang sangat indah, kabupaten karo. Gunung Sinabung, Kabanjahe, Berastagi hingga gunung Sibayak melengkapi pemandangan.
Paginya saya melanjutkan perjalanan ke Air terjun Sipiso-piso, tidak terlalu istimewa karena sudah sekian kali saya ke air teejun tersebut. Meskipun begitu keindahannya tetap memukau dan pemadangannya kearah danau tetap indah seperti dahulu.
Saya melanjutkan perjalanan ke Tongging menumpang sebuah Mobil pickup kosong yang akan membeli mangga dari arah Tongging, kebetulan saat itu sedang musim mangga. Mereka sepertinya ragu mendengar ceritaku bahwa aku seorang mahasiswa backpacker yang sedang melakukan perjalanan sendiri.
Diperjalanan membentang sebuah keindahan yang sempurna, lembah ditepian danau toba, sebuah kota kecil dengan beberapa penginapan. Tongging.
Entah mengapa, selalu ada nuansa tersendiri melihat pemandangan kota kecil yang terbingkai aliran sungai dan lahan pertanian, gereja yang selalu berada di tempat yang enak dipandang. Ada kenyamanan sendiri jika memandang tempat ini dari atas.
Saya sempatkan cuci muka dan mengobrol dengan seorang pemancing yang katanya datang dari tiga panah, sambil mengobrol saya menikmati stok makanan yang saya bawa.
Saat akan melanjutkan perjalanan menuju Paropo, saya disuruh pemancing tadi untuk ke jalan utama karena biasanya ada pemancing lain yang akan lewat kearah Paropo dan Silalahi. Saya menuruti sarannya meskipun aku terlebih dahulu menyusuri seluk beluk kota kecil ini, berjalan kesetiap sudut dan jalanannya dan satu yang sangat mengecewakan, kota kecil ini hampir tidak peduli dengan yang namanya kebersihan lingkungan.
Saya kembali ke jalan utama dan mulai berjalan kaki dan menumpang beberapa kendaraan yang lewat, rata-rata mereka mengacuhkanku, hingga seorang bapak yang membawa pancing dengan wajah cerah berhenti di depanku dan menanyakan kemana tujuanku, saat tahu aku seorang mahasiswa dia segera menaikkanku dan dalam mobil pickupnya dia bercerita bahwa anaknya juga adalah seorang mahasiswa pecinta alam yang saat ini kuliah di jurusan matematika, Universitas Katolik Parahyangan. Dia bercerita banyak ini itu, hingga kami sampai di Batu Horbo, wilayah yang sudah masuk kabupaten dairi itu, dia mengajakku untuk singgah sebentar untuk menikmati makanan sambil memancing. Saya ikut meski tidak cukup lama karena harus melanjutkan perjalanan.
Dari Batu Horbo hingga Paropo saya terpaksa berjalan kaki karena tidak ada yang berbaik hati memberikan tumpangan, meski begitu perjalanan sangat bermakna karena pemandangan dikiri kanan, sayangnya ada hal yang kurang enak, orang-orang memandangiku heran, sepertinya mereka belum terbiasa melihat seorang backpacker.
Di Paropo saya singgah di Rumah salah satu keluarga, untuk beristirahat dan mengisi perut sebelum akhirnya menuntaskan perjalanan hingga ke Silalahi, hampir saja saya berjalan kaki dari paropo ke Silalahi kalau seandainya tidak ada Anak komunitas Vespa yang dengan baik hati membawa saya hingga ke Silalahi.
Dari Silalahi, saya kembali hingga ke Merek menumpang pembeli ikan yang akan menuju merek, dari sana saya kembali ke Medan.
Catatan Perjalanan, 6-8 Februari 2016
Sabtu, 27 Februari 2016
Suatu Hari di Akhir Februari
Suatu Hari di Akhir Februari
"Kabut lagi?" Tanya seorang gadis yang duduk di sebuah pondok menatap hamparan kabut putih yang membentang menutup pamandangan.
"Ya, perkiraan cuaca sepertinya meleset, kita harus mengundurkan niat mendaki malam ini.." Jawab laki-laki disampingnya sambil menyeduh kopi yang baru dibuatnya.
Mereka lalu duduk berdua di pos itu.
"Kau tahu? Ada cerita menarik tentang pendakian saat kabut seperti ini.." Kata lelaki itu seraya mengingat-ingat sesuatu.
"Tentang?"
"Kita, hahaha."
"Sudah kutebak kau pasti bercanda.."
"Tidak, aku serius. Kata teman-teman yang sudah pernah mendaki saat seperti ini, selalu ada momen dan nuansa sendiri dalam setiap pendakian berkabut.."
"Dan momen itu adalah momen yang tidak pernah kita inginkan, iyakan? Hahaha.., jangan pernah memaksa sebuah momen sayang. Kurasa momen ini sudah sangat sempurna, lihat, kabut tebal, lampu-lampu yang terbias, pohon-pohon cemara yang ngungun seperti puisinya Chairil Anwar, secangkir kopi, percakapan hangat dengan seseorang yang paling kita cintai dan dengannya kita ingin hidup selamanya. Bukankah itu sebuah momen? Atau adakah momen yang lebih kau inginkan?"
Lelaki itu terdiam, memandang kosong kearah hutan-hutan tropis.
"Tapi meskipun ini momen yang sempurna, kita akan tetap mendaki bukan?" Kata lelaki itu mencoba mengalihkan percakapan.
"Ya, atau kita akan memasang tenda disini, menunggu sampai cuaca bagus.."
Perlahan-lahan kabut mulai menipis, pucuk-pucuk pohon mulai terlihat dan dari jauh lampu-lampu temaram perkampungan mulai terlihat, hari juga sudah mulai gelap.
"Lihat, cuaca sudah cukup bagus, untung kita belum memasang tendanya.."
"Kita akan langsung melanjutkan pendakian?"
"Tidak, kita tunggu dulu beberapa saat, mungkin akan ada orang yang juga akan naik, kita akan naik bersama. Terlalu beresiko kalau hanya kita yang naik.."
Dari jauh terdengar suara orang berbicara diiringi cahaya lampu senter, suara itu semakin mendekat.
Lelaki itu mengidupkan lampu senternya, terlihat beberapa orang sedang berjalan menelusuri jalan setapak jalur pendakian.
"Mau naik juga bang?" Tanya lelaki itu.
"Iya bang, orang abang juga mau naik?" Tanya salah satu diantara mereka.
"Iya bang.."
"Ayo bang, kita sama-sama aja.."
Mereka mulai bergerak sama-sama menyusuri jalan setapak sambil sesekali berbicara dan bercanda, jalur pendakian yang gelap dan licin karena berlumut dan dikelilingi hutan hujan tropis yang lebat menyulitkan pendakian yang menanjak.
Arah Dairi Kedepannya
Arah Kabupaten Dairi Kedepannya Sebagai penduduk Kabupaten Dairi yang sedang merantau, ...
-
Tirai kenangan (saat senja beranjak meninggalkan luka) ...
-
Kita pernah melalui ini,jalan setapak yang dengan angin sepoi dan kau selalu bertanya saat kita melalui jalan yang sama. “Mengapa kita t...