Aku hampir tertidur ketika angkot yg kutumpangi berhenti di halte itu, di depan sebuah kampus tidak ternama di Kota M. Saat itulah gadis itu naik ke angkot, tangannya memegang sebuah antalogi puisi Suparji Djoko Damono dan dari stempelnya aku bisa menebak bahwa buku itu adalah pinjaman dari perpustakaan kampusnya.
Diangkot, aku tidak melihatnya membaca, dia menatap jauh keluar lewat kaca, seperti menikmati tatapannya, ketika itu aku menyadari ternyata tatapannya sayu dan teduh.
Aku mencoba melihat juga apa yang dipandanginya, lampu-lampu warna warni yang temaram, warung-warung pinggir jalan yang selalu ramai pengunjung dan orang-orang yang ingin menyeberang dengan pemikiran di kepalanya masing-masing.
Aku melihat gadis itu menikmati semuanya, semoga dia tidak menyadari, aku juga menikmati pemandangan tentang dia.
Tiba-tiba kulihat dia merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah catatan kecil dan disana tertulis namanya, Liana..
Astaga, bagaimana aku bisa lupa?
Baru beberapa hari yang lalu aku bertemu dengannya, aku juga baru menyelesaikan sebuah cerpen berjudul Kenangan yang membeku di Heaton Park dan namanya kubuat sebagai tokohnya dan hari ini aku bertemu lagi dengannya padahal aku belum berhasil menanyakan apakah dia masih mau menjadi tokoh cerpenku.
Aku ingin tersenyum sendiri tetapi tidak jadi saat kulihat dia menuliskan beberapa kata di catatan kecilnya dan aku yakin itu adalah puisi...
Sembari menunggu dia selesai menulis, kusiapkan pertanyaanku meskipun aku bingung untuk memulai dan aku tidak punya banyak kata untuk menciptakan obrolan yang hangat. Kulihat dia melipat bukunya dan dengan bergetar dan jantung yang berdegup, aku ingin memulai percakapan kalau seandainya saja tidak kudengar dia berkata..."Pinggir pak..."
Aku tersenyum kecut dan hanya bisa berharap besok atau besoknya lagi atau kapan-kapan aku masih bertemu dengannya dan menyampaikan beberapa cerpenku kepadanya, kalau seandainya saja dia bukam tokoh fiksi...
Selasa, 14 April 2015
Liana...
Jumat, 10 April 2015
Ada Kalanya Suatu Waktu Engkau Akan Menunggu
Aku tahu, suatu saat, mungkin saat yang sama dengan saat ini, disebuah persimpangan, disebuah ujung jalan. Saat daun berguguran di musim gugur gugur yang datang terlalu cepat, kala engkau menyusuri jalanan, kesepian ditengah keramaian, ketakutan dalam kesenangan, benarkah engkau akan rindu akan sebuah kemungkinan?
Kita adalah kita, dan kita juga pernah berkata bahwa segala sesuatu akan ada waktunya..
Tetapi mengapa kali ini hanya aku yang merasakannya?
Aku sebenarnya ingin bercerita banyak kepadamu jika kau punya waktu, tetapi aku tahu engkau telah membingkai waktumu itu, entah untuk siapa dan rasanya engkau telah manfaatkan musim semi dalam jiwaku, entah ini kebodohanku atau keuntunganmu, aku tidak mengerti karena aku hanya mengerti bahwa daun gugur itu selalu punya makna, bahwa lampu lampu temaram itu selalu memberi warna dan tawa kawan kawanku yang selalu tersisa..
Sedangkan kau?
Aku tidak pernah tahu, sebab sesungguhnya ada waktu untuk kita mengingau, galau bahkan menunggu..
Suatu kali, saat senja atau musim semi yang terlambat tiba, ketika itu bunga sakura sudah bersemi di kota kanikawa dan salju sudah mencair di nagusa, kau akan tahu berapa beratnya menunggu dari musim gugur hingga musim salju yang membeku..
Tetapi percayalah, meskipun engkau adalah gadia tropis, seperti bunga yang tumbuh mempesona sepanjang musim, akan ada waktunya, ketika musim kemarau berkepanjangan engkau akan kering dan memutuskan untuk menunggu hujan..
Saat itulah aku akan mengajakmu, menikmati empat mus yang selalu mendera..., dan kita akan menikmatinya bersama..
Sama seperti matahari dan bulan yang tampak bersama, sama seperti aurora yang mempesona..
Akan ada waktunya, kau menunggu, dan aku juga..
Akan ada waktunya, salju dan hujan turun bersama di kala senja..
Kamis, 09 April 2015
Surat untuk heaty
Aku mungkin akan menemuimu terjebak dalam pikiranmu sendiri, karena sedang jatuh cinta dan kau akan menulisi harian tanpa makna, entah untuk siapa.
Dan aku, aku ingin membaca tulisanmu itu, sebab seperti yang kau tahu aku senang membaca, sebab terkadang ada kalanya aku menulis sendiri dan membayangkan itu adalah tulisanmu.
Kau tahukan?
Setiap pemikiran bisa diutarakan dalam sebuah pembicaraan, tetapi mengapa kita tidak pernah punya waktu untuk bersama untuk membicarakan hal yang penuh makna?
Aku ingin mendengar ceritamu saat engkau jatuh cinta pada seorang pria tampan yang pintar main gitar itu, tetapi ternyata ada seseorang yang mengalahkanmu untuk memperoleh hatinya, aku juga ingin mendengar ceritamu saat engkau galau karena semua temanmu sudah dengan pasangannya masing masing dan engkau masih sendiri.
Tidak usah kuatir, sendiri itu menyenangkan meskipun terkadang merasa sepi, tetapi mengapa tidak engkau coba untuk menikmati?
Ada kalanya, saat aku menulisimu surat, aku membayangkan senyum manismu iti kepadaku, apakah aku telah jatuh cinta kepadamu?
Aku sedikit sentimentil dan sedikit pilosofis, meskipun semua serba sedikit, aku tetap menikmatinya, tetapi setiap kali aku bertanya kepada diriku sentimentil itulah yang berkuasa san setiap aku mencoba untuk jatuh cinta, selalu ada alasan pilosofis untuk menolaknya..
Jatuh cinta itu sebenarnya sederhana, kau tidak perlu memaksa seseorang untik mencintaimu, mungkin seperti aku yang tidak pernah memaksamu untuk melihat kearahu, meskipun ada getar yang sangat terasa ketika bertemu.
Bukankah cukup bagiku, menulisimu suray yang tidak pernah kukirim dan tentu tidak akan pernah kau baca ini?
Rasanya memang seperti cerita yang tidak pernah selesai, tetapi aku bukanlah seorang pria tokoh novel yang akan menikmati happy ending di akhir ceritanya, aku tahu tidak akan ada hasil apa-apa dan tidak akan terjadi apa-apa..
Pernah memang kucoba untuk jatuh cinta, tetapi aku tidak tahu mengapa jatuh cintaku pasti selalu pada orang yang sama meskipun disaat dan tempat yang berbeda.
Ya, itulah yang terjadi, terkadang aku hanya mencoba untuk mencerna, terkadamg juga memaknainya, mungkinkah akan tiba saatnya?
Kau akan membaca tulisanmu yang pernah kau buat untuknya dan aku membaca surat yang selalu kutulia untukmu, kita memang berbeda, jalan kita berbeda dan semuanya berbeda, tetapi mengapa aku mengharapkanmu tentang rasa cinta?
Liana
Liana, dia gadis cantik, tokoh cerpenku dalam judul Tentang hujan di tepi danau toba. Entah kenapa, aku tadi berremu dengannya, ketika pulang kuliah, dia sedang duduk di depan halte sebuah kampus kurang ternama di kota M.
Dia menumpang angkot yang juga kutumpangi, anehnya dia memilih duduk disampingku, ciri-cirinya persis sama dengan tokoh cerpen itu, aku tahu namanya ketika tasnya terjatuh dan kartu tanda mahasiswa, ktp dan identitas lainnya berhamburan, sayangnya aku tidak mencoba membantu memungutinya karena tidak ingin terjebak adegan romantis dengan tokoh cerpenku sendiri.
Sebenarnya aku ingin bertanya kepadanya, karena seingatku, dalam cerpen yang aku tulis dia mengendarai sepeda motor, bukan naik angkot seperti saat ini, sayangnya, seperti biasa, aku tidal berani untuk memulai sebuah percakapan.
Tetapi kemungkinan tidak bisa diprediksi, kakiku menyenggol sesuatu dan aku melihatnya, sebuah pulpen, kuambil lalu aku menyentuh sikutnya.
"Ini, pulpenmukah?"
Dia melihatku, tersenyum dan berkata, "Ya, tentu.. Terima kasih, ini pulpen yang penuh kenangan.."
Aku tersemyum, ternyata, sama seperti dalam cerpenku, dia juga sentimentil, aku jadi ingat sebuah kutipan yang berkata, tidak tahukah kau betapa sentimentilnya sebuah kenangan?
Angkot terus berjalan dan dia masih duduk disampingku, seandainya bukan perkara pilosofi atau cerita fiksi, aku ingin banyak bertanya kepadanya, tetapi dia terlalu asik dengan sebuah novel berjudul Epigraf, sehingga dia hanya menjawab pertanyaanku dengan ya dan tidak.
Aku memang harus akui, sebagai mahasiswa dengan trayek jauh dari kost kekampus yang menelan waktu sekitar lima puluh sampai enam puluh menit perjalanan, banyak orang yang naik turun dari angkot tersebut dan biasanya aku turun beberapa ratus meter sebelum pangkalan dan saat itu hanya tersisa aku sendiri dengan supir angkot.
Kali ini tidak, aku dengan Liana, tokoh cerpenku yang cantik itu dan aku belum sempat menanyakan alamatnya dam dimana kampusnya ketika aku harus turun dari angkot bahkan aku belum sempat menanyakan kemana tujuannya..
Aku tersenyum sendiri, kupandangi angkot yang bergerak menjauh mengiringi kendaraan-kendaraan lainnya sambil berharap, besok, lusa atau kapan aku bisa naik angkot yang sama dan angkot itu akan berhenti di halte sebuah kampus tidak ternama untuk menaikkan seorang penumpang cantik bernama Liana, aku masih punya beberapa pertanyaan kepadanya dan tentu aku ingin menanyakannya, "Maukah engkau menjadi tokoh cerpenku lagi?"
Jumat, 13 Maret 2015
Dan Bila Hari Ini Beranjak...
Jangan kau tanyakan mengapa karena memang tidak ada jawabannya, dan tidak seharusnya aku menjelaskannya.
Aku memang mengerti mengapa ada kecewa meskipun aku sangat susah untuk menerimanya meskipun berulang kali aku mencoba tetapi keyakinanku tetap pada batasnya.
Kamis, 12 Maret 2015
Besok (Mungkin) Sentimentil Akan Berkuasa
With My Brother (Gunawan Sinaga)
Sabtu, 07 Maret 2015
Surat untuk Heaty II
Jumat, 06 Maret 2015
Surat Untuk Heaty
Senin, 02 Maret 2015
Bermakna karena dimaknai
diary seorang Pecundang....
Arah Dairi Kedepannya
Arah Kabupaten Dairi Kedepannya Sebagai penduduk Kabupaten Dairi yang sedang merantau, ...
