Rabu, 28 Januari 2015

Terima Kasih

Terima kasih telah membuatku terus berjalan menujumu, meski kadang tersendat-sendat, kadang jalanan berkabut, hujan bahkan aku tidak tahu arah menujumu lagi. Kadang aku ragu pada diriku sendiri, ragu kepada keputusanku untuk terus berjalan, tetapi matahari masih terbit di timur dan senja masih datang saat malam menjelang, aku masih tetap menuntun langkahku menujumu. Menuju beningnya tatapan sayumu, rasanya aku tidak bisa membedakan antara rasa senang dan kuatirku. Aku senang memandanginya, tetapi kuatir tidak bisa memilikinya. Mendengar ucapanmu yang selalu mengalir dengan ceria, aku hampir tidak bisa memutuskan apakah aku harus mengingat atau melupakannya. Mengingatnya membuatku selalu ingin mendengarkanmu berbicara, tetapi melupakannya akan membuatku kehilangan jejakmu.
Aku tahu, jalanan ini selalu berbatu saat aku menujumu. Banyak persimpangan yang buatku ragu, terkadang hujan mengguyur impianku, angin menghembusnya. Tetapi perjalanan tetaplah perjalanan untuk sebuah pembentukan dan persiapan, aku memang tidak tahu kemana aku melangkah, tetapi aku tahu langkahku menujumu.
Sebenarnya, ada banyak cerita dalam perjalanan ini. Tentang angin dan debu yang selalu menerpa, bunga di tepi jalan yang selalu menggoda, daun-daun gugur yang menutupi jejakmu dan buatku kehilangan arah.
Tetapi, sekali lagi terima kasih!
Senyummu tetap menuntunku dalam ilusi, memberi warna pada tiap harapan yang pudar.
Aku tahu, aku dan engkau terpisah waktu yang membuatku tidak tahu seberapa lama dan sampai kapan harus tetap berjalan. Aku juga tahu, kita tidak jauh terpisah jarak, tetapi rasanya sangat jauh menujumu. Sama seperti menuju sesuatu yang semu bagiku.
Tetapi, entahlah. Aku tidak tahu apakah engkau pernah tahu bahwa dalam perjalananku menujumu aku pernah menjadikanmu puisi, agar bersama kata-kata kau bisa abadi(1).
Memang aku akui, setiap perjalanan akan menyisakan ceritanya sendiri. Kadang aku ingin menciptakan tujuan baru dalam perjalanan ini, tetapi rasanya itu adalah pekerjaan sia-sia karena alur ceritaku selalu tentangmu. Ini adalah untuk kali yang kesekian aku memahami terjal yang membentang didepanku, tebing yang curam dan berkabut membuatku tidak tahu apakah aku harus tetap melangkah menujumu. Tetapi aku tetap pada keyakinanku, akan selalu ada ujung jalan saat engkau berhenti disana dan (mungkin) menungguku, akan ada tempat untukku singgah sebentar untuk memutuskan apakah aku akan bersamamu atau akan tetap kembali berjalan sendiri tanpa arah yang pasti (meski sebenarnya aku selalu berdoa untuk bisa tinggal selamanya menghabiskan sisa waktu bersamamu).

Selama engkau belum memilih untuk singgah, berhenti dan menetap disuatu tempat. Aku rasa, aku masih punya waktu menujumu. Aku hanya berdoa kepada TUHAN kita, semoga tidak ada musim gugur, musim salju atau bahkan badai yang menghalangi perjalananmu agar engkau tetap dapat melaju tanpa harus singgah dan berhenti dijalanmu. Dan selama engkau belum memutuskan untuk singgah aku akan tetap melangkah..

Sabtu, 24 Januari 2015

Menghabiskan Malam

Entahlah tetapi malam ini ada cerita yang seharusnya kamu tahu, tentang pohon yang tumbuh sendiri di padang dan seekor burung membuat sangkar di dahannya. Kamu juga harus tahu tentang tunas-tunas muda yang muncul saat musim semi mulai tiba, dan daunnya mulai muncul menjelma hijau diantara ranggas-ranggas yang masih tersisa. Atau juga tentang matahari yang muncul di pagi hari dan dia selalu tepat waktu sekali (pernahkah kau bayangkan jikalau matahari itu seorang lelaki yang selalu menepati janji dan suatu hari nanti engkau diminta menemuinya dan disuruh menunggunya? Aku tahu engkau pasti menanti meskipun waktu semakin lama semakin menghantui, ah tetapi nanti saja atau esok hari kuceritakan kepadamu tentang matahari-itupun jika kamu punya waktu)
Ya, kamu harus tahu semua itu. Sebab sebenarnya sangat banyak yang ingin kuceritakan padamu : Tentang bintang-bintang yang kadang hilang sehingga kita pun linglung dan kadang kehilangan harapan dibuatnya, tentang bunga ilalang yang kalau kering selalu terbang, atau tentang rumput-rumput yang selalu mengering dan menguning di padang gersang. Ya, aku ingin menceritakan kepadamu itu semuanya dikala petang dan kita sedang bersama menikmati senja yang membayang di bawah pohon rindang, tetapi kadang aku tahu kamu tidak punya waktu untukku, padahal aku ingin menghabiskan waktu bersamamu.  Bercerita tentang dongeng-dongeng konyol yang melegenda, menikmati senja yang selalu berakhir gelap di barat sana, menyirami bunga-bunga yang akan mekar di halaman rumah kita, mengomentari berita-berita unik dari tiap belahan dunia, memilih destinasi wisata seperti yang biasa dilakukan orang-orang kaya, menulis puisi bersama, cerita hingga menghabiskan hari-hari yang sudah tentu akan selalu kurang rasanya.
Ya, seandainya saja engkau mencoba memahami itu semuanya. Memahami mengapa gemericik air menenangkan jiwa yang kesepian, mengerti mengapa hujan selalu menyisakan kenangan dalam kesendirian. Mungkin aku tidak perlu bercerita banyak kepadamu tentang malam ini, malam dimana lampu di sekitarku semuanya terasa sangat temaram, malam dimana aku merasa sangat sentimentil dengan sebuah kenangan dan harapan. Malam yang sangat melankolis untuk seorang yang merasa dirinya selalu mencari kehidupan.
Aku memang tidak tahu kapan malam ini berlalu, tetapi aku yakin pasti berlalu. Dan kamu juga harus tahu, malam ini aku melihatmu berdiri di depan pintu membentuk siluet hitam yang kukagumi itu, benarkah itu dirimu?
Aku ragu, ragu pada waktu, ragu pada harapanku, ragu pada pikiranku, ragu pada penglihatanku.
Apakah itu mimpi?
Bukan iu bukanlah mimpi, itu hanyalah ilusi yang kuciptakan sendiri untuk bias kuceritakan padamu juga suatu hari nanti saat kau sudah bersamaku, menemaniku menyusuri jalanan yang menanjak dan berbatu.
Dan aku juga harus memastikan bahwa kau memang menunggu disuatu sisa waktu, lalu menggenggam tanganku dan melangkah bersama dan kita akan diam membisu sepanjang waktu. Tetapi aku dan engkau akan selalu tahu bahwa disetiap tatapan mata kita bertemu akan selalu ada rindu yang menyatu, rindu untuk menghabiskan sisa waktu itu.
Tetapi, entahlah semua yang kutulis ini memang  impianku saja. Sesuatu yang biasa kulakukan saat wajahmu mengganggu pikiranku, padahal sebanarnya aku tahu bahwa waktu masih harus berganti dan berlalu. Tetapi yang belum bisa kujawab sampai hari ini adalah mengapa engkau berdiri di pintu hatiku? Masuklah jika engkau ingin masuk, hatiku terbuka untukmu, pergilah jika ingin pergi sebab sebenarnya engkau menghalangi orang lain untuk masuk (status kakak kelompok rohaniku).
Sebenarnya, aku hanya ingin malam ini cepat berlalu karena semakin lama  malam ini berlalu semakin banyak juga yang ingin kuceritakan padamu, semakin lama aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, ah, andai kamu tahu aku menunggu.

catatan kecil

Kadang kita harus belajar untuk tidak mempunyai perasaan, tidak punya air mata, tidak punya hati nurani.
Tetapi apa boleh daya, terlalu menyedihkan rasanya jika kita harus menutup mata, membuat dunia dalam hidup kita sendiri.
Tetapi bagaimana jadinya jika kita tetap tinggal dalam kenyataan yang begini?
Terlalu banyak yang harus di ubah, tetapi teramat sedikit yang mau berubah.  Banyak yang harus dipikirkan, tetapi sayangnya terlalu sedikit pemikir, banyak yang harus dihitung, tetapi rasanya terlalu sedikit yang punya perhitungan.
Kadang aku sendiri heran dengan kenyataan yang kuhadapi, tetap terlalu sedikit orang yang bisa kupercayai untuk berbagi, karena itulah aku mencoba berbagi dengan kenyataan dan waktu sebab mereka itulah temanku. Dan sebenarnya teramat banyak yang ingin kuceritakan, tetapi akau selalu tahu bahwa masih banyak sebenarnya yang harus kudengarkan, ya, karena itulah aku harus mendengar dulu sebelum menceritakan yang sebenarnya.
Sebenarnya, aku tahu semua :
Saat banyak orang bercerita tentang kesenangannya : mereka lupa, orang-orang lainnya sedang dalam kesedihan.
Saat orang dalam glamor masa depan : orang lainnya terjebak dengan kesuraman masa lalu.
Ah, memang menurutku tidak ada yang lebih indah selain berempati, berbagi kasih, berbagi kebahagiaan. Ya, aku ingin mereka juga tahu seperti apa cerahnya masa depan itu, aku ingin mata-mata sayu itu kembali dengan harapan-harapan yang cerah,berbinar memandang harapan diesok hari dan biarlah kepahitan dan pemikiran-pemikiran dalam kesendirian serta kesepian ini kutanggung sendiri sehingga menjadi cerita yang tidak berarti.
Biarlah aku sendiri yang terkubur dalam kebohongan dan kekecewaanku dan mencoba tinggal dalam panggung sandiwara ciptaanku hingga mungkin suatu saat nanti aku mulai muak dengan semua ini dan mencoba meninggalkan kenyataan.
Ya, suatu saat nanti
Aku ingin meninggalkan semua ini
Meghilangkan jejak dalam kenyataan
Sebab aku tidak tau kepada siapa lagi aku harus berbagi
Sebab sebenarnya aku ingin bercerita kepadamu tentang puisi-puisi yang sering tidak selesai
Tentang keinginanku menginjakkan kaki dipuncak tertinggi
Atau juga tentang cerita-cerita fiksi yang selalu membuatku menghabiskan hari.
Lalu aku ingin engkau berkata suatu hari nanti :
“Aku akan menyelesaikan puisimu, menemanimu ke puncak tertinggi bahkan menungguimu setiap hari untuk menghabiskan cerita kita.”

Tetapi, bukankah aku tahu bahwa itu adalah mimpi bodoh yang berlawanan kepada logika? Karena sebenarnya saat aku menutup mata, aku ingin menutup mata dari kebohongan dunia, mengakhiri semua kisah yang tidak pernah ada dan aku akan melangkahkan kaki keudara. Dan lihatlah, aku terbang, terbang dalam anganku sendiri, mengepakkan sayap yang memang tidak akan pernah ada. Aku akan pergi ketempat dimana tidak ada lagi kepahitan dalam hati.

Minggu, 18 Januari 2015

Catatan Sore


Entahlah, sebab setiap dari kita mungkin juga adalah pelupa yang tidak ingat kapan kita mengukir jejak terakhir.
Dan setiap dari kita juga mungkin bukanlah pencerita yang baik, yang dapat bercerita tentang lembah-lembah dan gunung yang kita lewati...
Sudahlah, mungkin setiap dari kita juga mengerti mengapa hujan turun lagi dan jejak kita menghilang disini dan kita akan menyusuri jalan sendiri-sendiri menuju permukaan kehidupan yang bergelombang ini.
Setiap dari kita mungkin akan menikmati ini
hamparan kuning ilalang dan bunga-bunga yang mencoba terbang,
setiap dari kita mungkin akan merasakannya, belaian sepoi angin yang datang dan pergi kala petang membayang.
Ya, setiap dari kita melihatnya. Sejauh mata memandang, hijau terpampang diantara jejak dan jarak berikutnya terbentang.
Tetapi apakah hanya aku yang mengenang setiap tetes hujan yang datang saat cerita lapuk dalam tetes hujan, saat tidak ada sayap untuk terbang.
Entahlah, sebab setiap dari kita mungkin juga adalah pelupa yang tidak ingat kapan kita mengukir jejak terakhir.
Dan setiap dari kita juga mungkin bukanlah pencerita yang baik, yang dapat bercerita tentang lembah-lembah dan gunung yang kita lewati...
Sudahlah, mungkin setiap dari kita juga mengerti mengapa hujan turun lagi dan jejak kita menghilang disini dan kita akan menyusuri jalan sendiri-sendiri menuju permukaan kehidupan yang bergelombang ini.

Surat Musim

Kita bahkan punya musim semi sendiri, punya senja untuk dinikmati. Jadi apa yang perlu diragukan lagi? Biarlah musim gugur dengan musimnya sendiri (juga) musim hujan dengan kenangannya, kurasa kita tidak boleh menyia-nyiakan musim semi ini karena bunga-bunga sudah mulai bertunas dan padang sudah menghijau. Lihatlah, di timur matahari juga sudah mulai membayang. Apalagi yang kau tunggu? Mari genggam tanganku, kita nikmati jalanan setapak ini. Aku yakin bersamaku musim semi ini akan lebih berarti lagi...

Sabtu, 06 Desember 2014

Desember

7 Desember
Sudahlah, berhentilah dengan teori-teori busuk dan kata-kata kotor itu, berhentilah menggunakan pembenaran pada diri sendiri. Kita sudah teramat kotor dan dunia inipun teramat kotor, lihatlah mereka menggunakan seribu alasan untuk melakukan pembenaran. sedangkan yang lainnya melakukan kegiatan untuk menopengi kehidupan yang sesungguhnya.
Sudahlah, kita teramat sangat bangga akan ucapan yang indah tetapi tanpa perbuatan. tetapi kita sangat membenci yang beralasan. Kita menyukai keindahan dan kebahagiaan tetapi tidak berusaha untuk itu, rasanya kini lebih baik aku menemukan yang tidak punya pikiran dan tinggal bersamanya dari pada harus tetap dalam kebohongan. Rasanya lebih baik aku berjalan dalam kesendirian daripada berjalan tetapi punya musuh dalam selimut, aku muak dengan kenyataan, muak dengan kotoran-kotoran yang mengalir dalam darahku, muak dengan diriku, muak dengan pemikiranku. Sepertinya memang tidak ada yang lebih bagus selain daripada menjadi seorang pecundang yang tidak perduli akan kehidupan, pecundang yag tidak pakai topeng, pecundang yang tidak mengeluarkan kata-kata yang tanpa manfaat, pecundang yang berjalan lurus dan berbuat baik tanpa tujuan tersembunyi.
Berhenti berbuat jika hanya untuk keuntungan diri sendiri, berhenti hidup kalau hanya ingin bahagia sendiri dan berhenti bernapas kalau memang ingin bernapas sendiri dan cobalah untuk membuat kehidupan sendiri.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
5 desember
Kadang kita hanya perlu membedakan mana kawan mana lawan, mana saingan mana teman seperjuangan, yang mana memuji yang mana menjatuhkan, yang mana harapan mana kehancuran,yang mana kemungkinan mana kemustahilan. Ya, yang mana permainan mana keseriusan, mana negatif mana positif, yang mana utara mana selatan, mana baik mana buruk. sebab sekarang semuanya hampir kabur, hampir tidak ada beda rasa suka, rasa cinta dan nafsu, hampir tidak ada batas yang baik dan yang buruk, seseorang berlaku buruk untuk hal yang baik dan seorang lainnya berlaku baik untuk hal yang buruk. Aku tidak mengerti mengapa kutub utara dan kutub selatan ada pada satu garis lurus, dan aku juga tidak akan memahami mengapa matahari melintas dari timur ke barat, padahal semuanya bertolak belakang.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1 desember

Tidak ada lagi yang harus dibicarakan, kita adalah kita, kita harus melangkah dan berlari jika tidak ingin tetap disini, kita harus berdiri dan melompat jika ingin menggapai yg lebih tinggi, kita harus berbicara untuk dipahami, mendengar dan melihat untuk memahami, kita harus diam untuk mendengarkan, fokus untuk mengamati. Tidak ada yang harus didebatkan, kita harus mengerti mengapa air mengalir, mengapa cahaya menyilaukan dan mengapa-mengapa yang pernah ada, dan kita harus mengerti mengapa kita berbeda, tidak perlu bertanya, karena kita memang harus bersama, melengkapi perbedaan agar sempurna.

Rabu, 26 November 2014

NOVELOG

 Setidaknya ada sebuah kisah yang kutuliskan dari sebuah perjalanan dari suatu saat, dari suatu tempat, dari sebuah pembicaraan dan sebuah pertemuan. 
Mungkin ini tidaklah seperti kisah yang kau bayangkan, seperti novel-novel romantis kebanyakan. Perjalanan romantis dalam kereta malam atau pertemuan pada sebuah taman diwaktu senja ataupun kisah-kisahlain yang lebih romantis. 
"Romantis itu hanya sedikit dialognya dan sisanya adalah sikap dan pembuktian." Ucapmu menegaskan. 
Aku tersenyum pahit, mungkin lebih pahit dari kopi hitam tanpa gula yang sedang kunikmati saat ini, kopi yang sengaja kupesan untuk dapat duduk lama di cafe ini, merenungkan ucapanmu sambil menikmati lalu lalang pasangan-pasangan yang berusaha saling romantis itu. 
Aku tahu, mungkin kau berharap begitu. Tetapi bukankah semua itu masalah hati dan kondisi kantong ini? 
Aku mungkin tidak perlu bertanya kepada mereka, kepada lelaki yang berusaha menjadi romantis seperti dalam cerita-cerita novel yang kita baca. Tidak perlu juga aku menjelaskan padamu bagaimana rasanya jadi mereka, bukankah engkau adalah wanita yang (harapanku) tidak ingin pernah jadi seorang pria? 
Aku menyesap kopiku, kulihat jam di ponselku. Sudah agak sore dan hampir satu jam aku menghabiskan waktu disini dan aku kembali membaca novel yang kau berikan kepadaku awal kita bertemu dulu. 
"Tokoh prianya sangat romantis, aku yakin penulisnya juga romantis. Apa iya, seorang penulis itu juga romantis?" 
Hmm.. 
Aku tidak tahu bagaimana kau menyatakan itu, aku juga tidak tahu apakah nanti kau dapat kubodohi dengan tulisan-tulisan senja nan jingga konyol itu kau akan jatuh cinta padaku. Dengan ucapan-ucapan rangkaian kata berbait-bait dan indah kau bisa setia, dengan ucapan-ucapan selamat malam dan perbuatan tokoh pria dalam novel kau akan selalu ada? 
Aku jadi teringat sebuah buku yang pernah kubaca, ya, sebuah percintaan yang tidak pernah terucap apakah mereka saling mencintai. Tetapi tahukah kau? Ceritanya sungguh menarik dan karena itulah aku tidak akan memberitahukanmu apa judulnya dan siapa penulisnya sebab bukankah kau akan selalu menuntutku berperilaku seperti tokoh dalam novel itu? 
Aku masih ingat, saat pertama kali kau membaca novel terjemahan The Wednesday Letter, bukankah kau langsung mengajakku bertemu dan bercerita banyak tentang tokoh pria yang selalu menulis surat kepada istrinya setiap hari rabu saat mereka bersama ataupun sedang berpisah dan kau juga menuntutku melakukan hal yang serupa? 
Bagaimana mungkin aku bisa memerankan beberapa tokoh novel dalam satu kepribadian yang nyata? Hidup ini bukanlah sebuah buku, dan cinta kita bukanlah cinta dalam gelas. Gelas telah berisi kopi, kopi pahit yang kupesan sejam lalu, lalu kunikmati sambil membaca buku dan merenungi semua tentangmu. 
Apakah kau benar-benar seorang gadis yang menjadi pasangan pria romantis yang pernah kita baca itu, apakah kau sanggup menjalaninya sebagai seorang wanita yang selalu setia menunggu, yang menikmati setiap tulisan-tulisanku meskipun aku tidak pernah menganggapmu, yang selalu menyimpan kenangan tentangku, mengenanga setiap perjumpaan baik yang sengaja ataupun tidak sengaja? 
Ah, mungkin itu hayalah sebuah kisah dalam tulisan sebab hidup ini adalah kenyataan dan kenyataan itu sendiri pahit seperti kopi yang kunikmati ini. Tetapi meskipun pahit aku harus menikmatinya sampai habis sebagaimana aku menghabiskan kopi pahit ini, sebab mubazir aku menyia-nyiakannya karena harganya yang mahal, semahal novel-novel bestseller itu, semahal sebuah kisah rekaan yang selalu kau idamkan.

Jumat, 07 November 2014

TENTANG MALAM (2 puisi)

TENTANG MALAM
Kepada siapa kuceritakan malam jika dia tidak punya teman?
Sajak-sajaknya hanya jadi kenangan dalam kertas lusuh bertanda tangan
Kisah-kisahnya jadi pajangan diperpustakaan
Dia tidak punya teman lagi
Sebab hari-hari telah beranjak pergi menuju kekasihnya diseberang sungai
Tetapi malam gelap ada mimpi dipanggung bumi
Malam bersenandung lagu simponi
Dalam keremangan lilin dia berpuisi
Mengenang bait yang hilang
Bersama pagi yang tidak kunjung datang.





Tentang Hujan



Suatu ketika tentang hujan
Saat tidak ada lagi kisah yang harus diceritakan di buku-buku harian
Ketika itu hujan punya kenangan, 
tentang gadis senja dibawah payung kedinginan
Menikmati hujan dalam sketsa angan, 
dalam rindu yang terpendam hingga terlarut dalam impian
Hujan mencubunya, membelainya mesra dalam pelukan malam





Kamis, 30 Oktober 2014

Bingkai Oktober


                                       
Bingkai Oktober


Jika oktober datang lagi di esok hari, mungkin semua tidak lagi begini 
Tidak ada gerimis atau mendung yang bergelantung dihatimu 
Sebab ombak telah memacu, beradu menuju kelautan lepas, dan gunung-gunungpun kian menghijau dan puncaknya ditutupi salju 
Tidak akan ada kisah yang perlu kau baca disana, sebab daun-daun sudah punya ceritanya sendiri, kenangan telah terbingkai pada dahan-dahan cemara dan bunga-bunga telah mekar di taman surga.
Lihatlah, tunas-tunah muda ada disetiap pucuk harapan, satu persatu mereka menyambut matahari yang telah lama kita nanti 
Dan kelopak mawar telah membuka kuncupnya, semerbak memenuhi jiwa 


Jika engkau kembali lagi disaat nanti, saat lembar-lembar hari di kalender kamarmu berganti 
Mungkin tidak akan kau temui lagi kisah ini, sebab kisah baru telah dimulai lagi 
Saat sepasang remaja menyusuri jalanan ini, meninggalkan sebuah kisah tanpa cela dan harapan yang berbeda 
Dan jika esok hari kau masih mencoba tetap kembali, akan kau temui aku disini, terpekur menunggu hujan turun lagi, berharap ada kalimat baru yang harus dirangkai.

CATATAN 27 Oktober 2014

Akankah aku selalu bisa menikmati waktu yang akan terus berlalu ini? Aku tahu bahwa setiap detik dalam hdup ini adalah harapan dan kita punya berbagai cara  untuk mewujudkan harapan itu. Kadang kita harus merelakan semua tetapi tetap tidak ada kepastian untuk mendapatkan harapan itu.
Aku adalah aku, egoisme yang mungkin akan selalu mengantarkan aku kesebuah ketidakpastian, aku selalu memikirkan diriku sendiri meski kali ini aku tahu bahwa setiap rencanaku bukanlah aku sendiri yang menentukan. Kadang aku berharap apa yang didepanku adalah jawaban doa-doaku, tetapi kenyataan harus memaksaku menggigit jari dan menunggu sampai kapan kenyataan ini kuhadapi.
Aku selalu berharap bahwa setiap kenyataan ini adalah kebahagiaan, kesenangan bahkan kesantaian. Tetapi aku harus tetap menjalani hidupku dengan penuh pemikiran dan semoga ini bisa mengantarkan aku menuju kedewasaan. Aku tahu bahwa aku harus sabar menghadapi proses pembentukan ini, semakin lama dibentuk maka jiwaku akan semakin lentur dan bisa untuk semua wadah, ya begitulah kenyataan saat satu persatu impianku harus kurelakan.
Kadang aku senang dengan yang namanya kekaguman, aku senang dengan kemungkinan dan harapan dan aku adalah yang menyimpan semua dalam tulisan.
Dan tahukah kau sejak pertama aku melihatmu aku tahu bahwa kau memiliki sifat yang kuharapkan, tetapi aku tidak terlalu mudah menunjukkan sebuah kekaguman sebelum mempelajari sifat seseorang, karena itulah aku mencoba membaca buku untuk bisa melihat bagaimana reaksi dalam sebuah pertemuan dan aku akan terus mempelajari semuanya.
Pernahkah kau tahu saat aku mencatat tulisan ini, sebenarnya sangat banyak yang ingin kutuliskan untukmu (meski aku tahu bahwa tulisanku hampir tidak teratur sehingga sulit ditangkap maknanya), kenapa? Tiap aku menulis kata, akan selalu banyak ide yang ingi kutuliskan untuk membuat kau tertarik paling tidak pada tulisku ini saja.
Aku pernah berpikir kepada siapa tulisan ini kusampaikan suatu hari nanti, dan itu jugalah yang akan membuatku selalu menulis untuk menuangkan setiap yang ada dipikiranku. Aku selalu tahu bahwa sungguh sangat banyak yang harus kuperbaiki dulu untuk sebuah harapan, aku tahu bahwa aku harus membuat sebuah rancangan sebaik-baiknya, pondasi yang kuat dan tiang yang tidak mudah goyah. Aku tahu bahwa tidak bisa hanya mengandalkan rasa suka dan rasa sayang untuk memulai sebuah hubungan belum lagi kantong yang tidak berisi dan kelemahan-kelemahan lain yang akan selalu menghantui.
Kadang aku memang merasa sangat kesepian dalam kenyataan, saat ,melihat teman-teman begitu mudah jatuh hati dan berganti pasangan, saat teman-teman begitu saja lupa pada seseorang yang pernah jadi kekasihnya. Tetapi mungkin tidak begitu denganku, bahkan kalau ditanya aku bisa mengingat detail semuanya dengan begitu sempurna dan mungkin akan selalu begitu (dan aku berharap ini bukanlah menjadi sebuah kebiasaan buruk nantinya.

Tentang kali ini sebenarnya aku harus nmengiyakannya bahwa aku juga mengalaminya, aku tidak  tahu mengapa aku tidak bisa berhenti memikirkan tentangmu, ini sebuah ketololan yang sangat konyol menurutku, tapi sayangnya kali ini aku bukanlah seorang yang suka bersaing apalagi kepada sesama teman dan jika harus ya, aku tidak mau memaksa diri sebab aku tahu, prinsipmu akan selalu sama denganku : bahwa dalam hidup ini kita selalu punya pilihan dan kita akan selalu punya hak untuk pilihan itu. Dan kali inipun aku menyerahkan semuanya kepada Tuhan, sebab Dia adalah Sahabatku, sahabat kita dan Dia-lah yang akan menuntun keputusanmu (dan juga menuntunku terus melalui masa-masa ini).
Melihat yang ada, kadamg aku pesimis kepada diriku dan inilah yang selalu membenamkan keinginanku untuk mempunyai kekasih, aku belum siap saat seorag wanita mengetahui siapa sebenarnya aku, belum siap melalui hari-hari ini dengan kesibukan mempunyai seorang kekasih. Tapi diatas semua itu, aku selalu mencoba membawakan diri sesuai dengan tempatnya, pura-pura menjadi orang yang tegas saat memimpin rapat dan berbicara bersama junior da senior, mejadi teman yang konyol dan pura-pura bodoh bersama tema-teman, menjadi seorang adik dan abang buat saudara. Ya, itlah kebahagiaan buatku saat ini, bermanfaat bagi orang-orang sekitar sehngga mereka bisa mengenang sedikit tentangku, mengingatku dan merasa aku berarti bagi mereka semua (Meskipun mereka tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikiranku)

Aku tau, seiring waktu berlalu, semua ini akan mengantarkanku kepada pengalaman, kedewasaan dan (semoga) kebijaksanaan. Soal ini, aku tidak ingin menceritakannya banyak sebab aku tidak ingin seorangpun tahu apa yang kurasakan. Biarlah suatu saat nanti jika Tuhan memann mengizinkan kita punya waktu untuk bersama maka aku akan menceritakannya, atau jika tidak aku akan mencoba menuliskannya menjadi sebuah novel atau paling paling tidak seiring waktu yang akan terus berjalan aku akan lupa tentang semuanya.

Kamis, 23 Oktober 2014

Koreksi Diri

Jika harus kuceritakan, mungkin akan terlalu banyak yang saat ini sedang kupikirkan. Aku memang kecewa karena semua tidak seperti yang kupikirkan, tapi sampai kapan aku dikuasai sebuah ego dalam pikiran dan keinginan?
Aku sering melakukan sesuatu hanya untuk status dan kehormatan, bertindak hanya untuk sebuah penilaian dan itu adalah sebatas baik atau buruk, jelek atau tidak, menarik atau bukan. Aku kecewa jika tanggapan bukan seperti yang kuharapkan, lebih kecewa lagi jika itu tidak dapat meningkatkan pencitraan.
Aku sering mencari pujian, kehormatan bahkan kekaguman dalam artian adalah untuk mengamankan status dan pandangan orang lain, bertopengkan kebaikan dan tingkah pola yang sopan dengan banyak tujuan, mengutamakan keegoisan hanya sebuah kebohongan. Entahlah, kadang aku berpikir lebih baik jadi orang yang biasa-biasa saja, tidak terkenal, tidak punya banyak teman tetapi tetap dalam kejujuran dan kejernihan pemikiran. Lebih baik menjadi orang yang tidak bisa apa-apa, dipandang sebelah mata daripada harus menyimpan dusta dan membohongi diri sendiri.
Rasanya sudah bosan menjadi orang bertopeng, sudah cukup lama membohongi diri sendiri.
Dan jika seandainya harus jujur, aku bisa berkata dan kurasa orang-orangpun tidak tau siapa sebenarnya aku dan bagaimana kehidupan dan cara pikirku.
Kadang aku tertawa melihat kepribadianku, tidak stabil dan selalu berubah-ubah sesuai kebutuhan. Kadang sok tegas dalam sebuah rapat, sok jadi orang baik dan taat saat bersama orang-orang yang taat, jadi pemabuk saat bersama orang yang suka ngawur, banyak bicara dengan teman yang banyak cakap, membaca hal-hal yang tidak baik bahkan mambayangkan hal-hal aneh saat sendiri. Berbohong mengenai ketaatan, malas ke Gereja saat hari minggu, iri kepada teman atas banyak hal, tidur lama-lama hanya gara-gara membaca, malas mengerjakan tugas tetapi tetap sok pintar, sok bisa. Bermimpi selangit tetapi malas berusaha, memanfaatkan teman dan masih banyak lagi.
Entahlah, aku rasa masih sangat banyak lagi.
Mungkin saat nanti kalian akan tau kebohongan dalam diriku ini, aku adalah orang egois yang hanya ingin didengarkan tetapi malas mendengarkan, memandang rendah teman teman karena merasa punya kelebihan, pura-pura punya banyak pengetahuan dan kemampuan padahal hanya untuk menarik perhatian, apalagi?
Masih banyak (dan semoga saja hanya aku yang begitu).

Arah Dairi Kedepannya

                                                     Arah Kabupaten Dairi Kedepannya Sebagai penduduk Kabupaten Dairi yang sedang merantau, ...