Jumat, 09 Februari 2018

Sepasang Teori

Sepasang Teori

Dari semua kemungkinan yang kita punya, antara sajak hingga peluang-peluang yang pernah tercipta, kita memperoleh defenisi bahwa memang sebenarnya kita berbeda.
Sebuah pagi yang sederhana dipinggiran Danau Toba, kita duduk berdua mengulas tentang satu masa yang kini hanya jadi cerita, kita banyak mengumbar percakapan hampa bahkan sampai pada retorika, atau juga suatu ketika, dalam untaian nada Musik Klasik disuatu Taman Budaya di Kota kita, kita berdebat sampai suara kita tidak lagi bermakna.
Dari sekian kemungkinan-kemunkinan itu dapatkah aku mendefenisikan bahwa kini semua berbeda?
Kita pernah bersama, dalam sebuah teori yang dibuat oleh penulis cerita, menjadi sepasang kekasih dalam alur yang mengalir romantis.
Kita pernah menjalani kehidupan biasa, jadi sepasang remaja yang malu-malu saat berjumpa mata, mengirim surat cinta yang dititip melalui teman sebaya atau merindukan waktu untuk berjumpa ketika pulang sekolah untuk bisa bersama.
Dalam defenisi remaja, kita sempurna, sepasang kekasih yang melengkapi Matematika dan Fisika sampai akhirnga aku menyimpang pada sebuah teori yang berbeda dan bergelut dengan kata-kata.
Jika seandainya waktu itu kau tidak berkata semua ada polanya, mungkin aku tidak akan memilih untuk membuat alur yang rancu hingga percakapan tanpa makna antara kita ditepi danau yang selalu buatku galau.
Kita lalu bertumbuh jadi dewasa dengan pemikiran kita masing-masing, dengan latar hidup dan cerita yang tercipta antara kita selalu berbeda.
Sering aku berharap, ada jalan searah untuk bisa bersama melangkah.
Tapi kau terperangkap dalam teorema-teorema yang membentuk sebuah pola dalam angka, sedangkan aku terperangkap dalam kata, sebuah pejara sastra yang tidak menghendaki arti sebuah kemungkinan.
Ya, dari situlah aku paham kita berbeda.
Hingga suatu waktu, kita bertemu dalam sebuah cerita yang kususun dalam catatanku. Berlatar kota M dengan stasiun tua.
Aku tau, kau akan menghitung seberapa besar kemungkinan cerita ini terjadi, tapi aku tidak perduli, karena dengan imajinasi, apapun bisa terjadi.
Kita terperangkap hujan sambil menunggu kereta terakhir menuju kota S dan perlahan kau menyapa,
"Menunggu juga?"
"Ya.." Jawabku.
"Ke Kota yang sama?"
"Ya.."
"Dan kita ada dalam sebuah cerita?"
"Ya.."
Kau mulai gelisah kala itu, menyadari bahwa eksiatensi kita dalam sebuah cerita disebuah stasiun kereta tua.
Sedangkan aku tersenyum, karena berpikir bahwa bisa mengalahkan kebenaran angka.
Perlahan, jam berdentang distasiun ifu dan kau mulai gelisah menatap jam tanganmu. Aku paham, kau ingin sekali mengakhiri  jalan cerita ini.
"Biasanya kalau kereta datang selama ini, ada dua kemungkinan.." katamu perlahan tanpa menatapku.
"Apa?"
"Tidak ada penumpang menuju kota S atau sedang rusak.."
"Lalu?"
"Kita pulang dan alur ceritamu selesai.."
Dan benar saja, jam kembali berdentang dan kereta tidak juga sampai hingga kita terpisah dan menuntun jalan masing masing.
Dan berikutnya adalah tentang berapa besar kemungkinan kiga bisa bertemu lagi?
Aku tidak bisa mendefenisikannya karena memang kata yang kita tulis dan ucapkan itu adalah rasa dan tingkah serta sikap kita adalah sebuah pola yang punya makna sendiri.
Dari beragam cerita yang pernah ada, ternyata menuju sebuah arah yang tidak tertera dalam kompas.
Diujung sana, kulihat mereka yang adalah pecinta angka dan fisika, yang mengabadikan hidup untuk rumitnya matematika, bersatu dengan mereka yang lebih banyak menghayal dang menghabiskan waktu dengan buku-buku tebal diperpustakaan, latarnya adalah sebuah sebuah keberagaman tanpa defenisi dengan hiburan musik klasik yang kita dengarkan tempo hari.
Aku terus melangkah, mengikuti aeah yang menuntun imajinasiku dan dari sarah berlainan, aku juga melihatku, megumlulkan peluang yang nilainya hampir jadi satu, dan kita terus bergerak menuju sebuah ilusi lalu melebur dalam suafu kisah tanpa dimensi.

Mencoba Seimbang

Membaca opini, komentar dan kritik yang beredar akhir-akhir ini kadang membuatku ingin menulis banyak hal. Sudah hampir tiga tahun saya tidak menyukai politik dan berita-berita yang simpang siur dan bergantung pada kepentingan, lebih menyenangi catatan dan cerpen-cerpen melankolis.
Sebenarnya mencoba menyeimbangkan apa yang saya baca dan dengarkan, memahami dari setiap sisi opini dan kritik yang dilontarkan. Terlalu banyak yang dilihat dari satu sisi membuat sisi lain terabaikan, terlalu banyak menyajikan pembenaran hanya akan membiaskan kebenaran. Lalu dimana posisi kita yang seharusnya menyatakan "Ya" kalau "Ya" dan "Tidak" kalau "Tidak"?
Saya sadar, terakhir ini kita melakukan sesuatu pasti karena ditunggangi sesuatu yang bernama kepentingan.
Kita berbuat baik agar terlihat bagus, kita pergi kesuatu tempat agar terlihat begini, kita melakukan ini agar begini, memang benarlah kalimat yang berkata bahwa kita adalah orang yang butuh pengakuan.
Kita sebenarnya adalah sesuatu yang istimewa, punya hati nurani dan pemikiran, yang jika berjalan seimbang tentu akan mencapai sebuah kesempurnaan.
Tapi sampai dimana keseimbangan itu?
Cara pandang seringkali kita gunakan hanya dari satu sudut saja, kita berbicara dengan bebas dan sesuka hati saja dari sudut pandang kita.
Melakukan sesuatu untuk popularitas atau untuk menguntungkan diri sendiri juga orang-orang yang punya kepentingan.
Lalu apa sebenarnya tujuan itu?
Saya kurang paham, tapi biarlah saya mencatatkan sedikit tentang apa yang saya lakukan :
Saya menghabiskan pagi saya dengan membaca koran, membaca opini dan juga berita secara sekilas, kadang saya menyempatkan diri membaca wikipedia untuk pengetahuan umum, juga menonton film-film tertentu, sesekali membaca update tentang science, membaca profil orang, tempat dan perusahaan tertentu, menonton Sitkom, juga sering membaca cerpen dan novel-novel romantis. Sesekali menelepon kawan untuk berbagi. Kadang saya berbincang-bincang dengan orang-oranv disekitar, topik ringan dan jika menjurus kearah politik, ras, agama biasanya saya lebih memilih untuk msnghindar dan tidak melanjutkan atau tidak menanggapi pembicaraan.
Mengapa saya melakukan itu?
Saya rasa, itulah yang bisa saya lakukan, apabila ada pemikiran yang ingin disampaikan, saya lebih senang memcatatkannya dan membagikannya diblog atau sosial media.
Saya sadar hidup saya masih jauh dari seimbang, tetapi saya bisa mencoba seimbang.
Tidak sedang apatis untuk menanggapi tentang apa yang sedang terjadi, tetapi mencoba untuk memberitau bahwa kita ada disini adalah untuk bermanfaat bagi yang lainnya.
Memberi opini dan kritik harus membangun dan memandang dari semua sisi, bukan karenan ditunggangi kepentingan.
Berpendapat itu bagus, tetapi harus berdasarkan fakta dan punya solusi.
Ohya, satu lagi : mengapa saya menulis ini?
Mungkin karena saya sedang mencoba memahami apa yang sedang terjadi!

Selasa, 24 Oktober 2017

Curhat dengan Senior

Selamat Borngin Uda..
Lao cerita sekaligua curhat jo au tu uda dalam hal anak muda :D

Dalam bahasa Indonesia da uda..

Saya punya problem dalam hal hubungan, misalnya saya suka dwngan seorang gadis, saya mendekatinya dan ketika sudah dekat tidak pernah berakhir dengan sebuah hubungan/pacaran. Entah mengapa bisa begitu uda, sudah berkali-kali aku mencoba tetapi tak pernah ada yang berakhir dengan status pacaran.

Awalnya dulu saat kelas satu SMA di Kampung, saya suka seorang teman sekelas boru Malango, saya sudah sangat intensif mendekati dia bahkan sampai-sampai kubuatkan buku puisi untuk dia. Dia juga memberikan respon yang positif tetapi aku tidak pernah mengajaknya untuk pacaran/menyatakan cinta sampai berbulan-bulan sampai akhirnya dia pacaran dengan temanku dan mengembalikan buku puisiku, hingga saat kuliah semester 5 kami pernah sama pulang kampung, dia cerita samaku bahwa dulu dia sangat suka samaku, tapi katanya aku php dan saat itupin dia masih suka samaku uda, tapi rasanya udah berbeda samaku, meskipun dalam hati masih ada getar-getar cinta pertama itu.
Lalu ketika kelas 2 SMA saya kenalan dengan teman sekelas baru pindahan, kalau sekali ini kami langsung pacaran hanya dengan selang dua minggu saya berhasil menembak dia, tetapi diam-diam saya juga menembak dan pacaran dengan seorang junior yg terkenal pintar :D
Tak selang beberapa lama dia langsung memutuskan saya dan juga hubungan saya dengan junior itu tak ada status sampai hari ini.
Kelas tiga SMA kembali saya menyukai seorang teman sekelas, tetapi saya memendamnya dan tidak seorangpun tau, kali itu aku sangat rajin mengsms dan menelepon dia uda. Tapi di sekolah kami tidak teguran, rasanya jantungku mau copot saja dan mukaku memerah macam tomat kalau jumpa dia, pokoknya rasanya klepek-klepeklah aku uda. Tapi problemnya adalah aku tidak pernah menyampaikan bahwa aku suka padanya, padahal aku sangat sering menelepon dan mengesmsnya tapi tak pernah ngomong kalau bertemu, hahaha
Sampai kami tamat sekolah, kami bahkan masih begitu-begitu saja.
Saat kuliah sampai semester 3 saya tidak ada cerita tentang pacaran meskipin beberapa kali kepincut sama gadis-gadis cantik di kampus hingga menjelang awal semester 4 saya berkenalan dgn boru Siringoringo orang Tarutung dan saya coba mendekatinya tetapi tumbang dengan cepat karwna pacarnya Ganteng dan bawa Mobil uda, hahaha..
Semester 5 awal, sebuah momen yg sangat menyentuh mungkin uda, mungkin disitu aku percaya cerita ttg cinta pada pandangan pertama :D
Ketika saya dan teman-teman sedang ke Air Terjun dua warna, ada teman satu kos teman saya ikut, junior saya uda boru Panjaitan, pas pertama lihat dia, berdesir hati ini, hahaha..
Ditambah satu harian kami bersama, rasanya gimana gitu. Tapi sesudah perjalanan itu, kami libur dan pas masuk kuliah, aku dapat sms nanya bisa atau nggak ngajari.. Agak penasaran kubalaslah, rupanya boru Panjaitan itu uda.
Jadi, seringlah aku jumpa sama dia, dan kawan-kawanku sudah menyatakan dia pacarku, hampir setiap hari sabtu dan minggu saya datang ke kontrakannya utk belajar bareng  :D
Hingga suatu hari pas kutelepon dia malam minggu, mau menyatakan cinta, tetapi baru pas berbasabasi, dia minta maaf menutup telepon dan minta telpon nanti aja tapi nomornya tidak aktif sampai tengah malam uda.
Sesudah itu dikampuspun jarang bertemu    kami.
Dan sejak itu tidak pernah ada komunikasi sampai pas saya mau meja hijau dia menginbox FB saya menanyakan jam berapa siap meja hijau dan minta nomor. Kukasih.
Besok sorenya hanya sms menyatakan selamat atas meja hijau.
Saat saya wisuda, dia meneleponi saya, katanya mau berpoto bersama dan kenalan dengan orang tua tetapi karena mama dan bapa buru-buru pulang saya tidak jadi bertemu dengan dia.
Lalu malamnya dia menyatakan kecewa sama saya.
Tetapi sebenarnya, diawal semester 6 sampai hari ini juga saya dekat dengan teman satu stambuk uda, boru Simanjuntak.
Kami berkenalan saat satu mata kuliah, lalu saat semester 7 kami sering bersama, saya rajin menemaninya mengerjakan skripsi, mengerjakan tugas bersama dan mencari buku kesana kemari dan sharing banyak hal.
Kami juga sering telponan dan chating, tapi tak pernah membahas masalah asmara dan cinta gitu uda.
Kami selalu bicara tentang pendapat, tentang pelajaran, tentang masa depan, cerita tentang teman-teman dan sekarang tentang kerjaan dan cerita-cerita lain. Sesekali aku juga menulis surat kepadanya, dalam bentuk email, kadang kami juga saling support. Tapi yang aku bingung sudah bertahun-tahun hubungan kami masih begitu-begitu saja.

Jadi uda, yg kubingungkan itu bagaimana mengarahkan hubungan kami kearah berpacaran, ataukah kami tetap menjalaninya begitu saja? Karena memang sampai hari ini saya dan dia tidak ada ikatan dan dia juga tidak berpacaran dengan orang lain.

NB : Ini curhat saya uda, dan boru yg didalam tulisan ini real :D

Maulite Godang

Sabtu, 21 Oktober 2017

Buat Teman

Buat Teman.

Kawan, apa kabarmu?
Banyak cerita yg kita lewatkan, tak inginkah kau kita bisa kembali mengulangnya?
Hidup tak segampang yg kita pikirkan, hidup ternyata harus sendiri-sendiri dan terkadang juga harus saling mengingatkan. Bukan sombong, tapi kadang aku bingung karena kita hampir selalu tidak punya waktu ( dalam hal ini aku kurang setuju, kitalah yg tidak bisa  membagi waktu).
Kawan, kau taukan, hidup adalah kenyataan, bukan hayalan sebagaimana kita dulu bercerita tentang masa depan, ternyata semua berlainan kawan.
Kau ingatkan, dulu bagaimana kita bercerita tentang gadis-gadis cantik teman sekelas atau juga junior kita, tentang gadis pintar yang susah minta ampun mendekatinya atau cerita-cerita kecil yg kita lupa endingnya :D
Begitulah, cerita itu selalu terkenang jika suatu saat kita mengingatnya.
Kadang kita juga bercerita hal-hal kecil bahkan tertawa menertawakan kebodohan, tentang si x gadis yg kutaksir dan diam-diam kalian juga menyukainya dan masih banyak lagi kawan, masih sangat banyak yg diingat dan juga yg terlupakan.
Kubaca catatanku satu persatu, kubayangkan mengapa dulu aku menulis itu, rupanya pemikiranku selalu dipengaruhi oleh banyak hal dan kadang tak menentu.
Kawan, seiring waktu berlalu, aku ingin bercerita padamu.
Hidup tidak sekacau yg kita bayangkan kawan, hidup itu juga tidaklah melulu pada layar datar yg menari-nari atau pekerjaan kita yg setiap hari menanti.
Hidup kita masih panjang dan banyak hal yg masih bisa kita nikmati.
Ya, kita bisa menikmati semua kawan, selama kita masih punya niat memperbaikinya.

Minggu, 15 Oktober 2017

One Moment Time

Misalkan, ditepi sungai M yg mengalirkan kenangan tentang rasa rindu sepasang remaja tempo dulu, dan kini rindu itu jadi sepenggal novel yang tidak selesai-selesai. Dan misalkan juga, disuatu sore yang sederhana, mereka duduk ditepian sungai yang mengalir kebarat, lalu angin sepoi berhembus mengalunkan kenangan tanpa defenisi. Akan adakah suatu hari nanti yang bertanya siapa nama kedua remaja yg sedang jatuh hati itu?
Aku tidak tahu, tapi setelah sekian lama dan waktupun berlalu, dikota T yg jg dilalui sungai M, ada sebuah konser Band Terkenal Swedia. Sepasang suami istri datang menonton konser itu, dan dari jauh seorang lelaki memandanginya dengan seksama, dia masih mengenal perempuan itu, semuanya masih bisa tergambar jelas baginya, sebuah sore ditepi sungai M, memandang matahari yg seakan terbenam di hilir sungai M, senyumnya yg menyatu dengan hiruk pikuk burung-burung camar, sebuah hari yg sempurna kala itu.
Lalu terdengar sebuah dari panggung, "This is the last song, 'Thats why'..."
Lalu perlahan, lagu mengalun, kembali mengantarkan suasana disuatu waktu dan entah mengapa ada suatu ingatan yang memang harus dilupakan..

Jumat, 17 Maret 2017

Discuss About Someday

Sebenarnya artikel ini ingin kubuat dalam bahasa inggris, biar agak keren lalu kukirim buat seseorang.
Tapi tidak jadilah, karena banyak alasan yang perlu dipertimbangkan dan mungkin tidak terlalu personallah.
Berbicara tentang suatu hari, mungkin kita bisa membayangkannya, entah hari itu hari kapan, "Someday" adalah suatu hari yang sangat menarik menurutku, bisa jadi itu adalah "past" ataupun "future" so, what we can doing for it?
Yeah, setiap kita tentu punya cerita masing-masing tentang  yang namanya "past", entah itu sebuah kenangan yang sentimentil, menyedihkan ataupun membanggakan, dan setiap kita pula tentu punya harapan dengan apa yang namanya " future" dan kita semua mengingan yang terbaik dalam harapan di "future" itu.
Lalu pernahkah kita mendiskusikan sesuatu dengan seseorang yang namanya "Someday" itu?
Hmm, mungkin dengan orang dekat atau siapapun itu yang kita percayai untuk berbagi? Baik itu orang dari "past" kita atau yang kita harapkan nantinya di "Future"..
Itu adalah sesuatu yang menarik diperbincangkan.
Berbicara tentang " Someday" di masalalu, tentu akan mengungkit sesuatu seseorang, kita akan tau siapa di sebenarnya, bagaimana kehidupan dan pengalamannya dan tentu kita akan lebih dalam mengenalnya sehingga akan ada pertalian yang membuat kita semakin dekat dengan dia. Tetapi satu yang perlu diperhatikan dalam berbicara masalalu, seseorang harus bersedia jadi pendengar.
Berbicara tentang "Someday in future"  kita akan tahu bagaimana sudutpandang seseorang, kita akan mengenal dia secara pandangan dan wawasan, kita akan tau apakah dia seorang pemimpi ataukah hanya seorang pecundang. Seorang pecundang akan terus menerus membanggakan keadaan masalalu dan saat ini dan cenderung tidak siap akan kejadian masa depan, pemikirannya bias dan berharap keadaan tetap seperti ini karena dia sudah bisa beradaptasi dengan keadaan saat ini, sedangkan seorang pemimpi cenderung memberikan pandangan-pandangan yang terarah terhadap masadepan, ada target dan ada yang mau dicapai dan dia bisa menjelaskan dengan detail apa yang ingin dicapainya itu. Yang mungkin harus diperhatikan jika berbicara tentang masadepan ini adalah kadang anda juga harus memberi dan meluruskan pandangannha, hanya saja mungkin jangan langsung memotong atau menyatakan bahwa keinginannya itu sesuatu yang " imposible". Karena kita tidak tau apa yang terjadi denga seseorang, biarkan dia bercerita, bermimpi dan berharap. Saya maaih ingat kutipan dari bukunya Andrea Hirata, Sang Pemimpi, "Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu".
Lalu beranikah kita untuk bermimpi tentang " Someday?"
Suatu hari dimasa lalu, saya pernah begini, begitu sehingga begini dan begitu, tapi saya tidak ingin itu terulang lagi suatu hari dimasa depan...
Suatu hari di masa depan, saya ingin jadi begini, sehingga harapannya begini, dan saya harus bisa begini untuk bisa begini.
Jadi intinya adalah :
So, we must discuss it for someday in the future..

Senin, 13 Maret 2017

Beberapa hari ini, saya rajin mendownload beberapa video, pdf dan film. Rencana sih, ditonton atau membaca kalau tidak ada kegiatan. Tapi yang jadi masalah itu, rasa ngantuk yg sangat berlebihan. Padahal sudah minum beberapa gelas kopi, sudah tidur siang dan sudah yg lainnya juga, tapi entah mengapa rasa ngantuk dan malas itu tidak terkalahkan.
Dulu, saat akhir semester pas kuliah, rasanya saya betah nonton atau membaca sampai sehari semalam. Bisa menghabiskan 5 film berturut-turut, movie marathonlah. Kalau novel, novel yg 600 halaman bisa habis sehari semalam.
Saya memang tidak terlalu suka menonton atau membaca gantung-gantung, pasti lebih senang menuntaskan bacaan atau tontonan tsb sampai beres.
Kadang saya juga menulis beberapa paragraf atau membaca satu persatu artikel di koran, bahkan sempat juga mengikuti update an artikel di wikipedia.
Sekarang, rasa malas minta ampun, sedikit-sedikit ngantuk, bangun pukul 05.30 WIB ditambah tidur siang satu jam, rasanya masih kurang, kayaknya kurang vitamin sama energilah aku ini :D

Selasa, 14 Februari 2017

Titik

Sebelum memulai sebuah cerita, ada baiknya kita menyajikan segelas kopi, memandang, lalu duduk mnghadap kearah barat, menikmati gradasi warna senja yang dibelai oleh daun-daun palem.
Ya, begitulah hidup itu, harus dinikmati. Dari titik kehidupan yang satu ketitik hidup yang lain, dan titik-titik yang berbeda dan mempunyai jarak yang sama terhadap satu titik, itulah yang akan kita sebut lingkaran.
Untaian lingkaran, yang mengantarkanmu, mengantarkan kita pada jutaan kemungkinan yang akan terbingkai dalam sebuah buku kenangan atau terurai dalam air mata jika suatu saat kita tidak lagi bersama.
Pernahkah suatu ketika kamu mencoba mengerti mengapa satu dimensi selalu dimulai dari titik?
Bayangkanlah dirimu jadi sebuah titik dalam sebuah bangun ruang, tidak berbentuk, tidak mempunyai luas dan tidak mempunyai volume, bisa berpindah, tapi tidak mempuyai energi kinetik dan potensial, peka terhadap hukum Newton tapi tidak berlaku kekekalan masaa karena memang tidak ada berat, tanpa gravitasipun aku yakin kamu akan ada.
Lalu siapa penciptamu, apakah kamu ada karena teori Bigbang atau teori-teori lain dalam fisika?
Mungkin bisa jadi kamu adalah makluk hidup yang mikroskopis, tercipta dan berevolusi seusia dengan Bumi terbentuk, lalu ceritamu akan coba dijelaskan oleh professor di kampusku dulu, teruntai dengan jutaan kali ujicoba dan ratusan triliun rupiah dana penelitian, hanya untuk mengetahui apa dan siapa penciptamu.
Misalkan juga, aku juga adalah sebuah titik, titik yang sempurna, selalu berjaan ketempat yang ada cahaya, dan kita bertemu dalam sebuah lingkaran yang bernama kehidupan, bisakah kita saling jatuh cinta untuk sebuah kemungkinan?
Kita adalah sama, sebuah titik, tanpa asal-usul, satu dimensi, tanpa luas dan tanpa volume. Tapi kita sama, ya, sama, kita bisa bergerak dan gerakan itulah yang membuat kita bertemu.
Dalam sebuah cerita, kita adalah titik dari kumpulan titik-titik lainnya, dan titik-titik itu selalu tersebar bebas, seperti taburan bintang-bintang.
Jika bebas untuk memilih, haruskah kita akan tetap jadi titik dan titik?
Seduh kopimu, nanti terlalu dingin, mungkin kita harus mengitari untaian titik-titik lain untuk mengumpulkannya agar kita bisa jadi sebuah garis lurus yang mempunyai dimensi, setidaknya kita bisa terdefenisi, agar mereka mengerti bahwa titikpun ada karena diinginkan penciptanya.

Minggu, 05 Februari 2017

Menghargai Momen

Setiap Orang Adalah Pribadi yang Istimewa

4 Agustus 2016 pertama menginjakkan kaki di Pulau Kalimantan, mengikuti training disebuah perkebunan kelapa sawit swasta. Ada yang sangat istimewa, karena disini aku mulai menyadari satu hal, setiap orang adalah orang yg istimewa.
Mungkin karena aku adalah salah satu yg paling muda diantara mereka mereka menganggapku betulan sebagai adik kandung mereka, memanggil Nggi (Anggi =Adik), ada beberapa yg adalah junior abangku saat kuliah dan yg lainnya adalah seniorku, beda fakultas saat kuliah.
Bersama mereka, rasanya istimewa, memancing ke low Land perkebunan sawit, menikmati pemandangan DumpTruck kepatak, Dozer tenggelam, tergelincir dan jatuh di CR kebun, memancing dan manggang ikan hasil pancingan di block, panen bersama dan tentu, ngutip berondolan, belajar mendodos dan mengegrek, berkunjung ke kebun tetangga, ke hutan-hutan Kalimantan untuk berburu, naik gunung yg di Keramatkan.
Dan yg agak lebih berkelas dan ilmiah, belajar E-Plantation, Nyusun RKB, buat Cash Flow, Estate Account, rapat, ngurus gudang, jalan kaki antar afdeling.
Aku mulai mengenal pribadi orang perorang, aku mendengar cerita mereka satu persatu, curhat, panik, frustasi, kecewa, kangen ingin pulang ke Medan, kesana kemari nyari sinyal untuk bis menelepon pacar dan orang tua, ngerjakan tugas dan proyek sampai tengah malam, nongkrong dan minum, main kartu, bersosialisasi dgn masyarakat sekitar, jaga sopan-santun dengan orang kampung karena takut kena Jipen, main kucing-kucingan dgn Manager Training, ngumpul dari afdeling ke Afdeling, mencari tempat yg bagus untuk poto dan lainnya.
Semua istimewa, semua saling mengenal.
Kadang aku juga berpikir, bilamana aku tidak lama di Kalimantan ini, aku ingin mempelajari tentang Budaya mereka, uniknya pola hidup mereka, cara dan penampilannya, Agama dan kepercayaannya, bagaimana kehidupan mereka, tapi sampai hari ini saat training hampir berakhir aku masih menikmati kehidupan dengan mereka semua, abang-abang dan Kakak-kakak yg istimewa.
Ada yg bilang ini adalah training yg paling istimewa dan mnyenangkan, ada juga yg berkata ini adala training paling kacau, tetapi aku tidak tau harus berkata apa, kadang aku menikmatina, kadang juga aku ingin kembali ke Rumah, menikmati suasana rumah, Apalagi yg paling istimewa selain rumah, tempat dimana ada orang-orang yg merindukanmu?

Meskipun begitu, aku tidak ingin membandingkan semuanya.
Seperti judul catatan ini setiap orang adalah istimewa, ah, aku juga teringat teman-trman saat kulia, semuanya istimewa, semuanya punya ceritanya sendiri dan mungkin aku tidak bisa menceritakannya satu persatu, yg pasti setiap orang dan setiap momen adalah sesuatu yg istimewa.
Begitu juga dgn teman2 SD, SMP, SMA, yg bahkan ada yg tidak pernah lagi jumpa, ada yg sudah entah dimana, ada yg sudah menikah dan punya anak, mereka punya keistimewaan dan momen sendiri dalam hati kita masing-masing.
Ya, setiap orang adalah pribadi yang istimewa.
Setiap momen adalah kenangan yang berharga.
Mari kita mencoba menghargainya, menghargai setiap orang dan setiap moment...
06022017

Minggu, 20 November 2016

Iseng-iseng aku login ke akun fbku yg kugukan saat masih sma dulu, rupanya sebuah inbox masuk dari teman fb lama yg kukenal lewat fb jg, soalnya saat itu iseng-iseng aku sering men-chat akun-akubn yg photo profilnya cantik, siapa tau aja kan bisa diajak kenalan :D
Rupanya yg menginboxku adalah salah satu diantara mereka yg udah sempat lumayan dekat dgnku karena dulu kami sudah seeing nelpon dan smsan, yg udah sangat hebat masa itu, hahaha.
Dari sekian banyak teman cewek yg berteman dgnku dan ku chat, hanya dia dan beberapa oranglah yg mau membalas chatku.
Kalau diamat-amati, cantik juga dia. Jurusan Ekopem, Unand, stambuk sama, 2012. Boru N, Dari Toba sana, cuma orangtuanya udah tinggal di kota M.
Dulu aku sering juga mengesemesnya saat awal masuk kuliah dulu, tapi seiiring waktu Dan kesibukan masing-masing mungkin itu yg membuat lupa.
Perihal inbox tadi, saat aku membukanya. You know what she said?
"Ri, udah tamatnya kau? Maccam gak ada lagi kehidupan di akun fbmu ini, hahaha. Aku udah di Medan ini, kapan kita jumpa?"
Tak langsung Kabalas inboxnya, kubuka profilnya, kulihat satu persatu potonya.
Astaga, ada photo memakai kebaya dgn seorang pria didepan altar Gereja yg baru diposting beberapa hari yg lalu.
Aku berfikir sejenak, seharusnya inboxnya tidak keburu kubaca, tapi karena sudah ter-read. Ya sudahlah, kubalaslah.
"Udah, udah diperantauan pun. Kamu cemmana? Dalam rangka apa ke Medan rupanya?"
"Nikah, datang ya, hari sabtu minggu depan di Wisma *******"
Lha, awak semangat dapat inbox dari dia, taunya dia cuma mau ngasih undangan nikah, padahal jumpa aja secara langsung belum pernah, hahaha :D

Rabu, 09 November 2016

Kenangan

Tadi malam, siap apel malam, saya melihat sebuah chat masuk. Dari seorang teman yang cukup dekat.
"Nal, apa kabar?"
"Sehat.."
"Masih kamu ingat akhir bulan Oktober 2014 lalu?" Balasnya sambil membuat emot :D .
Kuputar sejenak ingatanku. Ah, mana mungkin aku lupa tentang itu.
"Tentu, hahaha. Apa kabarnya sekarang?"
"Tambah cantik dia nal.."
"Baguslah, kamu jaganya dia kan?"
"Udah ada yang jaga dia kok sekarang.."
"Ya, sebenarnya aku udah tahu itu.."
"Dan kamu pasti nyesalkan? Udah taunya aku nal. Kau buatlah nanti tulisan-tulisan galaumu. Udahlah nal, udah ketebaknya kau.."
"Hahaha, ngungkit penyesalannya kau ah.."
"Jadi cemmananya rupanya nal?"
"Ya, begitulah. Yang lalu biarkan berlalu.."
"Kenapanya rupanya?"
"Begitulah, yang pasti tentang hal itu udah gagal aku!"
"Kanapa?"
"Sebenarnya pertengahan 2015 lalu pas setahun, udah kucobanya buat komunikasi, tapi gagal. Kamu tahu kan, dalam kehidupan sosial komunikasilah yang paling penting.."
"Komunikasi atau nyali nal?, hahaha."
"Apapun itu, terserah kau lah, hahaha. Udah ngantuk aku!"
"Bilang aja kau mau membuat tulisan tentang dia, udahlah nal, udah taunya aku :P .."
"Hahaha, nggak ya! , udah memandang kedepannya aku!"
"Memandang kedepan, tapi hati masih di belakang, wkwkwk!"
Aku tidak lagi membalas chatnya.
Take lama berselang, masuk lagi chatnya.
"Nal, jumpa pula aku tadi sama dia. Lagi sama penjaganya pula, tambah cantik aja dia bah. Sory ya nal, wkwkwk.."
"Ollolahh!!"

Aku merenung sejenak, kubuka draf blogku, ada beberapa catatan yang cukup sentimental memang, termasuk dua buah cerpen. Tapi ya sudahlah, itu hanyalah sekedar kenangan Dan tidak ada yang perlu disesalkan.
Hanya untuk sekedar mengingatkan pada setiap kemungkinan yang tidak dimanfaatkan, hanya untuk sekedar menghitung peluang yang sia-sia, hanya untuk memenuhi hukum Murphy Dan menguji coba Butterfly effects!
29102016

Arah Dairi Kedepannya

                                                     Arah Kabupaten Dairi Kedepannya Sebagai penduduk Kabupaten Dairi yang sedang merantau, ...