Sabtu, 21 Oktober 2017

Buat Teman

Buat Teman.

Kawan, apa kabarmu?
Banyak cerita yg kita lewatkan, tak inginkah kau kita bisa kembali mengulangnya?
Hidup tak segampang yg kita pikirkan, hidup ternyata harus sendiri-sendiri dan terkadang juga harus saling mengingatkan. Bukan sombong, tapi kadang aku bingung karena kita hampir selalu tidak punya waktu ( dalam hal ini aku kurang setuju, kitalah yg tidak bisa  membagi waktu).
Kawan, kau taukan, hidup adalah kenyataan, bukan hayalan sebagaimana kita dulu bercerita tentang masa depan, ternyata semua berlainan kawan.
Kau ingatkan, dulu bagaimana kita bercerita tentang gadis-gadis cantik teman sekelas atau juga junior kita, tentang gadis pintar yang susah minta ampun mendekatinya atau cerita-cerita kecil yg kita lupa endingnya :D
Begitulah, cerita itu selalu terkenang jika suatu saat kita mengingatnya.
Kadang kita juga bercerita hal-hal kecil bahkan tertawa menertawakan kebodohan, tentang si x gadis yg kutaksir dan diam-diam kalian juga menyukainya dan masih banyak lagi kawan, masih sangat banyak yg diingat dan juga yg terlupakan.
Kubaca catatanku satu persatu, kubayangkan mengapa dulu aku menulis itu, rupanya pemikiranku selalu dipengaruhi oleh banyak hal dan kadang tak menentu.
Kawan, seiring waktu berlalu, aku ingin bercerita padamu.
Hidup tidak sekacau yg kita bayangkan kawan, hidup itu juga tidaklah melulu pada layar datar yg menari-nari atau pekerjaan kita yg setiap hari menanti.
Hidup kita masih panjang dan banyak hal yg masih bisa kita nikmati.
Ya, kita bisa menikmati semua kawan, selama kita masih punya niat memperbaikinya.

Minggu, 15 Oktober 2017

One Moment Time

Misalkan, ditepi sungai M yg mengalirkan kenangan tentang rasa rindu sepasang remaja tempo dulu, dan kini rindu itu jadi sepenggal novel yang tidak selesai-selesai. Dan misalkan juga, disuatu sore yang sederhana, mereka duduk ditepian sungai yang mengalir kebarat, lalu angin sepoi berhembus mengalunkan kenangan tanpa defenisi. Akan adakah suatu hari nanti yang bertanya siapa nama kedua remaja yg sedang jatuh hati itu?
Aku tidak tahu, tapi setelah sekian lama dan waktupun berlalu, dikota T yg jg dilalui sungai M, ada sebuah konser Band Terkenal Swedia. Sepasang suami istri datang menonton konser itu, dan dari jauh seorang lelaki memandanginya dengan seksama, dia masih mengenal perempuan itu, semuanya masih bisa tergambar jelas baginya, sebuah sore ditepi sungai M, memandang matahari yg seakan terbenam di hilir sungai M, senyumnya yg menyatu dengan hiruk pikuk burung-burung camar, sebuah hari yg sempurna kala itu.
Lalu terdengar sebuah dari panggung, "This is the last song, 'Thats why'..."
Lalu perlahan, lagu mengalun, kembali mengantarkan suasana disuatu waktu dan entah mengapa ada suatu ingatan yang memang harus dilupakan..

Jumat, 17 Maret 2017

Discuss About Someday

Sebenarnya artikel ini ingin kubuat dalam bahasa inggris, biar agak keren lalu kukirim buat seseorang.
Tapi tidak jadilah, karena banyak alasan yang perlu dipertimbangkan dan mungkin tidak terlalu personallah.
Berbicara tentang suatu hari, mungkin kita bisa membayangkannya, entah hari itu hari kapan, "Someday" adalah suatu hari yang sangat menarik menurutku, bisa jadi itu adalah "past" ataupun "future" so, what we can doing for it?
Yeah, setiap kita tentu punya cerita masing-masing tentang  yang namanya "past", entah itu sebuah kenangan yang sentimentil, menyedihkan ataupun membanggakan, dan setiap kita pula tentu punya harapan dengan apa yang namanya " future" dan kita semua mengingan yang terbaik dalam harapan di "future" itu.
Lalu pernahkah kita mendiskusikan sesuatu dengan seseorang yang namanya "Someday" itu?
Hmm, mungkin dengan orang dekat atau siapapun itu yang kita percayai untuk berbagi? Baik itu orang dari "past" kita atau yang kita harapkan nantinya di "Future"..
Itu adalah sesuatu yang menarik diperbincangkan.
Berbicara tentang " Someday" di masalalu, tentu akan mengungkit sesuatu seseorang, kita akan tau siapa di sebenarnya, bagaimana kehidupan dan pengalamannya dan tentu kita akan lebih dalam mengenalnya sehingga akan ada pertalian yang membuat kita semakin dekat dengan dia. Tetapi satu yang perlu diperhatikan dalam berbicara masalalu, seseorang harus bersedia jadi pendengar.
Berbicara tentang "Someday in future"  kita akan tahu bagaimana sudutpandang seseorang, kita akan mengenal dia secara pandangan dan wawasan, kita akan tau apakah dia seorang pemimpi ataukah hanya seorang pecundang. Seorang pecundang akan terus menerus membanggakan keadaan masalalu dan saat ini dan cenderung tidak siap akan kejadian masa depan, pemikirannya bias dan berharap keadaan tetap seperti ini karena dia sudah bisa beradaptasi dengan keadaan saat ini, sedangkan seorang pemimpi cenderung memberikan pandangan-pandangan yang terarah terhadap masadepan, ada target dan ada yang mau dicapai dan dia bisa menjelaskan dengan detail apa yang ingin dicapainya itu. Yang mungkin harus diperhatikan jika berbicara tentang masadepan ini adalah kadang anda juga harus memberi dan meluruskan pandangannha, hanya saja mungkin jangan langsung memotong atau menyatakan bahwa keinginannya itu sesuatu yang " imposible". Karena kita tidak tau apa yang terjadi denga seseorang, biarkan dia bercerita, bermimpi dan berharap. Saya maaih ingat kutipan dari bukunya Andrea Hirata, Sang Pemimpi, "Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu".
Lalu beranikah kita untuk bermimpi tentang " Someday?"
Suatu hari dimasa lalu, saya pernah begini, begitu sehingga begini dan begitu, tapi saya tidak ingin itu terulang lagi suatu hari dimasa depan...
Suatu hari di masa depan, saya ingin jadi begini, sehingga harapannya begini, dan saya harus bisa begini untuk bisa begini.
Jadi intinya adalah :
So, we must discuss it for someday in the future..

Senin, 13 Maret 2017

Beberapa hari ini, saya rajin mendownload beberapa video, pdf dan film. Rencana sih, ditonton atau membaca kalau tidak ada kegiatan. Tapi yang jadi masalah itu, rasa ngantuk yg sangat berlebihan. Padahal sudah minum beberapa gelas kopi, sudah tidur siang dan sudah yg lainnya juga, tapi entah mengapa rasa ngantuk dan malas itu tidak terkalahkan.
Dulu, saat akhir semester pas kuliah, rasanya saya betah nonton atau membaca sampai sehari semalam. Bisa menghabiskan 5 film berturut-turut, movie marathonlah. Kalau novel, novel yg 600 halaman bisa habis sehari semalam.
Saya memang tidak terlalu suka menonton atau membaca gantung-gantung, pasti lebih senang menuntaskan bacaan atau tontonan tsb sampai beres.
Kadang saya juga menulis beberapa paragraf atau membaca satu persatu artikel di koran, bahkan sempat juga mengikuti update an artikel di wikipedia.
Sekarang, rasa malas minta ampun, sedikit-sedikit ngantuk, bangun pukul 05.30 WIB ditambah tidur siang satu jam, rasanya masih kurang, kayaknya kurang vitamin sama energilah aku ini :D

Selasa, 14 Februari 2017

Titik

Sebelum memulai sebuah cerita, ada baiknya kita menyajikan segelas kopi, memandang, lalu duduk mnghadap kearah barat, menikmati gradasi warna senja yang dibelai oleh daun-daun palem.
Ya, begitulah hidup itu, harus dinikmati. Dari titik kehidupan yang satu ketitik hidup yang lain, dan titik-titik yang berbeda dan mempunyai jarak yang sama terhadap satu titik, itulah yang akan kita sebut lingkaran.
Untaian lingkaran, yang mengantarkanmu, mengantarkan kita pada jutaan kemungkinan yang akan terbingkai dalam sebuah buku kenangan atau terurai dalam air mata jika suatu saat kita tidak lagi bersama.
Pernahkah suatu ketika kamu mencoba mengerti mengapa satu dimensi selalu dimulai dari titik?
Bayangkanlah dirimu jadi sebuah titik dalam sebuah bangun ruang, tidak berbentuk, tidak mempunyai luas dan tidak mempunyai volume, bisa berpindah, tapi tidak mempuyai energi kinetik dan potensial, peka terhadap hukum Newton tapi tidak berlaku kekekalan masaa karena memang tidak ada berat, tanpa gravitasipun aku yakin kamu akan ada.
Lalu siapa penciptamu, apakah kamu ada karena teori Bigbang atau teori-teori lain dalam fisika?
Mungkin bisa jadi kamu adalah makluk hidup yang mikroskopis, tercipta dan berevolusi seusia dengan Bumi terbentuk, lalu ceritamu akan coba dijelaskan oleh professor di kampusku dulu, teruntai dengan jutaan kali ujicoba dan ratusan triliun rupiah dana penelitian, hanya untuk mengetahui apa dan siapa penciptamu.
Misalkan juga, aku juga adalah sebuah titik, titik yang sempurna, selalu berjaan ketempat yang ada cahaya, dan kita bertemu dalam sebuah lingkaran yang bernama kehidupan, bisakah kita saling jatuh cinta untuk sebuah kemungkinan?
Kita adalah sama, sebuah titik, tanpa asal-usul, satu dimensi, tanpa luas dan tanpa volume. Tapi kita sama, ya, sama, kita bisa bergerak dan gerakan itulah yang membuat kita bertemu.
Dalam sebuah cerita, kita adalah titik dari kumpulan titik-titik lainnya, dan titik-titik itu selalu tersebar bebas, seperti taburan bintang-bintang.
Jika bebas untuk memilih, haruskah kita akan tetap jadi titik dan titik?
Seduh kopimu, nanti terlalu dingin, mungkin kita harus mengitari untaian titik-titik lain untuk mengumpulkannya agar kita bisa jadi sebuah garis lurus yang mempunyai dimensi, setidaknya kita bisa terdefenisi, agar mereka mengerti bahwa titikpun ada karena diinginkan penciptanya.

Minggu, 05 Februari 2017

Menghargai Momen

Setiap Orang Adalah Pribadi yang Istimewa

4 Agustus 2016 pertama menginjakkan kaki di Pulau Kalimantan, mengikuti training disebuah perkebunan kelapa sawit swasta. Ada yang sangat istimewa, karena disini aku mulai menyadari satu hal, setiap orang adalah orang yg istimewa.
Mungkin karena aku adalah salah satu yg paling muda diantara mereka mereka menganggapku betulan sebagai adik kandung mereka, memanggil Nggi (Anggi =Adik), ada beberapa yg adalah junior abangku saat kuliah dan yg lainnya adalah seniorku, beda fakultas saat kuliah.
Bersama mereka, rasanya istimewa, memancing ke low Land perkebunan sawit, menikmati pemandangan DumpTruck kepatak, Dozer tenggelam, tergelincir dan jatuh di CR kebun, memancing dan manggang ikan hasil pancingan di block, panen bersama dan tentu, ngutip berondolan, belajar mendodos dan mengegrek, berkunjung ke kebun tetangga, ke hutan-hutan Kalimantan untuk berburu, naik gunung yg di Keramatkan.
Dan yg agak lebih berkelas dan ilmiah, belajar E-Plantation, Nyusun RKB, buat Cash Flow, Estate Account, rapat, ngurus gudang, jalan kaki antar afdeling.
Aku mulai mengenal pribadi orang perorang, aku mendengar cerita mereka satu persatu, curhat, panik, frustasi, kecewa, kangen ingin pulang ke Medan, kesana kemari nyari sinyal untuk bis menelepon pacar dan orang tua, ngerjakan tugas dan proyek sampai tengah malam, nongkrong dan minum, main kartu, bersosialisasi dgn masyarakat sekitar, jaga sopan-santun dengan orang kampung karena takut kena Jipen, main kucing-kucingan dgn Manager Training, ngumpul dari afdeling ke Afdeling, mencari tempat yg bagus untuk poto dan lainnya.
Semua istimewa, semua saling mengenal.
Kadang aku juga berpikir, bilamana aku tidak lama di Kalimantan ini, aku ingin mempelajari tentang Budaya mereka, uniknya pola hidup mereka, cara dan penampilannya, Agama dan kepercayaannya, bagaimana kehidupan mereka, tapi sampai hari ini saat training hampir berakhir aku masih menikmati kehidupan dengan mereka semua, abang-abang dan Kakak-kakak yg istimewa.
Ada yg bilang ini adalah training yg paling istimewa dan mnyenangkan, ada juga yg berkata ini adala training paling kacau, tetapi aku tidak tau harus berkata apa, kadang aku menikmatina, kadang juga aku ingin kembali ke Rumah, menikmati suasana rumah, Apalagi yg paling istimewa selain rumah, tempat dimana ada orang-orang yg merindukanmu?

Meskipun begitu, aku tidak ingin membandingkan semuanya.
Seperti judul catatan ini setiap orang adalah istimewa, ah, aku juga teringat teman-trman saat kulia, semuanya istimewa, semuanya punya ceritanya sendiri dan mungkin aku tidak bisa menceritakannya satu persatu, yg pasti setiap orang dan setiap momen adalah sesuatu yg istimewa.
Begitu juga dgn teman2 SD, SMP, SMA, yg bahkan ada yg tidak pernah lagi jumpa, ada yg sudah entah dimana, ada yg sudah menikah dan punya anak, mereka punya keistimewaan dan momen sendiri dalam hati kita masing-masing.
Ya, setiap orang adalah pribadi yang istimewa.
Setiap momen adalah kenangan yang berharga.
Mari kita mencoba menghargainya, menghargai setiap orang dan setiap moment...
06022017

Minggu, 20 November 2016

Iseng-iseng aku login ke akun fbku yg kugukan saat masih sma dulu, rupanya sebuah inbox masuk dari teman fb lama yg kukenal lewat fb jg, soalnya saat itu iseng-iseng aku sering men-chat akun-akubn yg photo profilnya cantik, siapa tau aja kan bisa diajak kenalan :D
Rupanya yg menginboxku adalah salah satu diantara mereka yg udah sempat lumayan dekat dgnku karena dulu kami sudah seeing nelpon dan smsan, yg udah sangat hebat masa itu, hahaha.
Dari sekian banyak teman cewek yg berteman dgnku dan ku chat, hanya dia dan beberapa oranglah yg mau membalas chatku.
Kalau diamat-amati, cantik juga dia. Jurusan Ekopem, Unand, stambuk sama, 2012. Boru N, Dari Toba sana, cuma orangtuanya udah tinggal di kota M.
Dulu aku sering juga mengesemesnya saat awal masuk kuliah dulu, tapi seiiring waktu Dan kesibukan masing-masing mungkin itu yg membuat lupa.
Perihal inbox tadi, saat aku membukanya. You know what she said?
"Ri, udah tamatnya kau? Maccam gak ada lagi kehidupan di akun fbmu ini, hahaha. Aku udah di Medan ini, kapan kita jumpa?"
Tak langsung Kabalas inboxnya, kubuka profilnya, kulihat satu persatu potonya.
Astaga, ada photo memakai kebaya dgn seorang pria didepan altar Gereja yg baru diposting beberapa hari yg lalu.
Aku berfikir sejenak, seharusnya inboxnya tidak keburu kubaca, tapi karena sudah ter-read. Ya sudahlah, kubalaslah.
"Udah, udah diperantauan pun. Kamu cemmana? Dalam rangka apa ke Medan rupanya?"
"Nikah, datang ya, hari sabtu minggu depan di Wisma *******"
Lha, awak semangat dapat inbox dari dia, taunya dia cuma mau ngasih undangan nikah, padahal jumpa aja secara langsung belum pernah, hahaha :D

Rabu, 09 November 2016

Kenangan

Tadi malam, siap apel malam, saya melihat sebuah chat masuk. Dari seorang teman yang cukup dekat.
"Nal, apa kabar?"
"Sehat.."
"Masih kamu ingat akhir bulan Oktober 2014 lalu?" Balasnya sambil membuat emot :D .
Kuputar sejenak ingatanku. Ah, mana mungkin aku lupa tentang itu.
"Tentu, hahaha. Apa kabarnya sekarang?"
"Tambah cantik dia nal.."
"Baguslah, kamu jaganya dia kan?"
"Udah ada yang jaga dia kok sekarang.."
"Ya, sebenarnya aku udah tahu itu.."
"Dan kamu pasti nyesalkan? Udah taunya aku nal. Kau buatlah nanti tulisan-tulisan galaumu. Udahlah nal, udah ketebaknya kau.."
"Hahaha, ngungkit penyesalannya kau ah.."
"Jadi cemmananya rupanya nal?"
"Ya, begitulah. Yang lalu biarkan berlalu.."
"Kenapanya rupanya?"
"Begitulah, yang pasti tentang hal itu udah gagal aku!"
"Kanapa?"
"Sebenarnya pertengahan 2015 lalu pas setahun, udah kucobanya buat komunikasi, tapi gagal. Kamu tahu kan, dalam kehidupan sosial komunikasilah yang paling penting.."
"Komunikasi atau nyali nal?, hahaha."
"Apapun itu, terserah kau lah, hahaha. Udah ngantuk aku!"
"Bilang aja kau mau membuat tulisan tentang dia, udahlah nal, udah taunya aku :P .."
"Hahaha, nggak ya! , udah memandang kedepannya aku!"
"Memandang kedepan, tapi hati masih di belakang, wkwkwk!"
Aku tidak lagi membalas chatnya.
Take lama berselang, masuk lagi chatnya.
"Nal, jumpa pula aku tadi sama dia. Lagi sama penjaganya pula, tambah cantik aja dia bah. Sory ya nal, wkwkwk.."
"Ollolahh!!"

Aku merenung sejenak, kubuka draf blogku, ada beberapa catatan yang cukup sentimental memang, termasuk dua buah cerpen. Tapi ya sudahlah, itu hanyalah sekedar kenangan Dan tidak ada yang perlu disesalkan.
Hanya untuk sekedar mengingatkan pada setiap kemungkinan yang tidak dimanfaatkan, hanya untuk sekedar menghitung peluang yang sia-sia, hanya untuk memenuhi hukum Murphy Dan menguji coba Butterfly effects!
29102016

Minggu, 23 Oktober 2016

Percakapan di tepi sungai

"Katanya ada Hutan empat musim di kota ini.." katanya padaku sore itu ketika kami duduk dipinggiran sebuah sungai. Nun jauh disana, dihilir sungai perlahan-lahan matahari mulai tarbenam.
"Bukan hutan empat musim.." jawabku sambil asik memperhatikan ikan-ikan yg berenang bebas di sungai itu. "Hanya hutan dalam imajinasi seorang penulis.."
"Penulis yang tinggal entah dimana dan imajinasinya entah dimana itu bukan?"
"Ya, bisa jadi.."
"Penulis yg tidak punya nyali dan hanya berani mencintai dalam fiksi itu?"
"Mungkin..."
"Tapi aku suka penulis seperti itu.." ucapnya sambil memandang jauh kehilir sungai, seraya berpikir. Rambutnya terurai dihembus angin, bayangannya membentuk siluet sempurna.
"Suka karena terpaksa bukan?"
"Keterpaksaan yang dilakukan secara terus menerus akan jadi kebiasaan bukan?"
"Maksutnya?"
"Kalau aku memaksakan untuk terus menerus menyukai penulis itu, maka lama-kelamaan aku akan terbiasa menyukainya.."
"Oh, ya. Aku mengerti, tapi aku tidak yakin.."
"Keyakinan juga bisa dipaksa.."
"Hahaha, kamu bercanda saja. Bagaimana kita bis memaksa semua sekehendak hati kita saja?"
"Selama tidak ada yang tersakiti dalam keterpaksaan itu, kita masih bisa melakukannya.."
"Hmm.. Ya, aku mengerti. Lalu tentang penulis itu?"
"Dia punya hidupnya sendiri bukan, punya jalannya dan aku juga punya jalanku sendiri, tapi aku yakin akan ada jalan dimana kami bertemu lalu berjalan bersama menuju muara sungai ini...."
"Menuju hutan empat musim itu?"
"Tentu, dan kami mungkin akan tinggal disana.."
"Beruntungnya dia.."
"Kurasa kamulah yang lebih beruntung.."
"Kenapa?"
"Karena aku tau, kamulah penulisnya..!"
Lalu senjapun turun, diujung sungai gradasi membentuk warna jingga matahari terbenam sempurna kedalam sungai, sebuah siluet sempurna menutup senja. Haripun berlalu sesukanya.
23102016

Rabu, 15 Juni 2016

catatan SD

Teringat waktu SD kelas 4, waktu itu sekolah di SDN 030328 Bandar Huta Usang. Karena jumlah siswa yg cukup banyak, maka kelas kami di bagi jadi dua kelas, 4A dan 4B. Ruangan kelas 4A tetap di ruangan biasa, sedangkan ruangan 4B dibuat diperumahan guru yg juga berada di kompleks sekolah tsb. Ruangan itu sudah berkali2 alih fungsi, mulai pernah jadi kantin, gudang bahkan tidak di manfaatkan.
Aku kebetulan masuk kelas 4B dgn teman2 yg lain (mungkin di fb ini ada kawan yg jg sekelasku dulu). Kami mulai membantu membersihkan ruangan tsb, mengisinya dgn bangku, meja, memasang papan tulis dan lainnya. Dinding ruangan sebelah depan yg menghadap ke lapangan bagian bawahnya terbuat dari semen, atasnya terbuat dari papan yg sudah tua.Bagian belakang semuanya terbuat dari papan yg sudah cukup lapuk, begitu jg dgn lantainya yg sudah cukup banyak bolong2. Beberapa bangku yg kami gunakan saat itu masih kursi panjang.
Hari-hari belajar di kelas kami yg sempit dan hanya ada dua baris meja kebelakang serta jumlah siswa yg (kalau tdk salah) hanya 16 orang dan kebanyakan laki2 itu memang biasa saja. Hingga suatu hari masuk les muatan lokal (mulok) yg saat itu kami pelajari adalah bahasa pakpak. Aku ingat betul yg ngajar saat itu adalah pak Banurea. Mungkin karena bosan atau memang kebelet pipis satu orang teman laki2 permisi, langsung menuju kebelakang kelas untuk mengosongkan kantung kemihnya dgn menembakkan urinnya tepat kearah dinding kelas kami. Tak berselang lama kemudian dia kembali kekelas, dan setelah duduk, gantian seorang teman laki2 lain kembali permisi dan langsung jg kebelakang kelas, menembakkan urinnya jg tepat kedinding kelas, kembali kekelas dan menyusul lagi dgn teman laki2 yg lain.Pas giliran teman yg kelima, saat dia kembali ke dalam kelas dan duduk, kami melihat pak Banurea mengangkat sepatunya ke atas dan terlihat ujung celananya yg menyentuh lantai nampak basah. Sontak mata kami semua tertuju kearah air yg mengalir tenang seperti ular itu, sedangkan guru kami itu terdiam tak tau mau berkata apa..
Ah, memang waktu SD lebih enak menembakkan air kencing ke dinding belakang kelas dibanding ke wc yg tidak terurus dan baunya minta ampun itu. Kadang bukan hal aneh bagi kami saat guru sedang mengajar dan kami mendengar bunyi air kencing yg bertabrakan dgn dinding dan bisalah dijamin kalau belakang sekolah kami itu bau pesingnya minta ampun :D..

Menanti Hari Esok

Menanti Hari Esok
Dulu saat masih SD Aku satu sekolah dgn abangku yg cukup nakal saat itu. Aku masih ingat, dulu sekolah kami ada ruangan kecil yg dijadikan perpustakaan meskipun administrasi dan susunan bukunya tak jelas dan hari bukanya yg tdk menentu, kalaupun buka biasanya yg menjaganya adalah siswa yg cukup dekat dgn guru.
Abangku yg cukup nakal itu pernah menilap buku dari perpustakaan itu, bukan hanya sekali seingatku, tapi lumayan seringkali.
Kuakui, saat masih SD buku adalah sesuatu yg sangat berharga bagi kami, maklumlah sangat jarang buku bacaan saat itu. Kalau ada bacaan aku sering lupa waktu (adik2ku jg sekarang seperti itu), lupa makan dan lupa pekerjaan lainnya, tidak puas sebelum selesai dibaca semuanyadan biasanya buku yg siap dibaca akan tergeletak begitu saja.
Dulu saat pulang sekolah, dgn diam-diam agar tdk ketahuan, memeriksa tas abangku adalah hobyku berharap ada buku baru yg akan dibaca karena selain sering menilap dari perpus, abangku jg sering tukar menukar buku dgn temannya, meminjam buku temannya, semua buku, termasuk pelajaran, serial kungfu seperti Tiger Wong, Tapak Sakti, Pukulan Geledek, seri pencak silat, komik gareng petruk dan buku komik silat yg cukup tebal.. Bahkan seingatku kami jg pernah punya koleksi serial kungfu yg cukup banyak dan sekarang sudah menghilang semua.
Sebenarnya abangku jg suka membaca, karna itulah mungkin dia sering mengambil buku dari perpustakaan dan mengembalikannya diam2 jg kalau sudah siap dibaca karena biasanya buku perpus selalu ada stempelnya..
Ada satu buku yg judulnya masih terus kuingat, sebuah cerita yg sangat berkesan berbentuk novel yg penulisnya aku tidak ingat berjudul Menanti Hari Esok.
Seingatku cerita itu menggunakan sudut pandang orang pertama dari seorang anak kecil, berkisah ttg sebuah keluarga yg tinggal disebuah perkampungan dan menjalani kehidupan sehari-hari, mengalami banjir, jg ttg persahabatannya dan lain sebagainya dan ceritanya diakhiri dgn happy ending..
Yg menarik dari cerita tsb adalah tokoh utama yg selalu percaya akan hari esok, optimis dan menunggu hari esok hingga hari esok datang dgn sebuah kepastian.
Aku tidak tau, entah buku itu masih ada atau tidak sekarang diperpustakaan, tp mengingat buku itu mengingatkanku bahwa masih ada hari esok.
Buku itu, yg ditilap abangku dari perpustakaan SD, buku yg kubaca berulang2, ternyata membuatku mengulasnya saat ini.
Sepertinya aku ingin lagi menghabiskan waktu dgn membaca ulang buku itu hingga hari esok datang menemuiku..
02062016

Arah Dairi Kedepannya

                                                     Arah Kabupaten Dairi Kedepannya Sebagai penduduk Kabupaten Dairi yang sedang merantau, ...