Apa yg bisa kutulis malam ini?
Ada, banyak, sangat banyak!
Baiklah, mungkin kumulai dari pemikiranku ttg beberapa hal. Terakhir ini aku mengubah semua ambisiku, aku bahkan tidak bersemangat lagi memimpikan keinginanku yg dulu, rasanya saat ini semua hanya keterpaksaan dan basa-basi saja.
Ya, ya...
Mungkin memang benar begiti, aku bisa melihatnya sebagai rutinitas terpaksa, seperti melihat seorang gadis yg sering duduk seorang diri di koridor kampus setiap hari hanya untuk menikmati wifi gratis, hampir tiap hari dia duduk disana, hampir tiap hari jg tidak ada yg memperdulikannya.
Tapi aku bisa melihatnya, mengamatinya, hampir tidak pernah dia berbicara dgn siapapun, hampir tidak pernah dia kulihat kuliah. Kelakuannya adalah datang pagi hari, memasang earphone ditelinganya dan memandangi layar ponselnya, aku bisa prediksi bahwa mungkin dia bawa power bank dan ketika siang hari dia berpindah kesisi koridor yg lain.
Ya, aku bisa mengamatinya, orangnya tidak menarik dan aku bukan tertarik kepada orang tersebut, aku hanya menemukan keanehan yg mungkin belum ditemukan kawan-kawanku.
Tetapi jujur, itu hanyalah side story, kau tahu, sebenarnya bukan itu inti dari ceritaku, aku hanya merasa bahwa getar yg kurasakan saat bertemu seseorang yg kusuka sudah mulai menurun, entah mengapa, sepertinya aku mulai menyadari sesuatu meskipun sebenarnya aku tidak pernah mencoba untuk berhenti mendoakannya.
Ya, ya..
Kau tahukah, sebenarnya dialah S di T, Liana atau siapa pun itu yg namanya sering kubuat jadi tokoh cerita. Bahkan pernah sekali aku menulis dgn judul namanya, tetapi aku belum berani, hingga saat ini aku menyadari sesuatu : cinta yg dipendam akan luntur dgn sendirinya.
Pernah sekali aku berpikir untuk mendekati seorang gadis cerdas di kelas statistika, gadis yg IP nya tidak perlu diragukan itu, tetapi aku menyadari sesuatu : gadis cerdas dimanapun tingkahnya hampir selalu sama, lagi pula aku adalah orang yg buruk dalam manajemen kesan.
Kuakui dalam beberapa hal memang tidak terlalu susah, tetapi kadang aku tidak mengerti sampai hari ini : bagaimana aku bisa mendoakan seseorang secara terus menerus?
Rasanya itu seakan memaksa Tuhan utk memeriksa kembali apa yg sudah di tetapkanNya.
Oh ya, satu lagi.
Mungkin suatu hari nanti akan ada yg membaca blogku ini, entah itu waktu kapan, kau tahu?
Sangat banyak yg ingin kuceritakan, kadang aku tidak bisa bicara sebanyak-banyaknya sehingga aku menulis, jika kau suka, mungkin kita bisa cerita dgn cerita kita masing-masing..
Bukankah kau punya cerita juga?
20112015
Jumat, 20 November 2015
Catatan Gagal
Selasa, 17 November 2015
Setelah perjumpaanku sore itu dgn Liana, tokoh cerpen sekaligus penggemar tulisanku itu, iseng-iseng aku pura-pura mengalah kepadanya dan rupanya dia tetpengaruh dengan the power of motive ku, dia lalu mengajakku berjalan-jalan disekitar kota Wakayama dan jelas dia tampat seperti seorang guide bagiku.
Dia juga mengajakku duduk ditepian sebuah sungai yg sangat besar, ketika duduk iseng-iseng aku curi-curi pandang melihat muka manisnya itu.
Ah, seandainya dia bukan tokoh fiksi pasti aku sudah jatuh cinta setengah mati.
"Ini danau ya?" Kataku padanya mencoba membuka suara.
"Oh, jadi kau belum tahu ya, ini adalah sungai Konikawa, sungai ini mengaliri Perfektur Wakayama dan Perfektur Nara, panjangnya 136 km dgn luas permukaan secara keseluruhan sekitar 1.660 km2, mengalir dari gunung Oidagahara ke arah barat dan bermuara di Kota Wakayama ini. Kau tahu, sungai ini berpotongan dengan salah satu jembatan rel kereta api bernama JR West Wakayama Line, seperti yg pernah kau tulis, ada kereta senja yg melintas tepat di atas jembatan itu ketika matahari akan terbenam, kalau kau mau nanti kita bisa kesitu menikmati matahari yg terbenam di sungai kinokawa ini. Ya, siapa tahu kau bisa mendapat inspirasi seperti novelis Jepang Sawako Ariyoshi yg membuat salah satu judul novelnya yg sama dengan nama sungai ini, Kinokawa.."
"Kau sering kesini?" Tanyaku padanya.
"Sesering kau menulis cerita tentang kota ini.."
"Kok kau bisa tahu semuanya?"
"Wikipedia, bukankah dalam tulisanmu kau menyatakan aki adalah seorang gadis yg senang membaca wikipedia?"
"Ohh, aku lupa.."
"Oh ya, ini sudah hampir senja, sekarang musim gugur, jadi matahari lebih cepat terbenam dari biasanya.."katanya sambil menarik tanganku. Astaga, jantungku berdebar, bagaimana mungkin aku bisa menikmati sebuah pengalaman yg mendebarkan dgn tokoh fiksiku yg cantik ini?
Aku takut jatuh hati pada hayalanku..
Sumber gambar : en.wikipedia .org/kinokawariver
Minggu, 01 November 2015
Sebuah Catatan
Tiba-tiba seorang gadis datang menemuiku dengan wajah yang terlihat bingung dan penuh tanda tanya, "Anda tinggal di kota ini?" Tanyanya.
"Tidak, kota ini hanya ada dalam imajinasiku.."
"Lalu mengapa anda bisa duduk manis dipinggiran sungai ini?"
"Aku masuk lewat situs wikipedia, aku tersesat dihalaman webnya, tanpa kusadari ketika aku membuka mata didepanku sudah bersemi bunga sakura dan istana wakayama yang megah itu,, saat aku menyusuri jalanan, kulihat ada sebuah sungai dan ada taman dan bangku-bangku ditepian sungai itu, yah aku memutuskan duduk disini.."
"Oh ya, berarti anda tahu dimana letak istana wakayama?"
"Jelas tahu, istana itu ada dalam imajinasiku.."
"Oh ya? Berarti anda lelaki yang tinggal dalam imajinasi dong?"
"Belum tentu, aku juga punya kehidupan yang nyata.."
"Kalau begitu mengapa anda selalu membuat kota Wakayama itu juga seakan tidak nyata, padahal kota itu adalah sebuah perfektur di Jepang, perfektur Wakayama yang kotanya dibelah oleh sungai Konikawa, ada juga istana Wakayama yang sangat terkenal serta gunung Nagusa, anda membuat semuanya itu seperti fiktif, padahal itu benar-benar nyata.."
Aku terdiam, kututup novel yang sedang kubaca, lalu kupandang wajah gadis yang berbicara didepanku itu, nampaknya wajahnya tidak menyiratkan kebingungan lagi tetapi malah wajah menyelidik seperti seorang detektif, tetapi meski begitu wajah manisnya masih tetap terlihat dan rambutnya tergerai diterpa angin sepoi musim gugur.
"Sebenarnya anda siapa?" Tanyaku.
"Aku Liana Marita, tokoh cerpenmu sekaligus penggemar tulisanmu.."
Gubrak!!!
Aku terkejut bukan main, hampir saja bangku yang kududuki terjun bebas ke air sungai bersama denganku, tidak kusangka tokoh cerpenku itu cantik juga, aku tidak pernah membayangkannya, aku jadi takut jatuh cinta kepadanya.
Hahaha..
01112015
Tiba-tiba seorang gadis datang menemuiku dengan wajah yang terlihat bingung dan penuh tanda tanya, "Anda tinggal di kota ini?" Tanyanya.
"Tidak, kota ini hanya ada dalam imajinasiku.."
"Lalu mengapa anda bisa duduk manis dipinggiran sungai ini?"
"Aku masuk lewat situs wikipedia, aku tersesat dihalaman webnya, tanpa kusadari ketika aku membuka mata didepanku sudah bersemi bunga sakura dan istana wakayama yang megah itu,, saat aku menyusuri jalanan, kulihat ada sebuah sungai dan ada taman dan bangku-bangku ditepian sungai itu, yah aku memutuskan duduk disini.."
"Oh ya, berarti anda tahu dimana letak istana wakayama?"
"Jelas tahu, istana itu ada dalam imajinasiku.."
"Oh ya? Berarti anda lelaki yang tinggal dalam imajinasi dong?"
"Belum tentu, aku juga punya kehidupan yang nyata.."
"Kalau begitu mengapa anda selalu membuat kota Wakayama itu juga seakan tidak nyata, padahal kota itu adalah sebuah perfektur di Jepang, perfektur Wakayama yang kotanya dibelah oleh sungai Konikawa, ada juga istana Wakayama yang sangat terkenal serta gunung Nagusa, anda membuat semuanya itu seperti fiktif, padahal itu benar-benar nyata.."
Aku terdiam, kututup novel yang sedang kubaca, lalu kupandang wajah gadis yang berbicara didepanku itu, nampaknya wajahnya tidak menyiratkan kebingungan lagi tetapi malah wajah menyelidik seperti seorang detektif, tetapi meski begitu wajah manisnya masih tetap terlihat dan rambutnya tergerai diterpa angin sepoi musim gugur.
"Sebenarnya anda siapa?" Tanyaku.
"Aku Liana Marita, tokoh cerpenmu sekaligus penggemar tulisanmu.."
Gubrak!!!
Aku terkejut bukan main, hampir saja bangku yang kududuki terjun bebas ke air sungai bersama denganku, tidak kusangka tokoh cerpenku itu cantik juga, aku tidak pernah membayangkannya, aku jadi takut jatuh cinta kepadanya.
Hahaha..
01112015
"Kau menghayal?" Katanya tiba-tiba sudah tepat didepan mukaku.
"Untuk apa aku menghayal? Bukankah kau sudah hayalanku juga?"
Dia tersenyum menatap mataku, astaga tatapannya seperti tatapan yg selalu kubuat dalam tulisanku, matanya yg tajam dan penuh dengan gairah kehidupan, dia terus menatapku, ah, aku jadi grogi juga..
"Kau grogi?"
"Tidak.., aku hanya teringat tentang bacaanku.." Kataku mengangkat buku yang kubaca..
"Buku apa sebenarnya yg kau baca, boleh aku lihat?" Katanya langsung merampas dari tanganku.
"Tunggu, mungkin kita bisa membicarakan tentang buku itu bai-baik sambil duduk.."
"Sambil duduk? Bukankah kita akan terlihat seperti sedang kencan romantis, dibawah daun-daun yg berguguran, disebuah bangku ditaman tepi sungai?"
"Kalau kau mau..?" (Wess, masuk gombalanku.. :D)
"Masalahnya aku tidak mau.." Ucapnya tiba-tiba.
Busyet..
"Kenapa?"
"Nanti kau umbar-umbar tentang hal ini dalam ceritamu, kau bilang kita menikmati waktu dari hingga lampu-lampu temaram, membicarakan tenan anak-anak kita nantinya, kau kan lebay dan kadang berlebihan.."
"Terus kalau memang nanti kubuat seperti itu?"
"Aku tidak mau lagi jadi tokoh ceritamu, aku akan cari lelaki lain dan yang pasti lelaki itu penulis yg sempurna, bukan penulis abal-abal sepertimu.."
Busyet, gadis ini tadi memujiku, sekarang mengejek, hehh, lihat pembalasanku nanti.
"Jadi kau mau jadi duduk disini denganku.."
"Bisa, tapi tunggu, aku harus mengatur alarmku dulu.."
"Untuk apa, apakah ada janjimu dgn seseorang? Seingatku dalam cerpen yang kutulis kau bukan seorang gadis yg suka mengumbar janji.."
"Bukan untuk janji.."
"Lalu apa?"
"Aku ingin membuat alarm sebelum senja, aku tidak ingin menghabiskan senja bersamamu, bukankah kau orang yg berlebihan, jadi tidak akan ada senja yg romantis dan lampu-lampu temaram antara penulis dgn tokoh fiksinya, pokoknya tidak ada yg romantis, titik!!"
"Oke.."
"Ada satu lagi permintaan!"
"Apa?"
"Kalau kau menulis cerpen jgn samapai ada nama lain selain namaku, Liana Marita. Aku tahu kok, kau sedang menyukai seorang gadis, itu lho gadis yg kalau melihatnya saja kau sudah jantungan, lalu kau pura-pura membuat surat untuk S di T padahal sebenarnya itu untuk si.. Ah, siapa itu namanya, lupa aku. Kau kan pecundang.. Jadi awas ya kalau sampai kau buat namanya jadi tokoh cerpenmu.."
"Kalau kubuat?"
"Aku tidak akan mau duduk disampingmu, tidak akan mau menjadi tokoh cerpenmu, tidak mau hidup dalam tulisanmu yg galau itu..Aku akan cari lelaki lain..."
Astaga, selain sok tahu, gadis fiksi ini tukang ngambek pula..
Dia masih tetap berdiri disitu dgn wajah cemberut, angin sepoi musim gugur masih berhembus dan rambutnya masih tergerai.
Ah, dia semakin cantik saja.
"Apa kau lihat-lihat aku, nanti jatuh cinta kau samaku, jadi saingan aku sama S di T mu itu.., mana rupanya lebih cantik aku dari pada dia?"
Busyet..
"Kenapa kok diam, lebih cantik aku kan, makanya baik-baik kau samaku biar mau aku jadi tokoh ceritamu..
Dia juga mengajakku duduk ditepian sebuah sungai yg sangat besar, ketika duduk iseng-iseng aku curi-curi pandang melihat muka manisnya itu.
Ah, seandainya dia bukan tokoh fiksi pasti aku sudah jatuh cinta setengah mati.
"Ini danau ya?" Kataku padanya mencoba membuka suara.
"Oh, jadi kau belum tahu ya, ini adalah sungai Konikawa, sungai ini mengaliri Perfektur Wakayama dan Perfektur Nara, panjangnya 136 km dgn luas permukaan secara keseluruhan sekitar 1.660 km2, mengalir dari gunung Oidagahara ke arah barat dan bermuara di Kota Wakayama ini. Kau tahu, sungai ini berpotongan dengan salah satu jembatan rel kereta api bernama JR West Wakayama Line, seperti yg pernah kau tulis, ada kereta senja yg melintas tepat di atas jembatan itu ketika matahari akan terbenam, kalau kau mau nanti kita bisa kesitu menikmati matahari yg terbenam di sungai kinokawa ini. Ya, siapa tahu kau bisa mendapat inspirasi seperti novelis Jepang Sawako Ariyoshi yg membuat salah satu judul novelnya yg sama dengan nama sungai ini, Kinokawa.."
"Kau sering kesini?" Tanyaku padanya.
"Sesering kau menulis cerita tentang kota ini.."
"Kok kau bisa tahu semuanya?"
"Wikipedia, bukankah dalam tulisanmu kau menyatakan aki adalah seorang gadis yg senang membaca wikipedia?"
"Ohh, aku lupa.."
"Oh ya, ini sudah hampir senja, sekarang musim gugur, jadi matahari lebih cepat terbenam dari biasanya.."katanya sambil menarik tanganku. Astaga, jantungku berdebar, bagaimana mungkin aku bisa menikmati sebuah pengalaman yg mendebarkan dgn tokoh fiksiku yg cantik ini?
Aku takut jatuh hati pada hayalanku..
Selasa, 27 Oktober 2015
Menulis Kenangan
Catatan Karena tidak bisa tidur..
Suatu waktu aku pernah memikirkan mengapa seorang Faocault atau Baudliard memikirkan untuk menulis pemikirannya, mengapa Einstein dan Hawking bersikeras untuk Fisika teorinya, mengapa Keynes dan Fishcher harus berusaha untuk teori ekonominya?
Teringat suatu waktu Gie pernah menanyakannya, "untuk apa aku melakukan semua ini?"
Mungkin aku bukanlah seorang sosiolog yg selalu setia dgn teori-teori sosial mereka yg menurutku abstrak tetapi cenderung bisa diterima, aku juga bukanlah seorang fisikawan meskipun aku lebih bisa menerima teori relativitasnya Einstein dibanding blackholenya Hawking yg hampir tidak dinalar logikaku.
Tetapi meskipun begitu aku harus jujur padamu, aku adalah pecinta novel-novel, film dan cerpen sentimentil dan romantis, aku adalah orang yg diam-diam menulis buku harian dgn catatan galau, aku sering berbicara apa yg tidak aku tahu, aku adalah orang bodoh yg tidak tau apa-apa, takut kepada ketidak tahuanku, takut terhadap ketidakmampuan, takut dalam segala hal dan ketakutan itulah yg memang menakutiku.
Suatu waktu di bulan Oktober (dan itu jugalah yg mendorongku membuat catatan ini) aku pernah membuat resolusi untuk menjadi seorang jurnalis sekaligus detektif, terinspirasi dari komik the advantures of tintin tetapi cita-cita cenderung berubah seiring berubahnya waktu, ya, waktu yg relatif dgn teori dilatasinya itu telah berhasil mengubahku untuk bercita-cita menjadi seorang Insinyiur di bidang pertambangan, tetapi sepertinya itu hanyalah sebuah cita-cita saja.
Sejak dulu saya adalah penggemar ilmu alam sekaligus sastra, saya tidak pernah memikirkan disiplin ilmu bisnia maupun ilmu sosial, meskipun begitu saya adalah penggemar ilmu sejarah dan pengetahuan umum lainnya yg bersifat dasar, saya juga penggemar ensiklopedia, tim sepakbola Manchester United, senang lagunya Michael Learn to Rock dan sangat suka dgn topik bahasan yg cenderung lari.
Saya pura-pura banyak tau ttg segala sesuatu, nyatanya saya tidak tau apapun juga, hanya utk terlihat punya wawasan dan saya menyadari bahwa apa yg saya ketahui itu hanyalah sebuah kebodohan yg mungkin tidak termaafkan.
Saya menolak teori-teori pembenaran, menolak teori yg tidak masuk akal karena tidak terbukti secara ilmiah, tidk setuju dgn prinsip egoitas, popularitas dan rasis.
Mungkin agak sedikit sosialis dan komunis, saya adalah seorang yg menolak liberalis, menolak pasar bebas dan aliran-aliran lain yg hanya memikirkan profitabilitas tetapi mengacuhkan dampak yg ternyata sangat materil.
Pemikiranku mungkin sudah sangat lari, bahkan saya sangat sadar bahwa artikel ini hampir seluruhnya adalah curhat belaka dgn beberapa kata-kata agar terlihat ilmiah dan terhindar dari nuansa fiksi, ya, ya, semua memang hanya sandiwara, seperti aku yg sering pura-pura memegang buku tetapi ternyata tidak membacanya, seperti aku yg sering menilai orang lain tetapi hasilnya selali meleset, seperti aku yg sering merasa bermakna, tetapi hanyalah sampah, sama seperti sampah-sampah lain disekelilingku.
Lalu apa gunanya hidup jika tidak menghasilkan makna.
Apakah putih bermakna jika berada diantara putih juga?
Apakah engkau mendapat makna dari apa yg kutulis ini?
Entahlah, tetapi ini sudah jam dua pagi, rasanya ada baiknya jika aku tidur saja dan semoga engkau memperoleh makna ttg waktu, tentang untuk apa kau hidup, apa tujuan hidupmu dan makna-makna yg lainnya.
Ya, semoga saja oktober bermakna Bagimu dan bagiku!
Catatan Masa Kecil
Saat itu aku baru masuk di ñnSDN 030328 Bandar Huta Usang, aku ingat jelas guru kami saat itu adalah Ibu Lingga (kata bapakku, dulu saat SD ibu itu juga gurunya, menurut kabar yg kudengar ibu itu sudah meninggal) Ibu itu yg selalu menyebut kami dgn sebutan "anak muda" (saat itu kalau sebutan anak muda adalah tokoh protagonis yg menjadi pahlawan dalam sebuah film atau cerita).
"Bikin anak muda, a, b, c.. Ditulis berulang ya, langkah-langkah satu.."
Bukan main senangnya kalau bisa menulis huruf a satu halaman dgn langkah-langkah satu baris, lalu akan dibawa kedepan utk di nilai, dan pasti dapat nilai yg sempurna 100!
Kalau mau permisi ke WC (yg kadang tidak layak dikatakan WC karena memang tidak terawat dan airnya tidak mengalir saat itu, bak penampungan airnya juga sering kami jadikan tempat bermain) kami selalu ramai, saat satu orang permisi, yg lain akan permisi juga, sehingga kami akan berbondong-bondong, seperti gerombolan kambing, dan biasanya kami akan bebas mengencingi apa saja, pohon dibelakang kelas, bunga, bahkan dingding kelas yg terbuat dari papan itu hingga pernah suatu kali ada aliran sungai yg mengalir dan merembes melalui dinding itu.
Ada jg satu kejadian yg sangat membekas dan mungkin akan selalu saya ingat, saat itu kami berbondong-bondong saat permisi dan kawan saya yg berinisial M menjadi orang yg belakangan keluar, ketika semuanya sudah siap kencing dan akan kembali masuk kekelas, ternyata M masih baru saja kencing dan dgn buru-buru dia menyelesaikan kencingnya, menutup resleting celananya dan astaga, dia lupa memasukkan kembali anunya.
Otomatis kulupnya kena lindas resleting dgn ganasnya, kami semua terkejut mendengar teriakannya yg meronta kesakitan, ketika kami kembali, kami melihat kulupnya terpisah oleh resleting, aku bisa membayangkan betapa sakitnya itu..
Ibu Lingga dipanggil, M terus menangis karena anunya tergincit resleting, untuk dibuka kembali dgn memundurkan resleting rasanya itu adalah sebuah penyiksaan.
Untuk saja ada guru yg bijak memberikan solusi, resleting dirusak dari atas lalu ditarik pelan-pelan agar tidak terasa sakit.
Ya, yah..
Kalau mengingat itu ada sedikit rasa ngilu dan rindu, tidak terasa sudah lama kejadian itu berlalu.
Big Boss..
Dari situ sampai hari ini saya juga menggunakan nama "big bos" juga, tidak pernah menggantikan nama itu sudah beberapa tahun.
Iseng-iseng saya melihat daftar kontak ponsel adik saya yg masih SMA itu, ternyata dia juga menggunakan nama "big bos",untuk nomor bapak, sayangnya saya belum memastilan adik saya yg satu lagi apakah dia menggunakan nama kontak "big bos" untuk bapak.
Tetapi diam-diam saya mulai menyadari apa sebenarnya yg tersirat di dalam istilah "big bos" itu. Bapak adalah pimpinan yg paling utama dalam keluarga, seorang sosok yg jadi panutan. Apapun kata orang, tetapi bapak adalah tetap orang tua yg mengasihi anak-anaknya meskipun harus jujur, sudah berapakali saya menantang dia, menganggap remeh, tidak mendengarkannya, bahkan melawan dia.
Mungkin percuma aku membuat tulisan ini jika aku tidak bisa berbuat apa, tetapi aku selalu tau, tidak ada oramg tua yg menginginkan yg buruk untuk anak-anaknya.
Pernah suatu kali saya berpikir ketika ibu berkata, "suatu hari nanti jgn menjadi seorang pria seperti bapakmu...."
Kenapa?
Mungkin aku tahu sendiri jawabannya, tetapi aku tetap ingin sepertinya meskipun dalam beberapa hal yg buruk harua dihindari karena bukankah tidak ada orang yang sempurna?
Pagi ini aku menulis tentang bapak, rasanya seumur-umur belum pernah aku menulis tentang dia, ini tentang ulang tahunnya.
Tidak kusangka dia sudah tua juga, padahal kami anaknya masih ada begini-begini juga.
Aku hanya bisa berjanji padanya, suatu hari nanti kami punya waktu untuk bersama, menikmati hari-hari bersama untuk memancing ikan, membaca koran sambil menikmati kopi, mendengarkannya bicara tentang pengalamannya dulu ketika masih muda meskipun mama beberapa kali menyela, mendengar tarombo, mitos-mitos yg kadang sudah tidak masuk akalku.
Aku berjanji akan menyediakan waktuku, itu saja.
Selamat ulang tahun bapak, big bos..
Jumat, 16 Oktober 2015
Pada Sebatang Rokok
Asap yang tidak bisa berkumpul
Membuatku bergumul
Karena yang kutunggu tidak kunjung muncul
Sedangkan waktu semakin lama
Jumat, 10 Juli 2015
Sedikit kenangan dari Gunung Sinabung
Siapa bilang kenangan itu hanya tentang cinta dan pacaran?
Aku ingin bercerita kepadamu ttg sebuah pengalamanku di tahun 2013 lalu, ketika itu bencana ttg Sinabung sedang hangat-hangatnya melanda tanah Karo dan tentu kau mengingat itu bukan?
Saat itu aku masih semester tiga, dgn teman-teman yg lain kami pergi ke pengungsian Sinabung yg diberangkatkan resmi dari kampus oleh Wakil Rektor III, dana yg kami gunakan adalah hasil penggalangan dari mengamen dan kegiatan aksi dana lainnya, dan ketika melihat itu, saya baru sadar bahwa siapa sebenarnya orang yg punya hati nurani, siapa yg tidak.
Ya, tentu, sangat banyak yg bisa kupelajari, aku yg tdk pernah aksi dana dgn keringat dingin ikut meminta sumbangan, mendengar ocehan dari orang-orang yg menghina bahkan mengejek aksi tsb.
Tapi ketika sudah sampai dipengungsian, melihat pengungsi yg senyumnya cerah menyambut kami, dan anak-anak yg begitu ceria, semua itu bisa lupa.
Kami berangkat hari sabtu pagi dari kampus, terbagi menjadi lima posko utk lima tempat pengungsian dan aku berada di posko 5 dgn 10 orang lainnya, kami semua beda jurusan bahkan beda fakultas, tetapi kebersamaan utk jd relawan membuat tdk adalagi kecanggungan.
Kami menghabiskan waktu utk bersosialisasi dgn mereka, mendengar cerita dan keluhan bahkan beberapa teman mencoba utk ikut makan sirih, ya itu sebuah pendekatan yg unik menurutku.
Ketika agak sore, kami mulai ikut mempersiapkan makanan didapur umum utk pengungsi, aku masih ingat ketika itu adalah musim hujan, jd cukup susah jg utk dapat beraktivitas dgn lancar.
Teman-teman cewek ikut membantu ibu-ibu, sedangkan kami membantu pria-pria dewasa.
Oya, hampir lupa, kami berada di posko 4 sebuah desa yg bernama Selandi Baru, dan tempat pengungsian yg ditempati disitu adalah sebuah wisma, dan sebenarnya aku kasihan kpd teman-teman di posko 2, mereka berada di tempat pengungsian yg adalah gudang sayur kol, kurasa kau dapat membayangkannya.
Okelah, saya lanjutkan!
Setelah makan malam, kami kembali berbaur dgn pengungsi, dan aku lebih memilih berbaur dgn sekitar tujuh orang anak berumur kurang dari sepuluh tahunan, awalnya aku bercerita ttg beberapa hal kepada mereka sehingga merekapun terpancing jg utk menceritakan dirinya masing-masing.
Sesudah itu, aku jg mengajarkan mereka beberapa permainan yg kutahu, dan mereka dgn antusias menyambutnya.
Sesudah itu mereka semua mendapat perintah utk istirahat, sdgkan kami berkumpul utk berbincang-bincang.
Disitulah aku mendengarkan byk cerita dari seorang seniorku jurusan Akuntansi, ya, dia bercerita semuanya yg telah merubah konsep berpikirku ttg apa sebenarnya kuliah itu, bagaiman menjalaninya dan apa dampaknya jika tidak berhasil menerapkannya, dia memang tidak bercerita banyak sekali, tetapi bagiku semua itu adalah pelajaran yg sangat berarti, dia jg bercerita ttg sejarah organisasi Fakultas Ekonomi dan jg pembekuan BEM FE pada masa itu, aku jg ingat pesan yg disampaikannya padaku dan harapan yg membuatku terbeban hingga kini karena belum bisa secara total kupenuhi.
Ya, begitulah, esok paginya sekitar pukul setengah lima kami sudah dibanguni utk mempersiapkan sarapan bagi para pengungsi, kami jg membersihkan piring dan kegiatan-kegiatan lain, setelah itu kami jg membuat beberapa acara dgn mereka hingga sore hari, disitulah banyak moment dan salah satu moment itu sebenarnya ingin kujadikan cerita suatu saat nanti.
Sorenya aku masih ingat beberapa orang anak yg menangis saat kami akan pulang kembali ke Medan, kepala desa yg berkata bahw sebenarnya mahasiawa Nommensen itu ternyata bukanlah seperti mahasiswa yg selama ini ada dalam persepsi mereka, aku tersenyum senang mendengarnya.
Sebenarnya, aku berjanji dalam hatiku, suatu saat nanti aku ingin kembali, tetapi bukan sebagai relawan yg ingin membantu pengungsi, tetapi sebagai seorang yg akan lebih memberi arti ttg makna hidup ini.
Dan aku tergerak utk mencatat ini ketika membaca bahwa sampai hari ini ternyata masih ada yg mengungsi, ya, apa boleh dikatakan lagi?
Sekarang, aku hanya bisa bantu dgn doa..
Bersabarlah, suatu saat pasti ada waktunya..
Selasa, 30 Juni 2015
Untuk S di T
Apa kabarmu?
Ini sudah awal Juli dan tentu kau tau mengapa aku mengirimimu surat, kuharap begitu.
Ya, beberapa hari yang lalu alu berulang tahun dan semua seperti biasa, seperti ulang tahun-ulang tahun yang sebelumnya.
Hanya saja, oh ya, ada satu yg aku lupa, bukankah kau belum mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku?
Tetapi tidak apa-apalah. Yang ingin kuceritakan padamu sebenarnya cukup banyak, hanya saja sepertinya kau kurang bersedia untuk membacanya karena kau akan ujian semester bukan, jadi, yah, aku hanya beharap kau baik-baik saja saat ini dan kalau tentang ceritaku, bukankah masih ada waktu suatu saat nanti untuk kita bisa duduk bersama dan bercerita banyak tentang semuanya?
Dan tentu, aku juga ingin mendengar ceritamu, seperti dulu saat engkau dengan ceria menceritakannya dan kuharap kau masih begitu, masih seperti biasa meskipun sepertinya kau memang sudah bertambah dewasa selama kita tidak bertegur sapa. Oh ya, sampaikan salamku kepada kekasihmu, katakan juga aku mengirimkanmu surat, entah surat yang keberapa agar dia tidak cemburu.
Dan kalau bisa, aku ingin mengirimimu surat secepatnya, karena aku memang selalu banyak cerita yang ingin kusampaikan padamu.
Medan, 1 Juli 2015
Minggu, 24 Mei 2015
Four Seasons In One Day
Four Seasons in One Day ( Sebuah fiksi mini galau dari Judul Lagu yg sama)
Liana menatap blognya yg tidak kunjung dipostingya itu, berkali-kali dia mengedit drafnya, berkali-kali juga dia menyesali kata yg ditulisnya, bagaimana bisa dia memposting itu jika dia sendiri tidak menyukai tulisannya, apa kata perasaannya yg melankolis itu, apa kata temannya yg biasanya selalu mengomentari setiap postingan blognya, apa kata si anu, si anu dan si anu?
Dapatkah dia berkata dengan gampang, "Ah, kau tidak tau betapa sentimentilnya sebuah perasaan." Atau "Sudahlah, ini hanya sebuah pengalaman.."
Lalu mereka mungkin akan menjawab,"Tulisanmu seperti sebuah sinopsis novel saja, serba cepat dan tidak ada detailnya.."
Liana berpikir, jika mereka berkata begitu mungkin dia akan menjawab begini, "Namanya juga tulisan..", Liana tersenyum membayangkannya, memanglah, selalu ada alasan yang tepat untuk menghindar sebab namanya juga alasan, pasti bisa dikarang-karang.
"Ya, tetapi tulisan cenderung mencerminkan cara berpikir penulisnya, pengalaman penulisnya.."
Liana terdiam membayangkannya. Apakah temannya sebenarnya sudah tau perihal itu, tentang dia yg sedang menunggu, tentang dia yg ditunggu, tentang dia yg sedang jatuh cinta dan sekaligus patah hati.
Yang menunggunya telah membuatnya jatuh cinta, tetapi yg ditunggunya membuatnya patah hati.
Sudahlah, cinta itu memang sangat abstrak!
Bagaimana mungkin cinta bisa menguasai hatinya yg dingin terhadap seorang pria tiba-tiba mencair seperti musim semi yg tiba sebelum musimnya dan bagaimana pula jika musim semi tiba-tiba menjadi musim gugur dan kembali dingin?
Dalam sehari, dalam duapuluh empat jam, dia berangsur menikmati musim semi, musim panas, musim gugur dan musim salju.
Tidak, dia tidak bisa menerima semua ini, tidak ada patah hati dan jatuh cinta yg bisa datang bersamaan dan tidak ada akan ada cerita tentang hal itu.
Dengan berat Liana memposting blognya, dengan berat hati juga dia mengakhiri hidupnya sebelum malam berganti, sebelum musim berganti jadi lima.
Arah Dairi Kedepannya
Arah Kabupaten Dairi Kedepannya Sebagai penduduk Kabupaten Dairi yang sedang merantau, ...
-
Tirai kenangan (saat senja beranjak meninggalkan luka) ...
-
Kita pernah melalui ini,jalan setapak yang dengan angin sepoi dan kau selalu bertanya saat kita melalui jalan yang sama. “Mengapa kita t...