Minggu, 22 April 2018

Time will show you how much ...

Diantara sekian defenisi yg kusukai saat membaca sebuah buku adalah tentang waktu dan kesempatan.
Aku menyukai mereka yg menjabarkan waktu dengan detail, mereka yg medefinisikan waktu dan tentu mereka yg membuat waktu itu berarti.
Penggambaran tentang waktu memang tidak sederhana, banyak pertanyaan apa dan mengapa disana, meskipun kdng dimensinya adalah Satu, tapi waktu adlah sesuatu yang Pasti dan tetap, tidak pernah bisa dimanipulasi.

Kamis, 19 April 2018

Tentang Gadis Fiksi

Tentang Gadis Fiksi itu

Aku menemukan dia, di halaman pertama Novel kesukaanku, seorang Gadis Manis yang cerdas, senang membaca dan saat tersenyum sebuah lesung pipi terbentuk diwajahnya.
Dari sekian Gadis yang kukenal, dia adalah orang dengan tatapan penuh semangat, berambisi meskipun kadng melankolis dengan teori-teori dari buku yang dibacanya. Kami bisa saja berdebat dengan hebat tentang apa saja, bahkan tentang latar cerpenku di Heaton Park,  Wakayama atau Kota M yg sangat abstrak. Juga jalan ceritaku yg katanya sentimental dan lebay, meskipun kadang sedikit romantis.
Kadang aku merasa bahwa benar, dia Ada dalam fiksi dan argumennya adalah imajinasiku.
Seperti misalnya disuatu sore, disuatu taman pinggiran Sungai M, aku akan menemui seorang Gadis, datang tepat waktu dan mengamati sekeliling, perlahan senja mulai turun nun jauh, dimuara Sungai M dan cahaya mulai terpendar membentuk gradasi sehingga semua yang membelakangi matahari membentuk siluet. Perlahan sebuah bayangan sempurna bergerak mendekatiku, duduk dan berkata, "Sudah lama?"
"Masih baru saja.."
Dan andai waktu juga adalah fiksi, mungkin aku akan memainkan alur mundur untuk mengulang sebuah moment.
"Kamu menunggu bukan?" Tanyanya tanpa basa basi, dan aku tahu, hanya Gadis cerdaslah yang tidak mau berbasa-basi.
"Ya, menunggumu untuk menghitung kemungkinan.."
"Hahaha, defenisi yang abstrak, kamu hanya akan merangkai cerita dari semua waktu yang kami habiskan untuk menunggu, bukan cerita aneh saat seorang penulis jatuh hati kepada aeorng Gadis cantik dan cerdas, lalu menulis surat dan cerpen untuknya, hingga suatu hari nanti Gadis itu menemukan kekasihnya dan menikah. Cerita Basi Dan klasik.."
"Kamu tahu, lalu mengapa kamu bertanya?"
"Karena aku ada dalam imajinasimu, aku fiksi yang berkali-kali kau ganti nama dengan sesuka hati berdasarkan defenisimu sendiri, kadang aku kau beri nama Liana, S di T, juga nama seorang Gadis yang dulu sempat kau sukai. Jadi aku pasti tau semua Karena aku Ada dalam ceritamu.."
"Ah, sok tahu.."
"Bukan sok tahu, tapi memang tahu, karena dalam ceritamu kau membuatku jadi seorang Gadis yang cerdas, menyuki sastra, filsafat dan tentu senang membaca Wikipedia.."
"Ya, aku Tau itu, tetapi sebagai tokoh fiksi bukaknkah kamu tidak berhak untuk mencampuri urusan pribadi penulismu?"
"Urusan pribadi? Urusan pribadi atau urusan sentimental yang seringkali adalah luapan perasaan karena galau?"
"Ah, terserahlah, tapi kamu tau mengapa aku mengajakmu kesini setelah sekian lama aku tidak menulis?"
"Ya, paling tidak kamu sedang galau lagi.."
"Hahaha, kamu memang tahu apa yang kupikirkan.."
"Lalu?"
"Aku ingin latar yang sederhana untuk sebuah cerita, aku ingin menyelesaikan sebuah cerita setelah sekian lama tidak menulis.."
"Menulis tentang patah hati lagi? Tentang Gadis yang kepadanya kau tidak berani mengutarakan isi hatimu lalu cerpenmu jadi cerpen galau dengan ending yang kacau balau?"
" Tentu bukan, aku ingin ending yang keren dengan latar  Jalan Komano Kodo yang dibingkai dengan sekelumit kenangan.."
" Baru dapat Dari Wikipedia ya latarnya itu?"
"Ya, sebuah jalan tua di Wakayama yang Masuk situs warisan Budaya UNESCO.."
"Sebagus apasih?"
"Kamu ingin Tau?"
"Tentu.."
"Kau mau menemaniku?"
Dan tanpa menjawab kami menelusuri laman web wikipedia, meskipun tidak Ada hujan gerimis, musim semi, salju, angin sepoi-sepoi, atau daun-daun yang berguguran, aku tahu semuanya ternyata hanya fiksi.
Dan sore itu, di Wakayama, aku semakin yakin, bahwa fiksi itu ternyata Indah juga 😀

Senin, 09 April 2018

Ketika Cerita Bukan Hanya Soal Cinta : Aku juga Pernah Sok Idealis

Dari sekian banyak catatanku, kabanyakan bercerita tentang jatuh Dan patah hati, rasanya hampir tidak Ada istimewanya dibandingkan dengan remaja belasan yang jatuh cinta Dan patah hati.
Dari sepersekian catatanku, Ada juga catatan 'sok' idealis yang pernah kutulis.
Mencoba mengerti Dan memahami politik, kehidupn masyarakat, sosiolog-antropologis bahkan dunia sastra coba kutekuni.
Aku meminjam banyak buku-buku sejarah Dan sastra Dari perpustakaan kampus, juga mendata Serta mencari buku tentang pergerakan sosial, pergerakan mahasiswa juga buku-buku lain agar nampak seperti seorang aktivis dengan pemikiran yang revolusioner. Tetapi diakhir, aku hanya membaca Satu Dari seratus buku yang kupinjam.
Aku lebih banyak tertarik ke buku-buku romantis dengan cerita drama yang sentimental. Tidak lebih dan tidak kurang 😎.
Dilain waktu, saya pernah juga mencoba menjadi seorang yang menyukai filsafat, mencoba membaca Dan memahami buku-buku filsafat tebal, filsafat Eropa abad pertengahan, filsafat barat, filsafat Posmo dan buku-buku lainnya saya pinjam dari perpustakaan kampus (Jika ingin membuktikan anda bisa mengecek di perpustakaan kampus, aku yakin NPM-ku masih tercantum disana, Karena Dari sekian buku filsafat yg kupinjam, daftar peminjamnya paling banyak Dua sampai tiga orang saja). Tapi diakhir buku-buku filsafat itu berakhir tragis juga, Tak Ada yg habis kubaca semua.
Lalu, lain waktu, say pernah dengan tekun membaca Koran Dan mengikuti perkembangan opini-opini disana, menarik juga kadang cara pandang mereka, hanya kadang saya berpikir sebagus apapun opini itu lebih sering hanya berakhir sebagai opini yg sejenak melintas dimedia Massa yg jika media itu expired maka opini itupun akan jadi expired, jadi rasanya sia-sia, padahal yg menulis itu seringkali adalah professor atau paling tidak orang yg kompeten dibidangnya.
Diantara semua itu, beberapa hal yg masih sering kutekuni, membaca cerita sentimental 😅
Aku sadar, kadang idealis saja tidaklah cukup.
Tetapi meskipun begitu, aku sering berharap disuatu waktu aku bisa menghabiskan waktu berdiskusi dengan seorang Gadis dengan pemikiran terbuka, mulai Dari Hal yg sentimental, idealis, revolusioner,  bahkan sampai dengan Hal konyol, romantis dibarengi dengan sastra sejarah Dan Budaya.
Menikmati Hari itu dengan secangkir kopi dipinggir danau atau dibawah pohon dihalaman sebuah kampus.
Aku yakin itu suatu Hal yg menyenangkan untuk dilakukan.
Aku sadar, semuanya kompleks, tapi diatas semua kompleksitas itu Ada sebuah pola, yang membentuk keindhan sekuntum teratai.
Dan teratai itu akan mekar, terbuka, seperti pemikiran seorang Gadis yg kuajak bicara tempo Hari.
09042018

Minggu, 08 April 2018

Sebuah Jurnal : Pasti

Sebuah Jurnal : Pasti

Ada keraguan besar yang membuat Kita berpikir banyak untuk membuat sebuah keputusan.
Kemungkinan-kemungkinan Dan efek domino Dari keputusan itu. Baguslah kalau efeknya adalah positif, bagaimana kalau negatif?
Kita bisa saja tidak diterima dilingkungan sosial Kita,  tidak disukai rekan Kita, atau kemungkinan-kemungkinan buruk lainnya.
Banyak yang berfikir, mungkin semuanya hanyalah sejenak saja dan menikmati dengan apa adanya, berjalan lurus seiring waktu. Tidak berusaha apa-apa Dan nyaman dengan keadaan saat ini. Banyak juga yg memberontak dengan kenyataan Dan melakukan kreativitas yg menabjubkan. Tapi diakhir hasil yg mereka peroleh dengan usah yg berbeda tetap sama. Bahkan banyak yg melakukan usaha praktis dengan hasil yg lebih.
Bagaimana bisa?
Anggap saja semuanya itu hanyalah penyimpangan semu.
Usaha tidak akan pernah menghianati hasil.
Seorang yg terus berjalan lurus kedepan tentu akan sampai dibanding mereka yg berhenti atau bahkan tidak melangkah sedikitpun.
Harapan itu adalah sesuatu yg Pasti.
Kita istimewa Karena Kita punya harapan.
Tetap berjalan kedepan Dan memndang kemungkinan-kemungkinan dengan Pasti.
Meskipun kadang Ada rasa sesal dn kecewa, rasa lelah dan iri dan rasa apapun itu akan tetap bisa jadi motivasi.
Seorang pejalan Pasti Tau kemana arah yang ditujunya Dan apa tujunnya meskipun kadng tidak Tau berapa jauh jarak yg harus ditempuh untuk tujuannya itu.
Seorang pejalan adalah seorang tukang Jurnal yang mencatatkan hidupnya dalam untuk kebadian.
Seorang pejalan adalah masing-masing Dari Kita sendiri yang belajar Dari pengalaman Dan jalan-jalan yang Kita tempuh.
Setial orang adalah pejalan dengan tujuan yg Pasti.

Minggu, 01 April 2018

Sebuah Jurnal

Sebuah Jurnal : Menuju Rumah

Ada beberapa catatan yang belum sempat saya selesaikan, tetapi meskipun begitu coba untuk tetap berjalan dalam alur dengan sebuah tujuan.
Ragu adalah sebuah untaian yang selalu membentuk harapan.
Diantara sekian kemungkinan, perjalanan Menuju Rumah adalah impian, untuk sebuah senyum hangat Dan pelukan, secangkir kopi Dan jutaan candaan.
Rindu yang akan berpaut pada tiang-tiang kayu tempat menggantung kenangan Dan senja yang mewarnai Masa kecil.
andai mungkin kembali pada Jalan itu lagi, Menuju Rumah adalah kemungkinan paling damai.
Meskipun terkadang lupa arah, tetapi rindu adalah kompas yang menuntun Menuju Rumah untuk sebuah pelukan hangat.
Banyak perjalanan Dan pengalaman yang akan membuatmu berjalan berat Menuju Rumah, tetapi rindu kadang akan mengalahkannya dan menjadikannya sebuah cerita sempurna.
Tetaplah berjalan berjalan maju Menuju Rumah.
Karena dirumahlah semua bermula untuk sebuah cerita dalam suatu Masa.

Jumat, 16 Maret 2018

Mereka dan Pandangan Satu Sisi

Mereka dan Pandangan dari Satu Sisi

Saya membaca sekilas tentang share-share dan pandangan politik akhir-akhir ini.
Tidak tertarik untuk menanggapi meskipun beberapa opini saya sempatkan untuk membaca dan memahami. Kebanyakan opini sekarang memandang tidak objektif terhadap persoalan yang ada didepannya, menekan kuat dari satu sisi dan lemah disisi lainnya. Bereaksi keras jika merasa dipojokkon atau sedang merasa diatas angin, merasa benar dari sudut pandangnya sendiri.
Sebut saja, nun jauh disana, di Kabupaten asalku, Dairi, saya lihat ada beberapa teman sòsmed yang rajin menshare tentang salah satu calon dan menjelek-jelekkan calon yang lain, seakan-akan tidak ada lagi hal positif yang dimiliki calon tersebut.
Atau sebut jugalah organisasi Mawar Melati yang selalu over reaktif jika ada sedikit gesekan dengan organisasinya, selalu merasa benar dari sudut pandangnya.
Hal lainnya terlihat juga dari keadaan yang sepertinya melebih-lebihkan dalam hal penyampaian, media sepertinya sangat berlebihan ketika meyampaikan sesuatu hal hanya untuk menggaet viewer yang lebih banyak.
Dilain pihak, netizen dunia massa merespon lebih agresif lagi, menshare tanpa memproses informasi.
Merasa apa yang dibaca dan ditemukannya sudah 100% benar tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu.
Ah, tapi apalah boleh dikata.
Sebenarnya aku tidak mau sibuk mengurusi semua itu apalagi hanya dengan sebuah postingan opini di Medsos, sepertinya masih lebih enak mendengarkan musik melow sambil membaca Novel terjemahan, atau minum anggur merah sambil bercengkerama dengan kawan-kawan, menikmati sore dengan segelas kopi atau menyelesaikan kerjaan sambil dengan radio.
Ya, semuanya bisa dilakukan dengan baik tanpa memperdulikan apa yang sedang terjadi dijagat maya itu.
Meskipun begitu, kadang aku berpikir sampai dimana pandangan satu sisi itu tetap bertahan?
Karena aku tau sendiri itu tidak enak, butuh sesuatu dari sisi lain untuk melengkapi 😅
Nah, mungkin jadilah bijak dengan apa yang ada sambil ingat mencari seseorang untuk melengkapi disisimu 😎

Minggu, 11 Maret 2018

Waktu, Kita dan Jalan

Beri warna pada goresan hitam putih yang kita miliki untuk merangkai alur cerita yang membentang dalam irama waktu.
Catatan-catatan yang terbuang dan impian yang terpendam, jalan-jalan masih banyak persimpangan dan bunga-bunga belum mekar.
Kita masih asik, disebuah jembatan untuk mengukur sebuah kenangan, sedang riak-riak ombak adalah salam yang menyuruh kita segera beranjak keseberang.
Tatap mata yang sayu, beradu pada pada cahaya mentari sore yang enggan dan malu-malu, burung-burung camar yang rindu pada tepian-tepian danau.
Kata-kataku masih terangkai seperti dulu, seperti aliran-aliran pancuran yang bersatu mencapai dinding-dinding kenangan berlumut, suaranya merdu disambutlambaian merdu daun-daun bambu, dan tentang semua itu, sampai dimana aku akan berlutut didepan waktu?
Perjalan datang dan pergi, kita tersenyum tapi tidak mengerti.
Waktu membuai, membawa kita kejarak yang semakin jauh lagi
Surat-suratku terbengkalai dan rindupun memuai
Mencoba mengerti, pada tetes embun dideunan pagi hari
Dan salam-salam pada angin yang berhembus lalu pergi
Perahu kertas itu lagi yang terpernah sampai

Hai,
Sampai dimana kita bisa membingkai waktu yang berbeda ini,
Cerita-cerita tanpa makna, seperti tempo hari dalam sebuah museum waktu dengan para pencuri kisah yang mengitarinya
Kau adalah sebuah kata, yang tersusun rapi dengan penggalan sempurna, dan kita punya cerita yang sama dalam susunan peluang.
Aku tak mencatatmu menjadi sebuah cerita, tetapi ingin menguraikanmu menjadi untaian waktu disuatu masa, sebuah defenisi yang nyata diujung jalan kita.
Sampai dimana?
Sampai disuatu waktu, disebuah museum ujung jalan dan waktu berhenti.
Sebuah cerita dimulai dengan alur mundur dan perlahan waktu mulai mengikuti.
Sebuah Imajinasi yang kita coba mencari arti
Karena itulah sebenarnya tujuan akhir hidup ini
Memahami dan untuk menjadi.

Rabu, 21 Februari 2018

Kita, Cinta dan Peluang yang Kita Coba Hitung

Kita, Cinta dan Peluang yang Kita Coba Hitung

Ada hal yang membuat saya mencoba memahami untuk tidak bergantung lagi kepada yang namanya fiksi. Kita ternyata adalah manusia yang hidup dalam sebuah Fenomena yang sebenarnya 'tidak' acak, lahir sebagai bayi dan hidup dalam siklus perkembangan manusia seperti yang kita pelajari saat sekolah Dasar. Siklusnya sederhana dan pasti terjadi kepada siapapun orangnya, itulah kita.
Dalam menjalani siklus itulah sebenarnya kita mengalami Fenomena yang acak, setiap dari kita menjalani dengan versinya masing-masing, dengan pengalaman dan caranya.
Salah satu yang paling menarik dalam fenomena acak itu adalah Cinta. Sebuah perasaan yang tampaknya ilmiah, bisa terukur, berkembang atau bahkan bisa menyusut dari waktu kewaktu. Polanya bisa ditebak dan kejadiannyapun bisa berulang, kepada objek yang sama maupun Objek yang berbeda.
Sebuah kejadian yang bisa kita jadikan sample adalah saat saya jatuh cinta pada si A, maka pola dan tingkah acak saya bisa dianalisis untuk hal tersebut, seberapa besar perubahan saya dan perbuatan saya yang mencerminkan kemungkinan tersebut.
Satu hal yang sebenarnya berlaku mutlak adalah bahwa setiap objek dalam peluang itu mempunyai kehendak bebas, yang artinya apapun kemungkinan yang terjadi pasti bebas dan peluang yang terjadi itupun bebas.
Tetapi ada yang namanya frekuensi harapan.

Misalkan, saat saya menyukai seseorang, saya ingin mengetahui seberapa mungkinkah dia juga menyukai saya, saya bisa mempelajarinya dari seberapa sering dia menanggapi Chatingan, surat atau apapun tentang saya, dalam hal ini, saya tidak boleh abai dengan yang namanya kehendak bebas dia untuk membalas menyukai atau mengabaikan saya, saya juga tidak boleh abai terhadap kejadian lain yang mempengaruhi dia sebagai Objek, karena mungkin saja ada yang menarik baginya, mantannya, pilihan orang tua, karir, atau apapun itu. Semuanya itu tentu akan mempengaruhi.
Tetapi, jika kita lihat teori peluang, maka teori frekuensi harapan berlaku untuk hal ini, dimana jika kejadian yang sama dilakukan berulang-ulang dengan frekuensi yang tinggi, akan ada titik jenuhnya juga, dan mungkin peluang yang saya miliki juga bertambah, entah itu bertambah bagus ataupun bertambah buruk, akupun tidak tau 😅
Tapi aku masih berharap peluang itu...

21022018

Rabu, 14 Februari 2018

Cara Terbaik untuk Lupa

Dari sekian pertanyaan yang diajukan padaku, beberapa membuatku bingung.
"Nal, apa cara terbaik untuk lupa?"
Aku merenung dan diam sejenak merenungkan pertanyaan yang diberikannya, benarkah dia ingin melupakan sesuatu?
Aku ingat juga, pernah suatu waktu saya sangat ingin melupakan suatu hal, tidak ingin mengingat hal sekecil apapun tentang itu.
Apa saja?
Kesalahan Fatal yang tidak bisa diperbaiki, moment yang tidak kumanfaatkan dengan baik dan kejadian-kejadian lain yang semuanya tidak lagi ingin kuingat, tapi kadang melintas begitu saja.
Aku memang tidak menanyakan kepada kawan tersebut mengapa dia menanyakan cara terbaik untuk melupakan, karena diam-diam aku juga sedang mencoba melupakan seseorang 😢
Hehehe, jadi sedikit sentimentil.
Jadi aku mencoba dulu caranya dengan menerapkannya pada diriku sendiri, menghapus nomor dan semua perteman disosmed dan menahan diri untuk tidak mengeceknya.
Menghubungi kawan-kawan dan mencoba lebih dekat dengan seseorang, meningkatkan komunikasi yang intens dengan seseorang yang baru.
Tapi kadang semuanya amburadul ketika dia menyapa lagi, benteng yang dibangun itu luluh begitu saja, hahaha
Jadi?
Ya, intinya semua harus berjalan datar.
Cobalah untuk menata hidup untuk lebih teratur, meningkatkan intensitas kesibukan, belajar hal-hal baru, membaca, menonton film, hang out dengan kawan-kawan dan mencoba membuka komunikasi dengan orang orang baru.
Lho, emang bisa Nal??
Ya bisalah
Kadang kita tidak bisa lupa dari suatu hal atau dari seseorang adalah karena kita sedang terfokus kepada hal tersebut sehingga banyak hal yang terblur.
Cobalah habiskan waktumu dengan hal-hal positif, membaca, belajar menulis atau apapun itu yang menyita banyak waktu dan pikiran, yakinlah secara perlahan kau akan paham manfaat yang kukatakan ini.
Lalu perlahan-lahan dan pasti dekatilah seseorang lagi yang bisa  membuatmu jatuh hati 😎
Hehehe

Jumat, 09 Februari 2018

Sepasang Teori

Sepasang Teori

Dari semua kemungkinan yang kita punya, antara sajak hingga peluang-peluang yang pernah tercipta, kita memperoleh defenisi bahwa memang sebenarnya kita berbeda.
Sebuah pagi yang sederhana dipinggiran Danau Toba, kita duduk berdua mengulas tentang satu masa yang kini hanya jadi cerita, kita banyak mengumbar percakapan hampa bahkan sampai pada retorika, atau juga suatu ketika, dalam untaian nada Musik Klasik disuatu Taman Budaya di Kota kita, kita berdebat sampai suara kita tidak lagi bermakna.
Dari sekian kemungkinan-kemunkinan itu dapatkah aku mendefenisikan bahwa kini semua berbeda?
Kita pernah bersama, dalam sebuah teori yang dibuat oleh penulis cerita, menjadi sepasang kekasih dalam alur yang mengalir romantis.
Kita pernah menjalani kehidupan biasa, jadi sepasang remaja yang malu-malu saat berjumpa mata, mengirim surat cinta yang dititip melalui teman sebaya atau merindukan waktu untuk berjumpa ketika pulang sekolah untuk bisa bersama.
Dalam defenisi remaja, kita sempurna, sepasang kekasih yang melengkapi Matematika dan Fisika sampai akhirnga aku menyimpang pada sebuah teori yang berbeda dan bergelut dengan kata-kata.
Jika seandainya waktu itu kau tidak berkata semua ada polanya, mungkin aku tidak akan memilih untuk membuat alur yang rancu hingga percakapan tanpa makna antara kita ditepi danau yang selalu buatku galau.
Kita lalu bertumbuh jadi dewasa dengan pemikiran kita masing-masing, dengan latar hidup dan cerita yang tercipta antara kita selalu berbeda.
Sering aku berharap, ada jalan searah untuk bisa bersama melangkah.
Tapi kau terperangkap dalam teorema-teorema yang membentuk sebuah pola dalam angka, sedangkan aku terperangkap dalam kata, sebuah pejara sastra yang tidak menghendaki arti sebuah kemungkinan.
Ya, dari situlah aku paham kita berbeda.
Hingga suatu waktu, kita bertemu dalam sebuah cerita yang kususun dalam catatanku. Berlatar kota M dengan stasiun tua.
Aku tau, kau akan menghitung seberapa besar kemungkinan cerita ini terjadi, tapi aku tidak perduli, karena dengan imajinasi, apapun bisa terjadi.
Kita terperangkap hujan sambil menunggu kereta terakhir menuju kota S dan perlahan kau menyapa,
"Menunggu juga?"
"Ya.." Jawabku.
"Ke Kota yang sama?"
"Ya.."
"Dan kita ada dalam sebuah cerita?"
"Ya.."
Kau mulai gelisah kala itu, menyadari bahwa eksiatensi kita dalam sebuah cerita disebuah stasiun kereta tua.
Sedangkan aku tersenyum, karena berpikir bahwa bisa mengalahkan kebenaran angka.
Perlahan, jam berdentang distasiun ifu dan kau mulai gelisah menatap jam tanganmu. Aku paham, kau ingin sekali mengakhiri  jalan cerita ini.
"Biasanya kalau kereta datang selama ini, ada dua kemungkinan.." katamu perlahan tanpa menatapku.
"Apa?"
"Tidak ada penumpang menuju kota S atau sedang rusak.."
"Lalu?"
"Kita pulang dan alur ceritamu selesai.."
Dan benar saja, jam kembali berdentang dan kereta tidak juga sampai hingga kita terpisah dan menuntun jalan masing masing.
Dan berikutnya adalah tentang berapa besar kemungkinan kiga bisa bertemu lagi?
Aku tidak bisa mendefenisikannya karena memang kata yang kita tulis dan ucapkan itu adalah rasa dan tingkah serta sikap kita adalah sebuah pola yang punya makna sendiri.
Dari beragam cerita yang pernah ada, ternyata menuju sebuah arah yang tidak tertera dalam kompas.
Diujung sana, kulihat mereka yang adalah pecinta angka dan fisika, yang mengabadikan hidup untuk rumitnya matematika, bersatu dengan mereka yang lebih banyak menghayal dang menghabiskan waktu dengan buku-buku tebal diperpustakaan, latarnya adalah sebuah sebuah keberagaman tanpa defenisi dengan hiburan musik klasik yang kita dengarkan tempo hari.
Aku terus melangkah, mengikuti aeah yang menuntun imajinasiku dan dari sarah berlainan, aku juga melihatku, megumlulkan peluang yang nilainya hampir jadi satu, dan kita terus bergerak menuju sebuah ilusi lalu melebur dalam suafu kisah tanpa dimensi.

Mencoba Seimbang

Membaca opini, komentar dan kritik yang beredar akhir-akhir ini kadang membuatku ingin menulis banyak hal. Sudah hampir tiga tahun saya tidak menyukai politik dan berita-berita yang simpang siur dan bergantung pada kepentingan, lebih menyenangi catatan dan cerpen-cerpen melankolis.
Sebenarnya mencoba menyeimbangkan apa yang saya baca dan dengarkan, memahami dari setiap sisi opini dan kritik yang dilontarkan. Terlalu banyak yang dilihat dari satu sisi membuat sisi lain terabaikan, terlalu banyak menyajikan pembenaran hanya akan membiaskan kebenaran. Lalu dimana posisi kita yang seharusnya menyatakan "Ya" kalau "Ya" dan "Tidak" kalau "Tidak"?
Saya sadar, terakhir ini kita melakukan sesuatu pasti karena ditunggangi sesuatu yang bernama kepentingan.
Kita berbuat baik agar terlihat bagus, kita pergi kesuatu tempat agar terlihat begini, kita melakukan ini agar begini, memang benarlah kalimat yang berkata bahwa kita adalah orang yang butuh pengakuan.
Kita sebenarnya adalah sesuatu yang istimewa, punya hati nurani dan pemikiran, yang jika berjalan seimbang tentu akan mencapai sebuah kesempurnaan.
Tapi sampai dimana keseimbangan itu?
Cara pandang seringkali kita gunakan hanya dari satu sudut saja, kita berbicara dengan bebas dan sesuka hati saja dari sudut pandang kita.
Melakukan sesuatu untuk popularitas atau untuk menguntungkan diri sendiri juga orang-orang yang punya kepentingan.
Lalu apa sebenarnya tujuan itu?
Saya kurang paham, tapi biarlah saya mencatatkan sedikit tentang apa yang saya lakukan :
Saya menghabiskan pagi saya dengan membaca koran, membaca opini dan juga berita secara sekilas, kadang saya menyempatkan diri membaca wikipedia untuk pengetahuan umum, juga menonton film-film tertentu, sesekali membaca update tentang science, membaca profil orang, tempat dan perusahaan tertentu, menonton Sitkom, juga sering membaca cerpen dan novel-novel romantis. Sesekali menelepon kawan untuk berbagi. Kadang saya berbincang-bincang dengan orang-oranv disekitar, topik ringan dan jika menjurus kearah politik, ras, agama biasanya saya lebih memilih untuk msnghindar dan tidak melanjutkan atau tidak menanggapi pembicaraan.
Mengapa saya melakukan itu?
Saya rasa, itulah yang bisa saya lakukan, apabila ada pemikiran yang ingin disampaikan, saya lebih senang memcatatkannya dan membagikannya diblog atau sosial media.
Saya sadar hidup saya masih jauh dari seimbang, tetapi saya bisa mencoba seimbang.
Tidak sedang apatis untuk menanggapi tentang apa yang sedang terjadi, tetapi mencoba untuk memberitau bahwa kita ada disini adalah untuk bermanfaat bagi yang lainnya.
Memberi opini dan kritik harus membangun dan memandang dari semua sisi, bukan karenan ditunggangi kepentingan.
Berpendapat itu bagus, tetapi harus berdasarkan fakta dan punya solusi.
Ohya, satu lagi : mengapa saya menulis ini?
Mungkin karena saya sedang mencoba memahami apa yang sedang terjadi!

Arah Dairi Kedepannya

                                                     Arah Kabupaten Dairi Kedepannya Sebagai penduduk Kabupaten Dairi yang sedang merantau, ...