Kamis, 14 Januari 2016

Perempuan Fiksi

Aku sedang mengimajinasikan sesuatu sore ini.
Seorang gadis yang sedang duduk di sebuah perpustakaan yang sepi, aku mencoba membayangkan jika dia sedang menulis sesuatu dibukunya, mungkin sebuah cerita atau mungkun hanya sebait puisi.
Ya, dia bukan seperti gadis-gadis lainnya yg biasa kulihat diperpustakaan, menggunakan earphone dan mengerjakan tugas. Tidak, gadis yg ada diperpustakaan itu adalah seorang gadis yg sedang menulis, mungkin dia menulis karena jatuh cinta, bukankah ada seseorang pernah berkata bahwa siapapun bisa menjadi penulis yang romantis ketika sedang jatuh cinta?
Tidak, dia tidak sedang jatuh cinta. Matanya memerah dan kulihat juga dia berkali-kali menghapus air matanya dengan saputanganya, mungkin sapu tangan yang penuh kenanga, ah, sentimental.
Sudah sangat jarang aku melihat gadia yang begitu, sangat jarang melihar gadis yg menulis sesuatu dibuku, biasanya mereka menulis apapun yg terjadi di sosial medianya.
Lalu aku akan pura-pura mencoba mendekatinya dengan membaca sebuah buku yg sebenarnya tidak masuk akalku, tetapi untuk kelanjutan tulisan ini aku mencoba menyukai buku tsb.
"Bisakah saya duduk disini?"
Gadis itu menoleh sejenak, mungkin untuk menyembunyikan airmatanya, kulihat dia mengangguk.
Aku lalu duduk dan berkata, "Sepertinya anda sedang menulis sambil menangis, apakah sesuatu yg anda tulis itu menyedihkan?"
Dia diam.
Sudah berkali-kali aku membaca tulisan tentang seorang gadia sentimentil, berkali-kali juga aku menemukan mereka. Ya, teramat banyak alasan mereka untuk menangis, mulai dari kekasihnya yang tidak mengingatkannya untuk makan malam, lupa hari ulang tahunnya, selingkuh, tidak setia ataupun hubungan yg berakhir, mungkin karena tidak cocok ataupun tidak ada restu.
Lalu tentang gadis didepanku?
Mengapa dia menangis?
Aku hanya mencoba membayangkan, mungkin dia menangis karena pagi ini ketika dia ke kampus dia melihat seorang lelaki yg telah lama disukainya sedang berjalan dengan kekasihnya, setidaknya dia sempat melihatnya begitu romantis sehingga jiwanya yang begitu sentimentil itu terluka sehingga dia memutuskan untuk ke perpustakaan untuk menulis semua isi hatinya.
Tidak, tunggu dulu!
Sepertinya dia adalah seorang gadis cantik dan manis, siapa yang tidak menyukai gadis seperti itu?
Ah, mungkin dia datang keperpustakaan ini karena ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, ya mungkin hubungannya dengan kekasihnya, kekasihnya mungkin akan segera wisuda dan dia akan ditinggalkan. Ah, itu rasanya terlalu lebay..
Lalu apa kemungkinan yang paling cocok untuk seorang gadis manis yang duduk menangis sambil menulis disebuah perpustakaan yang sepi?
Aku tahu, dia gadis yang baik dan dia baik-baik saja. Aku hanya butuh nyali untuk bertanya langsung kepadanya, "Anda kenapa?"
Lalu dia akan menjawab, "Terserah kau buat aku mengapa dalam ceritamu karena aku adalah gadis dalam ceritamu ini.."
Lalu karena ini adalah sebuah cerita, gadis itu kembali mengambil sapu tangannya, mengelap airmatanya lalu menutup bukunya sambil tersenyum dan berkata, "Terlalu banyak cerita dan kadang perlu sentimental untuk menulis cerita.."
Dia lalu berdiri dan berkata, "Kau pasti tidak menyukai buku yang kau baca itu, kau datang kesini hanya untuk menyapaku bukan, kalau begitu simpanlah bukumu, kita akan jalan-jalan.."
"Kemana?"
"Istana Wakayama atau sungai Kinokawa, kalau sempat kita juga akan ke Heaton Park dan menghabiskan senja di Sungai Irwell. Nanti malam sekitar jam delapan kita akan menonton derby Manchester di Old Traffold, kau mau?"
"Ya, tentu.." jawabku langsung menyimpan buku yang kubaca.
"Tapi ada satu permintaanku..."katanya tiba-tiba.
"Apa itu?"
"Aku tahu kau tidak punya pacar!"
"Jadi?"
"Ya, jangan sampai kau memintaku jadi pacarmu, aku ini tokoh fiksimu penghayal!!!"
Shit!
Hahaha :D
Kami lalu bergerak meninggalkan perpustakaan dan aku baru benar-benar sadar bahwa ini  hanyalah imajinasi saja

Jumat, 08 Januari 2016

Tentang Gadis dengan Senyum Manisnya itu.

Catatanku kali ini mungkin agak berbeda dgn catatan yg lainnya, mungkin karena ada senyum yg menyelip dalam imajinasiku saat aku mencatatanya.
Oh ya, berapa persenkah dosis senyum dalam setiap rasa suka?
Aku tidak tahu, tetapi rasanya senyum bisa mengalahkan sebuah imajinasi, senyum dari seorang gadis disuatu sore yg sederhana, senyum dengan tatapan malu-malu.
Senyum itu, senyum yg jika dilihat Michael Learn to Rock, aku berani bersumpah jika mereka akan langsung merilis sebuah lagu baru hanya karena senyum manisnya itu.
Bisa kubayangkan, seandainya suatu sore aku sedang duduk taman musim gugur Heaton Park menunggu giliran naik trem tua dengan bunyinya yang minta ampun ributnya itu, lalu gadis itu datang diiringi guguran daun mapel dengan senyum manis dan tatapan malu-malunya. Duduk disampingku sambil bertanya, "Mau naik trem juga?"
"Ya," jawabku dengan kalimat yg sangat grogi.
Lalu kulihat dia mengeluarkan jaket sambil berkata, "Manchester sedang musim gugur, seminggu lagi akan musim salju, dinginnya mulai terasa ya.."
"Ya.."jawabku lagi semakin kaku.
Dia mulai menggunakan jaket warna hitam bergaris merah itu, kulihat ada tulisan Manchester United di bagian belakang, ah, dia tampak sangat cantik dan senyum manis masih tersungging dibibirnya, sepertinya senyum itu susah lekang dari bibirnya. Itu membuatmu jadi berpikir, "apakah dia tersenyum semanis itu kepada semua orang, kalau ya, sudah berapa orang yg jatuh cinta kepadanya hanya karena senym itu?"
Astaga, rasanya itu lebih indah dari pada pemandangan senja dengan matahari yg terbenam di pelabuhan Manchester.
Saat angin musim gugur berhembus, rambutnya beterbangan seperti guguran daun, dengan buru-buru dia mengikatnya sambil berkata dengan senyumnya ," Kau terus memperhatikanku.."
Aku sudah berkali-kali membaca tentang sebuah pertemuan di taman, spekulasi tentang cerita romantis yang dipaksa berakhir bahagia, namun baru kali ini aku terperangkap dengan cerita yg sama, dengan seorang gadis manis dengan senyumnya.
Saat tremnya datang, kami naik bersama, ketika aku duduk, dia datang dan bertanya, "Boleh duduk disini?"
"Tentu.." Jawabku pasti.
Lalu kami mengelilingi Heaton Park, rasanya itu seperti mengelilingi senyumnya, sesekali kami saling berpandangan lalu meyunggingkan senyum masing-masing.
Ya, senyum itu, senyum yg mungkin tidak mudah untuk dilupakan, senyum yg mungkin sudah membuat puluhan lelaki lainnya jatuh cinta kepadanya, senyum yg menginspirasiku untuk menulis catatan ini sambil mendengarkan lagunya MLTR.
Aku kadang berpikir, sudah seberapa banyak seorang lelaki sentimentil yg menulis berbait-bait puisi, berlembar-lembar fiksi hanya karena senyuman seorang gadis?
Aku tidak tahu apakah itu hal yg sangat buruk atau malah sesuatu yg sangat menarik, tetapi tentang gadis di Heaton Park dengan senyum manisnya itu kami masih sempat menghabiskan waktu bersama hingga kami terpisah di stasiun Piccadilly lalu berjanji untuk bertemu lagi di Old Traffold untuk menonton derby Manchester, aku yakin dengan senyumnya Manchester United bisa menggilas tim sekotanya itu.
Oh ya, ketika akan berpisah aku masih ingat menanyakan namanya, "Liana.." ucapnya dengan senyum manisnya.

Minggu, 13 Desember 2015

Tentang Tulisan-tulisan itu

Aku melihat-lihat arsip blog yg kutulis sepanjang tahun 2015 ini, kebanyakan Liana dan S di T, ternyata mereka berdua terlalu menguasai imajinasiku setahun ini.
Awalnya memang surat untul S di T itu hanya keisengan belaka mengingat nama seorang gadis cantik berinisial S dari sebuah kota inisial T, hanya taulah pembaca, terkadang wanita cantik tidak suka membaca tulisan atau surat-surat melankolis bukan?
Dulu aku menulis rencanya hanya untuk satu surat saja, awal februari 2015 saat nilai semester limaku terjun bebas-dan tentu kini telah kutemukan alasan mengapa nilaiku itu terjun bebas--. Lalu akupun mulai keterusan menulis surat-surat galau itu karena sepertinya ada yg suka membaca tulisanku itu.
Lalu tentang Liana, si gadis cerdas tokoh fiksi itu, rasanya dia adalah gadis dengan tema artificial inteligencia, dengan kecerdasan buatan dalam imajinasiku dia bisa mengetahui apa saja isi wikipedia, sayangnya aku selalu menulis perannya sambil membaca wikipedia, hehehe..
Mungkin benar, sangat susah untuk mencari gadis seperti tokoh cerpen itu, gadis cerdas yg suka berpetualang dan wawasan luas seperti wikipedia berjalan, tau banyak tentang filsafat dan sayangnya aku tidak pernah menuliskannya sebagai gadis yg rajin beribadah--entah mengapa..
Liana pertama kali muncul dalam cerpenku berjudul "Tentang hujan di tepi danau toba" cerpen galau yg aku sendiri kadang malas membacanya dan cerpen itu kutulis tahun 2013 dan diposting oleh mahasiswabatak.com diblognya tahun 2015, sebelum itu sebuah cerpenku juga pernah dimuat oleh mahasiswabatak.com berjudul 3 jam tigabaru sidikalang, aku belum menggunakan nama Liana, hanya ada MeanTe, sebuah inisial juga.
Tentang Liana, sebenarnya dalam draft asliku aku tidak menggunakan nama itu, tetapi nama tengah seorang gadis yg kutemui dalam suatu perjalanan dan bodohnya dalam pertemuan pertama dengan gadis itu aku gagal membuat manajemen kesan, tetapi berhasil jatuh cinta kepadanya, sebuah kebodohan.
Oh ya, 2015 saya berhasil membuat sekitar sepuluh lebih cerpen dan kebanyalan adalah curhatan galau berupa surat untuk nama-nama yg sudah saya sebut diatas, misalkan saja Melankologue, sebuah cerpen yg menceritakan konflik dalam batin tokoh utama ttg dia yg memendam perasaannya kepada seorang wanita dan dia tahu wanita itupun menyukainya, tetapi dia tidak mau mereka punya hubungan apa-apa--kadang aku bertanya, betulkah ada cinta yg seperti itu?--
Lalu Kenangan yg membeku di heaton Park, sebuah taman yg keren di kota Manchester, itu tidak lebih adalah sebuah cerita saduran dari cerpen penulis favoritku yg juga--sepertinya--orang galau, Sungging Raga.
Lalu tentang puisi, aku lupa seberapa banyak menulis puisi dalam setahun ini, tetapi rasanya tidak ada yg berkesan dan aku sudah mulai bosan.
Beberapa waktu lalu aku mencoba mengembangkan sebuah imajinasi dengan Liana di Kota Wakayama, Jepang, potongam cerita pertama dan kedua memang menarik, tetapi semakin lama, ceritaku mulai ngawur dan aku sendiri mulai tidak menyukainya, seperti kata merela "ada kalimat yg dipaksakan untuk ditulis.."
Hmm, tentan menulis dan seringnya aku memposting tulisanku disosial media, mungkin itu karena seorang penulis pria adalah seorang yg kesepian dan setia kepada waktu.
Jika pria-pria lainnya bisa dengan gampang menyatakan apa yg dipikirkan dan dirasakannya, maka seorang penulis mewujudkannya dalam tulisannya.
Aku menulis seringkali hanyalah untuk menarik perhatian, untuk ada yg mau dibanggakan meskipun akhir-akhir ini aku tahu bahwa wanita tidak suka pada pria yg membangga-banggakan dirinya.
Lalu, terpaksa akhir-akhir ini aku hampir berhenti menulis hanya karena motifku menulis tidak sukses, lalu aku mencoba beralih keteori dan filsafat, asumsi yg kubuat sendiri hanya untuk bisa terlihat betapa rajinnya aku membaca, lagi, motifku ini gagal karena rasa malas membacaku akhir-akhir ini memang dititik sempurna, aku tidak pernah berhasil membaca satu buku sampai tuntas..
Lalu?
Terakhir aku mencoba menjadi lelaki yg bangak bicara, tetapi tentu itu jadi masalah semakin banyak bicara, semakin banyak kebohongan yg tercipta.
Ada beberapa hal yg menarik menurutku dalam hal menulis fiksi ini, aku baru tahu ternyata gadis yg kusukai sama sekali tidak tertarik dgn sastra  entah itu baca cerita atau puisi, ya.. Peluang memang semakin kecil, tetapi bukankah jika masih ada nilai peluang ada kemungkinan suksesnya peristiwa tersebut?
2016 aku masih akan tetap menulis, meskipun aku belum tahu pasti untuk apa dan siapa aku menulis..

Jumat, 20 November 2015

Catatan Gagal

Apa yg bisa kutulis malam ini?
Ada, banyak, sangat banyak!
Baiklah, mungkin kumulai dari pemikiranku ttg beberapa hal. Terakhir ini aku mengubah semua ambisiku, aku bahkan tidak bersemangat lagi memimpikan keinginanku yg dulu, rasanya saat ini semua hanya keterpaksaan dan basa-basi saja.
Ya, ya...
Mungkin memang benar begiti, aku bisa melihatnya sebagai rutinitas terpaksa, seperti melihat seorang gadis yg sering duduk seorang diri di koridor kampus setiap hari hanya untuk menikmati wifi gratis, hampir tiap hari dia duduk disana, hampir tiap hari jg tidak ada yg memperdulikannya.
Tapi aku bisa melihatnya, mengamatinya, hampir tidak pernah dia berbicara dgn siapapun, hampir tidak pernah dia kulihat kuliah. Kelakuannya adalah datang pagi hari, memasang earphone ditelinganya dan memandangi layar ponselnya, aku bisa prediksi bahwa mungkin dia bawa power bank dan ketika siang hari dia berpindah kesisi koridor yg lain.
Ya, aku bisa mengamatinya, orangnya tidak menarik dan aku bukan tertarik kepada orang tersebut, aku hanya menemukan keanehan yg mungkin belum ditemukan kawan-kawanku.
Tetapi jujur, itu hanyalah side story, kau tahu, sebenarnya bukan itu inti dari ceritaku, aku hanya merasa bahwa getar yg kurasakan saat bertemu seseorang yg kusuka sudah mulai menurun, entah mengapa, sepertinya aku mulai menyadari sesuatu meskipun sebenarnya aku tidak pernah mencoba untuk berhenti mendoakannya.
Ya, ya..
Kau tahukah, sebenarnya dialah S di T, Liana atau siapa pun itu yg namanya sering kubuat jadi tokoh cerita. Bahkan pernah sekali aku menulis dgn judul namanya, tetapi aku belum berani, hingga saat ini aku menyadari sesuatu : cinta yg dipendam akan luntur dgn sendirinya.
Pernah sekali aku berpikir untuk mendekati seorang gadis cerdas di kelas statistika, gadis yg IP nya tidak perlu diragukan itu, tetapi aku menyadari sesuatu : gadis cerdas dimanapun tingkahnya hampir selalu sama, lagi pula aku adalah orang yg buruk dalam manajemen kesan.
Kuakui dalam beberapa hal memang tidak terlalu susah, tetapi kadang aku tidak mengerti sampai hari ini : bagaimana aku bisa mendoakan seseorang secara terus menerus?
Rasanya itu seakan memaksa Tuhan utk memeriksa kembali apa yg sudah di tetapkanNya.
Oh ya, satu lagi.
Mungkin suatu hari nanti akan ada yg membaca blogku ini, entah itu waktu kapan, kau tahu?
Sangat banyak yg ingin kuceritakan, kadang aku tidak bisa bicara sebanyak-banyaknya sehingga aku menulis, jika kau suka, mungkin kita bisa cerita dgn cerita kita masing-masing..
Bukankah kau punya cerita juga?
20112015

Selasa, 17 November 2015

Setelah perjumpaanku sore itu dgn Liana, tokoh cerpen sekaligus penggemar tulisanku itu, iseng-iseng aku pura-pura mengalah kepadanya dan rupanya dia tetpengaruh dengan the power of motive ku, dia lalu mengajakku berjalan-jalan disekitar kota Wakayama dan jelas dia tampat seperti seorang guide bagiku.
Dia juga mengajakku duduk ditepian sebuah sungai yg sangat besar, ketika duduk iseng-iseng aku curi-curi pandang melihat muka manisnya itu.
Ah, seandainya dia bukan tokoh fiksi pasti aku sudah jatuh cinta setengah mati.
"Ini danau ya?" Kataku padanya mencoba membuka suara.
"Oh, jadi kau belum tahu ya, ini adalah sungai Konikawa, sungai ini mengaliri Perfektur Wakayama dan Perfektur Nara, panjangnya 136 km dgn luas permukaan secara keseluruhan sekitar 1.660 km2, mengalir dari gunung Oidagahara ke arah barat dan bermuara di Kota Wakayama ini. Kau tahu, sungai ini berpotongan dengan salah satu jembatan rel kereta api bernama JR West Wakayama Line, seperti yg pernah kau tulis, ada kereta senja yg melintas tepat di atas jembatan itu ketika matahari akan terbenam, kalau kau mau nanti kita bisa kesitu  menikmati matahari yg terbenam di sungai kinokawa ini. Ya, siapa tahu kau bisa mendapat inspirasi seperti novelis Jepang Sawako Ariyoshi yg membuat salah satu judul novelnya yg sama dengan nama sungai ini, Kinokawa.."
"Kau sering kesini?" Tanyaku padanya.
"Sesering kau menulis cerita tentang kota ini.."
"Kok kau bisa tahu semuanya?"
"Wikipedia, bukankah dalam tulisanmu kau menyatakan aki adalah seorang gadis yg senang membaca wikipedia?"
"Ohh, aku lupa.."
"Oh ya, ini sudah hampir senja, sekarang musim gugur, jadi matahari lebih cepat terbenam dari biasanya.."katanya sambil menarik tanganku. Astaga, jantungku berdebar, bagaimana mungkin aku bisa menikmati sebuah pengalaman yg mendebarkan dgn tokoh fiksiku yg cantik ini?
Aku takut jatuh hati pada hayalanku..

Sumber gambar : en.wikipedia .org/kinokawariver

Minggu, 01 November 2015

Sebuah Catatan

Aku sedang duduk sore itu menikmati musim gugur di tepian sungai Kinokawa membaca sebuah novel tipis yang baru kubeli siang tadi disebuah toko buku pinggiran kota Wakayama ini.
Tiba-tiba seorang gadis datang menemuiku dengan wajah yang terlihat bingung dan penuh tanda tanya, "Anda tinggal di kota ini?" Tanyanya.
"Tidak, kota ini hanya ada dalam imajinasiku.."
"Lalu mengapa anda bisa duduk manis dipinggiran sungai ini?"
"Aku masuk lewat situs wikipedia, aku tersesat dihalaman webnya, tanpa kusadari ketika aku membuka mata didepanku sudah bersemi bunga sakura dan istana wakayama yang megah itu,, saat aku menyusuri jalanan, kulihat ada sebuah sungai dan ada taman dan bangku-bangku ditepian sungai itu, yah aku memutuskan duduk disini.."
"Oh ya, berarti anda tahu dimana letak istana wakayama?"
"Jelas tahu, istana itu ada dalam imajinasiku.."
"Oh ya? Berarti anda lelaki yang tinggal dalam imajinasi dong?"
"Belum tentu, aku juga punya kehidupan yang nyata.."
"Kalau begitu mengapa anda selalu membuat kota Wakayama itu juga seakan tidak nyata, padahal kota itu adalah sebuah perfektur di Jepang, perfektur Wakayama yang kotanya dibelah oleh sungai Konikawa, ada juga istana Wakayama yang sangat terkenal serta gunung Nagusa, anda membuat semuanya itu seperti fiktif, padahal itu benar-benar nyata.."
Aku terdiam, kututup novel yang sedang kubaca, lalu kupandang wajah gadis yang berbicara didepanku itu, nampaknya wajahnya tidak menyiratkan kebingungan lagi tetapi malah wajah menyelidik seperti seorang detektif, tetapi meski begitu wajah manisnya masih tetap terlihat dan rambutnya tergerai diterpa angin sepoi musim gugur.
"Sebenarnya anda siapa?" Tanyaku.
"Aku Liana Marita, tokoh cerpenmu sekaligus penggemar tulisanmu.."
Gubrak!!!
Aku terkejut bukan main, hampir saja bangku yang kududuki terjun bebas ke air sungai bersama denganku, tidak kusangka tokoh cerpenku itu cantik juga, aku tidak pernah membayangkannya, aku jadi takut jatuh cinta kepadanya.
Hahaha..
01112015
Aku sedang duduk sore itu menikmati musim gugur di tepian sungai Kinokawa membaca sebuah novel tipis yang baru kubeli siang tadi disebuah toko buku pinggiran kota Wakayama ini.
Tiba-tiba seorang gadis datang menemuiku dengan wajah yang terlihat bingung dan penuh tanda tanya, "Anda tinggal di kota ini?" Tanyanya.
"Tidak, kota ini hanya ada dalam imajinasiku.."
"Lalu mengapa anda bisa duduk manis dipinggiran sungai ini?"
"Aku masuk lewat situs wikipedia, aku tersesat dihalaman webnya, tanpa kusadari ketika aku membuka mata didepanku sudah bersemi bunga sakura dan istana wakayama yang megah itu,, saat aku menyusuri jalanan, kulihat ada sebuah sungai dan ada taman dan bangku-bangku ditepian sungai itu, yah aku memutuskan duduk disini.."
"Oh ya, berarti anda tahu dimana letak istana wakayama?"
"Jelas tahu, istana itu ada dalam imajinasiku.."
"Oh ya? Berarti anda lelaki yang tinggal dalam imajinasi dong?"
"Belum tentu, aku juga punya kehidupan yang nyata.."
"Kalau begitu mengapa anda selalu membuat kota Wakayama itu juga seakan tidak nyata, padahal kota itu adalah sebuah perfektur di Jepang, perfektur Wakayama yang kotanya dibelah oleh sungai Konikawa, ada juga istana Wakayama yang sangat terkenal serta gunung Nagusa, anda membuat semuanya itu seperti fiktif, padahal itu benar-benar nyata.."
Aku terdiam, kututup novel yang sedang kubaca, lalu kupandang wajah gadis yang berbicara didepanku itu, nampaknya wajahnya tidak menyiratkan kebingungan lagi tetapi malah wajah menyelidik seperti seorang detektif, tetapi meski begitu wajah manisnya masih tetap terlihat dan rambutnya tergerai diterpa angin sepoi musim gugur.
"Sebenarnya anda siapa?" Tanyaku.
"Aku Liana Marita, tokoh cerpenmu sekaligus penggemar tulisanmu.."
Gubrak!!!
Aku terkejut bukan main, hampir saja bangku yang kududuki terjun bebas ke air sungai bersama denganku, tidak kusangka tokoh cerpenku itu cantik juga, aku tidak pernah membayangkannya, aku jadi takut jatuh cinta kepadanya.
Hahaha..
01112015
"Kau menghayal?" Katanya tiba-tiba sudah tepat didepan mukaku.
"Untuk apa aku menghayal? Bukankah kau sudah hayalanku juga?"
Dia tersenyum menatap mataku, astaga tatapannya seperti tatapan yg selalu kubuat dalam tulisanku, matanya yg tajam dan penuh dengan gairah kehidupan, dia terus menatapku, ah, aku jadi grogi juga..
"Kau grogi?"
"Tidak.., aku hanya teringat tentang bacaanku.." Kataku mengangkat buku yang kubaca..
"Buku apa sebenarnya yg kau baca, boleh aku lihat?" Katanya langsung merampas dari tanganku.
"Tunggu, mungkin kita bisa membicarakan tentang buku itu bai-baik sambil duduk.."
"Sambil duduk? Bukankah kita akan terlihat seperti sedang kencan romantis, dibawah daun-daun yg berguguran, disebuah bangku ditaman tepi sungai?"
"Kalau kau mau..?" (Wess, masuk gombalanku.. :D)
"Masalahnya aku tidak mau.." Ucapnya tiba-tiba.
Busyet..
"Kenapa?"
"Nanti kau umbar-umbar tentang hal ini dalam ceritamu, kau bilang kita menikmati waktu dari hingga lampu-lampu temaram, membicarakan tenan anak-anak kita nantinya, kau kan lebay dan kadang berlebihan.."
"Terus kalau memang nanti kubuat seperti itu?"
"Aku tidak mau lagi jadi tokoh ceritamu, aku akan cari lelaki lain dan yang pasti lelaki itu penulis yg sempurna, bukan penulis abal-abal sepertimu.."
Busyet, gadis ini tadi memujiku, sekarang mengejek, hehh, lihat pembalasanku nanti.
"Jadi kau mau jadi duduk disini denganku.."
"Bisa, tapi tunggu, aku harus mengatur alarmku dulu.."
"Untuk apa, apakah ada janjimu dgn seseorang? Seingatku dalam cerpen yang kutulis kau bukan seorang gadis yg suka mengumbar janji.."
"Bukan untuk janji.."
"Lalu apa?"
"Aku ingin membuat alarm sebelum senja, aku tidak ingin menghabiskan senja bersamamu, bukankah kau orang yg berlebihan, jadi tidak akan ada senja yg romantis dan lampu-lampu temaram antara penulis dgn tokoh fiksinya, pokoknya tidak ada yg romantis, titik!!"
"Oke.."
"Ada satu lagi permintaan!"
"Apa?"
"Kalau kau menulis cerpen jgn samapai ada nama lain selain namaku, Liana Marita. Aku tahu kok, kau sedang menyukai seorang gadis, itu lho gadis yg kalau melihatnya saja kau sudah jantungan, lalu kau pura-pura membuat surat untuk S di T padahal sebenarnya itu untuk si.. Ah, siapa itu namanya, lupa aku. Kau kan pecundang.. Jadi awas ya kalau sampai kau buat namanya jadi tokoh cerpenmu.."
"Kalau kubuat?"
"Aku tidak akan mau duduk disampingmu, tidak akan mau menjadi tokoh cerpenmu, tidak mau hidup dalam tulisanmu yg galau itu..Aku akan cari lelaki lain..."
Astaga, selain sok tahu, gadis fiksi ini tukang ngambek pula..
Dia masih tetap berdiri disitu dgn wajah cemberut, angin sepoi musim gugur masih berhembus dan rambutnya masih tergerai.
Ah, dia semakin cantik saja.
"Apa kau lihat-lihat aku, nanti jatuh cinta kau samaku, jadi saingan aku sama S di T mu itu.., mana rupanya lebih cantik aku dari pada dia?"
Busyet..
"Kenapa kok diam, lebih cantik aku kan, makanya baik-baik kau samaku biar mau aku jadi tokoh ceritamu..
Setelah perjumpaanku sore itu dgn Liana, tokoh cerpen sekaligus penggemar tulisanku itu, iseng-iseng aku pura-pura mengalah kepadanya dan rupanya dia tetpengaruh dengan the power of motive ku, dia lalu mengajakku berjalan-jalan disekitar kota Wakayama dan jelas dia tampat seperti seorang guide bagiku.
Dia juga mengajakku duduk ditepian sebuah sungai yg sangat besar, ketika duduk iseng-iseng aku curi-curi pandang melihat muka manisnya itu.
Ah, seandainya dia bukan tokoh fiksi pasti aku sudah jatuh cinta setengah mati.
"Ini danau ya?" Kataku padanya mencoba membuka suara.
"Oh, jadi kau belum tahu ya, ini adalah sungai Konikawa, sungai ini mengaliri Perfektur Wakayama dan Perfektur Nara, panjangnya 136 km dgn luas permukaan secara keseluruhan sekitar 1.660 km2, mengalir dari gunung Oidagahara ke arah barat dan bermuara di Kota Wakayama ini. Kau tahu, sungai ini berpotongan dengan salah satu jembatan rel kereta api bernama JR West Wakayama Line, seperti yg pernah kau tulis, ada kereta senja yg melintas tepat di atas jembatan itu ketika matahari akan terbenam, kalau kau mau nanti kita bisa kesitu menikmati matahari yg terbenam di sungai kinokawa ini. Ya, siapa tahu kau bisa mendapat inspirasi seperti novelis Jepang Sawako Ariyoshi yg membuat salah satu judul novelnya yg sama dengan nama sungai ini, Kinokawa.."
"Kau sering kesini?" Tanyaku padanya.
"Sesering kau menulis cerita tentang kota ini.."
"Kok kau bisa tahu semuanya?"
"Wikipedia, bukankah dalam tulisanmu kau menyatakan aki adalah seorang gadis yg senang membaca wikipedia?"
"Ohh, aku lupa.."
"Oh ya, ini sudah hampir senja, sekarang musim gugur, jadi matahari lebih cepat terbenam dari biasanya.."katanya sambil menarik tanganku. Astaga, jantungku berdebar, bagaimana mungkin aku bisa menikmati sebuah pengalaman yg mendebarkan dgn tokoh fiksiku yg cantik ini?
Aku takut jatuh hati pada hayalanku..

Selasa, 27 Oktober 2015

Menulis Kenangan

Pernah suatu sore saya membaca sebuah novel yang adalah sebuah kisah nyata yang ditulis orang lain. Ceritanya sangat menarik, penulisnya seperti bisa menjiwai apa yang ditulisnya meskipun itu bukan pengalamannya sendiri dan ketika membacanya kita sendiri bisa masuk dalam cerita yang ditulisnya, pembaca seakan-akan menjadi tokoh utamanya. Novel itu menggunakan sudut pandang orang pertama (dan saya suka sudut pandang itu karena rasanya seperti pembaca sendirilah yang mengalaminya), juga menjelaskan hal secara detail sehingga bisa membayangkan bagaimana sebenarnya kejadian dan suasana yang terjadi di novel itu. Tetapi bukan itu sebenarnya yang ingin saya bahas, ketika saya membaca novel tersebut yang adalah sebuah kenangan dari seseorang dan diceritakan kepada temannya yang adalah penulis novel itu dan novel itu dibuat sebagaimana yang diharapkan yang empunya cerita, sebagaiman yang diharapkan para pembaca dan artinya secara umum adalah kenangannya punya nilai jual. Ini sebuah pandangan ekonomis meskipun sebenarnya bukan itu yang kita inginkan. Namun kita harus tahu, setiap kenangan punya nilai jual tersendiri, setiap catatan, setiap pengalaman, setiap apapun yang kita perbuat, hanya masalahnya bisakah kita mengelolanya? Mungkin anda ataupun saya adalah orang yang punya kenangan dan jika anda adalah seorang yang melankolis mungkin senang membuat catatan atau mengenang kenangan itu untuk diri anda sendiri, tetapi untuk mereka yang ekstrovert ataupun jenis keperibadiaan lainnya mungkin senang mengumar kenangannya dan selalu senang bercerita mengenai apapun yang pernah dialaminya. Tahukah anda, saat mendengarkan mereka menceritakan kenangannya itu adalah sebuah hal yang sangat menarik, rasanya seperti membaca novel bestseller apalagi sang pencerita adalah orang yang detail bercerita pasti anda akan selalu penasaran dibuatnya, hanya sayangnya orang-orang seperti ini biasanga agak susah kalau disuruh untuk menuliskan setiap kenangannya, jadi mungkin bisa diusahakan untuk merekam ataupun mengingat apapun yang diceritakannya, Berbeda dengan yang diatas, orang melankolis memang selalu identik dengan sentimentalnya, kau tahu kawan, salah satu hobiku adalah membaca catatan dari seorang yang melankolis, ya, catatan dear deary atau apapun itu (dan aku termasuk salah satu diantaranya dengan catatan untuk S di T ku). Tetapi sebenarnya tidak susah untuk mendengar sebuah cerita yang sesungguhnya dari seorang melankolis, kau hanya berusaha jadi orang yang dipercayainya dan dia akan menceritakan sampai pada air mata yang merembes dicatatan hariannya. Nah, sesudah itu tinggal minta ijin apakah diizinkan membuat tulisan daru kenangannya. Hanya saja sekarang sudah cukup susah, orang-orang sudah punya banyak kenangan, hahaha.. Bayangkan pada usia 21 tahun seperti saya ketika menulis artikel ini, banyak yang sudah punya kenangan mengenai pacaran lebih dari sepuluh kali, saya jadi bingung menulis kenangan yang mana apalagi jika harus membuat kenangan itu jadi sebuah novel, tetapi untuk sebuah cerpen mungkin bisa. Namun perlu saya tekankan, sebenarnya kenangan itu bukan hanya tentang cinta romantis, pacaran atau hal-hal lainnya yang berbau asmara, tetapi kenangan itu banyak, cobalah untuk mulai menulisnya, cobalah paling tidak kau bisa mengabadikan kenanganmu dalam tulisan karena saat kita sudah tidak ada, setidaknya kenangan kita masihbada dan kita hidup dalam kenangan itu

Catatan Karena tidak bisa tidur..

Pagi ini sebelum tidur, aku berpikir untuk menuliskan sesuatu, mungkin bermanfaat, setidaknya untuk diriku sendiri.
Suatu waktu aku pernah memikirkan mengapa seorang Faocault atau Baudliard memikirkan untuk menulis pemikirannya, mengapa Einstein dan Hawking bersikeras untuk Fisika teorinya, mengapa Keynes dan Fishcher harus berusaha untuk teori ekonominya?
Teringat suatu waktu Gie pernah menanyakannya, "untuk apa aku melakukan semua ini?"
Mungkin aku bukanlah seorang sosiolog yg selalu setia dgn teori-teori sosial mereka yg menurutku abstrak tetapi cenderung bisa diterima, aku juga bukanlah seorang fisikawan meskipun aku lebih bisa menerima teori relativitasnya Einstein dibanding blackholenya Hawking yg hampir tidak dinalar logikaku.
Tetapi meskipun begitu aku harus jujur padamu, aku adalah pecinta novel-novel, film dan cerpen sentimentil dan romantis, aku adalah orang yg diam-diam menulis buku harian dgn catatan galau, aku sering berbicara apa yg tidak aku tahu, aku adalah orang bodoh yg tidak tau apa-apa, takut kepada ketidak tahuanku, takut terhadap ketidakmampuan, takut dalam segala hal dan ketakutan itulah yg memang menakutiku.
Suatu waktu di bulan Oktober (dan itu jugalah yg mendorongku membuat catatan ini) aku pernah membuat resolusi untuk menjadi seorang jurnalis sekaligus detektif, terinspirasi dari komik the advantures of tintin tetapi cita-cita cenderung berubah seiring berubahnya waktu, ya, waktu yg relatif dgn teori dilatasinya itu telah berhasil mengubahku untuk bercita-cita menjadi seorang Insinyiur di bidang pertambangan, tetapi sepertinya itu hanyalah sebuah cita-cita saja.
Sejak dulu saya adalah penggemar ilmu alam sekaligus sastra, saya tidak pernah memikirkan disiplin ilmu bisnia maupun ilmu sosial, meskipun begitu saya adalah penggemar ilmu sejarah dan pengetahuan umum lainnya yg bersifat dasar, saya juga penggemar ensiklopedia, tim sepakbola Manchester United, senang lagunya Michael Learn to Rock dan sangat suka dgn topik bahasan yg cenderung lari.
Saya pura-pura banyak tau ttg segala sesuatu, nyatanya saya tidak tau apapun juga, hanya utk terlihat punya wawasan dan saya menyadari bahwa apa yg saya ketahui itu hanyalah sebuah kebodohan yg mungkin tidak termaafkan.
Saya menolak teori-teori pembenaran, menolak teori yg tidak masuk akal karena tidak terbukti secara ilmiah, tidk setuju dgn prinsip egoitas, popularitas dan rasis.
Mungkin agak sedikit sosialis dan komunis, saya adalah seorang yg menolak liberalis, menolak pasar bebas dan aliran-aliran lain yg hanya memikirkan profitabilitas tetapi mengacuhkan dampak yg ternyata sangat materil.
Pemikiranku mungkin sudah sangat lari, bahkan saya sangat sadar bahwa artikel ini hampir seluruhnya adalah curhat belaka dgn beberapa kata-kata agar terlihat ilmiah dan terhindar dari nuansa fiksi, ya, ya, semua memang hanya sandiwara, seperti aku yg sering pura-pura memegang buku tetapi ternyata tidak membacanya, seperti aku yg sering menilai orang lain tetapi hasilnya selali meleset, seperti aku yg sering merasa bermakna, tetapi hanyalah sampah, sama seperti sampah-sampah lain disekelilingku.
Lalu apa gunanya hidup jika tidak menghasilkan makna.
Apakah putih bermakna jika berada diantara putih juga?
Apakah engkau mendapat makna dari apa yg kutulis ini?
Entahlah, tetapi ini sudah jam dua pagi, rasanya ada baiknya jika aku tidur saja dan semoga engkau memperoleh makna ttg waktu, tentang untuk apa kau hidup, apa tujuan hidupmu dan makna-makna yg lainnya.
Ya, semoga saja oktober bermakna Bagimu dan bagiku!

Catatan Masa Kecil

Sepertinya aku punya satu hal yg unik untuk diceritakan, ini kisah hampir lima belas tahun lalu, tahun 2000 an.
Saat itu aku baru masuk di ñnSDN 030328 Bandar Huta Usang, aku ingat jelas guru kami saat itu adalah Ibu Lingga (kata bapakku, dulu saat SD ibu itu juga gurunya, menurut kabar yg kudengar ibu itu sudah meninggal) Ibu itu yg selalu menyebut kami dgn sebutan "anak muda" (saat itu kalau sebutan anak muda adalah tokoh protagonis yg menjadi pahlawan dalam sebuah film atau cerita).
"Bikin anak muda, a, b, c.. Ditulis berulang ya, langkah-langkah satu.."
Bukan main senangnya kalau bisa menulis huruf a satu halaman dgn langkah-langkah satu baris, lalu akan dibawa kedepan utk di nilai, dan pasti dapat nilai yg sempurna 100!
Kalau mau permisi ke WC (yg kadang tidak layak dikatakan WC karena memang tidak terawat dan airnya tidak mengalir saat itu, bak penampungan airnya juga sering kami jadikan tempat bermain) kami selalu ramai, saat satu orang permisi, yg lain akan permisi juga, sehingga kami akan berbondong-bondong, seperti gerombolan kambing, dan biasanya kami akan bebas mengencingi apa saja, pohon dibelakang kelas, bunga, bahkan dingding kelas yg terbuat dari papan itu hingga pernah suatu kali ada aliran sungai yg mengalir dan merembes melalui dinding itu.
Ada jg satu kejadian yg sangat membekas dan mungkin akan selalu saya ingat, saat itu kami berbondong-bondong saat permisi dan kawan saya yg berinisial M menjadi orang yg belakangan keluar, ketika semuanya sudah siap kencing dan akan kembali masuk kekelas, ternyata M masih baru saja kencing dan dgn buru-buru dia menyelesaikan kencingnya, menutup resleting celananya dan astaga, dia lupa memasukkan kembali anunya.
Otomatis kulupnya kena lindas resleting dgn ganasnya, kami semua terkejut mendengar teriakannya yg meronta kesakitan, ketika kami kembali, kami melihat kulupnya terpisah oleh resleting, aku bisa membayangkan betapa sakitnya itu..
Ibu Lingga dipanggil, M terus menangis karena anunya tergincit resleting, untuk dibuka kembali dgn memundurkan resleting rasanya itu adalah sebuah penyiksaan.
Untuk saja ada guru yg bijak memberikan solusi, resleting dirusak dari atas lalu ditarik pelan-pelan agar tidak terasa sakit.
Ya, yah..
Kalau mengingat itu ada sedikit rasa ngilu dan rindu, tidak terasa sudah lama kejadian itu berlalu.

Big Boss..

Saya ingat dulu ketika baru punya ponsel, saya menggunakan ponsel abang saya. Ketika itu ada nomor yg belum dihapus dari sana, termasuk nomor bapak, saya jelas ingat dia menggunakan nama "big bos".
Dari situ sampai hari ini saya juga menggunakan nama "big bos" juga, tidak pernah menggantikan nama itu sudah beberapa tahun.
Iseng-iseng saya melihat daftar kontak ponsel adik saya yg masih SMA itu, ternyata dia juga menggunakan nama "big bos",untuk nomor bapak, sayangnya saya belum memastilan adik saya yg satu lagi apakah dia menggunakan nama kontak "big bos" untuk bapak.
Tetapi diam-diam saya mulai menyadari apa sebenarnya yg tersirat di dalam istilah "big bos" itu. Bapak adalah pimpinan yg paling utama dalam keluarga, seorang sosok yg jadi panutan. Apapun kata orang, tetapi bapak adalah tetap orang tua yg mengasihi anak-anaknya meskipun harus jujur, sudah berapakali saya menantang dia, menganggap remeh, tidak mendengarkannya, bahkan melawan dia.
Mungkin percuma aku membuat tulisan ini jika aku tidak bisa berbuat apa, tetapi aku selalu tau, tidak ada oramg tua yg menginginkan yg buruk untuk anak-anaknya.
Pernah suatu kali saya berpikir ketika ibu berkata, "suatu hari nanti jgn menjadi seorang pria seperti bapakmu...."
Kenapa?
Mungkin aku tahu sendiri jawabannya, tetapi aku tetap ingin sepertinya meskipun dalam beberapa hal yg buruk harua dihindari karena bukankah tidak ada orang yang sempurna?
Pagi ini aku menulis tentang bapak, rasanya seumur-umur belum pernah aku menulis tentang dia, ini tentang ulang tahunnya.
Tidak kusangka dia sudah tua juga, padahal kami anaknya masih ada begini-begini juga.
Aku hanya bisa berjanji padanya, suatu hari nanti kami punya waktu untuk bersama, menikmati hari-hari bersama untuk memancing ikan, membaca koran sambil menikmati kopi, mendengarkannya bicara tentang pengalamannya dulu ketika masih muda meskipun mama beberapa kali menyela, mendengar tarombo, mitos-mitos yg kadang sudah tidak masuk akalku.
Aku berjanji akan menyediakan waktuku, itu saja.
Selamat ulang tahun bapak, big bos..

Jumat, 16 Oktober 2015

Pada Sebatang Rokok

Asap yang tidak bisa berkumpul
Membuatku bergumul
Karena yang kutunggu tidak kunjung muncul
Sedangkan waktu semakin lama

Arah Dairi Kedepannya

                                                     Arah Kabupaten Dairi Kedepannya Sebagai penduduk Kabupaten Dairi yang sedang merantau, ...