Sabtu, 08 September 2018

Bengkel Sidikalang

Bengkel Sidikalang

Kampungku memang bukan asli Sidikalang, tapi jika dalam perkenalan dan jumpa kawan, jelas kami semua orang Kabupaten Dairi berkata, "Dari Sidikalang.."
Bukan rahasia umum itu, kalau angkutan special bagi kami adalah Sampr*, Datr*, P*S, B*N dan akhir ini ada yg baru, R*ja Napogos, meskipun ke kampung halamanku hanya Ada Sampr* (aku juga Ada cerita menarik ttg S*mpri) dan P*S.
Kawan, jika kita yg di Sumut dan beberapa tempat mengenal Sidikalang dengan alamnya yg Segar dan dingin, Taman Wisata Iman yg mencerminkan Toleransi beragama, Gadis-Gadis yg cantik*), dan lainnya. Tetapi tetap yg istimewa adalah Kopinya, kopi yg aromannya bisa sampai kemana-mana, kopi yg kalau dinikmati dipagi hari akan memberikan energi isrimewa dan kalau dinikmati disore Hari sambil menikmati matahari terbenam memunculkan banyak inspirasi 😎
Ya, tapi diatas semua itu, ada satu hal yg baru kutemui dan sadar, ternyata ada satu hal yg membuat Sidikalang itu istimewa kawan,
Bengkel Sidikalang yg ternyata terkenal jauh keseluruh Nusantara 😂
Seberapa istimewanyakah?
Tidak ada di Google, tidak ada dibuku, tidak ada bukti autentik yg mencatatkan betapa istimewanya Bengkel Sidikalang itu.
Tapi aku yakin, kawan-kawan yg mengenalkan diri sebagai orang Sidikalang hatinya berbekas dengan yg namanya Bengkel Sidikalang.
Jadi begini ceritanya,
Ada Orang perantau di Sidikalang dan menetap di Sidikalang, dan suatu hari Motornya rusak, lalu dia membawa Motornya itu ke sebuah Bengkel bernama "Bengkel Sidikalang" melayani ketok Magic, Las, Bengkel, Ganti Oli dll.
Tukang Bengkel ini memeriksa Motor tsb dan menyatakan bahwa Mesinnya harus dibongkar dan biayanya sekian, mereka sepakat.
Setelah dibongkar dan diperbaiki, lalu dipaeang kembali, Situkang Bengkel dan pemilik Motor heran, ada satu baut dan satu mur yg tersisa, tapi rasanya semua sudah dipasang tadi, tapi Tak mau ambil pusing, mereka menyalakan motor dan beroperasi normal. Biaya Bengkel dibayar, lalu pemilik motor pulang.
Selang beberapa minggu kemudian, ternyata motor itu rusak lagi, dan pemilik motor kembali membawa kebengkel yg sama, Motor kembali dibongkar Mesinnya dan diperbaiki, ketika memasang ulang, kembali ada baut yg tersisa, entah dari mana, rasanya semua baut sudah terpasang, Motor dihidupkan dan beroperasi normal.
Lalu beberapa minggu kemudian, Motor rusak lagi, merasa sudah berlangganan di Bengkel Sidikalang, pemilik motor kembali membawanya kesana, diperbaiki dan ketika dipasang berfungsi sebagai Mana mestinya, tetapi lagi tersisa baut yg entah dari mana 😁
Lalu Motornya lama tidak rusak, ketika rusak lagi dia mengunjungi Bengkel Sidikalang tsb dan ternyata sedang tutup, dia lalu membawa Motornya kebengkel yg cukup jauh dari situ, saat dicek, tukang Bengkel menyatakan akan membuka mesin dan pemilik motor setuju, tapi langsung heran karena tukang Bengkel membongkar dgn cepat.
"Kok bisa?"
"Iya Pak, bautnya cuma sisa Dua, diatas dan dibawah 😂.."
"Shitlah!!!"
Ternyata selama ini, bautnya bukan lebih tiap kali bongkar!!
Lalu entah siapa yg menyebarkan berita itu, sampai-sampai tiap tempat selalu berkata, "Jangan seperti Bengkel Sidikalang ya.."
Atau pertanyaan yg sering diajukan kepadaku,
"Betulkah Bengkel Sidikalang seperti itu?"
Entahlah, akupun kurang Tau, tetapi itulah istimewanya kampung halamanku itu 😂
Bengkel Sidikalang yang terkenal dimana-mana diseluruh Indonesia!!
Note : Hanya catatan hiburan, jika ada cerita versi lain silahkan diceritakan.

Minggu, 15 Juli 2018

WTF

Jadi, malam Minggu itu, sehabis pembantaian Inggris oleh Belgium untuk perebutan posisi ketiga Piala Dunia, seorang senior yg Estatenya baru kena audit menelponku,
"Lagi dimana Nal?"
"Dirumah Pak.."
"Siapa aja disitu?"
"Banyak Pak, kenapakah?"
"Ya udah, datang aku kesitu ya, nginap disitu aku.."
"Iya Pak, Bapak dimana ini?"
"Dijalan.."

Selang sejam, dia datang, membawa beberapa botol minuman dan langsung menawari kami semua, awalnya aku enggan untuk minum bersama karena sudah seminggu demam dan batuk yg rasa sakitnya minta ampun, ditambah lagi besok paginya aku janji untuk ikut lari pagi keliling lapangan tenis, tapi karena terus diajak, kuteguk juga beberapa gelas sampai kepalaku mulai pusing dan mataku berkunang-kunang juga batukku, uhuk-uhuk terus tanpa henti, kulihat mereka mengoceh terus menerus mengomongi hal-hal tak penting.
Karena peningnya, aku terlelap dilantai, merekapun terlelap juga dikursinya masing2, hingga paginya, sekitar jam setengah tujuh, teleponku berbunyi, kepalaku masih pening rasanya dan mataku masih Berat saja, Telepon berhenti berbunyi dan kupaksakan untuk mengeceknya, ternyata Ibu yg biasa masak dirumah, kutelpon ulang untuk menanyakan Ada apa?
Dia mohon izin utk tidak masuk Hari itu, Ada keluarga yg sakit, jadi dia mau menjenguk katanya. "Ya, sudah bu, Tak apa-apa, kami makan diluar aja.."
Aku ingat, aku juga harus lari pagi Hari ini, tetapi kepalaku masih pening, aku berjalan kedapur menemukan botol minuman kemarin yg belum terbuka, kubuka dan kuteguk hampir segelas, katanya itu bisa mengurangi rasa pening dikepala.
Lalu kuminum air Putih dan mengganti pakaian, berlari Menuju lapangan tennis, saat kutinggalkan teman-teman yg lain masih terlelap semua.
Baru satu keliling lapangan batukku menjadi-jadi, kepalaku berkunang-kunang, dan aku muntah-muntah.
"Kau minum?"
"Sedikit saja tadi malam.." kataku dengan muka pucat.
"Tadi malam? Ini seperti baru saja minum? Ya sudahlah, ayolah kuantar pulang, lain kali aja.."
Sampai dirumah dia menemukan kawan-kawan yg lain masih bergelimpangan tertidur.
Aku Mandi, lalu tidur.
Saat terbangun, tidak ada lagi seorangpun temanku dirumah, kutelpon mereka, di Tenggarong cari makan katanya.
Perutku sudah keroncongan dan yg hanyalah buah Jeruk yg dibelikan utkku karena sakit, kusantap jugalah buah itu sampai habis.
Lalu tidur lagi, hingga sekitar pukul tujuh malam mereka pulang dan membawa saksang (yg entah dari mana dapatnya) aku santap jugalah makanan khas itu.
Malamnya, giliran perutku yg perihnya minta ampun, hampir non-stop ke kamar mandi.
Dan mereka malah tertawa melihat itu.
Dalam hati aku mengoceh, "lappet lah kalian.."
Kepalaku masih pening sampai tadi pagi, perut dan demam ternyata sudah bisa berkurang karena meneguk Obat yg mereka sodorkan tadi malam.
Dan hasilnya, aku tepar Hari ini.
Lappetlah memang!!

Minggu, 01 Juli 2018

Membebaskan Pemikiran Kita

Membebaskan Pemikiran Kita

Sebuah catatan bebas, mengantarkanku pada sebuah pemahaman bahwa Kita adalah benar-benar manusia yg bebas dalam pemikiran kita, tidak terkekang dan tidak Ada yg mengikat.
Bebas melakukan pilihan dan menikmati apa yg didepan.
Sebuah perjalanan yg mengantarkan Kita ketujuan dan catatan-catatan yg akan menceritakan sebuah petualangan.
Pernah suatu saat aku berpikir tentang sebuah kemungkinan, terbebas dari yg namanya waktu, tapi ternyata itu semua hanyalah imajinasiku.
Dan pilihan itu ternyata tergantung dari bagaimana kita mengatur waktu, berpikir untuk memahami sesuatu, bekerja untuk mendapatkan sesuatu dan pergi atau kembali untuk menemui sesuatu.
Dan aku ingin membebaskan diriku dari segala sesuatu itu, membebaskan diri untuk menulis cerita dengan versiku sendiri, mendeklamasikan puisi tulisanku sendiri, mendengar musik yg kusukai, membaca novel, menonton film, menghabiskan waktu mengunjungi tempat-tempat yg kusenangi dan bekerja.
Aku yakin semuanya adalah keindahan yg sempurna.
Aku juga ingin bebas menikmati semua, memikirkan seseorang dan menulisinya Surat tentang apa yg kupikirkan, menelepon teman dan bercerita berbagai pengalaman, mengajak rekan untuk merencakan sesuatu dimasadepan.
Tidak Ada yg lebih indah dan menyenangkan dibandingkan pemikiran yg bebas tanpa ikatan, tidak Ada yg lebih menyenangkan dibandingkan sebuah perjalanan untuk diceritakan dan semuanya akan jadi cerita dimasa depan.
Tetapi kadang semua itu sempurna, jika suatu senja yg sederhana, Kita membebaskan diri Kita dari segala sesuatu yg Kita Punya, untuk bersama mengawali sebuah cerita Sederhana  dimasadepan yg akan Kita Punya.

Membebaskan Pemikiran Kita

Membebaskan Pemikiran Kita

Sebuah catatan bebas, mengantarkanku pada sebuah pemahaman bahwa Kita adalah benar-benar manusia yg bebas dalam pemikiran kita, tidak terkekang dan tidak Ada yg mengikat.
Bebas melakukan pilihan dan menikmati apa yg didepan.
Sebuah perjalanan yg mengantarkan Kita ketujuan dan catatan-catatan yg akan menceritakan sebuah petualangan.
Pernah suatu saat aku berpikir tentang sebuah kemungkinan, terbebas dari yg namanya waktu, tapi ternyata itu semua hanyalah imajinasiku.
Dan pilihan itu ternyata tergantung dari bagaimana kita mengatur waktu, berpikir untuk memahami sesuatu, bekerja untuk mendapatkan sesuatu dan pergi atau kembali untuk menemui sesuatu.
Dan aku ingin membebaskan diriku dari segala sesuatu itu, membebaskan diri untuk menulis cerita dengan versiku sendiri, mendeklamasikan puisi tulisanku sendiri, mendengar musik yg kusukai, membaca novel, menonton film, menghabiskan waktu mengunjungi tempat-tempat yg kusenangi dan bekerja.
Aku yakin semuanya adalah keindahan yg sempurna.
Aku juga ingin bebas menikmati semua, memikirkan seseorang dan menulisinya Surat tentang apa yg kupikirkan, menelepon teman dan bercerita berbagai pengalaman, mengajak rekan untuk merencakan sesuatu dimasadepan.
Tidak Ada yg lebih indah dan menyenangkan dibandingkan pemikiran yg bebas tanpa ikatan, tidak Ada yg lebih menyenangkan dibandingkan sebuah perjalanan untuk diceritakan dan semuanya akan jadi cerita dimasa depan.
Tetapi kadang semua itu sempurna, jika suatu senja yg sederhana, Kita membebaskan diri Kita dari segala sesuatu yg Kita Punya, untuk bersama mengawali sebuah cerita Sederhana  dimasadepan yg akan Kita Punya.

Senin, 11 Juni 2018

Jalan-Jalan yg Kita Punya

Jalan-Jalan yg Kita Punya

Suatu waktu, aku ingin sekali mencatatkan tentang catatan perjalanan, untuk mengenal Alam dan penciptanya, diwaktu lain aku ingin menelusuri halaman demi halaman buku, untuk memahami bahwa ternyata ada catatan-catatan sejarah yg tersembunyi.
Berjalan menyusuri dan detail menekuni, akan membawa Kita pada satu pemahaman bahwa Kita tidak sendiri, bahwa Dunia ini luas dan banyak cerita yg tidak kita tahu.
Jika hanya sebatas pandang, angan kita hanya bisa melayang dan memandang layar-layar kaca yg kadang hanyalah menyuguhkan keindahan yg gersang.
Suatu waktu, saya paham bahwa ternyata Jalan-Jalan yg Kita Punya terlalu sering tidak dilalui Dan ditumbuhi ilalang, dilain waktu saya heran, buku yg saya simpan dan tidak pernah dibaca ternyata menjadi lembab dan termakan rayap.
Terlalu banyak jalan yg masih harus ditempuh, terlalu sedikit waktu yg Kita miliki.

Rabu, 06 Juni 2018

On Progress

On Progress

"Jika Ada satu hal yg unik dalam Akuntansi Perkebunan, maka itu adalah tentang Capitalisasi biaya dan pengajuan Asset Mature, yaitu semua biaya yg dikeluarkan sampai tanaman itu menghasilkan akan dikapitalisasi sampai dibuat mature plantation report.." Kata Bapak itu menjelaskannya, mengajar kami yg hanya 4 orang.
"Jadi kalau pekerjaannya di Immature harus dibedakan akun dan cost center, ketika nantinya sudah dibuat mpr, maka semua biaya tsb ditarik utk ditotal dari setiap cost center, jadi itulah yg akan diakui sebagai Asset! Bagaimana? Paham?" Katanya lagi.
Aku hanya mengangguk-angguk takzim dan ngantuk.
"Lalu bagaimana dengan bangunan dan biaya yg masih on progress saat tutup buku atau akhir tahun?" Katanya lagi seakan bertanya kepada dirinya sendiri karena sadar tidak ada satupun diantara kami yg memperhatikan.
"Lihat, misalnya kontraktor ABC sesuai kesepakatan kontrak membuat timbun tanah dan jalan di Immature dan hingga akhir tahun hanya selesai 75% kalian tahu kenapa?"
"Kontaktornya malas Pak.." jawab temanku dengan asal.
"Ya, bisa jadi, tapi jgn langsung menyatakan itu, Kita harus menelusurinya apa alasannya, bisa jadi kesalahannya ada pada pihak kita.."
"Oke Pak!"
"Oke kita lanjut, contoh lain, jika CV CBA membangun sebuah Jembatan beton di Mature dan progress nya hingga akhir tahun juga hanya 75%, dan dalam kedua Kasus tersebut kedua kontraktor harus harus dibayar sesuai dengan progress kerjanya.."
Ponselnya berbunyi, dia keluar sejenak dan mengangkat telepon, aku menggerakkan baranku kekiri dan kekanan untuk mengurangi rasa ngantuk yg berlebihan.
Dia kembali lalu mengemas tas dan berkata,
"Oke, sampai dimana tadi?"
"Pembayaran kontraktor Pak!"
"Oh ya, bagaimana pengakuan dan pencatatannya itu, bagaimana pelaporannya diakhir Tahun pada GL dan Neraca?"
Dia tersenyum, lalu berkata, "Oke lain waktu kita teruskan ya, saya panggilan, tetap semangat ya!" Sambil melambai kepada kami.
Kami saling berpandangan satu dengan yg lainnya, seperti kebingungan, sampai seorang teman berkata,
"Pengajar hanya menyelesaikan materinya 75% dan meninggalkan kalimat tanya, kenapa itu bisa terjadi?"
"Yang diajarinya malas Pak.." jawabku asal dgn logat yg dicocok-cocokkan.
"Oke, bagaimana pelaporannya jika mereka malas?"
"Entahlah, akupun tidak tahu, mungkin bisa jadi pelaporannya on progress, karena pengetahuan Kita itu masih tanggung-tanggung.."
"Lalu apakah cost untuk memperoleh pengetahuan Kita itu nantinya dikapitalisasi sebagai Asset atau langsung diakui sebagai biaya?"
"Hahaha, Assetlah!!"
"Iyalah, itu asset yg berharga, makanya latih terus pengetahuanmu itu, jgn main hape terus kerjaanmu!!"
"Iya, ya, kalau pertanyaan Bapak itu tadi?"
"Sttt, nantilah Kita cari dibuku Akuntansi, karena pernah kubaca ada yg namanya akun prepaid untuk menampung semua cost yg nantinya akan Kita akui sebagai biaya dan akun CIP ( Construction in Progress) untuk menampung biaya yg nantinya Kita akui sebagai Asset.."
"Keren, pengetahuanmu asset berharga juga bro!!"
"Apanya berharga?!"katanya malu-malu.
"Jadi kemana Kita ini?"
"Ngopilah dulu sambil ngerokok nunggu sore!"
"Cocok itu, tapi jgn diskusi tentang Akuntansi lagi ya, pening kepalaku.."
"Iya, kepalamu memang bukan asset, tapi cost center 😂"
"Hahaha, lappetlah kau!"

Pariban - Sebuah Catatan

Pariban - Sebuah Catatan

Seorang teman meminta opini kepadaku tentang pariban, kusuruh dia mencari di Internet tentang apa dan bagaimana tentang pariban itu, banyak yg bisa kamu dapatkan tentang pariban, jauh lebih dari yg sekedar kamu bayangkan!
Pariban, dalam berbagai Kasus dalam kehidupan Batak (sejauh yang saya ketahui, bukan hasil riset) adalah sebuah topik yg sangat banyak dibahas, baik dari segi cerita dalam bentuk cerpen, novel, hingga film, ulasan-ulasan Dan artikel ringan hingga topik ilmiah. Pariban, dari berbagai sudut pandang, selalu menjadi percakapan dan bahan saat berjumpa teman dan Keluarga. Pariban juga, selalu menjadi opsi pertama, dan tentu, Opsi terakhir untuk menjadi teman hidup.
Pariban juga, sering menjadi orang yg malu-malu bahkan malu-maluin saat bertemu, terlebih dengan kawan-kawan 😅
Pariban, sebuah topik yg kadang dijadikan tokoh antagonist dalam sebuah Novel, karena menjadi penghalang hubungan seorang lelaki Batak dengan Gadis yg disukainya, pariban juga adalah orang yg hampir tidak ada catatan romantis tentang dia 😎
Dalam Batak, semua pasti punya pariban, karena kalau dicocok-cocokkan, dalam partuturan, akan jumpa asal-usul, akhirnya Kita akan menemukan pariban Kita, marga dan boru apa saja.
Tentang hubungan dengan pariban?
Aku tidak punya catatan banyak, tidak Ada pengalaman mendetailku dengan pariban, tetapi setidaknya, aku pernah membaca bahkan membuat sebuah cerita tentang pariban.
Tentang pertanyaan temanku mengenai pariban, aku hanya memberi opini, semua hubungan tergantung kepada gantungannya 😀
Entah itu pariban, entah tidak (selagi tidak tarito) adalah sebuah hubungan yg perlu dibina, tidak terlalu banyak unsur pariban atau tidak yg akan mempengaruhinya.
Tetapi jika menikah sama pariban, tondong tidak bertambah banyak, tetap itu-itu saja, hehehe
Lalu, jika ada Satu hal yg sering membuat saya bertanya-tanya tentang pariban adalah,
"Apa kabar pariban?"

Note : Hanya catatan iseng, bukan untuk jadi perbandingan dan acuan.
06062018

Jarak

Jarak

Suatu sore yang sederhana kita berdiri memandang garis pantai yang memisahkan lautan dan daratan, mencari arti dan menghitung dimensi dalam pemikiran kita masing-masing. Lalu, kita akan berjalan, berkeliling, menghabiskan waktu hingga sore benar-benar menjadi senja dengan gradasi sempurna dan burung-burung yang berebut pulang kesangkarnya, lalu berganti lagi nun jauh, di langit, rasi bintang membentang.
Sejenak, kita mulai paham, bahwa bagaimana pun itu, semuanya itu adalah dimulai ketika waktu adalah nol, dan ruang ada sebagai tempat semuanya bermula.
Sama seperti awal berjumpa, di kelas Fisika saat sekolah menengah dulu, aku mengagumimu Dan kau mengagumi semesta, dan rasa itu, selamanya mungkin sama, mengikuti hukum kekekalan energi yang pernah kita persoalkan sebelumnya.
Juga, seandainya, dulu saat SMA Kita tidak bersama, di kelas Matematika, tentang logika, mungkin kesimpulannya adalah, Kita tidak mungkin akan saling jatuh cinta.
Ya, karena aku mencintaimu, dengan cara yang berbeda dan bahasa yang tidak terdefenisi dengan kata-kata. Semua itu bisa Kita hitung dengan angka, aku paham dan mungkin kamu juga mengetahuinya, bahwa Kita seringkali dicocok-cocokkan sebagai pasangan sempurna kata dan angka, sebuah filosopi sempurna untuk sebuah pasangan yang tidak pernah ada imbangnya. Dan sejak itu jugalah, mungkin, aku benar-benar menyukaimu dan tertarik Gaya gravitasimu, menulisimu surat-surat sentimental, menghitung dan mengumpulkan peluang untuk bisa mendapatkanmu bahkan mencoba menciptakan sebuah pola untuk membuatmu jatuh cinta.
Aku tahu, cara terbaik agar usaha tidak sia-sia, Hukum Newton membuktikannya, hingga diakhir semester kita bisa bersama, menikmati sore yang sederhana di sebuah pantai berbingkai semesta.
Meskipun ternyata aku sadar semuanya tidak hanya sampai disana saja, karena waktu adalah sebuah garis lurus yang tetap melaju semuanya bisa terjadi dalam dimensi waktu, aku ingat suatu hari kamu berkata kepadaku, bahwa tidak seharusnya bersama.
"Untuk alasan apa?" Tanyaku, lalu kamu tersenyum sambil berkata,
"Jarak.."
"Jarak? Bukankah bisa memilih untuk dimana kita berada?"
"Bisa.."
"Kita bisa memilih untuk kuliah Kota yang sama, kampus yang yang sama, sehingga kita bisa melewati apapun bersama.."
"Ya, bisa.."
"Lalu?"
"Tapi kita tidak punya kepercayaan yang sama!"
Aku tercengang, terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa.
Dari sekian banyak konsep dalam perhitungan dan persamaan yang kutahu, aku belum menemukan itu, kepercayaan adalah jarak yang paling jauh dan memisahkan banyak hal tanpa dimensi, kepercayaan telah membuat perbedaan dan mengingkari logika.
Jika, saat itu adalah asal mula waktu, mungkin satu defenisi yang harusnya pahami, bahwa pada mulanya waktu adalah nol dan semua bermula ketika angka merangkak memulai perhitungan.
Lalu perlahan-lahan muncul dari persamaan-persamaan molekul-molekul atom, seandainya teori evolusi adalah landasan dari rasa cinta dan kata bisa menyederkanakannya, mungkin, malam itu, malam yang sederhana, kita tidak akan terpisah oleh jarak yang tanpa dimensi.
Dan seandainya juga malam itu, tidak terjadi perdebatan diantara Kita tentang awal dari alam semesta dan siapa penciptanya, seandainya juga   Kita tidak membaca tentang teori evolusi, tidak membaca sejarah, mungkin Kita tidak akan pernah sampai kesana.
Atau seandainya kita tidak pernah ada, eksistensi kita tidak nyata, Kita hanyalah cerita dalam ide pengarangnya, mungkin dia bisa mempertemukan Kita diakhir ceritanya.
Tapi diantara semuanya itu, yang paling mungkin adalah, seandainya ruang dan waktu bisa diundur, mungkin akan tahu kapan semua bermula dan jarak itu mungkin tidak pernah ada.
Tetapi semuanya konsep itu sirna, saat kita terpisah untuk menuntun langkah masih-masing,  dan aku paham jika suatu Hari nanti jarak itu semakin lebar saat kamu telah memutuskan menutup peluangku untuk bersamamu.
Hingga suatu hari yang sempurna, aku mendapat undanganmu, dan aku paham, bahwa jarak itu benar-benar ada, dan aku juga ingin kamu memahaminya dengan membaca berita tentangku Hari ini di Koran Kota, ya, kini aku ingin eksistensi hanyalah Ada dalam sebuah cerita, cerita yang suatu hari akan kamu sampaikan kepada anak-anakmu yang jatuh cinta kepada Alam semesta, aku juga ingin menyampaikan kepadamu, jaga mereka, akan tidak pernah terperangkap dalam jarak seperti dalam cerita kita. 
Salam dari semesta, jarak terjauh dalam defenisi yang pernah kita punya.

Minggu, 27 Mei 2018

Menulis, Hari ini dan Besok

Jika ada yg membuatku terkagum-kagum kepada seseorang seringkali adalah karena pola pikir dan kecerdasannya, lalu bisa menuangkan semua itu kedalam tulisan ataupun lukisan atau media lain, baik itu musik, puisi, juga dalam bentuk olah fisik dan lainnya.
Diantara semua itu, yg sering kucoba menekuni adalah, menulis. Kadang aku menganggap menulis itu gampang, tetapi ternyata bisa dalam semalam suntuk aku gagal menulis satu paragrap yg bermakna, bahkan pernah dalam seminggu aku gagal menulis satu tulisan dan berlanjut lama, membuatku tidak menulis apa-apa. Lalu aku mencoba untuk membaca sebanyak-banyaknya, dan, benarlah memang kutipan yg berkata, untuk menulis satu artikel, kamu harus membaca paling sedikit seratus artikel.
Lalu, aku pernah buat ide untuk menulis Novel dengan masa SMA dengan latar dikampung halaman, namun ide itu Kansas dan hanya mencapai sekitar sepuluh halaman, sekarang aku lupa menyimpan filenya dimana, sehingga akupun tidak ingat bagaimana alur ceritanya ingin kubuat. Terbaiklah catatan-catatan pendek yg kadang berbentuk cerpen, kadang berbentuk Surat atau bahkan kadang hanyalah kalimat-kalimat berima.
Juga sering aku menulis catatan-catatan untuk berbagi mengenai masa lucu ketika masih dikampung halaman.
Hari ini, aku beribadah di Gereja HKBP, saat Khotbah, diam-diam aku mengamati sekeliling, rasanya aku menemukan suatu Hal yg menarik, ya, aku ingin membuat riset kecil-kecilan untuk orang Batak perantauan, membaca catatan-catatan tentang mereka dan belajar adat istiadat yg berkembang mulai dari anak-anak Dan dewasa, aku ingin menjelaskannya dengan fiksi sederhana agar bisa dipahami dengan mudah oleh siapa saja.
Keinginanku muncul begitu saja sama seperti keinginanku dulu saat ingin menulis Novel gagal bertema Masa SMA itu.
Tetapi setidaknya aku masih punya keinginan dan aku yakin karena masih punya keinginan dan niatlah sehingga aku masih bisa melakukannya.
Aku masih bisa mengawali kembali untuk menulis hari ini dengan sebebas-bebasnya, dan aku masih bisa belajar sebanyak-banyaknya, membaca, menulis dan melakukan apapun yg kusukai untuk suatu hari nantinya jadi cerita.

Sabtu, 19 Mei 2018

Percakapan Sore di Telepon

Percakapan Sore di Telepon

"Nal.."
"Ya, kenapakah?"
"Lagi sibuk kau?"
"Gak juga sih, kenapa?"
"Mau curhat aku.."
"Hahaha, bukannya aku yg sesekali nelpon kau utk curhat?"
"Ya, sesekali biar balance Nal.."
"Oke, oke. Terus?"
"Taunya kau kan?"
"Tau apakah itu? Kalau udah Tau sebenarnya gak usah kau ceritakan juga sih.."
"Ah, kau memang. Udah pastinya Tau kau ceritanya itu!"
"Cerita apasih?"
"Berarti kau gak Tau ya Nal?"
"Apasih?"
"Berarti belum Tau kau ya?"
"Ah, Tak jelas juga kau, Tau gak Tau, Tau Tau, gak Tau!!"
"Hahaha, marah kau Nal?"
"Iyalah, ntah apapun kau!!"
"Itu lho, kayaknya yg mendekatiku aku kemarin itu seperti kau juga Nal.."
"Maksutmu? Cuma ada Satu versiku di Dunia ini ah 😋.. janganlah dirimu sama-samakan.."
"Iya serius aku.."
"Akupun serius, dua riuspun.."
"Iyalah.."
"Jadi gimana?"
"Ya begitulah.."
"Begitulah gimana? Lama-lama gak jelas juga ceritamu ini.."
"Gimana kau, gitu jugalah dia.."
"Maksudmu?"
"Gak jelas!!"
"Ah, dia yg gak jelas, Masa kau bilang aku gak jelas?"
"Iya, memang gak jelas.."
"Mungkin berdebu makanya gak jelas 😂.."
"Kan, asal ngomong Pasti ngawur.."
"Hahaha, jadi ngomong mesti serius ya?"
"Iyalah, memang bisa bercanda, tapi saat serius ya harus seriuslah!!"
"Ya, ya, seriuspun aku, kenapa rupanya?"
"Masa udah lama gak ada kabarnya Nal?"
"Kau tanyalah apa kabarnya, memang kabar bisa datang sendiri? Kecuali kalau dia media Massa, tanpa kau tanyapun Pasti dia ngasih kabar.."
"Tapi setidaknyakan.."
"Setidaknya apa?"
"Setidaknya Kasih kabar..!"
"Oh, jadi itu aja?"
"Gak juga sih banyak yg lain.."
"Ya sudah, nanti kukasih kabar.."
"Hahaha, kok kau?"
"Iyalah, setidaknya Ada yg mengabarimu, hehehe.."
"Terserahlah kaulah Nal, memang kau lagi ngapai?"
"Cie, nanya aku lagi ngapai dia.."
"Ya sudahlah, gak usah kutanya!!"
"Hahaha, lagi baca Novel Dilan 😎.."
"Hahaha, Masa laki-laki baca Novel gitu?"
"Iyalah, biar beda sama laki-laki yg kau ceritakan tadi, hahaha"
"Iyalah Nal, kau lanjutlah, asallah ending nya nanti gak seperti novel yg kau baca!"
"Okelah!"
"Oh, Nal, kabar si........... Gimana?"
"Tau ah,  gelap, aku mau lanjut membaca dulu, hahahah"
"Hahaha, dasar, titip Sal.."
Tutt, aku mematikan ponselku.
Selang, WAnya masuk.
"Memang Tak jelas kau Nal.."
Hehehe...

Arah Dairi Kedepannya

                                                     Arah Kabupaten Dairi Kedepannya Sebagai penduduk Kabupaten Dairi yang sedang merantau, ...