Apa kabar
Kuharap kau baik-baik saja, sama seperti aku yg sedang baik-baik saja saat menulis surat ini.
Oya, bagaimana ujianmu, kesehatanmu, semoga semuanya baik-baik saja bukan?
Aku menulisimu surat kali ini bukan karena aku baru mengingatmu, jujur, setiap hari aku mengingatmu meskipun aku tidak berani mengirimkan sms selamat pagi, selamat malam atau sapaan lainnya, kau tau mengapa?
Semua itu hanya akan menyisakan rasa kecewa.
Hmm, mungkin itu sama seperti pesan yg kukirimkan kepadamu lewat inbox fb beberapa bulan yg lalu dan sampai hari ini belum kau baca, padahal itu beberapa puisi dam sebuah cerpen.
Hmm..
Sebenarnya aku menulisimu surat karena entah mengapa hari ini aku iseng membuka profil fbmu dan seperti biasa, tidak pernah kau buka dan sepertinya aku sudah mengerti itu mengapa.
Kau tahu?
Sebenarnya aku sangat rindu kau menyapaku, lalu kau akan bercerita tentang anak+anak kecil yg menggemaskan itu, jg tentang dosen-dosen kita, tentang temanmu yg selalu bertingkah berlebihan.
Dan aku jg ingin bercerita banyak kepadamu, itupun jika kau mau mendengarkan dan tidak memotong ceritaku, kau taukan mengapa setiap alasan itu ada, karena ada yg ingin ditutupi dgn alasan tersebut.
Yah..
Minggu, 03 Mei 2015
Untuk
Sabtu, 02 Mei 2015
Catatan sore
Entah mengapa, sore ini aku iseng memasukkan nama seseorang ke mesin pencarian google, dan tiba-tiba aku teringat sesuatu. Pernah suatu kali aku ingin menggunakan nama itu jg menjadi tokoh ceritaku, hanya saja aku ragu, karena nama itu cukup unik dan sampai sekarang hanya dia satu-satunya yg kutau menggunakan nama itu.
Ya, begitulah sebuah kenyataan, meskipun sepertinya tokoh cerpenku Liana akan keberatan jika aku menggantikannya dgn tokoh yg baru dan benar-benar nyata, tetapi seperti biasa, aku jg takut pada diriku sendiri jika suaru hari nanti aku membaca tulisanku aku menemui nama itu, tentu itu akan jadi sentimentil, hehehe..
Jika ditanya memang, apalah arti sebuah nama, tetapi sepertinya aku sensitif dgn nama itu, mungkin sesensitif saat aku melihatnya, hahaha, bukankah itu sesuatu yg sangat konyol menurutmu?
Memang ada kalanya aku harus mengakuinya, seperti aku mengakui perasaanku disetiap cerita yg kutulis, meskipun aku sengaja membelit-belitkan kata-kataku agar tidak ada seorang pun yg tahu.
Bukankah itu jg artinya aku selalu membentengi diriku dan menyimpan segala sesuatu untuk diriku sendiri?
Mungkin suatu hari nanti kau akan menjadi temanku berbagi, bukan begitukah?
Tidak apa-apa kalau kau merasa bahwa nama yg kucari itu adalah namamu, mengapa?
Karena sebenarnya meskipun berulangkali kau bertanya, aku tidak akan pernah memberitaukan itu siapa..
Hahaha, rasanya itu tidak lucu bukan?
Dipencarian google, aku hanya menemukan akun jejaring sosialnya, FB, Instagram yg mencantumkan Line, Path dan namanya dipengumuman penerimaan mahasiswa baru portal sebuah kampus, entah itu tahun berapa, mungkin kau akan mencoba menelusurinya jika suatu hari kau sudah tahu, hehehe...
Kau tahukan, sebenarnya ini hanya catatan isemg disore hari saat aku menikmati hujan dan secangkir kopi, dan disitulah berasal keisengan ini.
Hmm, mungkin jg kau bisa menawarkan namamu utk dijadikan cerpen, atau kau punya cerita yg sentimentil utk dijadikan cerita..
Atau kau mau bercerita banyak kepadaku untuk menghabiskan galaumu, karena mungkin kau sepertiku melankolis, hehehe
Bisa jd menulis, tidak masuk akalmu, tetapi kau bisa bercerita sebanyak-banyaknya.
Atau bahkan kau mungkin sama sepertiku, selalu mengintip profil sosmed seseorang untuk menemukan sesuatu disana..hehehe.
Tetapi satu yg pasti, aku tidak akan berbagi siapa nama yg ku googling sore ini, kenapa? Karena itu sentimentil, titik!!
Jumat, 01 Mei 2015
Catatan Perjalan
Kau taukan, terkadang kita tidak dapat memilih jalan mana yg harus kita pilih . Tetapi ada kalanya suatu saat kita harus mengosongkan pikiran dgn melakukan sebuah perjalanan tanpa tujuan.
Aku mencatatkan perjalan ini saat aku sedang menikmati perjalananku sendiri yg tanpa tujuan ini, ya, tgl 30 april 2015 aku memutuskan sebuah perjalanan tanpa rencana utk mengosongkan pikiranku.
Kau tahu mengapa?
Aku sedang patah hati dan perasaanku sedang tidak damai, aku kecewa pada diriku sendiri dan keadaan ini.
Bagaimana mungkin jika semua yg kita harapkan tidak sesuai tujuan?
Memang aku adalah seorang yg selalu menerapkan target yg teramat tinggi sehingga selalu menemui rasa penyesalan yg berlebihan setiap target luput dari sasaran.
Tetapi aku tidak akan membahasnya karena ini adalah sebuah catatan Perjalanan sekaligus surat untuk seseorang, dan tidak apa-apa jika kau merasa bahwa kau adalah seseorang itu, paling tidak kau bisa merasakan makna kegalauan seorang pria yg patah hati dan membuatkan surat untukmu dalam keadaan patah hati.
Aku sebenarnya ingin bercerita banyak tentang jalanan Yg kulalui, daun-daun yg enggan melambai mengucapkan sampai jumpa mungkin untuk yg terakhir kali atau sungai-sungai bening yg mengalir menuntun langkahnya sendiri, pegunungan yg selalu tegar menyambut para pendaki, pedagang yg selalu setua menanti pelanggan yg datangnya belum pasti.
Kau tau?
Mungkin bukan pertama aku menikmati perjalanan tanpa tujuan ini, meskipun memang harus kuakui inilah pertamakali aku mencoba mencatatkannya di blogku, mungkin untuk bisa kau baca dan kau bisa mengerti bahwa aku sedang kecewa dan patah hati.
Kuakui, seperti sebuah perjalanan dan keindahan yg sedang aku nikmati dan tanpa alasan aku bisa mengagumi, begitu jugalah rasanya tentang jatuh cinta dan patah hati, kita tidak punya alasan untuk itu.
Pernahkah kau bayangkan suatu kali, saat engkau jatuh cinta dan tanpa alasan apapun kau akan menyukainya?
Pernahkah kau bayangkan disuatu saat pula kau menyadaei bahwa gadis yg kau suka ternyata sudah memilih seseorang utk tempat berlabuhnya.?
Mungkin disaat yg sama kau akan memutuskan hal yg sama dgn yg kulakukan saat ini dgnku.
Kau akan melakukan sebuah perjalanan tanpa tujuan, menikmati kesunyian perjalan, didalam bus, kau akan melihat semua kenangan mengalir dalam ibgatan ditambah sang supir yg memutar lagu-lagu melankolis yg sangat menyiksa perasaan..
Ya, MLTR dgn sempurna menyanyikan lagu Complicated Heart, 25 Minutes to Late, Thats Why (You go a way), dan kau mungkin akan sangat menikmatinya karena sangat sentimentil, dan kau mungkin akan membayangkan seorang yg kau sukai itu sedang tersenyum manis dan melambai kearahmu.
Ah..
Itu semua mungkin teramat sentimentil, tetapi aku harus mengakui bahwa melakukan perjalanan ini hanya karena sedang patah hati.
Dan aku juga tidak mengerti apa yg berkecamuk dalam pikiranku. Kau tahu?
Terakhir ini aku teramat menuntun pikiranku, seperti nenuntun perjalananku sendiri.
Aku mencoba mencatatkan Perjalan ini ketika aku berada disebuah daerah yg tidak kukenal, sebuah persawahan yg tidak terlalu luas disebuah kecamatan di kabupaten karo, dan lihatlah, semua orang sedang asik dgn pekerjaan mereka, air yg bening, ikan yg berkeliaran dgn bebas.
Ah, seandainya aku bisa terbebas dgn pemikiranku saat ini, seandainya bukan aku sendiri yg sendiri yg sedang menikmati perjalanan tanpa tujuan ini dan seandainyaasih banyak andai-andai yg lain...
Yah, begitulah hidup.
Banyak yg harus kita pilih dalam hidup ini, bahkan mungkin kau harus memilih seperti pilihanku, memilih tidak bercerita kepada siapapun, memilih untuk mencatatkan semuanya meskipun tidak jelas artinya.
Membuat sebuah surat meskipun tidak jelas tujuannya.
Itulah sebuah kenyataan, sebuah prrjalan tanpa tujuan.
Ada kalanya kau menyesali sebuah perjalanan, tetapi ada kalanya juga kau sangat menikmatinya, saat itu kau akan Melihat jalanan dgn pohon-pohin yg berjalan meninggalkan bus yg kau tumpangi, tempat2 wisata dan pasangan2 yg memaksa diri utk romantis, anak2 sekolah yg sedang berusaha mencatatkan kenangan sebelum waktunya tiba bahkan seorang yg sedang patah hati dan berusaha mencatatkan kenangangannya.
Dan kau kan, betapa sentimentilnya kenangan itu, lalu hari ini akan berlalu dan aku harus kembali melanjutkan perjalanku, mungkin aku akan mencoba mencatatkannya kembali, jika kau masih mau menbacanya lagi...
Minggu, 26 April 2015
Memanen Hujan
Bolehkah aku menampung hujan?
Menyiramkannya ke bunga-bunga kering dipinggiran jalan
Lalu seorang gadis kecil yang melintas
Akan tersenyum memandangnya sekilas..
Bolehkah aku mendengar rinai hujan?
Yang turun dari pangkuan awan
Nada-nadanya merdu meski tidak beraturan
Membelai daun-daun yang kedinginan..
Kalau boleh memanen hujan
Akan kuajak anak-anak pinggiran
Menikmati hujan yang tidak bertuan
Menjadi kekasih dalam kesendirian
27042015
Sabtu, 25 April 2015
Terjebak Hujan
Kurasa tidak terlalu buruk jika suatu hari nanti kau menemukan dirimu terperangkap dalam hujan di sebuah perempatan jalan di kota M ini, karena sungguh, kau akan menikmatinya, orang-orang yang berteduh, ojek payung gratis yang sok jadi pahlawan atau bahkan mata-mata liar yang mencari kesempatan- ditengah kesempitan.
Karena itulah kemungkinana, dan kau mungkin akan beruntung melihat seorang gadis yang linglung, dan kau tidak pernah tahu, apakah dia sedang menunggu seseorang ataukah dia terbuai kenangan dalam hujan?
Jikalau kau punya nyali, kau akan mencoba menanyakan itu kepadanya, dengan pertanyaan malu-malu yg penuh makna..
"Hujannya deras juga ya.."
Dan mungkin dia akan menjawabmu dengan anggukan saja, lalu kau akan meneruskan pertanyaanmu..
"Terperangkap hujan juga?"
"Ya.."
"Memangnya anda mau kemana?"
"Kenangan.."
"Astaga, anda jgn bercanda, dimana itu kenangan?"
"Diantara bus-bus yang melintas menembus hujan, mereka selalu membawa kenangan.."
Dan kau akan terdiam sejenak, untuk mencerna apa yg diucapkannya, saat itu hujan masih turun deras dan jalanan sudah mulai tergenang, apakah engkau masih mencoba melanjutkan percakapan?
Kau mencoba melirik sekilah wajahnya, dan saat yang sama dia melirikmu, pandangan kalian bertemu, adakah kata yg cocok untuk melukiskannya sebagai sebuah suasana?
Hujan mungkin tidak akan segera reda, namun sebagai seorang pria yg melankolis, kau pasti akan selalu punya cerita tentang setiap suasana, karna itu jglah mungkin kau sampai lupa dan merasa hujan kali ini terlalu singkat utk sebuah kenangan, sehingga kau jg lupa menanyakan dia siapa bahkan kau lupa bahwa sebenarnya ini hanya sebuah fiksi sederhana.
Sabtu, 25 April 2015
Kamis, 23 April 2015
Perpustakaan Patah Hati
Hidup kita adalah cerita, tetapi apakah kita akan terperangkap dalam kisah-kisah melankolis yang dipajang disalah satu sudut lemari tanpa pembaca?
Ada kalanya, suatu hari yang sederhana, kau akan memutuskan untuk jatuh cinta kepada buku-buku yang berkuasa diruangan itu, tanpa memperdulilan apa saja, sebab cinta itu sederhana, sesederhana waktu ketika kaca mata bertemu kata dalam kertas berwarna hitam putih yang penuh cerita dan kau sungguh menikmatinya, seperti menikmati puisi-puisi romansa Kahlil Gibran, Shakespare atau sejenisnya.
Tetapi pernahkah engkau menyangka akan jatuh cinta pada seorang wanita sentimentil yang terperangkap dalam halaman buku yang kau baca?
"Wanita dalam cerita selalu saja sentimentil, tidak pernah ada yang berbeda.."
Wanita itu kau temui sedang terisak dengan kisah cinta yang kandas karena sebuah cerita yang sad ending dan kau mungkin akan berkata, "Terlalu banyak cerita dengan ending yang sama diperpustakaan ini, dan ceritamu hanyalah salah satu diantaranya.."
Kau mungkin dapat berkata bahwa perpustakaan bukanlah tempat yang romantis untuk memulai sebuah cerita, karena cinta itu tidak muncul begitu saja saat duduk bersama membaca kata-kata yang melintas begitu saja, tidak mungkin juga ada hanya karena cerita yang terucap tanpa ada pertanggunjawabannya. Namun, diantara rak-rak yang tersusun rapi dengan angka-angka berurut sebagai penanda, mungkin suatu kali kau akan benar-benar jatuh cinta, saat melihat seorang gadis manis berkacamata sedang membolak-balik sebuah buku.
Tidak perlu kau tanya mengapa kukatakan engkau jatuhcinta kepadanya, kenapa, karena tidak ada alasan yang sempurna untuk rasa suka.
Dan kita adalah sebuah cerita, sehingga saat engkau jatuh cinta engkau akan memutuskan untuk melakukan apapun untuk mendapatkannya, mungkin sama seperti seorang penulis yang melakukan apa saja untuk menyelesaikan tulisannya.
Sama seperti itu jugalah, mungkin, ada kalanya suatu saat kau tidak bisa menerima jika ternyata sang wanita yang kepadanya engkau telah jatuh cinta telah mempunyai tambatan hatinya dan sedang menunggunya disalah satu sudut perpustakaan, dan kau akan melihat senyum manis wanita itu kepada kekasihnya, lalu mereka akan tertawa mesra, mungkin seperti sebuah cerita yang engkau sedang mencoba menyelesaikan membaca.
Dan kau?
Kau akan memutuskan untuk kembali terperangkap dalam cerita, bersama buku-buku berdebu yang kau sendiri kadang lupa itu terbitan tahun berapa, sudah berapa kali kau baca dan halaman berapa saja yang kau suka, kadang juga kau melipatnya, mengutipnya beberapa dan menjadikannya atatus disosial media. Ada juga kalanya kau berangan-angan untuk menjadikannya sebuah cerita, tetapi kau takut orang akan tau bahwa kau pernah gagal dalam hal cinta.
Mungkin, sama seperti hari-hari sebelumnya, ada kalanya suatu saat kau menemukan sebuah kalimat yang sempurna untuk disampaikan kepada seorang wanita, hanya masalahnya kau tidak tau wanita itu siapa..
"Siapa dia?"
Mungkin dia adalah wanita sentimentil yang tinggal dalam kenangannya, mungkin juga dia adalah seorang wanita yang selalu ceria, mungkin dengan sejuta kemungkinan dan aku tidak pernah tau meskipun aku penulis cerita karena aku juga tidak tau seperti apa wanita yang kau suka.
Lalu tentang hal itu, berapa kali kau akan memutuskan untuk jatuh cinta, berapa lama lagi kau putuskan untuk membaca dan terperangkap dala cerita tanpa makna dan kapan akan kau ungkapkan bahwa kau mencintainya?
Aku tahu, mungkin kau tidak akan pernah melakukannya karena seperti penulis yang selalu menulis sebanyak-banyaknya, seperti itu jugalah mungkin engkau yang menghabiskan waktu untuk mencintainya lewat tatapan mata yang penuh harap, lalu sampai kapan engkau tinggal dalam cerita dan ilusimu sendiri?
"Sampai cerita sampai pada halaman terakhir dan perpustakaan ini akan ditutup.."
Dan ketika cerita yang kau baca berakhir, kau akan menemukan bahwa wanita dalam cerita itupun ternyata telah ada kekasihnya dan kau patah hati dibuatnya, lalu ketika perpustakaan akan ditutup, kau melihat wanita, yang kepadanya engkau jatuh cinta, sedang duduk mesra bersama kekasihnya menikmati senja yang masih tersisa di taman perpustakaan.
Lalu apa yang salah?
Cerita hanyalah cerita dan perpustakaan mungkin masih meyimpan cerita lainnya dan kau harus berusaha untuk lupa tentang pertemuan-pertemuan lainnya.
Kamis, 22 April 2015
Rabu, 22 April 2015
Percakapan sorr ditelepon
Aku sedang asik membaca buku Apologianya Socrates sore itu ketika ponselku berbunyi dan ketika melihat siapa nama yg menelepon itu, aku sudah bisa tebak apa kalimat pertamanya dan yg akan diomongi..
"Apa kabar, lagi ngapai kau?"
Aku menjawabnya seperti biasa jg..
Dia mulai melanjutkan obrolan teleponnya, mungkin obrolan yg sama, cerita yg sama hanya dgn versi yg sebelumnya.
"Tau kai, siapa uda kek gini lho, siapa pun, siapa, siapa.."
Kau kek mana?
"Ah, itulah masalahnya, ternyata semua orang bisa menjadi teman kita kalau kita punya apa yg mereka inginkan.."
Aku mulai tertarik, memang knapa?
"Itu lho, aku dimanfaatkan, di php.."
Trus?
"Lappetnya itu, baik aku sama dia, kupikir dia suka samaku.."
Trus?
"Menurutmu, cmmana itu?"
Apanya?
"Cemmana mengalahkan hati cewek?"
Kok kau tanya aku? Aku aja gagal terusnya..
"Serius dulu ah.."
Ya udah, cewe itu seperti monyet..
"Seriuslahhh.."
Dia akan melepaskan dahan yg lemah ketika sudah menemukan dahan yg kuat..
"Asekk.."
Jadilah dahan yg kuat, jgn jadi lappet!
"Hahaahah.."
Satu lagi, yg istimewa akan tergantikan dgn yg selalu ada..
"Jadi?"
Yah, adalah sama dia, jgn kau bahas liga champion terus sama Manchester United, sesekali romantis dan sentimentil, menikmati senja atau berpuisi, ciee cieee..
"Hahhaha, oke-oke.., itu aja?"
Sesekali datanglah kerumahnya bawa makanan yg tidak disukainya, jd kalau dia gak mau makan, yah makan aja sendiri, lumayankan, gak rugi..
"Hahah, iya jg ya.."
Ialah..
"Oiya, ada satu yg mau kutanya samamu?"
Apa, tumben kau bertanya, biasanya cuma minta saran ajanya?
"Kau pintar kali soal teori, kapan kau praktekkan teori kau itu, gk pernah bahas cewe, tp cerpen kau galau terus..."
Selou..., kan ada adek kau..
"Mata kau, mau kau kasih makan apa adekku?"
Hahaha, udahlah kau praktekkan dululah yg kubilang tadi, jgn lupa, titip salam sama adek kau hahaha..
"Bilang aja sendiri kalau kau berani, bawa makanan nanti kerumah biar aku yg menghabiskan.. Hhahaaha.."
Iyalah, lakkeap..
Hahaha..
Jumat, 17 April 2015
Cerita Iseng
Tadi, ketika pulang kuliah, aku bertemu seorang kawan lama sewaktu SMA dan kebetulan dia sedang bersama temannya. Dia menyapaku, dan seperti biasa berbasa basi seperti orang kebanyakan lainnya. Sampai tiba tiba temanku ini berkata, "Bentar ya, kalian ngomong-ngomong dulu, aku ada urusan sebentat kesana..".
Aku mengangguk dan melihat gadis yg akan menjadi lawan bicaraku, cukup manis hahaha...
Tetapi ternyata dia langsung memulai percakapan, "Aku Liana.." Katanya menyodorkan tangan.
Aku menyambutnya dan mulai berbicara..
"Namaku Rinaldi Sinaga, Mahasiswa Akuntansi stambuk 2012 di Nommensen, Lahir di Purba Sianjur 29 February 1994, menyelesaikan sekolah dasar di SDN 030328 Bandar Huta Usang.."
Gadis itu mulai kelihatan bingung karena aku masih memegang tangannya, tetapi aku tidak peduli dan meneruskan perkenalan.
"Saya melanjutkan SMP di SMPN 1 Pegagan Hilir dan tamat tahun 2009, lalu SMAN 1 Pegagan Hilir tahun 2012, jadi saya sudah tamat selama tiga tahun..."
Dia tampak semakin bingung dan aku mulai geli..
"Hobbyku adalah membaca dan menghayal..."
Dia tambah bingung karena aku belum melepaskan tangannya dan untung saja kawanku itu segera datang kalai tidal aku akan melepaskan tawaku melihat kebingungannya.
Dan ketika aku sampai di kosan, aku menerima pesan dari teman SMAku itu, "Kau tambah nakal sekarang ya.."
Hahaha, aku hanya membuat momen, karena terkadang kita tidak mengerti sebuah momen sampai itu menjadi kenangan.
Ini untuk mengenang tiga tahun sesudah masa SMA. :D
Kamis, 16 April 2015
Catatan patah hati : Ini hanya perkara nyali..
Ada kalanya kita memang tidak percaya diri, tidak ada yang istimewa dan bisa membuat bangga, padahal segala sesuatu punya maknanya sendiri.
Ya, seperti yang kurasa dan kualami sendiri saat patah hati, aku yg adalah orang yg selalu pesimis dan tidak pernah berbicara tentang cinta, tetapi selalu menulis cerita pendek tentang cinta. Aku yg menulis karena selalu menyimpan rasa yg terpendam kepada seorang wanita, aku yg adalah bodoh hanya bercerita diblogku sendiri dan berharap tidak akan ada orang yang membaca.
Kurasa, aku tidak lebih buruk, tetapi aku tahu ini hanya perkara nyali, aku yg selalu merasa tidak punya apa-apa, tidak ada yg istimewa, tentu akan kalah dibandingkan yg lainnya, atau aku yg sudah berani memulai, tetapi tidak tahu bagaimana kelanjutannya, tentu akan dipotong oleh saingan yang lainnya.
Sekali lagi, hidup yg melankolis ini ternyata sangat menyiksa, kurasa aku tidak perlu melukiskan galauku saat ini jika semuanya tidak mendera jiwa.
Apa jadinya jika seorang gadis yg sangat kusuka dan dengannya aku ingin merancang masa depan nantinya telah memilih seseorang menjadi tempat berlabuhnya?
Aku memang sentimentil dan harus kuakui itu, kegagalan akan membuatku murung dan menyiksa hari-hariku, rasanya lengkap sudah mengakhiri semuanya, semua bercampur aduk dalam jiwa...
Entah apa...
Kadang aku memang harus akui juga, aku hanya menunggu saat yg sangat tepat untuk mengucapkan komitmen. Tetapi siapa yg sabar menunggu saat yang tepat itu??
Entahlah, seandainya aku tahu bahwa engkau telah memilih, mungkin aku bisa menanyakan kriteriamya...
Memang aku bisa mengambil hikmahnya, tetapi itu hanya akan membuatku menderita dan rasanya baru kali ini aku jatuh cinta dan aku sudah menulis puluhan untuknya, dengan nama yg berbeda...
Entahlah...
Mungkin aku akan mencoba menunggu dan menunggu lagi, mungkin besok atau besoknya lagi aku masih akan jatuh cinta kepada orang yg sama dan kuharap itu kau..
Selasa, 14 April 2015
Liana...
Aku hampir tertidur ketika angkot yg kutumpangi berhenti di halte itu, di depan sebuah kampus tidak ternama di Kota M. Saat itulah gadis itu naik ke angkot, tangannya memegang sebuah antalogi puisi Suparji Djoko Damono dan dari stempelnya aku bisa menebak bahwa buku itu adalah pinjaman dari perpustakaan kampusnya.
Diangkot, aku tidak melihatnya membaca, dia menatap jauh keluar lewat kaca, seperti menikmati tatapannya, ketika itu aku menyadari ternyata tatapannya sayu dan teduh.
Aku mencoba melihat juga apa yang dipandanginya, lampu-lampu warna warni yang temaram, warung-warung pinggir jalan yang selalu ramai pengunjung dan orang-orang yang ingin menyeberang dengan pemikiran di kepalanya masing-masing.
Aku melihat gadis itu menikmati semuanya, semoga dia tidak menyadari, aku juga menikmati pemandangan tentang dia.
Tiba-tiba kulihat dia merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah catatan kecil dan disana tertulis namanya, Liana..
Astaga, bagaimana aku bisa lupa?
Baru beberapa hari yang lalu aku bertemu dengannya, aku juga baru menyelesaikan sebuah cerpen berjudul Kenangan yang membeku di Heaton Park dan namanya kubuat sebagai tokohnya dan hari ini aku bertemu lagi dengannya padahal aku belum berhasil menanyakan apakah dia masih mau menjadi tokoh cerpenku.
Aku ingin tersenyum sendiri tetapi tidak jadi saat kulihat dia menuliskan beberapa kata di catatan kecilnya dan aku yakin itu adalah puisi...
Sembari menunggu dia selesai menulis, kusiapkan pertanyaanku meskipun aku bingung untuk memulai dan aku tidak punya banyak kata untuk menciptakan obrolan yang hangat. Kulihat dia melipat bukunya dan dengan bergetar dan jantung yang berdegup, aku ingin memulai percakapan kalau seandainya saja tidak kudengar dia berkata..."Pinggir pak..."
Aku tersenyum kecut dan hanya bisa berharap besok atau besoknya lagi atau kapan-kapan aku masih bertemu dengannya dan menyampaikan beberapa cerpenku kepadanya, kalau seandainya saja dia bukam tokoh fiksi...
Jumat, 10 April 2015
Ada Kalanya Suatu Waktu Engkau Akan Menunggu
Aku tahu, suatu saat, mungkin saat yang sama dengan saat ini, disebuah persimpangan, disebuah ujung jalan. Saat daun berguguran di musim gugur gugur yang datang terlalu cepat, kala engkau menyusuri jalanan, kesepian ditengah keramaian, ketakutan dalam kesenangan, benarkah engkau akan rindu akan sebuah kemungkinan?
Kita adalah kita, dan kita juga pernah berkata bahwa segala sesuatu akan ada waktunya..
Tetapi mengapa kali ini hanya aku yang merasakannya?
Aku sebenarnya ingin bercerita banyak kepadamu jika kau punya waktu, tetapi aku tahu engkau telah membingkai waktumu itu, entah untuk siapa dan rasanya engkau telah manfaatkan musim semi dalam jiwaku, entah ini kebodohanku atau keuntunganmu, aku tidak mengerti karena aku hanya mengerti bahwa daun gugur itu selalu punya makna, bahwa lampu lampu temaram itu selalu memberi warna dan tawa kawan kawanku yang selalu tersisa..
Sedangkan kau?
Aku tidak pernah tahu, sebab sesungguhnya ada waktu untuk kita mengingau, galau bahkan menunggu..
Suatu kali, saat senja atau musim semi yang terlambat tiba, ketika itu bunga sakura sudah bersemi di kota kanikawa dan salju sudah mencair di nagusa, kau akan tahu berapa beratnya menunggu dari musim gugur hingga musim salju yang membeku..
Tetapi percayalah, meskipun engkau adalah gadia tropis, seperti bunga yang tumbuh mempesona sepanjang musim, akan ada waktunya, ketika musim kemarau berkepanjangan engkau akan kering dan memutuskan untuk menunggu hujan..
Saat itulah aku akan mengajakmu, menikmati empat mus yang selalu mendera..., dan kita akan menikmatinya bersama..
Sama seperti matahari dan bulan yang tampak bersama, sama seperti aurora yang mempesona..
Akan ada waktunya, kau menunggu, dan aku juga..
Akan ada waktunya, salju dan hujan turun bersama di kala senja..
Arah Dairi Kedepannya
Arah Kabupaten Dairi Kedepannya Sebagai penduduk Kabupaten Dairi yang sedang merantau, ...