Rabu, 06 Juni 2018

Jarak

Jarak

Suatu sore yang sederhana kita berdiri memandang garis pantai yang memisahkan lautan dan daratan, mencari arti dan menghitung dimensi dalam pemikiran kita masing-masing. Lalu, kita akan berjalan, berkeliling, menghabiskan waktu hingga sore benar-benar menjadi senja dengan gradasi sempurna dan burung-burung yang berebut pulang kesangkarnya, lalu berganti lagi nun jauh, di langit, rasi bintang membentang.
Sejenak, kita mulai paham, bahwa bagaimana pun itu, semuanya itu adalah dimulai ketika waktu adalah nol, dan ruang ada sebagai tempat semuanya bermula.
Sama seperti awal berjumpa, di kelas Fisika saat sekolah menengah dulu, aku mengagumimu Dan kau mengagumi semesta, dan rasa itu, selamanya mungkin sama, mengikuti hukum kekekalan energi yang pernah kita persoalkan sebelumnya.
Juga, seandainya, dulu saat SMA Kita tidak bersama, di kelas Matematika, tentang logika, mungkin kesimpulannya adalah, Kita tidak mungkin akan saling jatuh cinta.
Ya, karena aku mencintaimu, dengan cara yang berbeda dan bahasa yang tidak terdefenisi dengan kata-kata. Semua itu bisa Kita hitung dengan angka, aku paham dan mungkin kamu juga mengetahuinya, bahwa Kita seringkali dicocok-cocokkan sebagai pasangan sempurna kata dan angka, sebuah filosopi sempurna untuk sebuah pasangan yang tidak pernah ada imbangnya. Dan sejak itu jugalah, mungkin, aku benar-benar menyukaimu dan tertarik Gaya gravitasimu, menulisimu surat-surat sentimental, menghitung dan mengumpulkan peluang untuk bisa mendapatkanmu bahkan mencoba menciptakan sebuah pola untuk membuatmu jatuh cinta.
Aku tahu, cara terbaik agar usaha tidak sia-sia, Hukum Newton membuktikannya, hingga diakhir semester kita bisa bersama, menikmati sore yang sederhana di sebuah pantai berbingkai semesta.
Meskipun ternyata aku sadar semuanya tidak hanya sampai disana saja, karena waktu adalah sebuah garis lurus yang tetap melaju semuanya bisa terjadi dalam dimensi waktu, aku ingat suatu hari kamu berkata kepadaku, bahwa tidak seharusnya bersama.
"Untuk alasan apa?" Tanyaku, lalu kamu tersenyum sambil berkata,
"Jarak.."
"Jarak? Bukankah bisa memilih untuk dimana kita berada?"
"Bisa.."
"Kita bisa memilih untuk kuliah Kota yang sama, kampus yang yang sama, sehingga kita bisa melewati apapun bersama.."
"Ya, bisa.."
"Lalu?"
"Tapi kita tidak punya kepercayaan yang sama!"
Aku tercengang, terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa.
Dari sekian banyak konsep dalam perhitungan dan persamaan yang kutahu, aku belum menemukan itu, kepercayaan adalah jarak yang paling jauh dan memisahkan banyak hal tanpa dimensi, kepercayaan telah membuat perbedaan dan mengingkari logika.
Jika, saat itu adalah asal mula waktu, mungkin satu defenisi yang harusnya pahami, bahwa pada mulanya waktu adalah nol dan semua bermula ketika angka merangkak memulai perhitungan.
Lalu perlahan-lahan muncul dari persamaan-persamaan molekul-molekul atom, seandainya teori evolusi adalah landasan dari rasa cinta dan kata bisa menyederkanakannya, mungkin, malam itu, malam yang sederhana, kita tidak akan terpisah oleh jarak yang tanpa dimensi.
Dan seandainya juga malam itu, tidak terjadi perdebatan diantara Kita tentang awal dari alam semesta dan siapa penciptanya, seandainya juga   Kita tidak membaca tentang teori evolusi, tidak membaca sejarah, mungkin Kita tidak akan pernah sampai kesana.
Atau seandainya kita tidak pernah ada, eksistensi kita tidak nyata, Kita hanyalah cerita dalam ide pengarangnya, mungkin dia bisa mempertemukan Kita diakhir ceritanya.
Tapi diantara semuanya itu, yang paling mungkin adalah, seandainya ruang dan waktu bisa diundur, mungkin akan tahu kapan semua bermula dan jarak itu mungkin tidak pernah ada.
Tetapi semuanya konsep itu sirna, saat kita terpisah untuk menuntun langkah masih-masing,  dan aku paham jika suatu Hari nanti jarak itu semakin lebar saat kamu telah memutuskan menutup peluangku untuk bersamamu.
Hingga suatu hari yang sempurna, aku mendapat undanganmu, dan aku paham, bahwa jarak itu benar-benar ada, dan aku juga ingin kamu memahaminya dengan membaca berita tentangku Hari ini di Koran Kota, ya, kini aku ingin eksistensi hanyalah Ada dalam sebuah cerita, cerita yang suatu hari akan kamu sampaikan kepada anak-anakmu yang jatuh cinta kepada Alam semesta, aku juga ingin menyampaikan kepadamu, jaga mereka, akan tidak pernah terperangkap dalam jarak seperti dalam cerita kita. 
Salam dari semesta, jarak terjauh dalam defenisi yang pernah kita punya.

Minggu, 27 Mei 2018

Menulis, Hari ini dan Besok

Jika ada yg membuatku terkagum-kagum kepada seseorang seringkali adalah karena pola pikir dan kecerdasannya, lalu bisa menuangkan semua itu kedalam tulisan ataupun lukisan atau media lain, baik itu musik, puisi, juga dalam bentuk olah fisik dan lainnya.
Diantara semua itu, yg sering kucoba menekuni adalah, menulis. Kadang aku menganggap menulis itu gampang, tetapi ternyata bisa dalam semalam suntuk aku gagal menulis satu paragrap yg bermakna, bahkan pernah dalam seminggu aku gagal menulis satu tulisan dan berlanjut lama, membuatku tidak menulis apa-apa. Lalu aku mencoba untuk membaca sebanyak-banyaknya, dan, benarlah memang kutipan yg berkata, untuk menulis satu artikel, kamu harus membaca paling sedikit seratus artikel.
Lalu, aku pernah buat ide untuk menulis Novel dengan masa SMA dengan latar dikampung halaman, namun ide itu Kansas dan hanya mencapai sekitar sepuluh halaman, sekarang aku lupa menyimpan filenya dimana, sehingga akupun tidak ingat bagaimana alur ceritanya ingin kubuat. Terbaiklah catatan-catatan pendek yg kadang berbentuk cerpen, kadang berbentuk Surat atau bahkan kadang hanyalah kalimat-kalimat berima.
Juga sering aku menulis catatan-catatan untuk berbagi mengenai masa lucu ketika masih dikampung halaman.
Hari ini, aku beribadah di Gereja HKBP, saat Khotbah, diam-diam aku mengamati sekeliling, rasanya aku menemukan suatu Hal yg menarik, ya, aku ingin membuat riset kecil-kecilan untuk orang Batak perantauan, membaca catatan-catatan tentang mereka dan belajar adat istiadat yg berkembang mulai dari anak-anak Dan dewasa, aku ingin menjelaskannya dengan fiksi sederhana agar bisa dipahami dengan mudah oleh siapa saja.
Keinginanku muncul begitu saja sama seperti keinginanku dulu saat ingin menulis Novel gagal bertema Masa SMA itu.
Tetapi setidaknya aku masih punya keinginan dan aku yakin karena masih punya keinginan dan niatlah sehingga aku masih bisa melakukannya.
Aku masih bisa mengawali kembali untuk menulis hari ini dengan sebebas-bebasnya, dan aku masih bisa belajar sebanyak-banyaknya, membaca, menulis dan melakukan apapun yg kusukai untuk suatu hari nantinya jadi cerita.

Sabtu, 19 Mei 2018

Percakapan Sore di Telepon

Percakapan Sore di Telepon

"Nal.."
"Ya, kenapakah?"
"Lagi sibuk kau?"
"Gak juga sih, kenapa?"
"Mau curhat aku.."
"Hahaha, bukannya aku yg sesekali nelpon kau utk curhat?"
"Ya, sesekali biar balance Nal.."
"Oke, oke. Terus?"
"Taunya kau kan?"
"Tau apakah itu? Kalau udah Tau sebenarnya gak usah kau ceritakan juga sih.."
"Ah, kau memang. Udah pastinya Tau kau ceritanya itu!"
"Cerita apasih?"
"Berarti kau gak Tau ya Nal?"
"Apasih?"
"Berarti belum Tau kau ya?"
"Ah, Tak jelas juga kau, Tau gak Tau, Tau Tau, gak Tau!!"
"Hahaha, marah kau Nal?"
"Iyalah, ntah apapun kau!!"
"Itu lho, kayaknya yg mendekatiku aku kemarin itu seperti kau juga Nal.."
"Maksutmu? Cuma ada Satu versiku di Dunia ini ah 😋.. janganlah dirimu sama-samakan.."
"Iya serius aku.."
"Akupun serius, dua riuspun.."
"Iyalah.."
"Jadi gimana?"
"Ya begitulah.."
"Begitulah gimana? Lama-lama gak jelas juga ceritamu ini.."
"Gimana kau, gitu jugalah dia.."
"Maksudmu?"
"Gak jelas!!"
"Ah, dia yg gak jelas, Masa kau bilang aku gak jelas?"
"Iya, memang gak jelas.."
"Mungkin berdebu makanya gak jelas 😂.."
"Kan, asal ngomong Pasti ngawur.."
"Hahaha, jadi ngomong mesti serius ya?"
"Iyalah, memang bisa bercanda, tapi saat serius ya harus seriuslah!!"
"Ya, ya, seriuspun aku, kenapa rupanya?"
"Masa udah lama gak ada kabarnya Nal?"
"Kau tanyalah apa kabarnya, memang kabar bisa datang sendiri? Kecuali kalau dia media Massa, tanpa kau tanyapun Pasti dia ngasih kabar.."
"Tapi setidaknyakan.."
"Setidaknya apa?"
"Setidaknya Kasih kabar..!"
"Oh, jadi itu aja?"
"Gak juga sih banyak yg lain.."
"Ya sudah, nanti kukasih kabar.."
"Hahaha, kok kau?"
"Iyalah, setidaknya Ada yg mengabarimu, hehehe.."
"Terserahlah kaulah Nal, memang kau lagi ngapai?"
"Cie, nanya aku lagi ngapai dia.."
"Ya sudahlah, gak usah kutanya!!"
"Hahaha, lagi baca Novel Dilan 😎.."
"Hahaha, Masa laki-laki baca Novel gitu?"
"Iyalah, biar beda sama laki-laki yg kau ceritakan tadi, hahaha"
"Iyalah Nal, kau lanjutlah, asallah ending nya nanti gak seperti novel yg kau baca!"
"Okelah!"
"Oh, Nal, kabar si........... Gimana?"
"Tau ah,  gelap, aku mau lanjut membaca dulu, hahahah"
"Hahaha, dasar, titip Sal.."
Tutt, aku mematikan ponselku.
Selang, WAnya masuk.
"Memang Tak jelas kau Nal.."
Hehehe...

Jumat, 18 Mei 2018

Semangat yang Hilang

Semangat yang (Sempat) Hilang

Beredar ucapan duka dan opini-opini tentang yg sedang terjadi belakangan ini, banyak hal yg membuatku sangat kecewa, sesaat setelah kejadian itu, beberapa teman Sosmed yg biasanya postingannya selalu menarik utk membaca beralih menjadi postingan yg memilukan dan tentu menyudutkan satu pihak, dipihak lain beredar juga postingan dan screenshot tentang yg tidak perlu panjang lebar untuk dijelaskan, ditambah tagar pernyataan.
Sejenak, saya berpikir, kok bisa begitu?
Saya hilang semangat membayangkan kejadian yg ternyata benar-benar bisa terjadi di Negeri ini. Entah mengapa, dari jaman dahulu, saya selalu berpikir keberagaman itu indah dan menyenangkan, misalnya di kampungku, yg nun jauh disana, dipedalaman Sumatera Utara, keberagaman itu indah, toleransi berjalan dan rasanya tidak ada konflik, tidak ada kebencian apalagi antar RAS, kami saling menghormati dan menghargai.
Jika Hari Natal dan Tahun baru, Juga saat Lebaran, saling bersilaturahmi antar umat beragama, tidak ada masalah yg timbul dan semua rasanya indah.
Begitu juga saat aku mulai sekolah, menurutku semuanya biasa saja dan berjalan baik-baik saja, rasanya toleransi dan saling menghormati adalah ilmu yg telah tertanam dalam hati dan pelajaran yg saya dapat sepanjang perjalanan hidup saya.
Saya tidak pernah dapat didikan until tidak menghormati agama atau Ras lain, atau setidaknya, saya tidak suka membandingkan kelebihan dan kekurangan antara Agama dan Etnis yg satu dengan yg lain, mungkin itu jugalah yg membuat saya tidak punya alasan untuk membenci atau memandang buruk yg lainnya. Kalau soal pemahaman dan pendalaman pribadi saya tentang Agama, mungkin tidak perlu diceritakan, bagi saya itu adalah privacy.
Semangat saya juga sebenarnya hilang ketika melihat kenyataan bahwa ternyata kejadian itu berkelanjutan dan bukan hanya terjadi disuatu tempat saja dan banyak juga informasi dan pendapat yg simpang siur yg di share di Media sosial, dan yg paling membuat semangat saya hilang adalah ternyata korban kejadian itu adalah anak-anak yg belum tentu paham apa sebenarnya yg mereka alami.
Saya bisa membanyangkan betapa pilu dan lukanya semua itu, rasanya semua tidak terdefenisi dengan kata-kata.
Tapi, sudahlah, semua sudah terjadi.
Kita hanya bisa memperbaiki yg telah terjadi dan mencegah kejadian itu tidak terulang lagi.
Mari berhenti membenci dan saling tuduh, mari berhenti menebar kebencian dan berita tidak benar, berpikir jernih dan maju.
Kita tidak ingin toleransi yg telah kita bangun selama ini hanya menjadi kenangan, Kita tidak ingin yg dimiliki anak cucu Kita nantinya hanya peperangan.
Biarlah yg mereka rasakan adalah kedamaian dan sejarah yg penuh kerukunan.

Note : Ini bukan status untuk Pilkada.

Rinaldi Sinaga

Senin, 30 April 2018

Eksistensi

Eksistensi

Akhir-akhir ini, eksistensi sepertinya sangat dituntut. Terlebih eksistensi dunia kerja bagi yang sudah bekerja dan tentu eksistensi di Dunia Maya bagi Kita semua penggunanya.
Cara berfikir untuk membandingkan yang Kita miliki juga sepertinya sudah semakin abstrak dan tidak ada acuan yang jelas antara satu hal dengan hal yang lain, meskipun kadang menurut saya, membandingkan eksistensi itu adalah hal  yang susah.
Saya sering scrolling layar ponsel saat pagi hari atau jam-jam istirahat membuka sosial media. Kadang timbul rasa iri juga melihat postingan teman-teman disosmed tentang tempat kerjanya, tempat yang dikunjunginya, pacarnya yang cantik dan mereka yang selalu mengumbar kemesraan.
Sejenak saya berpikir, memang kadang benar, Kita eksistensi akan keadaan Kita bisa diwujudkan dengan cara yang demikian itu. Kadang memang perlu menunjukkan bahwa ada, Kita bisa Dan Kita punya sesuatu yang bisa ditunjukkan. Kita Ada karena Kita punya sesuatu untuk dipamerkan*)
Tapi dilain Hal, benarkah sekeliling Kita membutuhkan eksistensi itu?
Saya tidak pernah melakukan riset, tetapi dari beberapa teman yang mengobrol dengan saya menjadikan postingan di Dunia Maya menjadi topik yang hangat dalam setiap percakapan.
"Nal, si A dapat kerja di PT A.. si B sudah resign dan pindah C.. "
"Darimana kamu tau?"
"Instastorynya, diakan ngupload Poto  dari Status WA-nya..."
Hal yang sangat sering Kita dengar akhir akhir ini.
Jadi?
Eksistensi seseorang dapat dengan mudah Kita ketahui, cukup hanya membaca status dan storynya di Sosmed, semua jelas.
Lalu, apakah mereka yang tidak membuat postingan atau mereka yang hampir tidak pernah aktif disosmed tidak punya eksistensi?
Belum tentu..
Maknailah dulu apa sebenarnya makna eksistensi, karena eksistensi bukanlah hanya sekedar eksis!
Berpikir dulu, karena "Aku berpikir maka aku Ada"..
Itulah eksistensi awal yang harus Kita ketahui.
Tentang keinginan untuk eksis dan diakui orang, aku sangat sering berusaha untuk hal tersebut, tapi lama-lama aku juga berpikir bahwa aku bukan untuk membandingkan diriku dengan orang lain. Aku menulis ini bukanlah untuk menunjukkan eksistensiku, hanya karena aku sudah lama tidak menulis dan senang jika anda menyempatkan diri untuk membacanya.
Karena aku Tau bahwa sesudah membacanya, setidaknya ada pemikiran yang terlintas dibenak anda dan mulai merenungkan apa itu sebenarnya eksistensi..
30042018

Minggu, 22 April 2018

Time will show you how much ...

Diantara sekian defenisi yg kusukai saat membaca sebuah buku adalah tentang waktu dan kesempatan.
Aku menyukai mereka yg menjabarkan waktu dengan detail, mereka yg medefinisikan waktu dan tentu mereka yg membuat waktu itu berarti.
Penggambaran tentang waktu memang tidak sederhana, banyak pertanyaan apa dan mengapa disana, meskipun kdng dimensinya adalah Satu, tapi waktu adlah sesuatu yang Pasti dan tetap, tidak pernah bisa dimanipulasi.

Kamis, 19 April 2018

Tentang Gadis Fiksi

Tentang Gadis Fiksi itu

Aku menemukan dia, di halaman pertama Novel kesukaanku, seorang Gadis Manis yang cerdas, senang membaca dan saat tersenyum sebuah lesung pipi terbentuk diwajahnya.
Dari sekian Gadis yang kukenal, dia adalah orang dengan tatapan penuh semangat, berambisi meskipun kadng melankolis dengan teori-teori dari buku yang dibacanya. Kami bisa saja berdebat dengan hebat tentang apa saja, bahkan tentang latar cerpenku di Heaton Park,  Wakayama atau Kota M yg sangat abstrak. Juga jalan ceritaku yg katanya sentimental dan lebay, meskipun kadang sedikit romantis.
Kadang aku merasa bahwa benar, dia Ada dalam fiksi dan argumennya adalah imajinasiku.
Seperti misalnya disuatu sore, disuatu taman pinggiran Sungai M, aku akan menemui seorang Gadis, datang tepat waktu dan mengamati sekeliling, perlahan senja mulai turun nun jauh, dimuara Sungai M dan cahaya mulai terpendar membentuk gradasi sehingga semua yang membelakangi matahari membentuk siluet. Perlahan sebuah bayangan sempurna bergerak mendekatiku, duduk dan berkata, "Sudah lama?"
"Masih baru saja.."
Dan andai waktu juga adalah fiksi, mungkin aku akan memainkan alur mundur untuk mengulang sebuah moment.
"Kamu menunggu bukan?" Tanyanya tanpa basa basi, dan aku tahu, hanya Gadis cerdaslah yang tidak mau berbasa-basi.
"Ya, menunggumu untuk menghitung kemungkinan.."
"Hahaha, defenisi yang abstrak, kamu hanya akan merangkai cerita dari semua waktu yang kami habiskan untuk menunggu, bukan cerita aneh saat seorang penulis jatuh hati kepada aeorng Gadis cantik dan cerdas, lalu menulis surat dan cerpen untuknya, hingga suatu hari nanti Gadis itu menemukan kekasihnya dan menikah. Cerita Basi Dan klasik.."
"Kamu tahu, lalu mengapa kamu bertanya?"
"Karena aku ada dalam imajinasimu, aku fiksi yang berkali-kali kau ganti nama dengan sesuka hati berdasarkan defenisimu sendiri, kadang aku kau beri nama Liana, S di T, juga nama seorang Gadis yang dulu sempat kau sukai. Jadi aku pasti tau semua Karena aku Ada dalam ceritamu.."
"Ah, sok tahu.."
"Bukan sok tahu, tapi memang tahu, karena dalam ceritamu kau membuatku jadi seorang Gadis yang cerdas, menyuki sastra, filsafat dan tentu senang membaca Wikipedia.."
"Ya, aku Tau itu, tetapi sebagai tokoh fiksi bukaknkah kamu tidak berhak untuk mencampuri urusan pribadi penulismu?"
"Urusan pribadi? Urusan pribadi atau urusan sentimental yang seringkali adalah luapan perasaan karena galau?"
"Ah, terserahlah, tapi kamu tau mengapa aku mengajakmu kesini setelah sekian lama aku tidak menulis?"
"Ya, paling tidak kamu sedang galau lagi.."
"Hahaha, kamu memang tahu apa yang kupikirkan.."
"Lalu?"
"Aku ingin latar yang sederhana untuk sebuah cerita, aku ingin menyelesaikan sebuah cerita setelah sekian lama tidak menulis.."
"Menulis tentang patah hati lagi? Tentang Gadis yang kepadanya kau tidak berani mengutarakan isi hatimu lalu cerpenmu jadi cerpen galau dengan ending yang kacau balau?"
" Tentu bukan, aku ingin ending yang keren dengan latar  Jalan Komano Kodo yang dibingkai dengan sekelumit kenangan.."
" Baru dapat Dari Wikipedia ya latarnya itu?"
"Ya, sebuah jalan tua di Wakayama yang Masuk situs warisan Budaya UNESCO.."
"Sebagus apasih?"
"Kamu ingin Tau?"
"Tentu.."
"Kau mau menemaniku?"
Dan tanpa menjawab kami menelusuri laman web wikipedia, meskipun tidak Ada hujan gerimis, musim semi, salju, angin sepoi-sepoi, atau daun-daun yang berguguran, aku tahu semuanya ternyata hanya fiksi.
Dan sore itu, di Wakayama, aku semakin yakin, bahwa fiksi itu ternyata Indah juga 😀

Senin, 09 April 2018

Ketika Cerita Bukan Hanya Soal Cinta : Aku juga Pernah Sok Idealis

Dari sekian banyak catatanku, kabanyakan bercerita tentang jatuh Dan patah hati, rasanya hampir tidak Ada istimewanya dibandingkan dengan remaja belasan yang jatuh cinta Dan patah hati.
Dari sepersekian catatanku, Ada juga catatan 'sok' idealis yang pernah kutulis.
Mencoba mengerti Dan memahami politik, kehidupn masyarakat, sosiolog-antropologis bahkan dunia sastra coba kutekuni.
Aku meminjam banyak buku-buku sejarah Dan sastra Dari perpustakaan kampus, juga mendata Serta mencari buku tentang pergerakan sosial, pergerakan mahasiswa juga buku-buku lain agar nampak seperti seorang aktivis dengan pemikiran yang revolusioner. Tetapi diakhir, aku hanya membaca Satu Dari seratus buku yang kupinjam.
Aku lebih banyak tertarik ke buku-buku romantis dengan cerita drama yang sentimental. Tidak lebih dan tidak kurang 😎.
Dilain waktu, saya pernah juga mencoba menjadi seorang yang menyukai filsafat, mencoba membaca Dan memahami buku-buku filsafat tebal, filsafat Eropa abad pertengahan, filsafat barat, filsafat Posmo dan buku-buku lainnya saya pinjam dari perpustakaan kampus (Jika ingin membuktikan anda bisa mengecek di perpustakaan kampus, aku yakin NPM-ku masih tercantum disana, Karena Dari sekian buku filsafat yg kupinjam, daftar peminjamnya paling banyak Dua sampai tiga orang saja). Tapi diakhir buku-buku filsafat itu berakhir tragis juga, Tak Ada yg habis kubaca semua.
Lalu, lain waktu, say pernah dengan tekun membaca Koran Dan mengikuti perkembangan opini-opini disana, menarik juga kadang cara pandang mereka, hanya kadang saya berpikir sebagus apapun opini itu lebih sering hanya berakhir sebagai opini yg sejenak melintas dimedia Massa yg jika media itu expired maka opini itupun akan jadi expired, jadi rasanya sia-sia, padahal yg menulis itu seringkali adalah professor atau paling tidak orang yg kompeten dibidangnya.
Diantara semua itu, beberapa hal yg masih sering kutekuni, membaca cerita sentimental 😅
Aku sadar, kadang idealis saja tidaklah cukup.
Tetapi meskipun begitu, aku sering berharap disuatu waktu aku bisa menghabiskan waktu berdiskusi dengan seorang Gadis dengan pemikiran terbuka, mulai Dari Hal yg sentimental, idealis, revolusioner,  bahkan sampai dengan Hal konyol, romantis dibarengi dengan sastra sejarah Dan Budaya.
Menikmati Hari itu dengan secangkir kopi dipinggir danau atau dibawah pohon dihalaman sebuah kampus.
Aku yakin itu suatu Hal yg menyenangkan untuk dilakukan.
Aku sadar, semuanya kompleks, tapi diatas semua kompleksitas itu Ada sebuah pola, yang membentuk keindhan sekuntum teratai.
Dan teratai itu akan mekar, terbuka, seperti pemikiran seorang Gadis yg kuajak bicara tempo Hari.
09042018

Minggu, 08 April 2018

Sebuah Jurnal : Pasti

Sebuah Jurnal : Pasti

Ada keraguan besar yang membuat Kita berpikir banyak untuk membuat sebuah keputusan.
Kemungkinan-kemungkinan Dan efek domino Dari keputusan itu. Baguslah kalau efeknya adalah positif, bagaimana kalau negatif?
Kita bisa saja tidak diterima dilingkungan sosial Kita,  tidak disukai rekan Kita, atau kemungkinan-kemungkinan buruk lainnya.
Banyak yang berfikir, mungkin semuanya hanyalah sejenak saja dan menikmati dengan apa adanya, berjalan lurus seiring waktu. Tidak berusaha apa-apa Dan nyaman dengan keadaan saat ini. Banyak juga yg memberontak dengan kenyataan Dan melakukan kreativitas yg menabjubkan. Tapi diakhir hasil yg mereka peroleh dengan usah yg berbeda tetap sama. Bahkan banyak yg melakukan usaha praktis dengan hasil yg lebih.
Bagaimana bisa?
Anggap saja semuanya itu hanyalah penyimpangan semu.
Usaha tidak akan pernah menghianati hasil.
Seorang yg terus berjalan lurus kedepan tentu akan sampai dibanding mereka yg berhenti atau bahkan tidak melangkah sedikitpun.
Harapan itu adalah sesuatu yg Pasti.
Kita istimewa Karena Kita punya harapan.
Tetap berjalan kedepan Dan memndang kemungkinan-kemungkinan dengan Pasti.
Meskipun kadang Ada rasa sesal dn kecewa, rasa lelah dan iri dan rasa apapun itu akan tetap bisa jadi motivasi.
Seorang pejalan Pasti Tau kemana arah yang ditujunya Dan apa tujunnya meskipun kadng tidak Tau berapa jauh jarak yg harus ditempuh untuk tujuannya itu.
Seorang pejalan adalah seorang tukang Jurnal yang mencatatkan hidupnya dalam untuk kebadian.
Seorang pejalan adalah masing-masing Dari Kita sendiri yang belajar Dari pengalaman Dan jalan-jalan yang Kita tempuh.
Setial orang adalah pejalan dengan tujuan yg Pasti.

Minggu, 01 April 2018

Sebuah Jurnal

Sebuah Jurnal : Menuju Rumah

Ada beberapa catatan yang belum sempat saya selesaikan, tetapi meskipun begitu coba untuk tetap berjalan dalam alur dengan sebuah tujuan.
Ragu adalah sebuah untaian yang selalu membentuk harapan.
Diantara sekian kemungkinan, perjalanan Menuju Rumah adalah impian, untuk sebuah senyum hangat Dan pelukan, secangkir kopi Dan jutaan candaan.
Rindu yang akan berpaut pada tiang-tiang kayu tempat menggantung kenangan Dan senja yang mewarnai Masa kecil.
andai mungkin kembali pada Jalan itu lagi, Menuju Rumah adalah kemungkinan paling damai.
Meskipun terkadang lupa arah, tetapi rindu adalah kompas yang menuntun Menuju Rumah untuk sebuah pelukan hangat.
Banyak perjalanan Dan pengalaman yang akan membuatmu berjalan berat Menuju Rumah, tetapi rindu kadang akan mengalahkannya dan menjadikannya sebuah cerita sempurna.
Tetaplah berjalan berjalan maju Menuju Rumah.
Karena dirumahlah semua bermula untuk sebuah cerita dalam suatu Masa.

Jumat, 16 Maret 2018

Mereka dan Pandangan Satu Sisi

Mereka dan Pandangan dari Satu Sisi

Saya membaca sekilas tentang share-share dan pandangan politik akhir-akhir ini.
Tidak tertarik untuk menanggapi meskipun beberapa opini saya sempatkan untuk membaca dan memahami. Kebanyakan opini sekarang memandang tidak objektif terhadap persoalan yang ada didepannya, menekan kuat dari satu sisi dan lemah disisi lainnya. Bereaksi keras jika merasa dipojokkon atau sedang merasa diatas angin, merasa benar dari sudut pandangnya sendiri.
Sebut saja, nun jauh disana, di Kabupaten asalku, Dairi, saya lihat ada beberapa teman sòsmed yang rajin menshare tentang salah satu calon dan menjelek-jelekkan calon yang lain, seakan-akan tidak ada lagi hal positif yang dimiliki calon tersebut.
Atau sebut jugalah organisasi Mawar Melati yang selalu over reaktif jika ada sedikit gesekan dengan organisasinya, selalu merasa benar dari sudut pandangnya.
Hal lainnya terlihat juga dari keadaan yang sepertinya melebih-lebihkan dalam hal penyampaian, media sepertinya sangat berlebihan ketika meyampaikan sesuatu hal hanya untuk menggaet viewer yang lebih banyak.
Dilain pihak, netizen dunia massa merespon lebih agresif lagi, menshare tanpa memproses informasi.
Merasa apa yang dibaca dan ditemukannya sudah 100% benar tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu.
Ah, tapi apalah boleh dikata.
Sebenarnya aku tidak mau sibuk mengurusi semua itu apalagi hanya dengan sebuah postingan opini di Medsos, sepertinya masih lebih enak mendengarkan musik melow sambil membaca Novel terjemahan, atau minum anggur merah sambil bercengkerama dengan kawan-kawan, menikmati sore dengan segelas kopi atau menyelesaikan kerjaan sambil dengan radio.
Ya, semuanya bisa dilakukan dengan baik tanpa memperdulikan apa yang sedang terjadi dijagat maya itu.
Meskipun begitu, kadang aku berpikir sampai dimana pandangan satu sisi itu tetap bertahan?
Karena aku tau sendiri itu tidak enak, butuh sesuatu dari sisi lain untuk melengkapi 😅
Nah, mungkin jadilah bijak dengan apa yang ada sambil ingat mencari seseorang untuk melengkapi disisimu 😎

Arah Dairi Kedepannya

                                                     Arah Kabupaten Dairi Kedepannya Sebagai penduduk Kabupaten Dairi yang sedang merantau, ...