Bayangkan jika dirimu adalah seorang lelaki yang selalu kesepian karena kenangan yang selalu membentang. Bayangkan juga disuatu sore yang sederhana, kau bertemu dengan kekasihmu disebuah taman yg tidak terlalu ramai di pinggiran kota M ini dan kekasihmu berkata, "Terima kasih untuk sajak-sajakmu, tetapi maaf, kali ini aku telah memutuskan utk tidak lagi jatuh cinta.."
Lalu kau akan mulai gundah, mencoba bertanya kepada rumput yg bergoyang, kepada daun-daun yg berguguran, burung-burung yang beterbangan, tentang sebuah hal,"Apakah kita berhak utk memutuskan kita akan jatuh cinta" tetapi mereka semua diam, seakan ikut merasakan galaumu.
Dan sejak peristiwabdi taman itu, kau akan memutuskan membaca ulang semua puisi dan cerita-cerita yg pernah kau kirim kepadanya, apakah ada yg salah, atau adakah seorang yg telah membuatmu kalah?
Hingga suatu pagi yg sempurna, saat kau menikmati segelas kopi dan membaca koran berisi berita biasa-biasa saja, ponselmu berdering dan sebuah pesan singkat masuk dari wanita yg kau cinta, "Cinta bukan perkara sajak atau cerita, belum tentu kata bisa membuat jatuh cinta. Kata sangat jauh intervalnya dengan nada, nada-nada dengan irama sempurna telah membuatku jatuh cinta.."
Kau tersenyum, pahit. Mungkin sepahit kopi tanpa gula yg kau nikmati pagi ini.
Mengapa?
Karena engkau tidak tahu apa-apa tentang nada, meskipun dgn sombong kau pernah berkata bahwa kau sangat suka sebuah band asak Denmark yang beberapa waktu lalu pernah konser di Indonesia,tetapi bukankah kau menyukai lagu-lagunya karena liriknya yg sentimentil?
Kau terdiam, kau amati pesan singkat itu dgn seksaa berharap ada inspirasi dari sana, setidaknya inspirasi patah hati yg melankolistis.
Kau teringat, saat pertama mengiriminya puisi, dia begitu bersemangat sambil berkata, "Setengah jiwaku tinggal dalam puisi.."
Dan kau tersenyum mengenangnya, tetapi kini kau telah menghabiskan waktu untuk mendengar lagu-lagu galau Jikustik yang menurutmu sangat sesuai untukmu.."Kapan lagi kutulis untukmu, tulisan-tulisan indahku yang dulu, pernah warnai dunia, puisi terindahku hanya untukmu.."
Kau memang tidak tahu apa yg ada didalam pikiran seorang wanita, kau juga tidak tahu apa yg dilihat mata beningnya itu, tidak tau apa yg diucapkan bibir tipisnya yg mungil dan kau jg tidak tau kemana sapasang kakinya akan menuntunnya melangkah. Tetapi satu yg pasti kau tau bahwa kau akan menantinya kembali.
Mungkin selama menanti kau bisa menulis beberapa buah puisi dan cerpen, merenungi hari-hari atau belajar memperpendek interval kata dan nada, kau juga bisa untuk mengingat kenangan tentangnya, mengingat kesalahan saat kalian bersama sehingga kau tidak lagi mengulangi untuk kedua kalinya.
Bukankah dalam tulisan yg kau tulis dulu kepadanya engkau pernah menyatakan bahwa hidup ini sederhana?
Sesederhana engkau yg selalu menulis kata-kata sambil menantinya, sesederhana jarum jam yg terus bergerak tanpa ada usaha utk menghentikannya, meskipun kau harus mengakuinya bahwa kau selaly membawakannya dalam doa karena kau pernah membaca bahwa hal teromantis dalam cinta adalah mendoakan orang yg kita cintai.
Kau memang harus menerima semuanya, meskipun harapan yang kau tanan seakan-akan tidak tumbuh dan berakar, tetapi kau tau bahwa suatu waktu nada-nada itu akan berhenti jika tidak ada lagi bunyi, tetapi dengan kata-kata dalam tulisan semua bisa abadi.
Hingga suatu senja yg sederhana, di taman pinggiran kota M, kau sedang duduk menikmati lagu Forever and a Day-nya MLTR, ponselmu akan berdering, sebuah pesan masuk dari nomor yang memang sudah benar-benar kau hapal mati,"Kau masih sendiri? Bolehkah aku menemani, aku rindu mendengar sajak-sajakmu dan membaca ceritamu.."
Kau tersenyum lalu mengerdip kearahku seakan berkata,"Memang benar katamu, cinta itu hanya tentang perihal kesabaran usaha dan waktu.."
Lalu waktu berlalu, lampu-lampu temaram akan menaungimu berbagi cerita tentang apa saja saat kalian tidak bersama.
Satu watu berlalu karena memang satu momen hanya untuk satu masa..
Jumat, 15 Mei 2015
Minggu, 10 Mei 2015
One Moment For One Love
Bayangkan jika dirimu adalah seorang lelaki yang selalu kesepian karena kenangan yang selalu membentang. Bayangkan juga disuatu sore yang sederhana, kau bertemu dengan kekasihmu disebuah taman yg tidak terlalu ramai di pinggiran kota M ini dan kekasihmu berkata, "Terima kasih untuk sajak-sajakmu, tetapi maaf, kali ini aku telah memutuskan utk tidak lagi jatuh cinta.."
Lalu kau akan mulai gundah, mencoba bertanya kepada rumput yg bergoyang, kepada daun-daun yg berguguran, burung-burung yang beterbangan, tentang sebuah hal,"Apakah kita berhak utk memutuskan kita akan jatuh cinta" tetapi mereka semua diam, seakan ikut merasakan galaumu.
Dan sejak peristiwabdi taman itu, kau akan memutuskan membaca ulang semua puisi dan cerita-cerita yg pernah kau kirim kepadanya, apakah ada yg salah, atau adakah seorang yg telah membuatmu kalah?
Hingga suatu pagi yg sempurna, saat kau menikmati segelas kopi dan membaca koran berisi berita biasa-biasa saja, ponselmu berdering dan sebuah pesan singkat masuk dari wanita yg kau cinta, "Cinta bukan perkara sajak atau cerita, belum tentu kata bisa membuat jatuh cinta. Kata sangat jauh intervalnya dengan nada, nada-nada dengan irama sempurna telah membuatku jatuh cinta.."
Kau tersenyum, pahit. Mungkin sepahit kopi tanpa gula yg kau nikmati pagi ini.
Mengapa?
Karena engkau tidak tahu apa-apa tentang nada, meskipun dgn sombong kau pernah berkata bahwa kau sangat suka sebuah band asak Denmark yang beberapa waktu lalu pernah konser di Indonesia,tetapi bukankah kau menyukai lagu-lagunya karena liriknya yg sentimentil?
Kau terdiam, kau amati pesan singkat itu dgn seksaa berharap ada inspirasi dari sana, setidaknya inspirasi patah hati yg melankolistis.
Kau teringat, saat pertama mengiriminya puisi, dia begitu bersemangat sambil berkata, "Setengah jiwaku tinggal dalam puisi.."
Dan kau tersenyum mengenangnya, tetapi kini kau telah menghabiskan waktu untuk mendengar lagu-lagu galau Jikustik yang menurutmu sangat sesuai untukmu.."Kapan lagi kutulis untukmu, tulisan-tulisan indahku yang dulu, pernah warnai dunia, puisi terindahku hanya untukmu.."
Kau memang tidak tahu apa yg ada didalam pikiran seorang wanita, kau juga tidak tahu apa yg dilihat mata beningnya itu, tidak tau apa yg diucapkan bibir tipisnya yg mungil dan kau jg tidak tau kemana sapasang kakinya akan menuntunnya melangkah. Tetapi satu yg pasti kau tau bahwa kau akan menantinya kembali.
Mungkin selama menanti kau bisa menulis beberapa buah puisi dan cerpen, merenungi hari-hari atau belajar memperpendek interval kata dan nada, kau juga bisa untuk mengingat kenangan tentangnya, mengingat kesalahan saat kalian bersama sehingga kau tidak lagi mengulangi untuk kedua kalinya.
Bukankah dalam tulisan yg kau tulis dulu kepadanya engkau pernah menyatakan bahwa hidup ini sederhana?
Sesederhana engkau yg selalu menulis kata-kata sambil menantinya, sesederhana jarum jam yg terus bergerak tanpa ada usaha utk menghentikannya, meskipun kau harus mengakuinya bahwa kau selaly membawakannya dalam doa karena kau pernah membaca bahwa hal teromantis dalam cinta adalah mendoakan orang yg kita cintai.
Kau memang harus menerima semuanya, meskipun harapan yang kau tanan seakan-akan tidak tumbuh dan berakar, tetapi kau tau bahwa suatu waktu nada-nada itu akan berhenti jika tidak ada lagi bunyi, tetapi dengan kata-kata dalam tulisan semua bisa abadi.
Hingga suatu senja yg sederhana, di taman pinggiran kota M, kau sedang duduk menikmati lagu Forever and a Day-nya MLTR, ponselmu akan berdering, sebuah pesan masuk dari nomor yang memang sudah benar-benar kau hapal mati,"Kau masih sendiri? Bolehkah aku menemani, aku rindu mendengar sajak-sajakmu dan membaca ceritamu.."
Kau tersenyum lalu mengerdip kearahku seakan berkata,"Memang benar katamu, cinta itu hanya tentang perihal kesabaran usaha dan waktu.."
Lalu waktu berlalu, lampu-lampu temaram akan menaungimu berbagi cerita tentang apa saja saat kalian tidak bersama.
Satu watu berlalu karena memang satu momen hanya untuk satu masa..
Jumat, 08 Mei 2015
Sabtu 952015
Menikmati segelas kopi disebuah warung pinggir jalan sambil menunggu kawan mungkin lebih nikmat, mungkin seperti semua panomena yg biasa dilihat, biasanya secangkir kopi akan ditambah beberapa lembar koran utk dibaca.
Bagiku ini hal yg biasa, mungkinpun teramat biasa, saya akan duduk dan asik menikmati lembar demi lembar koran itu meskipun tidak ada satu berita yg bisa betul-betul saya cerna.
Tetapi sebenarnya satu yg menarik, ketika saya duduk ada seorang gadis yg duduk disamping saya, saya hampir saja menawarinya secangkir kopi kalau tidak saja kudengar dia memesan sebotol minuman ringan.
Dia lalu duduk, memandang gelisah keujung jalan, entahlah, aku tidak tau apa yg dia tunggu, tapi rasanya dia memang benar-benar sedang menunggu, entah itu menunggu kekasihnya, menunggu adiknya atau siapapun itu, yg pasti dia menunggu.
Kalau melihatnya, sebenarnya aku ingin menulis cerpen jg tentangnya, paling tidak judul yg bisa kubuat adalah perempuan yg menunggu, hanya saja aku takut karena dgn tidak sopan membuat karangan tentang dia (mengutip kata-kata dari cerpen Sungging Raga) jadi ya sudahlah, aku hanya membuat sebuah tulisan iseng saja. Mungkin kapan-kapan aku akan menulisinya cerpen, mungkin sesudah dia tidak ada lagi dan tidak bisa membaca tulisanku ini.
Ya, mungkin begitulah karena sebenarnya kami sama, sedang menunggu, hanya saja, seperti yg kau tahu, banyak cara yg kita gunakan utk menghabiskan waktu utk menunggu, kulihat dia menggunakan earphone dan asik memutar musik, akupun mengambil smarphone dan membuka bloggerku, lalu menuliskan beberapa kalimat yg mungkin kurang bermanfaat.
Ya, begitulah mungkin, aku memang senang mencatat apa saja, hanya sayangnya sangat sudah merangkai catatan itu menjadi sebuah cerita yg bermakna..
Minggu, 03 Mei 2015
Untuk
Apa kabar
Kuharap kau baik-baik saja, sama seperti aku yg sedang baik-baik saja saat menulis surat ini.
Oya, bagaimana ujianmu, kesehatanmu, semoga semuanya baik-baik saja bukan?
Aku menulisimu surat kali ini bukan karena aku baru mengingatmu, jujur, setiap hari aku mengingatmu meskipun aku tidak berani mengirimkan sms selamat pagi, selamat malam atau sapaan lainnya, kau tau mengapa?
Semua itu hanya akan menyisakan rasa kecewa.
Hmm, mungkin itu sama seperti pesan yg kukirimkan kepadamu lewat inbox fb beberapa bulan yg lalu dan sampai hari ini belum kau baca, padahal itu beberapa puisi dam sebuah cerpen.
Hmm..
Sebenarnya aku menulisimu surat karena entah mengapa hari ini aku iseng membuka profil fbmu dan seperti biasa, tidak pernah kau buka dan sepertinya aku sudah mengerti itu mengapa.
Kau tahu?
Sebenarnya aku sangat rindu kau menyapaku, lalu kau akan bercerita tentang anak+anak kecil yg menggemaskan itu, jg tentang dosen-dosen kita, tentang temanmu yg selalu bertingkah berlebihan.
Dan aku jg ingin bercerita banyak kepadamu, itupun jika kau mau mendengarkan dan tidak memotong ceritaku, kau taukan mengapa setiap alasan itu ada, karena ada yg ingin ditutupi dgn alasan tersebut.
Yah..
Sabtu, 02 Mei 2015
Catatan sore
Entah mengapa, sore ini aku iseng memasukkan nama seseorang ke mesin pencarian google, dan tiba-tiba aku teringat sesuatu. Pernah suatu kali aku ingin menggunakan nama itu jg menjadi tokoh ceritaku, hanya saja aku ragu, karena nama itu cukup unik dan sampai sekarang hanya dia satu-satunya yg kutau menggunakan nama itu.
Ya, begitulah sebuah kenyataan, meskipun sepertinya tokoh cerpenku Liana akan keberatan jika aku menggantikannya dgn tokoh yg baru dan benar-benar nyata, tetapi seperti biasa, aku jg takut pada diriku sendiri jika suaru hari nanti aku membaca tulisanku aku menemui nama itu, tentu itu akan jadi sentimentil, hehehe..
Jika ditanya memang, apalah arti sebuah nama, tetapi sepertinya aku sensitif dgn nama itu, mungkin sesensitif saat aku melihatnya, hahaha, bukankah itu sesuatu yg sangat konyol menurutmu?
Memang ada kalanya aku harus mengakuinya, seperti aku mengakui perasaanku disetiap cerita yg kutulis, meskipun aku sengaja membelit-belitkan kata-kataku agar tidak ada seorang pun yg tahu.
Bukankah itu jg artinya aku selalu membentengi diriku dan menyimpan segala sesuatu untuk diriku sendiri?
Mungkin suatu hari nanti kau akan menjadi temanku berbagi, bukan begitukah?
Tidak apa-apa kalau kau merasa bahwa nama yg kucari itu adalah namamu, mengapa?
Karena sebenarnya meskipun berulangkali kau bertanya, aku tidak akan pernah memberitaukan itu siapa..
Hahaha, rasanya itu tidak lucu bukan?
Dipencarian google, aku hanya menemukan akun jejaring sosialnya, FB, Instagram yg mencantumkan Line, Path dan namanya dipengumuman penerimaan mahasiswa baru portal sebuah kampus, entah itu tahun berapa, mungkin kau akan mencoba menelusurinya jika suatu hari kau sudah tahu, hehehe...
Kau tahukan, sebenarnya ini hanya catatan isemg disore hari saat aku menikmati hujan dan secangkir kopi, dan disitulah berasal keisengan ini.
Hmm, mungkin jg kau bisa menawarkan namamu utk dijadikan cerpen, atau kau punya cerita yg sentimentil utk dijadikan cerita..
Atau kau mau bercerita banyak kepadaku untuk menghabiskan galaumu, karena mungkin kau sepertiku melankolis, hehehe
Bisa jd menulis, tidak masuk akalmu, tetapi kau bisa bercerita sebanyak-banyaknya.
Atau bahkan kau mungkin sama sepertiku, selalu mengintip profil sosmed seseorang untuk menemukan sesuatu disana..hehehe.
Tetapi satu yg pasti, aku tidak akan berbagi siapa nama yg ku googling sore ini, kenapa? Karena itu sentimentil, titik!!
Jumat, 01 Mei 2015
Catatan Perjalan
Kau taukan, terkadang kita tidak dapat memilih jalan mana yg harus kita pilih . Tetapi ada kalanya suatu saat kita harus mengosongkan pikiran dgn melakukan sebuah perjalanan tanpa tujuan.
Aku mencatatkan perjalan ini saat aku sedang menikmati perjalananku sendiri yg tanpa tujuan ini, ya, tgl 30 april 2015 aku memutuskan sebuah perjalanan tanpa rencana utk mengosongkan pikiranku.
Kau tahu mengapa?
Aku sedang patah hati dan perasaanku sedang tidak damai, aku kecewa pada diriku sendiri dan keadaan ini.
Bagaimana mungkin jika semua yg kita harapkan tidak sesuai tujuan?
Memang aku adalah seorang yg selalu menerapkan target yg teramat tinggi sehingga selalu menemui rasa penyesalan yg berlebihan setiap target luput dari sasaran.
Tetapi aku tidak akan membahasnya karena ini adalah sebuah catatan Perjalanan sekaligus surat untuk seseorang, dan tidak apa-apa jika kau merasa bahwa kau adalah seseorang itu, paling tidak kau bisa merasakan makna kegalauan seorang pria yg patah hati dan membuatkan surat untukmu dalam keadaan patah hati.
Aku sebenarnya ingin bercerita banyak tentang jalanan Yg kulalui, daun-daun yg enggan melambai mengucapkan sampai jumpa mungkin untuk yg terakhir kali atau sungai-sungai bening yg mengalir menuntun langkahnya sendiri, pegunungan yg selalu tegar menyambut para pendaki, pedagang yg selalu setua menanti pelanggan yg datangnya belum pasti.
Kau tau?
Mungkin bukan pertama aku menikmati perjalanan tanpa tujuan ini, meskipun memang harus kuakui inilah pertamakali aku mencoba mencatatkannya di blogku, mungkin untuk bisa kau baca dan kau bisa mengerti bahwa aku sedang kecewa dan patah hati.
Kuakui, seperti sebuah perjalanan dan keindahan yg sedang aku nikmati dan tanpa alasan aku bisa mengagumi, begitu jugalah rasanya tentang jatuh cinta dan patah hati, kita tidak punya alasan untuk itu.
Pernahkah kau bayangkan suatu kali, saat engkau jatuh cinta dan tanpa alasan apapun kau akan menyukainya?
Pernahkah kau bayangkan disuatu saat pula kau menyadaei bahwa gadis yg kau suka ternyata sudah memilih seseorang utk tempat berlabuhnya.?
Mungkin disaat yg sama kau akan memutuskan hal yg sama dgn yg kulakukan saat ini dgnku.
Kau akan melakukan sebuah perjalanan tanpa tujuan, menikmati kesunyian perjalan, didalam bus, kau akan melihat semua kenangan mengalir dalam ibgatan ditambah sang supir yg memutar lagu-lagu melankolis yg sangat menyiksa perasaan..
Ya, MLTR dgn sempurna menyanyikan lagu Complicated Heart, 25 Minutes to Late, Thats Why (You go a way), dan kau mungkin akan sangat menikmatinya karena sangat sentimentil, dan kau mungkin akan membayangkan seorang yg kau sukai itu sedang tersenyum manis dan melambai kearahmu.
Ah..
Itu semua mungkin teramat sentimentil, tetapi aku harus mengakui bahwa melakukan perjalanan ini hanya karena sedang patah hati.
Dan aku juga tidak mengerti apa yg berkecamuk dalam pikiranku. Kau tahu?
Terakhir ini aku teramat menuntun pikiranku, seperti nenuntun perjalananku sendiri.
Aku mencoba mencatatkan Perjalan ini ketika aku berada disebuah daerah yg tidak kukenal, sebuah persawahan yg tidak terlalu luas disebuah kecamatan di kabupaten karo, dan lihatlah, semua orang sedang asik dgn pekerjaan mereka, air yg bening, ikan yg berkeliaran dgn bebas.
Ah, seandainya aku bisa terbebas dgn pemikiranku saat ini, seandainya bukan aku sendiri yg sendiri yg sedang menikmati perjalanan tanpa tujuan ini dan seandainyaasih banyak andai-andai yg lain...
Yah, begitulah hidup.
Banyak yg harus kita pilih dalam hidup ini, bahkan mungkin kau harus memilih seperti pilihanku, memilih tidak bercerita kepada siapapun, memilih untuk mencatatkan semuanya meskipun tidak jelas artinya.
Membuat sebuah surat meskipun tidak jelas tujuannya.
Itulah sebuah kenyataan, sebuah prrjalan tanpa tujuan.
Ada kalanya kau menyesali sebuah perjalanan, tetapi ada kalanya juga kau sangat menikmatinya, saat itu kau akan Melihat jalanan dgn pohon-pohin yg berjalan meninggalkan bus yg kau tumpangi, tempat2 wisata dan pasangan2 yg memaksa diri utk romantis, anak2 sekolah yg sedang berusaha mencatatkan kenangan sebelum waktunya tiba bahkan seorang yg sedang patah hati dan berusaha mencatatkan kenangangannya.
Dan kau kan, betapa sentimentilnya kenangan itu, lalu hari ini akan berlalu dan aku harus kembali melanjutkan perjalanku, mungkin aku akan mencoba mencatatkannya kembali, jika kau masih mau menbacanya lagi...
Minggu, 26 April 2015
Memanen Hujan
Bolehkah aku menampung hujan?
Menyiramkannya ke bunga-bunga kering dipinggiran jalan
Lalu seorang gadis kecil yang melintas
Akan tersenyum memandangnya sekilas..
Bolehkah aku mendengar rinai hujan?
Yang turun dari pangkuan awan
Nada-nadanya merdu meski tidak beraturan
Membelai daun-daun yang kedinginan..
Kalau boleh memanen hujan
Akan kuajak anak-anak pinggiran
Menikmati hujan yang tidak bertuan
Menjadi kekasih dalam kesendirian
27042015
Sabtu, 25 April 2015
Terjebak Hujan
Kurasa tidak terlalu buruk jika suatu hari nanti kau menemukan dirimu terperangkap dalam hujan di sebuah perempatan jalan di kota M ini, karena sungguh, kau akan menikmatinya, orang-orang yang berteduh, ojek payung gratis yang sok jadi pahlawan atau bahkan mata-mata liar yang mencari kesempatan- ditengah kesempitan.
Karena itulah kemungkinana, dan kau mungkin akan beruntung melihat seorang gadis yang linglung, dan kau tidak pernah tahu, apakah dia sedang menunggu seseorang ataukah dia terbuai kenangan dalam hujan?
Jikalau kau punya nyali, kau akan mencoba menanyakan itu kepadanya, dengan pertanyaan malu-malu yg penuh makna..
"Hujannya deras juga ya.."
Dan mungkin dia akan menjawabmu dengan anggukan saja, lalu kau akan meneruskan pertanyaanmu..
"Terperangkap hujan juga?"
"Ya.."
"Memangnya anda mau kemana?"
"Kenangan.."
"Astaga, anda jgn bercanda, dimana itu kenangan?"
"Diantara bus-bus yang melintas menembus hujan, mereka selalu membawa kenangan.."
Dan kau akan terdiam sejenak, untuk mencerna apa yg diucapkannya, saat itu hujan masih turun deras dan jalanan sudah mulai tergenang, apakah engkau masih mencoba melanjutkan percakapan?
Kau mencoba melirik sekilah wajahnya, dan saat yang sama dia melirikmu, pandangan kalian bertemu, adakah kata yg cocok untuk melukiskannya sebagai sebuah suasana?
Hujan mungkin tidak akan segera reda, namun sebagai seorang pria yg melankolis, kau pasti akan selalu punya cerita tentang setiap suasana, karna itu jglah mungkin kau sampai lupa dan merasa hujan kali ini terlalu singkat utk sebuah kenangan, sehingga kau jg lupa menanyakan dia siapa bahkan kau lupa bahwa sebenarnya ini hanya sebuah fiksi sederhana.
Sabtu, 25 April 2015
Kamis, 23 April 2015
Perpustakaan Patah Hati
Hidup kita adalah cerita, tetapi apakah kita akan terperangkap dalam kisah-kisah melankolis yang dipajang disalah satu sudut lemari tanpa pembaca?
Ada kalanya, suatu hari yang sederhana, kau akan memutuskan untuk jatuh cinta kepada buku-buku yang berkuasa diruangan itu, tanpa memperdulilan apa saja, sebab cinta itu sederhana, sesederhana waktu ketika kaca mata bertemu kata dalam kertas berwarna hitam putih yang penuh cerita dan kau sungguh menikmatinya, seperti menikmati puisi-puisi romansa Kahlil Gibran, Shakespare atau sejenisnya.
Tetapi pernahkah engkau menyangka akan jatuh cinta pada seorang wanita sentimentil yang terperangkap dalam halaman buku yang kau baca?
"Wanita dalam cerita selalu saja sentimentil, tidak pernah ada yang berbeda.."
Wanita itu kau temui sedang terisak dengan kisah cinta yang kandas karena sebuah cerita yang sad ending dan kau mungkin akan berkata, "Terlalu banyak cerita dengan ending yang sama diperpustakaan ini, dan ceritamu hanyalah salah satu diantaranya.."
Kau mungkin dapat berkata bahwa perpustakaan bukanlah tempat yang romantis untuk memulai sebuah cerita, karena cinta itu tidak muncul begitu saja saat duduk bersama membaca kata-kata yang melintas begitu saja, tidak mungkin juga ada hanya karena cerita yang terucap tanpa ada pertanggunjawabannya. Namun, diantara rak-rak yang tersusun rapi dengan angka-angka berurut sebagai penanda, mungkin suatu kali kau akan benar-benar jatuh cinta, saat melihat seorang gadis manis berkacamata sedang membolak-balik sebuah buku.
Tidak perlu kau tanya mengapa kukatakan engkau jatuhcinta kepadanya, kenapa, karena tidak ada alasan yang sempurna untuk rasa suka.
Dan kita adalah sebuah cerita, sehingga saat engkau jatuh cinta engkau akan memutuskan untuk melakukan apapun untuk mendapatkannya, mungkin sama seperti seorang penulis yang melakukan apa saja untuk menyelesaikan tulisannya.
Sama seperti itu jugalah, mungkin, ada kalanya suatu saat kau tidak bisa menerima jika ternyata sang wanita yang kepadanya engkau telah jatuh cinta telah mempunyai tambatan hatinya dan sedang menunggunya disalah satu sudut perpustakaan, dan kau akan melihat senyum manis wanita itu kepada kekasihnya, lalu mereka akan tertawa mesra, mungkin seperti sebuah cerita yang engkau sedang mencoba menyelesaikan membaca.
Dan kau?
Kau akan memutuskan untuk kembali terperangkap dalam cerita, bersama buku-buku berdebu yang kau sendiri kadang lupa itu terbitan tahun berapa, sudah berapa kali kau baca dan halaman berapa saja yang kau suka, kadang juga kau melipatnya, mengutipnya beberapa dan menjadikannya atatus disosial media. Ada juga kalanya kau berangan-angan untuk menjadikannya sebuah cerita, tetapi kau takut orang akan tau bahwa kau pernah gagal dalam hal cinta.
Mungkin, sama seperti hari-hari sebelumnya, ada kalanya suatu saat kau menemukan sebuah kalimat yang sempurna untuk disampaikan kepada seorang wanita, hanya masalahnya kau tidak tau wanita itu siapa..
"Siapa dia?"
Mungkin dia adalah wanita sentimentil yang tinggal dalam kenangannya, mungkin juga dia adalah seorang wanita yang selalu ceria, mungkin dengan sejuta kemungkinan dan aku tidak pernah tau meskipun aku penulis cerita karena aku juga tidak tau seperti apa wanita yang kau suka.
Lalu tentang hal itu, berapa kali kau akan memutuskan untuk jatuh cinta, berapa lama lagi kau putuskan untuk membaca dan terperangkap dala cerita tanpa makna dan kapan akan kau ungkapkan bahwa kau mencintainya?
Aku tahu, mungkin kau tidak akan pernah melakukannya karena seperti penulis yang selalu menulis sebanyak-banyaknya, seperti itu jugalah mungkin engkau yang menghabiskan waktu untuk mencintainya lewat tatapan mata yang penuh harap, lalu sampai kapan engkau tinggal dalam cerita dan ilusimu sendiri?
"Sampai cerita sampai pada halaman terakhir dan perpustakaan ini akan ditutup.."
Dan ketika cerita yang kau baca berakhir, kau akan menemukan bahwa wanita dalam cerita itupun ternyata telah ada kekasihnya dan kau patah hati dibuatnya, lalu ketika perpustakaan akan ditutup, kau melihat wanita, yang kepadanya engkau jatuh cinta, sedang duduk mesra bersama kekasihnya menikmati senja yang masih tersisa di taman perpustakaan.
Lalu apa yang salah?
Cerita hanyalah cerita dan perpustakaan mungkin masih meyimpan cerita lainnya dan kau harus berusaha untuk lupa tentang pertemuan-pertemuan lainnya.
Kamis, 22 April 2015
Rabu, 22 April 2015
Percakapan sorr ditelepon
Aku sedang asik membaca buku Apologianya Socrates sore itu ketika ponselku berbunyi dan ketika melihat siapa nama yg menelepon itu, aku sudah bisa tebak apa kalimat pertamanya dan yg akan diomongi..
"Apa kabar, lagi ngapai kau?"
Aku menjawabnya seperti biasa jg..
Dia mulai melanjutkan obrolan teleponnya, mungkin obrolan yg sama, cerita yg sama hanya dgn versi yg sebelumnya.
"Tau kai, siapa uda kek gini lho, siapa pun, siapa, siapa.."
Kau kek mana?
"Ah, itulah masalahnya, ternyata semua orang bisa menjadi teman kita kalau kita punya apa yg mereka inginkan.."
Aku mulai tertarik, memang knapa?
"Itu lho, aku dimanfaatkan, di php.."
Trus?
"Lappetnya itu, baik aku sama dia, kupikir dia suka samaku.."
Trus?
"Menurutmu, cmmana itu?"
Apanya?
"Cemmana mengalahkan hati cewek?"
Kok kau tanya aku? Aku aja gagal terusnya..
"Serius dulu ah.."
Ya udah, cewe itu seperti monyet..
"Seriuslahhh.."
Dia akan melepaskan dahan yg lemah ketika sudah menemukan dahan yg kuat..
"Asekk.."
Jadilah dahan yg kuat, jgn jadi lappet!
"Hahaahah.."
Satu lagi, yg istimewa akan tergantikan dgn yg selalu ada..
"Jadi?"
Yah, adalah sama dia, jgn kau bahas liga champion terus sama Manchester United, sesekali romantis dan sentimentil, menikmati senja atau berpuisi, ciee cieee..
"Hahhaha, oke-oke.., itu aja?"
Sesekali datanglah kerumahnya bawa makanan yg tidak disukainya, jd kalau dia gak mau makan, yah makan aja sendiri, lumayankan, gak rugi..
"Hahah, iya jg ya.."
Ialah..
"Oiya, ada satu yg mau kutanya samamu?"
Apa, tumben kau bertanya, biasanya cuma minta saran ajanya?
"Kau pintar kali soal teori, kapan kau praktekkan teori kau itu, gk pernah bahas cewe, tp cerpen kau galau terus..."
Selou..., kan ada adek kau..
"Mata kau, mau kau kasih makan apa adekku?"
Hahaha, udahlah kau praktekkan dululah yg kubilang tadi, jgn lupa, titip salam sama adek kau hahaha..
"Bilang aja sendiri kalau kau berani, bawa makanan nanti kerumah biar aku yg menghabiskan.. Hhahaaha.."
Iyalah, lakkeap..
Hahaha..
Jumat, 17 April 2015
Cerita Iseng
Tadi, ketika pulang kuliah, aku bertemu seorang kawan lama sewaktu SMA dan kebetulan dia sedang bersama temannya. Dia menyapaku, dan seperti biasa berbasa basi seperti orang kebanyakan lainnya. Sampai tiba tiba temanku ini berkata, "Bentar ya, kalian ngomong-ngomong dulu, aku ada urusan sebentat kesana..".
Aku mengangguk dan melihat gadis yg akan menjadi lawan bicaraku, cukup manis hahaha...
Tetapi ternyata dia langsung memulai percakapan, "Aku Liana.." Katanya menyodorkan tangan.
Aku menyambutnya dan mulai berbicara..
"Namaku Rinaldi Sinaga, Mahasiswa Akuntansi stambuk 2012 di Nommensen, Lahir di Purba Sianjur 29 February 1994, menyelesaikan sekolah dasar di SDN 030328 Bandar Huta Usang.."
Gadis itu mulai kelihatan bingung karena aku masih memegang tangannya, tetapi aku tidak peduli dan meneruskan perkenalan.
"Saya melanjutkan SMP di SMPN 1 Pegagan Hilir dan tamat tahun 2009, lalu SMAN 1 Pegagan Hilir tahun 2012, jadi saya sudah tamat selama tiga tahun..."
Dia tampak semakin bingung dan aku mulai geli..
"Hobbyku adalah membaca dan menghayal..."
Dia tambah bingung karena aku belum melepaskan tangannya dan untung saja kawanku itu segera datang kalai tidal aku akan melepaskan tawaku melihat kebingungannya.
Dan ketika aku sampai di kosan, aku menerima pesan dari teman SMAku itu, "Kau tambah nakal sekarang ya.."
Hahaha, aku hanya membuat momen, karena terkadang kita tidak mengerti sebuah momen sampai itu menjadi kenangan.
Ini untuk mengenang tiga tahun sesudah masa SMA. :D
Arah Dairi Kedepannya
Arah Kabupaten Dairi Kedepannya Sebagai penduduk Kabupaten Dairi yang sedang merantau, ...
-
Tirai kenangan (saat senja beranjak meninggalkan luka) ...
-
Kita pernah melalui ini,jalan setapak yang dengan angin sepoi dan kau selalu bertanya saat kita melalui jalan yang sama. “Mengapa kita t...